Selasa, 20 Oktober 2009

SOLIDARITAS BAGI PARA INSURGEN KULONPROGO

SOLIDARITAS BAGI PARA INSURGEN KULONPROGO



Lihatlah ke dalam dirimu, betapa masingmasing diri kita adalah korban dari sistem dominan yang konstan menghancurkan hidup kita dan ekosistem.

Renungkanlah, betapa masingmasing diri kita hanyalah objek yang dipaksa diam, untuk akumulasi kekuasaan dan modal yang tak pernah berpihak pada kita.

Kondisi ini memerlukan perubahan! Perubahan yang tidak sekedar usaha mengganti pemimpin maupun label kekuasaan, tapi penghancuran total dari relasi harian kita untuk menjadi manusia bebas. Perubahan tersebut menuntut usaha keras yang melampaui ilusi perubahan dari dalam sistem maupun garda depan revolusioner. Kekuatan perubahan ada di dalam diri kita masingmasing, seperti yang diperlihatkan oleh kameradkamerad di Kulonprogo siang tadi, yang dengan gagahberani menghantam tembokbesar sistem dominasi—secara frontal.

Seperti api, kita akan menyambar ledakan pertama dengan ledakanledakan berikutnya, karena kami membawa sebuah dunia baru, di tengah hati perjuangan kami. Dan dunia tersebut sedang tumbuh saat ini juga.

Untuk para insurgen di Kulonprogo dan untuk anarki.

Katalis.
www.katalis.tk

Baca Selengkapnya...

Senin, 20 Juli 2009

EKSPLORASI TANPA TITIK BASI

“Saya adalah seorang anarkis bukan karena saya percaya dengan anarkisme, tapi karena saya percaya bahwa tidak ada suatu tujuan akhir.”
—Rudolf Rocker

Visi-visi anarki adalah ideal-ideal yang kemudian dijelaskan sebagai kemungkinan dan potensi eksistensi umat manusia. Perkembangan selanjutnya, melalui beragam reinterpretasi, akan menemui beragam artikulasi anarki yang menekankan pada kontinuitas perjuangan yang tanpa batas untuk memperluas lingkup kebebasan, yang secara konsiten didasari pada:

Penentangan terhadap otoritas.

Pada umumnya penentangan anarkis terhadap otoritas terkait pada penentangannya terhadap institusi negara dan institusi agama. Namun penentangan anarkis terhadap otoritas meluas sebagai suatu penolakan terhadap keterasingan manusia (yang diatur oleh otoritas tersebut) terhadap kemampuan, potensi dan hasrat/kehendak manusia itu). Maka penolakan terhadap keterasingan ini juga mencakup penolakan terhadap segala bentuk otoritas yang tidak dapat dilegitimasikan dengan alasan rasional, termasuk bentuk-bentuk kepemimpinan dan perwakilan. Meskipun pada dasarnya anarki menentang otoritas, tentunya terjadi pengecualian-pengecualian dalam kondisi-kondisi kritis ketika kepemimpinan dan perwakilan yang bersifat temporer tidak dapat dihindari.

Pada konstruksi relasi-relasi manusia berdasarkan asosiasi bebas.


Anarki bukan sekedar suatu proposisi negatif yang berkutat pada penolakan, tapi juga menggagas konstruksi relasi manusia yang (lebih) membebaskan. Elaborasi tentang konstruksi relasi sosial adalah perbedaan mendasar dalam praksis anarki dengan aliran-aliran politik lainnya. Proyek-proyek anarkis selalu menekankan pada relasi horisontal di antara para partisipannya, penekanan pada inisiatif individual dan pengembangan potensi individual. Anarki yang terbatas dalam ruang dan waktu, dipraktekkan dalam proyek-proyek anarkis—di mana cara (untuk mencapai tujuan) dan tujuan anarki menjadi sesuatu yang terintegrasi dalam konteks-konteks tersebut.


Di sini pentingnya memaknai anarki, secara berbeda dengan isme-isme lainnya—bahwa anarki menolak doktrin absolut. Sekaligus ini adalah juga kritik terhadap anarki(sme) tradisional yang absolutis dengan cetak biru masa depannya. Bahkan kita dapat menemui artikulasi anarki sebagai kontinuitas perjuangan untuk memperluas lingkup kebebasan yang terus menerus tanpa suatu definisi akhir.
Di awal abad keduapuluh satu ini, teori anarki telah mengalami perkembangan dan pembaharuan, seiring dengan persinggungannya dengan teori-teori dari beragam displin ilmu sosial, di antaranya pengadopsian dan pengadaptasian pendekatan yang dikembangkan beragam wacana postrukturalis. Gerakan dan teori anarki dalam beberapa dekade ini, menjadi cukup lentur untuk “berbaur” dengan beragam gerakan yang secara umum disebut sebagai gerakan antiotoritarian dan gerakan sosial/politk baru, yang secara fundamental didasari pada politik nonhirarkis, desentralis, otonom dan swakelola.

Genealogi Kekuasaan


Anggapan umum yang menyederhanakan anarki sebagai suatu aliran pemikiran yang hanya berurusan dengan pemusnahan negara adalah suatu bentuk pemiskinan terhadap kekayaan intelektual dan wawasan anarki. Anarki bukanlah semata-mata penentangan terhadap negara, tapi merupakan artikulasi tentang kekuasaan yang melandasi relasi manusia, tentang kritik pada hubungan-hubungan antara kekuasaan dan keterasingan manusia terhadap dirinya sendiri, tentang rekonstruksi kekuasaan dan relasi-relasi sosial.


Anarki bertitik tolak dari antagonisme antara kekuasaan/dominasi pada satu sisi dan kooperasi dan subyektifitas manusia (kekuasaan positif) pada sisi lainnya. Monarki-monarki merupakan bentuk kekuasaan absolut yang mendominasi rakyatnya pada zaman feodalisme; disusul oleh negara nasion (sebagai fenomena dominan dalam zaman modern) dalam bentuknya, oligarki dan totalitarian; sedangkan di sebagian besar wilayah di Asia dan Afrika terjadi dominasi oleh pemerintahan kolonial, sebelum wilayah-wilayah ini mencanangkan perjuangan-perjuangan kemerdekaan nasional, yang akhirnya juga membentuk negara nasion-negara nasion baru; saat ini, negara nasion dan neoliberal yang mengglobal, merupakan rezim-rezim yang mendominasi masyarakat secara simultan.


Anarkis awal di wilayah-wilayah Eropa, melontarkan banyak kritiknya terhadap negara, karena memang negara merupakan mode dominasi yang dominan pada waktu itu. Meskipun sebenarnya anarki melontarkan kritik-kritiknya terhadap konsentrasi kekuasaan, pada segala bentuk hirarki yang dikonstruksi secara sosial—pada hirarki laki-laki atas perempuan, tua terhadap muda, atasan terhadap bawahan dalam dunia kerja, pemimpin dan institusi moral terhadap konstituennya, dan lain sebagainya.


Negara menjadi tema sentral anarki karena negara memayungi beragam bentuk hirarki dan kekuasaan elitis, yang mempunyai dampak luas dan mendalam terhadap kehidupan sosial. Negara, dalam beragam bentuknya baik itu oligarki ataupun totalitarian, melalui birokrasi, menggunakan wewenangnya yang mengatur kehidupan mayoritas masyarakat, dan memonopoli kekerasan teroganisir (tentara dan polisi). Meskipun di tiap-tiap negara terdapat perbedaan-perbedaan spesifik pada derajat wewenang birokrasi negara, partisipasi masyarakat, keragaman jenis institusi sektoral di tiap-tiap negara dan bentuk-bentuk monopoli kekerasan, pada dasarnya negara merupakan bentuk sentralisasi kekuasaan oleh minoritas untuk mengatur kehidupan populasi mayoritas.


Dalam negara dengan demokrasi yang paling liberal sekalipun, sistem-sistem pemilihan wakil rakyat tetap tidak dapat mengubah wajah negara. Sejarah parlementarisme Amerika, negara yang dianggap demokratis, menyingkap fakta bahwa parlemen pada awalnya tidak lebih dari kumpulan para tuan tanah (yang pada waktu itu masih lengkap dengan budaknya). Dan mereka berbicara bagaimana sistem parlementarian merupakan sebuah sistem yang akan menjamin kebebasan tiap-tiap orang dan pada saat bersamaan dapat melanggengkan previlase-previlase politik dan ekonomi mereka.


Elitisme sistem parlementarian ditunjukkan juga oleh sejarah abad ke19 di Eropa. Di awal pembangunan sistem parlementarian, mayoritas anggota parlemen, adalah mereka yang ditunjuk oleh elit-elit yang berkekuasaan—anak-anak para tuan tanah, pengusaha, dan pengacara.


Walter Lippmann, seorang demokrat Amerika, ternyata juga seorang perintis apa yang dinamakan konsep mengenai rekayasa opini publik yang dia namakan order demokratis baru, yaitu demokrasi parlementer. Pertama ada peran yang diusung oleh mereka dari “kelas khusus”,

”orang yang bertanggung jawab”, yang mempunyai akses terhadap informasi dan pemahaman—baginya orang-orang inilah yang “bertanggung jawab” untuk membentuk “opini publik yang baik”, Mereka (yang tergabung dalam kelas khusus) berinisiatif, mengadministrasi dan menyelesaikan dan harus dilindungi dari ‘orang luar yang tidak mempunyai kesadaran dan rusuh’. Bagi Lippmann, bukanlah pada tempatnya bagi publik untuk memberikan penilaian, tapi cukup untuk sekedar memberikan ‘kekuasaan’ pada ‘orang-orang yang bertanggung jawab’.

Pada tahap lanjut perkembangan negara-nasion dan kapitalisme modern, praktek-praktek pengontrolan yang semakin sistematis diterapkan pada populasi, melalui beragam teknik pengontrolan, terutama ditujukan pada pengontrolan populasi dan kehidupan manusia/tubuh, melalui statistik dan probabilitas, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat dan regulasi ancaman (resiko terhadap kehidupan populasi). Bentuk-bentuk pengontrolan yang termasuk pengelolaan keturunan (keluarga), pengumpulan dan pemetaan sistematis etnisitas dan agama masyarakat.


Negara, sebagai bentuk kekuasaan adalah relasi sosial—dari dirinya sendiri, negara tidak mempunyai kekuasaan—seluruh kekuasaannya berasal dari akumulasi kekuasaan yang diberikan warga negaranya dan dari waktu ke waktu negara mengambilalih lebih banyak kekuasaan dari warganya. Hukum, undang-undang, ritual kenegaraan dan seluruh citra kenegaraan—hanya bisa bermakna ketika terjadi “konsensus” (melalui pemaksaan, hegemoni dan secara subliminal[1] ) antara negara dan warganya. Seluruh asumsi tentang kekuasaan negara, terlepas dari kekuasaan yang diberikan oleh atau diambilalih dari masyarakat, secara bersamaan warga (negara)/masyarakat telah kehilangan kekuasaannya.


