<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728</id><updated>2012-02-16T02:25:05.294-08:00</updated><title type='text'>KATALIS</title><subtitle type='html'>Bagaimana membangun sesuatu yang baru jika yang lama tak terlebih dulu jadi abu?!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>94</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-3098414618433277208</id><published>2011-12-23T19:58:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T16:39:55.409-08:00</updated><title type='text'>LAWAN DEMOKRASI!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Mu2IQ_Hvgoc/TvVP_Bjq8uI/AAAAAAAAAa0/sQybHSc4-Ns/s1600/femdom-sexy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 365px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Mu2IQ_Hvgoc/TvVP_Bjq8uI/AAAAAAAAAa0/sQybHSc4-Ns/s400/femdom-sexy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5689541648420893410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span&gt;Teks ini digunakan sebagai bahan pembicaraan awal yang diberikan di London dan Brighton pada tahun 1993, yang berisi ringkasan oposisi kelas pekerja terhadap demokrasi. Direproduksi untuk referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari pembicaraan singkat ini adalah untuk meyakinkan anda sekalian bahwa orang-orang revolusioner haruslah menentang demokrasi dalam setiap variannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku ingin mendapatkan argumen tentang penggunaan kata yang keluar dari jalur. Banyak orang akan sepakat dengan apa yang aku bicarakan (atau akan berpikir bahwa mereka sepakat) tapi mereka akan berkata, “Ah iya, tapi apa yang kamu katakan adalah demokrasi borjuis. Apa yang aku maksud dengan demokrasi adalah sesuatu yang berbeda.” Aku ingin mengusulkan bahwa ketika orang-orang berbicara mengenai demokrasi “yang sebenarnya” atau “para pekerja” demokrasi yang bertentangan dengan demokrasi borjuis, pada kenyataannya yang mereka maksud adalah hal yang sama dengan para borjuis memaksudkan demokrasi, walaupun sepintas berbeda. Kenyataan bahwa mereka memilih untuk menggunakan kata demokrasi sebenarnya jauh lebih signifikan daripada klaim mereka. Inilah mengapa penting untuk mengatakan “Matilah demokrasi!”. Sebuah analogi kabur mungkin sama dengan kata “pembangunan" (&lt;i&gt;development&lt;/i&gt;). Orang-orang kiri dunia ketiga umumnya akan berkata bahwa mereka sepakat terhadap pembangunan. Ketika kamu berkata, “Bukankah itu yang diinginkan oleh IMF?”, mereka akan menjawab “Bukan, kami menginginkan pembangunan yang sebenarnya”. Ketika kamu berbicara dengan mereka maka kamu semakin menemukan bahwa pada kenyataannya apa yang mereka inginkan sama dengan yang diinginkan oleh IMF... hanya saja IMF lebih realistis dalam  memahami maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan dasar pertentanganku di sini adalah bagaimanapun kamu mengklaim menentang hak milik (sebagaimana yang dilakukan oleh para Leninis-Trotskyis-Stalinis) atau bahkan melawan negara (sebagaimana yang dilakukan oleh para anarkis), jika kamu mendukung demokrasi maka sebenarnya apa yang kamu lakukan adalah demi hak milik atau demi negara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;APA &lt;i&gt;SIH&lt;/i&gt; DEMOKRASI ITU?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam term yang paling umum, demokrasi adalah peraturan tentang hak-hak dan kesetaraan. Ini adalah hal yang paling mudah untuk melihat bahwa hal tersebut adalah kapitalis. “Hak-hak” mengimplikasikan eksistensi dari para individu yang teratomisasi dalam kompetisi dengan sesamanya. Hal ini juga mengimplikasikan eksistensi dari negara, atau suatu bentuk dari kekuasaan semi-negara, yang menjamin hak-hak masyarakat. “Kesetaraan” mengimplikasikan eksistensi dari sebuah masyarakat di mana orang-orang dapat hak yang sama layak—yaitu sebuah masyarakat yang berdasarkan pada tenaga kerja abstrak. Demokrasi sering didefinisikan sebagai Peraturan Masyarakat—masyarakat selalu dipahami sebagai massa dari warga yang teratomisasi dengan hak-hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada level yang paling abstrak kamu bisa berkata bahwa kapitalisme adalah sebuah paham yang selalu demokratis. Kamu dapat berkata bahwa demokrasi mengekspresikan esensi dari kapital—jika kamu suka menempatkan sesuatu dalam term-term yang mirip tersebut!