Negara/nasionalisme menggunakan loyalitas pada kesamaan bahasa, etnisitas, kultural dan tradisi, lalu mengerucutkannya pada bentuk-bentuknya yang chauvinis untuk melegitimasikan eksistensi negara dalam landasan yang seolah-olah merupakan pijakan bersama. Bentuk chauvinis, loyalitas tanpa batas inilah, yang menjadi esensi dari patriotisme, suatu bentuk keterasingan manusia (yang mengidap patriotisme) dari kesadarannya—kesadaran bahwa dia dan minoritas yang melanggengkan negara tidak mempunyai kepentingan-kepentingan umum. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak sekali terjadi kontradiksi-kontradiksi dalam klaim-klaim negara nasion sebagai perluasan komunitas yang berpijak pada kesamaan biologis dan tradisi. Di sini kita dapat mengutip Benedict Anderson yang mendefinisikan nasion sebagai konstruksi sosial yang hanya berada pada tataran “dapat dibayangkan”, bagi mereka yang merasa menjadi bagian dari sebuah nasion. Negara nasion bisa dikatakan sebagai sebuah artefak yang mewarisi sejarah sistem dominasi manusia oleh manusia, tapi yang sampai sekarang masih mempunyai daya tarik yang sangat kuat dan belum dapat dilampaui.


Transformasi


Pasca Perang Dunia Dua, masyarakat dunia hanya mengenal dua ideologi besar yaitu "demokrasi representatif" (kapitalisme pasar bebas) dan komunisme (yang secara esensi adalah kapitalisme negara, ketika representasi yang dikenal adalah Rusia, Cina, dan berbagai negara komunis yang menjadi satelit-satelitnya).


Penemuan kembali anarkisme salah satunya berkat jasa dari orang-orang kiri yang sedang melakukan pencarian alternatif-alenatif dari marxisme ortodoks. Situationist International yang berkembang di tahun 1960-1970-an merupakan kelompok-kelompok intelektual dan seniman-seniman avant-garde yang mencoba menjelaskan kapitalisme yang sedang mengalami transformasi. Menurut situasionis, alienasi yang dicermati oleh Marx telah menyusup ke setiap celah dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat tidak hanya terasing dari barang-barang yang diproduksinya, lebih jauh lagi masyarakat juga teralienasi dari kehidupannya dan hasratnya. Komoditas sebagai ciptaan yang mengalienasi, telah menguasai kehidupan sehari-hari. Kapitalisme moderen menciptakan "masyarakat tontonan" atau masyarakat konsumen yang menjanjikan kepuasan—sesuatu yang tidak pernah dipenuhinya. Revolusi Paris 1968 merupakan momen bagi para situasionis.


Di samping itu, adalah kritik Situasionist International terhadap anarkisme, pada kecenderungan beberapa pemikir anarkis yang bereksperimentasi dengan ide-ide melampaui realisasi praksis, sehingga seringkali teori anarkisme menjadi artikulasi teori yang tidak mempunyai koherensi.


Di Eropa, Autonomen Jerman Barat menciptakan militansi baru dalam resistensi urban. Para Autonomen adalah revolusioner antiotoritarian yang mengenyahkan seluruh label ideologis termasuk anarkis. Gerakan mereka diwarnai praksis aksi langsung, seperti pertarungan jalanan dengan elemen-elemen represif dan fasistik dalam masyarakat (seperti neo-nazi), pendudukan gedung-gedung kosong untuk dijadikan ruang-ruang otonom komunal. Di tahun 1988, dalam sebuah aksi merespon pertemuan IMF/Bank Dunia, Autonomen menggunakan taktik bercadar dalam protes dan melakukan perusakan properti—Black Bloc[2] pelopor yang kemudian menginspirasi banyak anarkis di kemudian hari.


Hakim Bey menerbitkan bukunya “Temporary Autonomous Zone: Ontological Anarchy, Poetic Terrorism” di pertengahan tahun 80-an. Boleh dikatakan bahwa buku ini menjadi suatu tonggak dalam diskursus dan praktek antiotoritarian. “Berhentilah berpikir tentang revolusi sosial yang akan datang.” Setiap revolusioner bisa mengobral janji revolusi tanpa bisa memberikan kepastian kapan ia akan datang. Sedangkan Hakim Bey bisa “menjanjikan” apa yang disebut uprising (yang bagi sejarawan adalah suatu revolusi cacat dan gagal). Uprising yang dirujuk di sini bukan hanya sebatas pagelaran politik spektakular, tapi juga mencakup hal-hal seperti penciptaan komunitas-komunitas otonom dan ruang-ruang yang dibebaskan—di mana komunitas dan individu dapat menerapkan utopia temporer. Temporary autonomous zone (zona otonom temporer) menjadi suatu konsep di mana ideal bertemu dengan realita—ketika konsep “revolusi yang akan datang” menjadi suatu hal yang absurd yang deminya manusia kembali mereproduksi hirarki, elitisme dan dominasi (seperti dalam “partai revolusioner”, serikat buruh birokratis dan bahkan serikat buruh sindikalis). Mungkin juga tidak ada sesuatu yang benar-benar baru yang ditawarkan di sini semenjak anarkis telah menerapkan konsep tentang pentingnya praksis anarki dalam kehidupan sehari-hari. Bey hanya membahasakannya dengan lebih lugas, menawarakan sintesa-sintesa baru tentang konsep anarki dan kaitannya dengan sejarah dan revolusi, menemukan kosa kata-kosa kata yang lebih pas dan meluaskan penjelasannya dengan data-data yang lebih lengkap tentang contoh-contoh TAZ yang terjadi sepanjang sejarah.


Anarkisme tradisional merupakan doktrin sosial yang menyerap ide-ide Pencerahan—penekanannya pada esensi tentang “sifat alamiah” manusia yang mulia dan rasional dan doktrinnya yang mencetuskan tujuan-tujuan yang positivis. Sementara postrukturalis adalah energi wacana kritis menantang ide-ide tentang sifat alamiah, esensi dan positivisme. Anarkisme juga mengintegrasikan analisis-analisis postrukturalis tentang simbol, representasi, dan pemaknaan dalam pengelolaan komunikasi dan informasi oleh kekuasaan dominan. Pendekatan-pendekatan postrukturalis menggagas pandangan kritis terhadap bahasa dalam konstruksi identitas, penyajian, dan pendistorsian isu-isu.


Kekuatan Kontra dan Konstruksi Resistensi


Bagi kebanyakan orang, "neo-anarkisme" lahir dari rintik-rintik hujan dingin dan kabut beracun yang menyambut protes terhadap WTO, pada November 1999. Neo-anarkisme bukanlah anak haram dari gerakan sosial yang banyak bermunculan saat ini. Anarkisme sendiri telah bertransformasi selama beberapa abad. Aksi langsung di Seattle hanya merupakan sebuah momen yang memunculkan kembali anarkisme sebagai wacana publik. Anarkisme telah menyumbangkan praksis yang menarik perhatian banyak orang dalam momen historis Seattle. Sejak saat itu, anarkisme bukan saja turut membentuk gerakan antikapitalis kontemporer; anarkisme juga telah menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kebebasan berpotensi untuk menggantikan demokrasi representatif dan kapitalisme. Ke manakah anarki setelah Seattle?


Ketidakpastian-ketidakpastian muncul ketika kita tidak lagi ingin berpretensi tentang harapan berdasarkan determinisme positif pencerahan, dan juga ketika kita menolak segala bentuk pesimisme superior yang menihilkan seluruh kapasitas, potensi dan kemungkinan umat manusia mengkonstruksi masa depan yang lebih baik. Namun tanpa bersikap terlalu optimistis, setidaknya cukup beralasan untuk mengatakan dinamika yang ada masih terus menerus menghadirkan peluang dan potensi.


Ketika kita menolak determinisme sejarah/narasi megah, genealogi menyingkap sejarah sebagai antagonisme, diskontinuitas, ledakan-ledakan peristiwa, yang tidak memiliki logika universal. Di sini sejarah lepas dari segala bentuk determinisme, yang berarti bahwa masa depan berada dalam relung potensi dan kemungkinan—bahwa batas-batas tidak terdefinisikan. Memahami pembebasan sebagai suatu proses produksi dan reproduksi terus menerus yang berada dalam relung potensi untuk pengembangan dan artikulasi hasrat beragam subyektifitas. Narasi pembebasan ini harus menyediakan ruang-ruang yang berlimpah bagi eksperimentasi dan konstruksi, dekontruksi dan rekonstruksi, dalam teori dan praksis.


Dinamika pembebasan ini menolak ketunggalan dalam gerak, arah dan tujuan; menolak seluruh komando sentral; menolak segala jenis subordinasi pada hirarki; menolak seluruh jenis politik representasi dan mediasi. Tujuannya adalah pluralitas maksimum. Secara fundamental, konstruksi resistensi ini terkait dengan pembebasan kehidupan kontemporer. Ia bukan cakrawala mesianistis yang memberikan janji penebusan, bukan suatu mesin politik, yang demi mencapai tujuannya (nanti) akan mengorbankan yang sekarang. Ia adalah kendaraan kemanusiaan, yang ingin berpijak pada kondisi sekarang; yang ingin melampaui alienasi kehidupan sehari-hari manusia (hirarki, identitas representatif, separasi antara kehidupan sehari-hari dan hasrat-hasrat).


Setiap gerakan resistensi saat ini harus menjadikan dirinya sebagai proyek konstruksi komunitas-komunitas yang mampu menjadi wadah untuk mengelaborasi dan mengartikulasikan hasrat kemanusian. Bahwa segala jenis proyek resistensi ini harus mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang memang layak untuk dikembalikan dan mencipta nilai-nilai baru seiring dinamika dan konteks.


Catatan:
[1] Transmisi pesan yang disampaikan melalui bawah sadar manusia dan tidak terdeteksi oleh panca indera.

[2] Kolektif-kolektif anarkis yang menggunakan aksi langsung dalam pengrusakan properti dan vandalisme. Black Bloc menjadi terkenal dalam protes anti WTO, November 1999, di Seattle, Amerika.

Baca Selengkapnya...

KERUSUHAN PARIS 2005

"Kami telah membakar Paris. Dan kini semua orang memusuhi kami, tapi mereka juga tak menawarkan apa-apa kepada kami. Maka mengapa kami harus mendengarkan mereka saat tak pernah seorang pun dari mereka yang mau mendengarkan kami selama ini?"
—Seorang insurgen kota Paris yang berusia 21 tahun

Dua kali, kota Paris diguncang oleh insureksi popular yang dimotori oleh kaum mudanya sendiri.

Pertama kali, adalah saat musim semi tahun 1968 saat mahasiswa dan pekerja-pekerja muda Paris bangkit memberontak terhadap represifitas rezim De Gaulle. Di tahun tersebut, kaum muda yang biasanya terlena dengan imaji-imaji dari televisi dan pesta-pesta tidak lagi meleburkan diri dalam olah raga kaum urban modern tersebut, tapi mereka menyulut pemberontakan yang segera menyebar dengan cepat dari kota ke kota.

Pemberontakan di Paris kali ini memang berbeda dengan event tahun 1968 tersebut. Para pelakunya memang sama-sama muda, hanya kali ini mereka bukan mahasiswa dan juga bukan pekerja kerah biru. Dalam faktanya, nyaris sebagian besar dari mereka adalah kaum penganggur—walaupun sebagian dari mereka telah berhasil mengantongi ijazah Sorbonne—hampir sepanjang hidup mereka. Kali ini mereka tidak berkulit putih, mereka adalah ras Arab dan Afrika, anak-anak dari hasil kolonialisme Perancis. Kebanyakan dari mereka lahir di Perancis dari keluarga-keluarga imigran yang berasal dari koloni-koloni Perancis. Dan Perancis tidak menawarkan apa pun bagi mereka selain catatan kriminalitas dan pengangguran.

Para pemberontak tahun 2005 ini bukanlah anak-anak muda yang beraksi dari hasil pembacaan mereka atas buku-buku Marxis, Anarkis atau bahkan literatur Situationist. Mereka berada di jalanan bukan karena "dunia yang berbeda itu adalah sesuatu yang mungkin". Mereka berada di jalanan karena sepanjang hidup mereka, untuk hidup di dunia ini pun dianggap sebagai sesuatu yang tak mungkin.

Tidak seperti generasi tahun 1968, mereka tak memiliki batas kompromi. Mereka tak mampu memiliki potongan rambut yang tepat, membeli pakaian yang terbaik atau setelahnya bekerja sebagai pengacara atau akuntan. Kulit mereka, yang mereka miliki sejak lahir, telah menandai mereka bahwa tanpa perlu dipertanyakan lagi, mereka adalah warga negara kelas dua, tak memiliki keistimewaan apa pun, dan bahkan tak dianggap benar-benar "Perancis" di mata banyak warga kulit putih Perancis.

Maka untuk alasan-alasan tersebutlah mereka menjadi jauh lebih berbahaya bagi penguasa Perancis dibandingkan dengan para pemberontak tahun 1968.

Para mahasiswa Perancis tahun 1968 telah memberikan sebuah pendekatan romantis bagi dunia Kiri, bahkan hingga hari ini berpuluh tahun kemudian, baik di Eropa maupun di negara-negara lain. Memang benar, bahwa pemberontakan Paris tahun 1968 adalah sebuah event yang ikonik, baik bagi anak muda pada masanya, maupun hingga kini—atau dalam kata lain ia adalah simbol internasional dari seluruh dekade tahun 1960-an. Event tersebut juga jauh daripada sekedar nostalgia tahun 1960-an.

Maka saat Paris kembali menyala, kami berpikir kembali pada tahun 1968.

Semua imaji yang menyebar di mana-mana tahun 1968, adalah insureksi Paris, pemogokan mahasiswa dan pelajar di Amerika Serikat, Red Guards di Cina, meletupnya mahasiswa di Amerika Latin, hadirnya insureksi Musim Semi Praha, partai Black Panther di mana nyaris seluruh anggotanya adalah anak muda di awal 20 tahunan dan para pemimpinnya hanya berusia sekitar 10 tahunan atau lebih sedikit, semuanya menunjukkan bahwa generasi muda akan menjadi garda depan transformasi global dalam bidang kultur dan politik. Dan semuanya tentu saja, berharap dapat melakukannya sebelum usia mereka beranjak 30.

Sayang, segalanya tidak berlangsung sesuai dengan harapan mereka.

Akhir musim panas 1968, para mahasiswa Perancis dikalahkan. Sebagian alasan adalah karena mereka kekurangan pengalaman—sebagaimana juga yang dialami oleh semua anak muda—dan sebagian besar adalah karena pengkhianatan para "revolusioner" yang seharusnya menjadi kawan mereka, selain karena alasan lain seperti kenyataan bahwa kapitalisme memang terlalu kuat untuk dikalahkan hanya oleh satu atau beberapa insureksi.

De Gaulle telah memahami benar tentang kekuatan negara dibandingkan dengan para pemberontak muda tersebut. Hal pertama yang ia lakukan, saat ia menyadari bahwa ia menghadapi sesuatu yang jauh lebih serius daripada sekedar pemogokan kampus, adalah kunjungannya ke markas besar militer Perancis di Jerman dan meyakinkan bahwa mereka masih loyal terhadap pemerintah Perancis. Walau pada kenyataannya kemudian, De Gaulle tidak membutuhkan intervensi militer, kebrutalan polisi Perancis sendiri telah berhasil menghalau para insurgen. Dan De Gaulle telah berhasil juga meyakinkan bahwa seluruh kekuatan politik yang mapan—baik itu "Kiri" dan Kanan--berdiri menentang pemberontakan aliansi anak muda mahasiswa dan pekerja kerah biru.

Anak-anak muda tersebut, yang berbicara lantang soal bagaimana mereka mempersenjatai imajinasi, masih sangat kurang dalam intelejensi praksis. Mereka membayangkan bahwa mereka akan dapat menduduki kampus demi kampus, pabrik demi pabrik, hingga revolusi sosial terjadi dan negara De Gaulle menjadi semakin tak relevan lagi. Mereka tidak memahami betapa musuh mereka sangat deterministik dan berbahaya.

Tentu saja itu bukan kesalahan mereka. Semenjak mereka adalah anak-anak muda, yang selalu dikorbankan oleh orang tua mereka, generasi sebelumnya, negara dan bahkan juga oleh para elit-elit oposisi yang mengaku "revolusioner"—mereka tumbuh dalam satu pemahaman, bahwa mereka harus menolak seluruh institusi dan kekuatan mapan dunia modern. Tak seorang pun dari mereka akan berpikir tentang bagaimana caranya apabila militer hadir di hadapan mereka. Bagaimana mereka akan mempertahankan kampus dan pabrik menghadapi para veteran perang Aljazair yang mungkin akan berbaris menuju mereka? Hal itu jauh dari sekedar pengalaman harian anak-anak muda Perancis.

Hal demikian memang tak dimengerti oleh anak-anak muda tersebut, tentang bagaimana deterministiknya kekuatan negara. Setidaknya saat mereka melakukan insureksi. Hal demikian lebih dimengerti oleh mereka, para "revolusioner" dari generasi sebelumnya. Banyak dari para "revolusioner" tersebut telah hidup dalam masa kudeta dan kontra-kudeta di Aljazair saat De Gaulle meraih kekuasaannya 10 tahun sebelumnya. Banyak dari mereka adalah aktifis organisasi Resistance yang melawan pendudukan Nazi saat Petain dan komando tinggi Perancis justru berkolaborasi dengan kekuasaan Hitler. Para pemberontak veteran tersebut dapat—dan sudah seharusnya—mengambil sikap dan membantu para pemberontak muda Perancis tersebut untuk membangun pertahanan yang lebih kuat melawan negara De Gaulle. Mereka dapat membangun agitasi melawan intervensi militer, termasuk melakukannya di dalam kekuatan militer sendiri. Atau setidaknya, mereka dapat menggalang dukungan publik atas tuntutan para mahasiswa dan pekerja muda yang melakukan pemogokan.

Tetapi seperti yang juga dialami oleh anak muda di mana-mana, mereka dianggap sebagai sebuah kelompok usia yang reaksioner dan tak mengerti apa pun soal dunia dan kehidupan. Para anak muda Perancis dikhianati oleh para komunis tua dan para pemimpin serikat-serikat "revolusioner" yang selalu saja berharap dapat memonopoli "revolusi", dan bukannya berharap dapat bersanding bersama mereka yang meletupkan aksi revolusi. Bahkan terlepas dari itu juga, para intelektual "revolusioner" seperti Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir yang telah "dewasa" justru—kadang secara terbuka—bersikap memusuhi para anak muda insurgen tersebut. Para kaum "dewasa" tersebut telah menghabiskan nyaris seluruh waktu hidup mereka untuk mencapai kekuasaan atau popularitas, dalam serikat pekerja, partai politik, masyarakat sipil dan bahkan juga dalam institusi resmi negara. Tak ada satu pun dari mereka yang bersimpati pada para anak muda amatir. Tak ada satu pun yang mau meresikokan segalanya, demi beraliansi bersama anak-anak muda.

Sebagaimana pemberontakan tahun 1968 menyebar dengan cepat, para kaum Kiri yang "revolusioner" dan telah "dewasa" tersebut mendapati posisi mereka jauh lebih buruk daripada yang dialami oleh De Gaulle. Mereka tak memiliki kekuatan militer atau polisi untuk melanggengkan monopolinya, mereka hanya memiliki pengaruh partai dan kantor-kantor serikat pekerja—di mana tak ada seorang pun anak muda yang menaruh respek padanya. Mereka hanya punya satu peran yang harus dipertahankan: sebagai representatif bagi "Kelas Pekerja".

Seperti yang dialami oleh anak muda generasi 1968, para pemberontak muda generasi 2005 ini dikhianati oleh para "revolusioner" yang telah "dewasa" yang merasa tak memiliki keharusan sama sekali untuk mendukung insureksi. Anak-anak muda 2005 ini, bahkan juga dikhianati oleh para imam mereka, yang mengisukan fatwa melawan insureksi dan para insurgen. Hal ini sangat menyedihkan dan tragis sekaligus telah terprediksikan. Maka, adalah sebuah kejahatan besar, apabila kami juga menolak mereka, hanya apabila mereka tidak berhasil untuk mengadopsi gaya bahasa dan simbol-simbol yang kami terima dan gunakan.

Sangatlah alamiah apabila orang mengekspresikan diri mereka melalui bahasa dan simbol yang familiar bagi mereka. Tahun 1968, anak-anak muda yang memberontak menggunakan bahasa Frankfurt School serta berpenampilan a la Che Guevara ataupun Mao. Dan kini, para anak muda insurgen generasi 2005 tidak melakukannya sama sekali. Mereka juga tidak menunjukkan kepeduliannya atas pentingnya publikasi—yang menjadi karakteristik generasi 1968—yang dalam bayangan kami memang tetap penting, setidaknya untuk dapat memahami agenda dan tuntutan mereka. Tapi itu bukan alasan untuk menolak dan menyepelekan mereka.

Pemerintah Perancis mencap bahwa mereka adalah korban agitasi para ekstrimis Islam. Banyak dari anak muda insurgen generasi 2005 ini memang memiliki latar belakang keluarga muslim. Tetapi berapa banyak yang benar-benar memeluk agama Islam ataupun setuju dengan program teror para ekstrimis Islam, tak pernah jelas. Tapi juga tidak mengherankan apabila orang-orang dari latar belakang muslim mengekspresikan kepedihan mereka melawan kolonialisme dengan bahasa yang diambil dari kultur Islam.

Program revolusioner dan visi politis yang koheren memang absen dari anak-anak muda tersebut. Mereka hanya mengekspresikan kehidupan mereka dengan satu-satunya cara yang dianggap mungkin. Apakah itu lantas juga akan dianggap sebagai sebuah kesalahan?