—bahwa kesetaraan hanyalah sebuah ekspresi dari kesamaan komoditi-komoditi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx pernah membuat komentar paling nista tentang demokrasi ketika dia mendeskripsikan demokrasi sebagai sesuatu yang “Kristiani”:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Politik demokrasi adalah Kristiani sebagaimana hal tersebut memandang manusia—bukan hanya satu orang tapi semua manusia—sebagai sebuah makhluk yang berdaulat dan agung; tapi manusia dalam posisinya yang tidak diolah, aspek yang tidak luwes, manusia yang tergantung akan eksistensinya, manusia sebagai dirinya, manusia sebagai bagian yang korup, hilang akan dirinya sendiri, terjual, dan terekspos pada kaidah kondisi dan elemen tidak manusiawi dari keseluruhan organisasi masyarakat kita—dengan kata lain, manusia yang belum menjadi spesies yang sesungguhnya. Kedaulatan manusia—tapi manusia sebagai sebuah makhluk asing (alien) yang berbeda dengan manusia sebenarnya—adalah fantasi, mimpi, postulat dari Kristianitas, sedangkan dalam demokrasi hal itu nyata dan material, sebuah adagium sekuler.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx, &lt;i&gt;On the Jewish Question&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;JADI, APA KONSEKUENSI PRAKTIS DARI SEMUA HAL INI?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling umum adalah bahwa demokrasi adalah sesuatu yang kontra-revolusi, yang mengekspresikan dirinya sendiri dalam perjuangan kelas yang berada di seputar pertanyaan-pertanyaan tentang kelas penguasa dan organisasi dari kekuasaan tersebut. Dengan “kekuasaan kelas” aku bermaksud memberi pengakuan terhadap kenyataan bahwa kita berada di dalam situasi perang kelas sehingga perlu untuk memajukan posisi kita di dalam perang tersebut, dan untuk memenangkan perang tersebut kita perlu menghancurkan dan membinasakan musuh-musuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan yang sama kita tidak akan memberikan hadiah berupa hak-hak pada musuh-musuh kita, maka kita juga tidak akan menuntut hak-hak dari musuh-musuh kita. Hal ini jelas adalah sebuah persoalan yang rumit karena, pada kenyataannya, kerap kali susah untuk membedakan antara menuntut sesuatu dengan menuntut sebuah hak untuk hal tersebut. Aku tidak ingin mencoba untuk berurusan dengan semua aspek-aspek dari pertanyaan ini. Aku akan ambil contoh soal Hak Untuk Mogok sebagai contohnya. Secara umum, sebagaimana yang kiranya Hegel katakan, “dalam setiap hak terdapat kewajiban”. Jadi, sebagai contoh, kamu punya hak untuk bepergian menggunakan transportasi publik dan kewajiban untuk membayar ongkosnya. Hak untuk mogok mengimplikasikan bahwa para pekerja diperbolehkan untuk tidak bekerja secara damai dalam rangka menghormati peraturan publik dan secara umum tidak melakukan apa pun agar membuat pemogokan berjalan efektif. Tidak ada arti lain, bukan? Kesimpulannya, hak adalah sesuatu yang dihadiahkan oleh hukum—kamu bisa berusaha dengan keras mendekati polisi dan memintanya menjagamu saat kamu membakar truk-truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir bahwa, secara umum, menuntut hak-hak adalah sebuah ekspresi dari kelemahan kelas kita. Kita tidak lagi berkata pada musuh kita, “jika kamu macam-macam dengan kami, akan kami tendang kepalamu,” atau tak perlu basa-basi lagi dan langsung menendang kepala mereka begitu saja. Kita malah berkata “tolong hargai hak-hak kami, kami tidak benar-benar bermaksud