Adalah sebuah arogansi berlebihan apabila seluruh insurgen yang melawan intervensi kekuatan kapitalisme diharuskan mampu untuk berbicara dengan bahasa Marx atau Bakunin, atau bahkan juga Marcuse dan Baudrillard, hanya sekedar agar dapat dianggap serius. Kami tidak peduli apa mereka muslim atau bukan, sebuah hal yang pasti, mereka mengekspresikan bahasa mereka sendiri dalam menyerang intervensi kapitalisme. Ini justru sebuah tantangan bagi kami dan bagi kita pada umumnya. Bagaimana kita dapat mampu memapankan sebuah program revolusioner yang mampu berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami oleh mereka untuk dapat menyalakan impuls revolusioner mereka dalam mengambilalih kontrol atas hidup mereka sendiri? Dan bagaimana kita dapat memberi respek pada mereka yang berbicara berbeda dengan tata bahasa kita, agar dapat kita mengerti dan begitu juga sebaliknya?

Dalam hal ini, kami justru tidak menyarankan agar kita memberikan "pendidikan" atau "kursus politik" bagi mereka, kaum muda di manapun. Justru sebaliknya, kita harus belajar banyak dari mereka.

Anak muda Perancis itu adalah salah satu bukti bahwa anak muda memang dan selalu brilian. Dalam beberapa hari saja, nyaris seluruh daerah pinggiran kota Paris menjadi daerah yang tertutup bagi polisi—sesuatu yang membuat kepala polisi Paris memohon-mohon agar militer turut meredam apa yang ia sebut sendiri sebagai insureksi. Dan dalam beberapa hari berikutnya juga, insureksi telah menyebar ke kota-kota lain.

Tahun 1968, para anak muda insurgen berpikir bahwa mereka harus bertahan di kampus dan pabrik karena itulah tempat mereka, membangun otonomi mereka dari tempat tersebut. Tapi justru hal ini juga memberi sebuah kepastian bahwa kekuatan negara akan dapat dengan mudah mendeteksi mereka dan memukul balik mereka dengan mudah. Tak ada yang sulit bagi kekuatan negara untuk menyerang kampus-kampus, apalagi apabila kekuatan militer mulai hadir. Toh apabila memang polisi gagal menyelesaikan tugasnya dalam meredam insureksi, militer telah siap dan selalu siap menggunakan senjata mereka yang lebih berat.

Sementara bagi generasi 2005 ini, saat mereka tak memiliki apa pun, mereka juga tak memiliki apa pun untuk dipertahankan dan dijadikan basis pertahanan. Hal ini justru juga menjadi keuntungan bagi para insurgen ini, mereka dapat dengan bebas menentukan lokasi dan terminologi pertempuran jalanannya serta juga tentang bagaimana polisi diharapkan akan meresponnya. Para insurgen bertempur dalam tim-tim kecil yang sangat mobile, yang dapat menyerang kapan dan di mana mereka mau, untuk kemudian berpisah dan menghilang. Hal yang memaksa kekuatan polisi untuk mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk mempertahankan aset negara di manapun dan dalam waktu yang sama—yang tentu saja tak mungkin dilakukan. Bahkan apabila polisi melakukan penahanan acak, jelas hal tersebut hanya semakin tidak efektif. Apabila para insurgen menyerang sebuah target yang tak dijaga polisi, sudah dapat diperkirakan bahwa polisi akan datang dalam waktu yang sangat terlambat, dan apabila polisi kemudian menangkap mereka yang sekedar kebetulan hadir di lokasi kejadian, hal itu hanya akan menyudutkan polisi sebagai sebuah kekuatan musuh komunitas. Dalam hal ini, dominasi negara telah di ambang kekalahan.

Kini, sekali lagi, anak-anak muda ini dikalahkan karena mereka dibuang oleh generasi yang seharusnya mendukung mereka. Mereka kembali dikalahkan, hanya karena mereka adalah anak muda.

Melihat itu semua, kami tidak akan mengakhiri tulisan ini dengan berusaha mengagitasi anak-anak muda tersebut agar dapat lebih menilik pada program revolusioner yang lebih koheren. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa inilah kesalahan kita selama ini—yang terus diulang-ulang entah untuk ke berapa kalinya—bahwa kita selalu menolak menganggap serius mereka yang memiliki bahasa yang berbeda dalam penentangannya terhadap sistem kapitalisme ini. Yang kami tahu juga, bahwa sesungguhnya anak-anak muda di manapun—tak hanya di Perancis—adalah mentor-mentor yang sesungguhnya dari kehidupan ini. Mereka telah menunjukkan pada kita semua, bahwa tak ada yang tak mungkin untuk dilakukan, untuk mengambilalih kontrol atas hidup kita sendiri. Hanya saja, semua itu akan dapat lebih berhasil apabila kita tidak menganggap remeh semua yang memiliki bahasa dan perbendaharaan kata dan kultur yang berbeda.

Sekali lagi, anak muda telah membuktikan diri sebagai mentor terbaik kita semua, terlepas dari seluruh kesalahan yang mereka lakukan.

Baca Selengkapnya...

PREDIKSI ORWELL DAN PASIFITAS MASYARAKAT MODERN

War is Peace
Ignorance is Strenght
Freedom is Slavery

Dengan slogan-slogan tersebut, 1984 melejit dalam dunia literer sebagai sebuah novel anti-utopian di pertengahan abad ke 20. Dipublikasikan pertama kali pada tahun 1949, visi yang gelap tentang masa depan yang segera hadir di dunia, menjadi sebuah peringatan melawan bahayanya sebuah pemerintahan totalitarian yang didukung oleh teknologi tinggi. Orwell menggambarkan sebuah dunia yang diluluhlantakkan oleh perang nuklir dan kemiskinan, di mana Barat jatuh ke bawah kaki pemerintahan diktator totaliter sosialis: Big Brother. Pemerintahan yang dijalankan bukan oleh seorang yang tampak secara visual, tetapi oleh sebuah perasaan ketidakamanan publik akibat pengawasan yang terus menerus.

Ingsoc Party, partai politik yang berkuasa, telah secara sempurna menggunakan teknologi tinggi untuk memonitor setiap gerak hidup populasi di bawahnya, membuatnya tunduk dengan pengawasan, propaganda dan cuci otak. Tetapi di samping itu semua, proyeknya yang paling brilian adalah dengan diterapkannya sebuah dekonstruksi aktual bahasa Inggris ke dalam Newspeak, bahasa yang digunakan oleh partai penguasa.Setiap edisi dari kamus Newspeak, menampilkan semakin sedikit kata daripada sebelumnya. Dengan melenyapkan arti dan nuansa dari bahasa sehari-hari, pemerintah berharap akan dapat mengikis pemikiran-pemikiran anti-sosial sebelum ia dapat merasuki pikiran seseorang. Tanpa adanya kata-kata dan bahasa untuk mengekspresikan revolusi, maka revolusi tak akan dapat eksis. Bagi mereka yang tetap bertahan untuk tidak mengikuti jalur partai (atau disebut sebagai Thought Criminals dalam Newspeak). Pasukan keamanan Ingsoc, Thought Police, akan segera hadir mengintervensi, memasukkan para pemikir bebas tersebut ke dalam Ministry of Love, di mana mereka akan dicuci otak kembali, atau mungkin malah lebih parah.

Hal yang paling mengganggu dalam kehidupan sehari-hari penduduk Oceania (sebagaimana Orwell di situ menyebut negara besar Eropa-Amerika) adalah keberadaan telescreen, televisi interaktif dua arah yang tak dapat dimatikan, dan memberi akses pengawasan ketat 24 jam penuh di manapun terhadap masyarakatnya. Siapakah yang berada di balik telescreen tersebut? Apakah masyarakat dapat seluruhnya termonitor? Apakah seluruh program tersebut dijalankan oleh mesin? Tak pernah ada masyarakat yang tahu, selain bahwa hanya para anggota elit partailah yang diperbolehkan mematikan telescreen mereka untuk sementara waktu.

Winston Smith, tokoh protagonisnya, bertransformasi menjadi seorang Tought Criminal. Pekerjaannya adalah menulis ulang arsip-arsip dari London Times agar dapat konsisten dengan kebijakan gaya bahasa Newspeak. Saat Ingsoc mengubah kebijakan politiknya ketika beraliansi dengan negara superpower lain dan mulai mengobarkan perang terhadap bekas aliansinya, tugas Winston adalah menulis ulang seluruh informasi untuk memperlihatkan bahwa Oceania tak pernah memiliki aliansi dengan negara yang kini berperang dengannya. Keadaan tersebut diperparah oleh orang-orang yang ia temui, yang tak pernah menyadari bahwa berbagai perubahan telah dilakukan. Winston yang sedih dan kesepian, tetapi juga cukup pintar, mulai memahami manipulasi berbahaya telah disuntikkan ke dalam kesadaran masyarakat.

Maka ia menjadi sebuah korban berikutnya bagi kebijakan pemerintah. Winston mulai mempelajari sebuah kopian buku yang telah dibredel karena dianggap revolusioner oleh Ingsoc, yang ditulis oleh musuh negara yang paling terkenal: Goldstein.Termotivasi dan terinspirasi oleh apa yang ia baca, ia mulai menceburkan diri dalam sebuah kisah cinta dengan sesama pekerja bernama Julia, dan merasa mendapatkan sebuah kawan dalam pemberontakannya melalui seseorang yang bekerja dalam Ingsoc, OBrien. Diliputi kerinduan untuk dapat melarikan diri dari dunia kaku menuju sebuah dunia baru yang lebih baik, ia tak menyadari bahwa ini semua adalah sebuah plot untuk menangkapnya. Ia terlalu terlambat menyadari bahwa sesungguhnya OBrien adalah kepala Thought Police, dan ia jugalah yang sebenarnya menulis buku atas nama Goldstein, dengan tujuan menangkap sebanyak mungkin para revolusioner dan menyeret mereka ke ruang 101—sebuah ruang penyiksaan di mana ketakutan seseorang menjadi nyata. Maka, dalam keadaan hancur sepenuhnya, tercuci otak dan terprogram ulang (sehingga menyetujui bahwa 2+2=5, seperti kata OBrien), Winston dikembalikan ke tengah masyarakat sebagai seorang pemuja Big Brother yang tak berbahaya. Di akhir buku, Winston, berlinang air mata karena takut dan gembira, memproklamirkan kecintaannya pada Big Brother. Seluruh pemikirannya, harapan dan impiannya akan pelarian diri dan kebebasan, secara permanen telah terhapus dari kesadarannya.

Tujuan dari Newspeak, adalah secara drastis mereduksi sejumlah kata-kata dalam bahasa Inggris, dengan tujuan untuk mengeliminasi ide-ide yang dianggap berbahaya bagi kelangsungan kediktatoran Ingsoc dan Big Brother-nya. Thoughtcrime adalah sebuah kejahatan karena berpikir tentang kebebasan dan revolusi, dan karenanya seseorang dapat dijatuhi hukuman siksaan dan cuci otak. Dalam novel tersebut juga disebutkan, tidakkah kau lihat, bahwa tujuan utama Newspeak adalah untuk mempersempit ruang pikiran? Pada akhirnya, kita akan dapat membuat thoughtcrime secara literer menjadi tak mungkin lagi, karena tak ada kata-kata yang dapat digunakan untuk mengekspresikannya. Seluruh iklim pemikiran kita akan berbeda. Pada faktanya nanti, tak akan ada lagi pemikiran sebagaimana yang kita miliki sekarang ini.

Lantas apakah dunia kita saat ini? Apakah di era baru milenia ini berbeda jauh secara fundamental dengan apa yang diprediksikan oleh Orwell? Sepintas tampak banyak sekali perbedaan dari distopia 1984, seperti: rezim totalitarianisme telah bertumbangan, matinya komunisme yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, muncul lebih banyak komunitas, tersedia lebih banyak lagi kebebasan daripada sebelumnya.

Dalam tingkatan geopolitik, ekonomi informasi global telah mempromosikan banyak kedamaian dan kebebasan, menyoroti kasus-kasus represif yang dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara, dari kediktatoran Taliban dan Saddam Hussein hingga Castro di Kuba. Internet juga tampak memberi lebih banyak kebebasan informasi bagi para penggunanya, yang dapat secara spontan mengkomunikasikan ide-ide mereka, apapun itu.

Tetapi benarkah prediksi Orwell melenceng jauh? Dalam Oceania, terdapat dua golongan, mereka yang menjadi bagian dari Partai dan satu lagi disebut The Proles—sejumlah besar proletariat yang tak tercuci otak dan hidup di lokasi-lokasi yang tak layak huni. Sementara di dunia kita, lebih dari 6 juta jiwa tinggal dan hidup di planet ini, siapa sajakah yang menjadi bagian dari Partai? Oke, mari kita berkata dengan terminologi internet. Berapa banyak pengguna internet di dunia? 505 ribu, menurut perhitungan terakhir (sumber: Global Reach 12/01), yang berarti hanya sekitar 8% dari 6,2 juta populasi. Baiklah, lantas Ingsoc memiliki Inner Party dan Outer Party. Jika saja 5% dari populasi dunia adalah Inner Party (mereka yang memiliki akses terhadap pendidikan, kemakmuran, dan dapat menentukan nasib mereka sendiri lebih daripada yang lainnya), maka dapat dikatakan bahwa 10% lainnya termasuk ke dalam Outer Party (mereka yang masih mendapat keuntungan dari kemakmuran, tetapi tak dapat menentukan kebijakan). Di dunia nyata, yang berjumlah 6,2 juta jiwa, katakanlah 9 ribu jiwa (15%) dari populasi mendapat keuntungan dari kebebasan dan kemakmuran dunia modern, mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, dll. Lantas bagaimana dengan 85% sisanya yang mungkin mirip dengan para The Proles dalam karya Orwell ini? Mereka hidup di sebuah dunia di mana 30% dari mereka tinggal di atas lahan di mana air tak dapat diminum, di mana kematian bayi sangat tinggi dan penyakit menyebar tanpa terkontrol, di mana tak ada pendidikan, layanan sosial dan bahkan tak ada prospek hidup sama sekali.

Pikirkan beberapa hal berikut ini: Engkau dapat mematikan televisimu, tetapi apakah memang itu yang kau inginkan? Engkau hidup dalam sebuah masyarakat yang demokratis karena Pemilu yang lalu berjalan demokratis, tetapi kau melihat populasi masyarakat miskin terus bertambah, lantas kau berpikir, mengapa tak ada cukup dana untuk itu semua sementara para birokrat semakin bertambah kaya? Engkau bebas untuk menggunakan uangmu sesuka hatimu. Tetapi mengapa kau selalu ingin membelanjakannya untuk hal-hal yang didiktekan oleh iklan-iklan di sekelilingmu?

Kini garis bawahi pernyataan berikut: engkau tak memiliki kebebasan ataupun kekuatan. Engkau tak merasakan kebutuhan akan kebebasan atau kekuatan. Bahkan lebih buruknya lagi, engkau tak merasa bahwa kau pernah memiliki kedua hal tersebut.

Orwell memang tepat!

Baca Selengkapnya...

Senin, 25 Mei 2009

PATRIARKI, PERADABAN, DAN ASAL-USUL GENDER

Peradaban, pada dasarnya, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan sinonim?

Filsafat telah meninggalkan alam penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam pembagi-bagian divisi kerja, perlahan-lahan mulai terbuka. Hélène Cixous menyebut sejarah filsafat sebagai suatu “rantai ayah-ayah” (chains of fathers). Perempuan, seperti halnya penderitaan, selalu absen dari hal tersebut, dan tentunya (mereka: penderitaan dan perempuan) adalah saudara dekat.

Camille Paglia, seorang pemikir antifeminis, ketika ia merenungi peradaban dan perempuan:


“Ketika aku melihat seekor burung bangau besar melewati sebuah truk panjang, sejenak aku terdiam dan tertunduk takzim, seperti yang akan dilakukan orang-orang ketika sedang berada dalam ibadah gereja. Konsepsi kekuatan macam apa: kebesaran macam apa: yang dihubungkan oleh bangau-bangau ini dengan peradaban Mesir kuno, ketika arsitektur monumental pertama kali dibayangkan dan dicapai. Apabila peradaban diserahkan ke tangan perempuan, mestilah kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk jerami.”2

“Kemuliaan” peradaban dan bagaimana hal tersebut tidak menarik bagi perempuan. Bagi sebagian dari kita “gubuk-gubuk jerami” merepresentasikan untuk tidak mengambil jalan yang salah, yaitu penindasan dan pengrusakan. Di dalam kemajuan peradaban teknologi global yang mengarah pada kehancuran dan kematian, andai saja kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk jerami!

Perempuan dan alam secara universal telah dihilangkan nilainya oleh paradigma dominan dan siapa yang tak melihat penempaan dari ini? Ursula Le Guin memberikan kita koreksi yang tepat dari ketidakpercayaan Paglia akan keduanya (perempuan dan alam):

“Manusia beradab berkata: Aku adalah diri, aku adalah tuan, segala sesuatu diluar dari aku adalah yang lain—berada di luar, di bawah, tak terlihat, bawahan. Aku memiliki, aku menggunakan, aku mengeksplorasi, aku mengeksploitasi, aku mengontrol. Apa yang kulakukan adalah yang penting. Apa yang aku inginkan adalah alasan mengapa semua ini ada. Aku adalah aku, dan selain dari itu adalah keperempuanan dan keliaran yang, harus digunakan sesuai kemauanku.”3

Banyak orang percaya bahwa peradaban yang kali pertama itu matriarkal. Namun, tak seorangpun ahli antropologi atau arkeologi, termasuk feminis, menemukan bukti atas masyarakat tersebut. “Pencarian akan sebuah budaya egalitarian genuin, taruhlah matriarkal, tak pernah membuahkan hasil,” terang Sherry Ortner.4

Meskipun demikian, memang ada masanya, sebelum budaya lelaki menjadi sesuatu yang universal, ketika perempuan secara garis besar tidak selalu berada di bawah pria. Sejak 1970-an antropolog semacam Adrienne Zihlman, Nancy Tanner dan Frances Dahlberg5 membenarkan stereotip mula-mula era prasejarah di mana ”Lelaki adalah sang pemburu” dan ”Perempuan adalah sang peramu.” Kuncinya di sini adalah bahwa dari data-data yang secara general, komunitas-komunitas praagrikultur memperoleh 80 persen kebutuhan makan dari mengumpul (mengumpulkan makanan) dan 20 persen dari berburu. Sangat mungkin untuk mencurigai pemisahan antara berkumpul/berburu dan mengabaikan bahwa komunitas-komunitas tersebut, dalam tingkatan-tingkatan signifikan, dapat membuktikan bahwa perempuan yang berburu dan pria yang meramu.6 Namun otonomi perempuan di dalam masyarakat semacam ini mengacu pada fakta, melalui penilaian pola aktivitas mereka, bahwa sumberdaya untuk hidup bagi perempuan cukup setara dengan pria.

Dalam konteks umum, etos egalitarian masyarakat pemburu (hunter gatherer) atau peramu makanan (foraging society), ahli-ahli antropologi seperti Eleanor Leacock, Patricia Draper dan Mina Caufield telah menjelaskan, secara garis besar, adanya hubungan setara antara perempuan dan pria.7 Di dalam tatanan masyarakat semacam itu ketika seseorang memperoleh sesuatu, ia pula yang akan membagikannya, dan ketika perempuan memperoleh 80 persen makanan, maka mereka jugalah yang menentukan aturan bagi gerak kelompok serta lokasi-lokasi untuk menetap. Serupa dengan adanya bukti yang mengindikasikan bahwa perempuan dan pria yang membuat alat-alat dari batu yang digunakan oleh masyarakat-masyarakat praagrikultur.8

Dalam komunitas-komunitas matriarkal Pueblo, Iroquois, Crow dan kelompok-kelompok Indian Amerika lainnya, perempuan dapat memutuskan tali perkawinan kapan saja. Secara garis besar, pria dan perempuan di dalam masyarakat semacam ini lebih leluasa bergerak dengan bebas dan damai dari satu kelompok ke kelompok lainnya, seperti halnya juga ketika mereka berada di dalam atau di luar suatu hubungan.9 Menurut Rosalind Miles, pria tidak hanya tidak memerintah ataupun mengeksploitasi perempuan,

“...mereka memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki kendali atas tubuh perempuan maupun anak-anak mereka, sehingga tidak ada yang namanya pengagungan akan suatu keperawanan atau kesucian, dan (kaum lelaki) tidak menuntut apapun dari eksklusivitas seksual perempuan.”10

Zubaeda Banu Quraishy memberikan satu contoh dari Afrika: “Asosiasi-asosiasi gender suku Mbuti dikarakterisasikan oleh harmoni dan kerjasama.”11

Kendati demikian, seseorang akan berpikir, benarkah situasinya semenyenangkan itu? Melihat terjadinya penghapusan makna atau devaluasi keperempuanan yang beragam bentuknya, namun tidak dalam esensinya, pertanyaan kapan dan bagaimana, cukup jelas berkata sebaliknya. Terdapat sebuah pembagian mendasar eksistensi sosial menurut gender, serta hierarki dari pembagian tersebut. Bagi filosof Jane Flax, dualisme yang paling mapan, termasuk pemisahan subjek-obyek serta pikiran-tubuh, merupakan suatu refleksi dari perpecahan gender.12

Gender tidaklah serupa dengan pembedaan alamiah/fisiologis menurut jenis kelamin. Ia adalah suatu katagorisasi kultural dan tingkatan yang bersandar pada sebuah pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin yang mungkin merupakan bentuk tunggal kultural yang terpenting. Apabila gender mengenalkan dan melegitimasi ketidaksetaraan serta dominasi, apa yang penting untuk dipertanyakan? Jadi dalam pengertian asal-usulnya—serta dalam pengertian masa depan kita—pertanyaan mengenai masyarakat manusia tanpa gender yang menjadi pertanyaannya.