untuk membuat kamu rugi.” Tentu saja kelas kita berada dalam posisi yang lemah, dan tak ada jawaban super untuk hal ini. Tapi aku pikir kita bisa melangkah lebih maju dengan mengenali bahwa kelas-menengah baik-baik yang mengkampanyekan hak-hak bukanlah teman yang berada di sisi kita—bahkan meskipun beberapa dari mereka adalah pengacara necis kekiri-kirian yang kadang-kadang membantu mengeluarkan kita dari masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kukatakan sejauh ini mungkin tidaklah sekontroversial itu. Apa yang kukatakan sejauh ini menyangkut pengeksklusian kategori-kategori orang-orang tertentu. Ingin mengekslusikan orang-orang dari demokrasi sangatlah cocok dengan menjadi seorang demokrat—sangat menakjubkan berapa banyak liberal akan berkata bahwa mereka secara tak bersyarat mendukung kebebasan berbicara lalu tiba-tiba berubah pikiran ketika seseorang berkata, “hmm, lalu bagaimana dengan para fasis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih kontroversialnya, aku sekarang ingin bicara tentang demokrasi “di dalam kalangan kita sendiri”—yaitu, di antara para proletar yang sedang berjuang. Arguman “demokrasi pekerja” biasanya, misalnya, akan berkata “OK, kita tidak punya hubungan demokratis dengan para borjuis tapi di antara diri kita sendiri harus ada persamaan dan kehormatan atas hak yang sempurna”. Ini biasanya dipandang sebagai cara untuk menghindari birokratisasi dan dominasi oleh kelompok kecil dan memastikan bahwa sebanyak mungkin orang terlibat dalam sebuah perjuangan tertentu. Idenya adalah bila orang-orang diijinkan haknya untuk bicara, haknya untuk memilih, dan sebagainya, maka kamu bisa begitu saja ikut pada sebuah pertemuan dan tiba-tiba menjadi bagian dari kolektivitas demokratis ini dan segera jadi terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;APA MAKNA MENDEMOKRATISKAN SEBUAH PERLAWANAN DALAM PRAKTEKNYA?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya adalah hal-hal semacam:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;1) Mayoritarianisme—Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mayoritas menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pemisahan antara pembuatan keputusan dan aksi—Tidak ada yang bisa dilakukan sampai setiap orang punya kesempatan untuk mendiskusikannya. Ini bisa dilihat sebagai analogi terhadap pemisahan antara lengan-lengan legislatif dan eksekutif pemerintah dari sebuah negara demokrasi. Bukanlah kebetulan bahwa diskusi-diskusi di dalam organisasi demokratis biasanya mirip dengan debat parlementer!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Penjelmaan dari pandangan bahwa tidak ada orang yang bisa dipercaya—Struktur demokratis menelah mentah-mentah pandangan “perang dari semua melawan semua” dan melembagakannya. Perwakilan selalu harus bisa digulingkan sehingga mereka tidak akan mengejar agenda tersembunyi mereka sendiri yang, sayangnya, tentu saja dimiliki setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua prinsip-prinsip ini mewujudkan atomisasi sosial. Mayoritarianisme karena setiap orang setara dan biasanya punya satu suara. Pemisahan antara pembuatan keputusan dan aksi karena hanya adil bila kamu berkonsultasi dengan tiap orang sebelum bertindak—kalau tidak maka kamu telah melanggar hak mereka. Sebuah contoh menyebalkan dari hal ketiga—penjelmaan pandangan tidak ada yang bisa dipercaya—adalah tuntukan untuk “Hak Fraksi” yang disampaikan oleh para Trotskyis. Biasanya mereka meminta ini ketika sebuah organisasi berusaha menjatuhkan mereka. Apa yang bisa terjadi dengan hak ini adalah kebebasan untuk berplot dan berkonspirasi melawan anggota lain dari apa yang seharusnya sebuah organisasi kelas pekerja. Jelasnya, tidak ada organisasi komunis sejati yang  tertarik dengan ide manapun dari hak fraksi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua lah dari prinsip-prinsip