Kita semua mengerti bahwa pembagian divisi kerja memerlebar jalan terciptanya domestikasi dan peradaban yang menjadi penggerak sistem dominasi global sekarang ini. Juga terlihat bahwa bentukan-bentukan pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin merupakan artifisialitas dalam bentuknya yang paling awal dan juga, sebagai efeknya, membentuk formasi gender.

Saling berbagi makanan telah lama dikenal sebagai suatu capaian terbaik dari cara hidup meramu bahan makanan (foraging life-way). begitu juga dengan membagi tanggung jawab untuk merawat keturunan, yang masih dapat dilihat dari sisa-sisa masyarakat semacam itu, dan pola semacam ini cukuplah berbeda dengan kehidupan keluarga dalam peradaban yang terisolasi dan terprivatisasi. Keluarga tidak dipandang sebagai suatu institusi abadi, begitupula dengan eksklusivitas peran “wanita sebagai pengasuh” (female mothering) yang dimaknai sebagai suatu hal yang tak terhindarkan dari evolusi manusia.13

Masyarakat terintegrasikan melalui pembagian divisi kerja dan keluarga, terintegrasikan melalui pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin. Kebutuhan untuk integrasi memperlihatkan sebuah tegangan, sebuah keterpisahan yang mengundang suatu dasar kohesi atau solidaritas. Dalam pengertian ini, anggapan Testart cukup tepat: ”[hal yang] inheren di dalam hubungan kekerabatan adalah hierarki.”14 Dengan berdasar pada pembagian divisi kerja, hubungan di dalam keluarga menjadi hubungan produksi. ”Gender adalah sesuatu yang inheren di dalam sifat alami hubungan kekerabatan,” seperti yang dijelaskan oleh Cucchiari, ”yang tak dapat eksis tanpanya.”15 Di dalam wilayah inilah akar dari dominasi terhadap alam, sebagaimana juga dominasi terhadap perempuan, dapat dieskplorasi.

Seperti yang telah diketahui, suku-suku peramu makanan di dalam masyarakat semacam itu membuka jalan bagi peran-peran yang terspesialisasi, struktur hubungan kekerabatan membentuk infrastruktur hubungan yang akan berkembang menuju ketidaksetaraan dan pembeda-bedaan kekuatan. Perempuan secara tipikal menjadi imobilitas akibat suatu peran khusus menjaga anak; pola semacam ini selanjutnya semakin berkembang melampui kriteria-kriteria yang tadinya terbentuk sebagai peran gender. Pemisahan dan pembagian divisi kerja menurut gender ini mulai hadir selama transisi dari era Pertengahan sampai era Paleolitikum Lanjut.16

Gender dan sistem hubungan kekerabatan merupakan konstruksi kultural yang dibentuk berdasarkan dan bertentangan dengan subjek-subjek biologis yang, menurut Juliet Mitchell, melibatkan “lebih dari apapun sebuah organisasi simbolik dari perilaku.”17 Seperti yang telah eksis di dalam masyarakat berbasis gender dan sistem hubungan kekerabatan, mungkin akan lebih menjelaskan apabila melihat langsung pada budaya simbolik itu sendiri, dengan melihat “kebutuhan untuk memediasi secara simbolis suatu pendikotomian kosmos yang hebat.”18 Pertanyaan siapa yang lebih dulu muncul, datang dengan sendirinya dan sulit untuk diketahui. Kendati demikian, cukup jelas bahwa tak ada pembuktian aktivitas-aktivitas simbolik (seperti misalnya yang terdapat di dalam lukisan-lukisan gua) sebelum sistem gender, yang didasari pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin, terlihat berlangsung di era tersebut.19

Memasuki era Paleolitikum Lanjut, yang merupakan epos awalan dari Revolusi Neolitikum di mana terbentuknya peradaban dan domestikasi, revolusi gender telah mencapai masanya. Tanda-tanda maskulin dan feminin mulai hadir sekitar 35.000 tahun lalu di dalam seni-seni gua. Kesadaran gender bangkit sebagai pencapaian keseluruhan dualitas, suatu spektral atau momok dari masyarakat yang terpilah-pilah. Di dalam suatu polarisasi aktivitas baru ini, aktivitas menjadi relasi dan terdefinisikan oleh gender. Peran pemburu, misalnya, berkembang menjadi sesuatu yang diasosiasikan sebagai kelaki-lakian, kriteria-kriterianya diatributkan pada gender pria sebagai suatu sifat yang diinginkan.

Ketika telah menjadi sangat menyatu atau menyeluruh, aktivitas semacam kelompok-kelompok peramu makanan dan tanggung jawab komunal untuk merawat anak, sekarang ini menjadi bidang-bidang yang terpisah di mana kecemburuan seksual dan kepemilikan (posesifitas) mulai terlihat. Di saat yang bersamaan, hal-hal simbolis muncul sebagai suatu bidang ataupun realitas yang terpisah. Bukti-bukti ini bisa dilihat dalam praktik-praktik seni dan ritual. Sangatlah berisiko untuk mengandaikan masa lalu yang jauh menggunakan titik berangkat masa sekarang, meskipun budaya-budaya nonindustrial yang masih tersisa dapat menunjukan titik terang. Suku Bimin-Kushumin Papua Nugini, misalnya, mengalami pemisahan maskulin dan feminin sebagai sesuatu yang mendasar dan menegaskan. ”Esensi” maskulin, yang diistilahkan sebagai finiik, tidak hanya melambangkan kualitas-kualitas kekuatan ala ksatria perang, tapi juga berhubungan dengan ritual dan kontrol. ”Esensi” feminin, atau khaapkhabuurien, adalah sesuatu yang liar, impulsif, sensual, dan acuh pada ritual.20 Sama halnya dengan Mansi di daerah barat-daya Siberia yang memberlakukan aturan-aturan keras pada keterlibatan perempuan di dalam praktik-praktik ritual.21 Dengan bukti suku-suku seperti ini, bukanlah hal yang berlebihan untuk mengatakan bahwa, kehadiran atau absen peran ritual, merupakan sesuatu yang menentukan bagi subordinasi perempuan.22 Gayle Rubin menyimpulkan bahwa ”kekalahan dunia-historis (world-historical) perempuan terjadi melalui asal-usul budaya dan merupakan prasyarat budaya.”23

Kebangkitan simultan budaya simbolis dan kehidupan gender bukanlah suatu kejadian yang kebetulan. Kedua-duanya melibatkan suatu perubahan mendasar dari kehidupan yang tadinya tidak terpilah-pilah dan nonhierarkis. Logika perkembangan dan perluasan kedua hal tersebut merupakan sebuah respon dari tegangan-tegangan dan ketidaksetaraan yang mereka ciptakan; keduanya saling-terhubung secara dialektis dengan awal-mula pemisahan divisi kerja yang artifisial.

Secara cukup relatif, “Lompatan Besar Menuju” era agrikultur dan peradaban mulai hadir ketika terjadinya alterasi gender atau budaya simbolik. Ini merupakan era yang menentukan bagi istilah ”rising above nature”, dengan mulai mengenyampingkan keintiman dan kecerdasan nondominatif dengan alam yang telah ada sebelumnya, selama dua juta tahun. Perubahan ini cukup menentukan bagi konsolidasi dan intensifikasi pembagian divisi kerja. Meillasoux mengingatkan kita tentang permulaannya:

“Alam sama sekali tidak menjelaskan mengenai pembagian divisi kerja menurut jenis kelamin, tidak pula dengan institusi semacam pernikahan, keterikatan suami-istri, maupun paternalitas. Semuanya dipaksakan kepada perempuan, oleh karena itu semua fakta-fakta peradaban haruslah dijelaskan, bukan malah menggunakannya untuk menjelaskan [secara sebaliknya].”24

Kelkar dan Nathan, misalnya, tidak banyak menemukan adanya spesialisasi gender pada kelompok-kelompok pemburu di India bagian barat, apabila dibandingkan dengan kondisi masyarakat agrikultur disana.25 Transisi dari pengumpul makanan menuju pada pemeroduksi makanan mengarah pada perubahan-perubahan radikal di dalam masyarakat mana saja. Cukuplah menjelaskan, apabila mencermati contoh yang mendekati jaman sekarang, bahwa suku Muskogee di Amerika Tenggara yang menjunjung tinggi nilai-nilai intrinsik dari hutan yang belum terjamah dan terdomestikasi; dijajah oleh kaum kolonial dan menggantikan tradisi Muskogee yang matrilineal dengan hubungan patrilineal.26

Tempat terjadinya transformasi dari gaya hidup “liar” menuju yang berbudaya adalah ketika manusia mulai berdomisili secara tetap, sebagaimana perempuan mulai terbatasi horison-horisonnya. Domestikasi berangkat dari sini (secara etimologis, berasal dari kata Latin domus, atau rumah tangga): kerja-kerja membosankan—yang tidak sesulit seperti meramu bahan makanan—, reproduksi berlebihan, dan pengharapan hidup yang lebih rendah daripada kaum pria. Indikasi-indikasi ini hadir di dalam masyarakat agrikultur sebagai peran perempuan.27 Dari sini dikotomi yang lain lagi muncul, pembedaan antara kerja dan nonkerja, sesuatu yang bagi banyak generasi tidak pernah eksis. Melalui produksi gender ini beserta perluasannya yang konstan, mulai berkembanglah fondasi-fondasi budaya dan mentalitas kita.

Setelah dibatas-batasi seperti ini, perempuan, meski belum sepenuhnya dipasifkan, mulai didefinisikan sebagai pasif. Seperti halnya alam, sebagai nilai yang dijadikan sumber untuk diproduksi; yang menunggu penyuburan dan pengaktifan dari luar tubuhnya. Perempuan mengalami pelepasan otonomi dan kesetaraan yang relatif di dalam suku-suku kecil yang bersifat nomadik dan anarkik menjadi kediaman-kediaman yang besar, kompleks, dan dikontrol.

Mitologi dan agama, sebagai kompensasi-kompensasi dari masyarakat yang terpilah-pilah, bersaksi atas direduksinya posisi perempuan. Dalam cerita Yunani versi Homer, tanah kosong (yang belum didomestikasi oleh budaya bercocok-tanam), kediaman Calypso asal Circa, Sirens yang menggoda Odysseus untuk meninggalkan kerja-kerja peradaban, dikatagorikan sebagai feminin. Baik tanah dan perempuan, sekali lagi, menjadi subjek dominasi. Namun imperialisme semacam ini mengkhianati asal muasal rasa bersalah, sebagaimana hukuman bagi mereka yang berkaitan dengan domestikasi dan teknologi, di dalam dongeng-dongeng Promotheus dan Sisifus. Proyek agrikultur di banyak tempat, menjadi semacam pelanggaran; seperti halnya pemerkosaan di dalam cerita-cerita Demeter. Seiring lewatnya waktu dan kekalahan-kekalahan , hubungan-hubungan ibu dan anak perempuan di dalam mite Yunani—seperti cerita-cerita Demeter-Kore, Clytemnestra-Iphigenia, Jocastra-Antigone, misalnya—mulai hilang.

Di dalam Kitab Kejadian (Genesis), bagian awal dari Alkitab, perempuan lahir dari rusuk pria. Kejatuhan (baca: keterusiran) dari Taman Eden merepresentasikan kematian kehidupan berburu dan berkumpul, pemaksaan menuju agrikultur dan kerja-kerja keras. Tentunya, semua itu disalahkan pada Hawa (Eve), yang menjadi stigma dari Kejatuhan ini.28 Cukup ironis memang, di dalam cerita tersebut domestikasi terasa seperti rasa takut dan penolakan terhadap sifat alam dan perempuan, sementara mite Eden, dalam kenyataannya, justru menyalahkan korban utama dari skenarionya.

Agrikultur adalah penaklukan yang mengisi lahirnya formasi dan berkembangnya gender. Terlepas dari adanya figur-figur dewi-dewi, yang dijadikan sebagai lambang kesuburan, secara general budaya Neolitikum sangatlah menjunjung tinggi kejantanan. Melalui dimensi-dimensi emosional maskulinisme, sebagaimana yang dilihat Cauvin, domestikasi hewan-hewan mestilah datang, secara prinsipal, dari inisiatif kaum pria.29 Semenjak itu pemisahan dan tekanan pada kekuasaan mulai hadir bersama kita; ekspansi daerah-daerah, misalnya, di mana energi pria menundukan sifat alami perempuan mulai diperluas.

Hal ini telah mencapai proporsinya yang dashyat, dan dari segala sisi kita diberitahu bahwa kita tidak dapat menghindari hubungan dengan teknologi yang sudah sangat menyeluruh. Namun patriarki, juga, ada di mana-mana, dan sekali lagi inferioritas alam dipertahankan. Untungnya, ”banyak kaum feminis”, menurut Carol Stabile, percaya bahwa “penolakan terhadap teknologi, secara fundamental, sangatlah identik dengan penolakan terhadap patriarki.”30

Ada kaum feminis lain yang mengklaim bahwa bagian dari sumber-sumber teknologi, mengakui adanya suatu “pelepasan dari tubuh” secara virtual, cyborg (organisme sibernetik) dan sejarah penaklukan gendernya. Namun titik berangkat semacam ini salah kaprah, suatu pelupaan akan keseluruhan angkutan dan logika menindas dari institusi yang menciptakan patriarki. Masa depan high-tech yang mengoyak tubuh ini hanya merupakan unsur dan jalan yang sama destruktifnya.

Menurut Freud, menganalisa orang menurut subjek gendernya merupakan sesuatu yang mendasar, baik secara kultural dan psikologis. Namun teori-teorinya mengasumsikan masa yang telah mengekspresikan subjektivitas gender, dan karenanya memicu banyak pertanyaan. Berbagai macam pertimbangan tetap tak terpetakan, seperti halnya gender sebagai suatu ekspresi relasi kekuasaan, dan fakta bahwa manusia datang di dunia sebagai mahkluk biseksual.

Carla Freeman memiliki pertanyaan yang berkaitan di dalam esainya yang berjudul, “Is Local: Global as Feminine: Masculine? Rethinking the Gender of Globalization” .31

Krisis umum modernitas berakar pada imposisi gender. Pemisahan dan ketidaksetaraan dimulai pada periode lahirnya budaya simbolik, yang pada tingkatan lanjutnya menjadi sesuatu yang menentukan seperti halnya dengan domestikasi dan peradaban: patriarki. Hierarki gender tidak dapat direformasikan seperti halnya sistem kelas atau globalisasi. Tanpa konsep pembebasan perempuan yang benar-benar radikal, kita akan terjebak di dalam pengecohan dan pengudungan yang sekarang ini telah menjadi hasil yang menakutkan di manapun. Keseluruhan orisinal ketiadaan gender (genderlessness) mungkin bisa menjadi prasyarat bagi penyelamatan kita. []

Jejak kaki:

a John Zerzan, lahir pada 1943 di Oregon. Ia menamatkan pendidikan B.A pada Universitas Stanford dalam disiplin Ilmu Politik (1962-1966), mendapatkan magister dalam bidang kajian Sejarah dari Universitas Negeri San Fransisco (1970-1972), dan menempuh pendidikan Ph.D di Universitas California Selatan (1972-1975). Zerzan merupakan seorang anarkis dan filosof primitivis, dan profilik dalam penulisan. Ada empat karya yang menjadi magnum opusnya, yakni Elements of Refusal (1988), Future Primitive and Other Essays (1994), Against Civilization: A Reader (1998) dan Running on Emptiness (2002). Kegiatannya banyak berkonsentrasi pada kritik peradaban. Ia mengkaji secara mendalam mengenai pola kehidupan manusia prasejarah. Selain, itu sangat aktif dalam gerakan-gerakan anarkis yang ada.

1 Naskah ini diterjemahkan oleh Ernesto Setiawan, kemudian diperiksa ulang serta disunting dengan merujuk naskah aslinya oleh Hardiansyah Suteja.

2 Camille Paglia. 1990. Sexual Personae: Art and Decadence from Nefertiti to Emily Dickinson. New Haven: Yale University Press: New Haven. hal. 38.

3 Ursula Le Guin. 1989. "Women/Wildness," dalam Judith Plant (ed.) Healing the Wounds. Philadelphia: New Society. hal. 45.

4 Sherry B. Ortner. 1996. Making Gender: the Politics and Erotics of Culture. Boston: Beacon Press. hal. 24. Lihat juga Cynthia Eller. 2000. The Myth of Matriarchal Prehistory: Why an Invented Past Won’t Give Women a Future. Boston: Beacon Press.

5 Sebagai contoh, Adrienne L. Zihlman dan Nancy Tanner. 1978. "Gathering and Hominid Adaptation" dalam Lionel Tiger and Heather Fowler (ed.). Female Hierarchies. Chicago: Beresford); Adrienne L. Zihlman. 1978. "Women in Evolution," Signs 4; Frances Dahlberg. 1981. Woman the Gatherer New Haven: Yale University Press; Elizabeth Fisher. 1979. Woman’s Creation: Sexual Evolution and the Shaping of Society. Ga.rden City NY: Anchor/ Doubleday.

6 James Steele dan Stephan Shennan (ed.). 1995. The Archaeology of Human Ancestry. New York: Routledge. hal. 349. juga M. Kay Martin and Barbara Voorhies. 1975. Female of the Species. New York: Columbia University Press, hal 210-211.

7 Leacock merupakan salah satu yang paling ngotot di antara semuanya, dengan mengatakan bahwa apapun bentuk dari dominasi pria yang ada dalam masyarakat tersebut yang bertahan, disebabkan oleh efek dominasi kolonial. LIhat Eleanor Burke Leacock. 1978. "Women’s Status in Egalitarian Society" dalam Current Anthropology 19; dan Eleanor Burke Leacock. 1981. Myths of Male Dominance. New York: Monthly Review Press. Lihat juga "Powerful Women and the Myth of Male Dominance in Aztec Society" karya S. dan G. Cafferty Archaeology from Cambridge 7 (1988).

8 Joan Gero dan Margaret W. Conkey (ed.). 1991. Engendering Archaeology. Cambridge MA: Blackwell; C.F.M. Bird. 1993. "Woman the Toolmaker" dalam Women in Archaeology. Canberra: Research School of Pacific and Asian Studies.

9 Claude Meillasoux. 1981. Maidens, Meal and Money. Cambridge: Cambridge University Press, hal. 16.

10 Rosalind Miles. 1986. The Women’s History of the World. London: Michael Joseph. hal. 16.

11 Zubeeda Banu Quraishy. 2000. "Gender Politics in the Socio-Economic Organization of Contemporary Foragers" dalam Ian Keen dan Takako Yamada (ed.). Identity and Gender in Hunting and Gathering Societies. Osaka: National Museum of Ethnology. hal. 196.

12 Jane Flax. 1983. "Political Philosophy and the Patriarchal Unconscious " dalam Sandra Harding dan Merrill B. Hintikka (ed.), Discovering Reality. Dortrecht: Reidel. hal. 269-270.

13 Lihat Patricia Elliott. 1991. From Mastery to Analysis: Theories of Gender in Psychoanalytic Feminism. Ithaca: Cornell University Press. e.g. hal. 105.

14 Alain Testart. 1989. "Aboriginal Social Inequality and Reciprocity" dalam Oceania 60. hal. 5.

15 Salvatore Cucchiari. 1984. "The Gender Revolution and the Transition from Bisexual Horde to Patrilocal Band" dalam Sherry B. Ortner dan Harriet Whitehead (ed.) Sexual Meanings: The Cultural Construction of Gender and Sexuality. Cambridge UK: Cambridge University Press. hal. 36. Essay ini sangatlah penting.

16 Olga Soffer. 1992. "Social Transformations at the Middle to Upper Paleolithic Transition" dalam Günter Brauer dan Fred H. Smith (ed.) Replacement: Controversies in Homo Sapiens Evolution. Rotterdam: A.A. Balkema. hal. 254.

17 Juliet Mitchell. 1984. Women: The Longest Revolution. London: Virago Press. hal. 83.

18 Cucchiari. op.cit.. hal. 62.

19 Robert Briffault. 1931. The Mothers: the Matriarchal Theory of Social Origins. New York: Macmillan. hal. 159.

20 Theodore Lidz & Ruth Williams Lidz. 1998. Oedipus in the Stone Age. Madison CT: International Universities Press. hal. 123.

21 Elena G. Fedorova. 2000. "The Role of Women in Mansi Society" dalam Peter P. Schweitzer pada Megan Biesele dan Robert K. Hitchhock (ed.) Hunters and Gatherers in the Modern World. New York: Berghahn Books. hal. 396.

22 Steven Harrall. 1997. Human Families. Boulder CO: Westview Press. hal. 89. "Contoh-contoh hubungan antarritual dan ketidaksetaraan di dalam masyarakat forager tersebar luas,” menurut Stephan Shennan pada "Social Inequality and the Transmission of Cultural Traditions in Forager Societies" dalam Steele and Shennan (ed.). op.cit.. hal. 369.

23 Gayle Rubin. 1979. "The Traffic in Women" dalam Toward an Anthropology of Women. New York: Monthly Review Press. hal. 176.

24 Meillasoux. op.cit.. hal 20-21.

25 Disebut oleh Indra Munshi. 2003. "Women and Forest: A Study of the Warlis of Western India," dalam Govind Kelkar, Dev Nathan dan Pierre Walter (ed.) Gender Relations in Forest Societies in Asia: Patriarchy at Odds. New Delhi: Sage. hal. 268.

26 Joel W. Martin. 1991. Sacred Revolt: The Muskogees’ Struggle for a New World. Boston: Beacon Press. hal 99, 143.

27 The production of maize, one of North America’s contributions to domestication, "had a tremendous effect on women’s work and women’s health." Women’s status "was definitely subordinate to that of males in most of the horticultural societies of [what is now] the eastern United States" by the time of first European contact. The reference is from Karen Olsen Bruhns and Karen E. Stothert. 1999. Women in Ancient America. Norman: University of Oklahoma Press. p. 88. Also, for example, Gilda A. Morelli. 1997. "Growing Up Female in a Farmer Community and a Forager Community" in Mary Ellen Mabeck, Alison Galloway and Adrienne Zihlman (ed.). 1997. The Evolving Female. Princeton: Princeton University Press: "Young Efe [Zaire] forager children are growing up in a community where the relationship between men and women is far more egalitarian than is the relationship between farmer men and women" (p. 219). See also Catherine Panter- Brick and Tessa M. Pollard. 1999. "Work and Hormonal Variation in Subsistence and Industrial Contexts" in C. Panter-Brick and C.M. Worthman (ed.). Hormones, Health, and Behavior. Cambridge: Cambridge University Press, in terms of how much more work is done, compared to men, by women who farm vs. those who forage.

28 The Etoro people of Papua New Guinea have a very similar myth in which Nowali, known for her hunting prowess, bears responsibility for the Etoros’ fall from a state of well-being. Raymond C. Kelly. 1993. Constructing Inequality. Ann Arbour: University of Michigan Press. p. 524.

29 Jacques Cauvin. 2000. The Birth of the Gods and the Origins of Nature. Cambridge: Cambridge University Press. p. 133.

30 Carol A. Stabile. 1994. Feminism and the Technological Fix. Manchester: Manchester University Press. p. 5.
31 Carla Freeman. 2001. "Is Local:Global as Feminine:Masculine? Rethinking the Gender of Globalization"dalam Signs 26.


John Zerzan

Baca Selengkapnya...

Senin, 18 Mei 2009

TEKNOLOGI DAN PERTENTANGAN KELAS

Perkembangan teknologi enam tahun terakhir—industri nuklir, sibernitika dan teknik-teknik informasi terkait, bioteknologi dan rekayasa genetika—telah memberikan perubahan mendasar dalam ruang lingkup sosial. Metode eksploitasi dan dominasi telah berubah, dan untuk alasan inilah ide lama tentang sifat dasar dan perjuangan kelas tidak cukup untuk bisa memahami situasi sekarang ini. 'Pekerja'isme para marxis dan sindikalis tidak lagi menawarkan sesuatu yang berguna dalam mengembangkan praktek revolusioner. Akan tetapi, penolakan konsep kelas bukan pula merupakan jawaban yang berguna untuk situasi saat ini, karena hal semacam ini [tersebut] akan menghilangkan sarana untuk memahami realitas kekinian dan bagaimana cara menyerangnya.

Eksploitasi tidak hanya berlanjut begitu saja, tetapi telah berkembang secara tajam sejak lahirnya teknologi. Sibernetika telah membuka desentralisasi produksi, penyebaran unit-unit kecil produksi dalam lingkup sosial. Secara drastis, otomasi secara drastis telah mengurangi jumlah produksi pekerja yang dibutuhkan dalam tiap proses manufakur . Sibernetika telah meciptakan metode perolehan keuntungan yang instant tanpa memproduksi sesuatu yang nyata, yang kemudian membantu modal\kapital berkembang sendiri dengan ongkos buruh yang minimal.


Kemudian, teknologi baru menuntut spesialisasi pengetahuan yang memang tidak tersedia untuk kebanykan orang. Pengetahuan ini menjadi harta yang berharga dari kelas yang berkuasa [ruling class] pada masa sekarang. Di bawah sistem industri yang lama, seseorang dapat melihat perjuangan kelas sebagai perjuangan antara pekerja dan pemilik alat produksi. Ini menjadi sesuatu yang masuk akal. Setelah perkembangan teknologi, orang-orang yang tereksploitasi telah mendapati diri mereka mengarah pada posisi yang sulit. Pada masa industri saat ini posisi pekerja yang sepanjang harinya bekerja di dalam pabrik tergantikan oleh pekerja harian, layanan sektor jasa, kerja paruh waktu, pengangguran, pasar ilegal, ilegalitas, tuna wisma dan penjara. keadaan seperti ini menjamin bahwa tembok pemisah yang diciptakan oleh teknlogi baru di antara pengeksploitasi dan yang tereksploitasi menyisakan sesuatu yang tak terobohkan.

Akan tetapi, sifat alamiah teknologi itu sendiri melampaui jangkauan mereka yang tereksploitasi. Awal perkembangan industrial mengambil fokus utamanya dalam penemuan teknik standarisasi pembiayaan rendah dengan profit/keuntungan yang tinggi dalam pabrikasi massal. teknologi yang berkembang kini tidaklah terlalu memfokuskan diri pada produksi barang-barang dalam artian teknologi yang kini berkembang, memfokuskan diri pada penyebaran secara luas kontrol sosial serta sedapat mungkin mengurangi keuntungan dari produksinya. Industri nuklir tidak hanya membutuhkan spesialisasi pengetahuan, namun juga tingkat pengamanan yang tinggi yang menempatkannya benar-benar dibawah kontrol negara dan memerlukan struktur militer yang sesuai dengan penggunaannya yang ekstrim dalam militer. Teknologi sibernetik memiliki kemampuan memproses, merekam, mengumpulkan dan mengirim informasi sesuai kebutuhan negara untuk dokumentasi dan memantau warganya yang juga merupakan pengurangan kebutuhan akan pengetahuan bagi mereka yang diatur dengan berbit-bit informasi—data—harapan, hal ini mereduksi kemampuan yang sesungguhnya/nyata dalam memahami mereka yang tereksploitasi. Bioteknologi memberi kontrol negara dan kapital terhadap sebagian besar proses-proses kehidupan yang paling fundamental itu sendiri—membiarkan mereka (negara dan kapital) menentukan jenis tetumbuhan, hewan—dan bahkan manusia yang bisa eksis.

Oleh karena itu teknologi-teknologi ini memerlukan spesialisasi pengetahuan dan dikembangkan untuk kepentingan peningkatan kontrol negara dan kapital terhadap seluruh kehidupan manusia bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, kelas yang tereksploitasi sekarang dapat dipahami sebagai kelas-kelas yang terabaikan dari spesialisasi pengetahuan ini dan dari partisipasi yang nyata dalam pemungsian kekuasaan. Kelas pemodal/borjuis yang dimaksud dalam pengertian kini adalah golongan yang berpartisipasi dalam fungsi kekuasaan dan penggunaan dari spesialisasi pengetahuan teknologikal dalam artian yang sebenarnya . Tentu saja ada proses-proses dalamnya, dan batas antara kelas penguasa dan kelas pekerja, dalam beberapa kasus dua kelas ini,menjadi sulit untuk dipahami karena peningkatan jumlah penduduk yang terproletarisasi—kehilangan kemampuan/kebebasan untuk membuat keputusan atas kondisi eksistensi mereka yang mungkin telah mereka miliki.

Penting untuk diketahui meskipun teknologi-teknologi baru ini dimaksudkan untuk memberikan kontrol kepada negara atas kelas yang terabaikan dan segala kekayaan hasil bumi, justru mesin-mesin itu sendiri melampaui/tak dapat di kontrol oleh manusia. Keleluasan dan spesialisasi yang mereka perlukan berkombinasi dengan bahan-bahan material yang tak terprediksikan —atom dan sub partikel-partikel atom, gelombang cahaya, gen dan kromosom, dan lain-lain—hal ini untuk menjamin bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa memahami sepenuhnya bagaimana semua itu bekerja.

Aspek teknologikal ini tentunya yang telah menambah penderitaan kita akibat krisis ekonomi yang berlangsung. Meskipun demikian, ancaman bencana teknologi ini diluar kontrol siapapun juga yang memberi kuasa dalam mengontrol kelas yang tereksploitasi—ketakutan akan Chernobyl-chernobil lainnya, monster bermesin genetis yang lolos dari laboratorium—menciptakan penyakit dan kenyamanan, menggerakkan orang untuk menerima aturan para ahli yang telah membutikan batas-batas mereka secara terus menerus. Lebih jauh lagi, negara—yang bertanggung jawab kepada setiap orang atas perkembangan teknologi ini melalui militernya-mampu menghadirkan dirinya sebagai pengawas dalam melawan penyalahgunaan teknologi oleh korporasi-korporasi yang merajalela kini. Sehingga, kedahsyatan serta nafsu yang tak terkendali ini melayani pihak yang mengeksploitasi dengan baik dalam mempertahankan kontrol mereka terhadap seluruh populasi yang tersisa. Dan apakah mereka(kelas borjuis) perlu memikirkan mengenai kemungkinan musibah-musibah yang akan terjadi pada seluruh umat manusia di bumi ketika kekayaan dan kekuasaan mereka menyediakan rencana darurat yang hanya untuk melindungi mereka, bukan untuk kita?

Oleh sebab itu, pengecualian teknologi baru dan kondisi baru serta bahaya yang dipaksakan pada kelas yang tereksploitasi akan meruntuhkan cita-cita usang tentang pengambilalihan sarana produksi. Teknologi ini-yang terkontrol maupun yang tak terkontrol-tak dapat memberikan tujuan manusia yang sebenarnya dan tidak ada tempat dalam perkembangan dunia bagi kebebasan individu untuk menentukan hidup mereka sesuai yang mereka inginkan. Jadi ilusi utopia para sindikalis dan marxis tak lagi dapat digunakan dalam dunia kita pada masa sekarang ini. Tetapi apakah pernah digunakan sebelumnya? Perkembangan teknologi baru secara spesifik berorientasi pada pengontrolan, tetapi semua perkembangan industri telah mengambil perlunya keseriusan dalam pengontrolan terhadap kelas non-eksploitator. Pabrik diciptakan untuk membawa produsen ke bawah naungan satu atap guna mengatur kegiatan-kegiatan mereka dengan lebih baik; garis produksi memekanisasi peraturan ini; setiap teknologi baru mempercepat pekerjaan pabrik, sehingga setiap waktu serta gerak-gerik pekerja lebih lanjut berada di bawah pengontrolan. Oleh karena itu, ide yang menyatakan bahwa pekerja dapat membebaskan diri mereka dengan mengambil alih sarana produksi masih selalu menjadi angan-angan. Ini adalah angan-angan yang tak dapat dipahami ketika proses teknologikal mengambil manufaktur sebagai tujuan utama mereka. Sekarang ketika tujuan utama mereka begitu jelas sebagai kontrol sosial, sifat nyata perjuangan kita harus jelas pula: menghancurkan segala sistem kontrol-(negara), modal dan sistem teknologi mereka, mengakhiri kondisi proletarianisasi kita dan penciptaan diri kita sebagai individu bebas yang mampu menentukan bagaimana kita hidup sesuai keinginan kita sendiri. Untuk melawan teknologi, senjata terbaik adalah senjata yang digunakan kelas yang dieksploitasi sejak awal era industri: sabotase.


-Wolfi Landstreicher
Baca Selengkapnya...