ini yang menjadi bagian terpenting dan butuh ditekankan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip demokratis ini hanya bisa berdiri berlawanan seutuhnya dengan perlawanan kelas karena, secara definisi, perlawanan kelas menyiratkan lepasnya diri dari atomisasi sosial dan pembentukan semacam komunitas—bagaimanapun sempit, samar-samar atau temporernya hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa besar dalam perjuangan kelas hampir tidak pernah dimulai dengan pemungutan suara atau konsultasi dengan setiap orang. Peristiwa-peristiwa tersebut hampir selalu dimulai dengan aksi oleh sekelompok minoritas nekad yang lepas dari pasifitas dan isolasi proletar mayoritas di sekitar mereka. Mereka lalu mencoba menyebarkan aksi ini lewat contoh daripada lewat argumen beralasan. Dengan kata lain, pemisahan antara pembuatan keputusan dengan aksi selalu dilanggar dalam prakteknya. Para populis sayap-kanan (dan sebagian kecil anarkis) mengeluh bahwa aktivitas-aktivitas yang membuat masalah (trouble-making) diorganisir oleh kelompok-kelompok aktivis yang ditunjuk oleh diri mereka sendiri dan tidak mewakili siapa pun kecuali diri mereka sendiri.... dan, tentu saja, hal itu benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi mogok penambang di Inggris pada tahun 1984-1985 memberikan banyak contoh penuh inspirasi tentang bagaimana perlawanan kelas anti-demokrasi dalam prakteknya. Pemogokan itu sendiri tidak dimulai dengan demokratis—tidak ada pengambilan suara, tidak ada serentetan pertemuan massa. Aksi tersebut dimulai dengan mogok yang dilakukan oleh para pekerjanya lalu disebarkan dengan papan tuntutan yang beterbangan. Selama pemogokan tersebut ada persekutuan tidak suci dari sayap kanan Partai Buruh dan Partai Komunis Revolusioner mengatakan bahwa penambang harus mengadakan pengambilan suara nasional. Para penambang paling militan secara konsisten menolak ini, mereka lalu mengatakan hal-hal seperti, “orang kudisan tidak punya hak untuk menggagalkan pekerjaan orang lain”—yang merupakan susunan kata-kata demokratis tapi aku kira kamu pun tahu bahwa sikap di baliknya jelas-jelas bukan. Kadang-kadang, para anggota Partai Komunis Revolusioner dipukuli dan dipanggil “Tories”[*] karena dukungan mereka terhadap pemungutan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga sejumlah contoh sabotase dan perusakan properti milik Coal Board, yang seringkali diorganisir oleh semacam “regu pemukul” semi-klandestin. Jelasnya, aktivitas-aktivitas semacam itu, tidak bisa diorganisir secara demokratis—tak peduli pada seberapa besar penerimaan mayoritas pemogok atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KOMUNITAS PERLAWANAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep yang telah aku gunakan di sini, dan yang aku cukup lekat padanya, adalah “komunitas perlawanan”. Jelasnya, sebuah pertanyaan yang akan ditanyakan adalah, “Bila sebuah komunitas perlawanan tidak beraksi secara demokratis, bagaimana dia beraksi?”. Tidak ada jawaban sederhana untuk ini, kecuali dengan mengatakan bahwa dasar aksi adalah rasa percaya dan solidaritas antara orang-orang yang terlibat dan bukan kesetaraan hak-hak. Sebagai contoh, bila kita ingin mengirim seseorang sebagai utusan/delegasi (baiklah, aku tidak suka dengan kata “perwakilan”) untuk menyebarkan perlawanan kita tidak akan memaksa mereka dipilih oleh setidaknya 51% peserta rapat atau agar mereka membawa telepon genggam sehingga kita bisa memanggil mereka kembali pada suatu waktu dan mengganti mereka dengan orang lain. Kita akan memaksa agar mereka dapat dipercaya dan bisa diandalkan—seorang kamerad terpercaya lebih berharga dari seribu perwakilan yang bisa digulingkan! Tentu saja, akan ada sejumlah besar komponen politis untuk kepercayaan ini—kita tidak akan mengirim seorang anggota Partai Buruh karena pandangan-pandangan politik mereka akan secara otomatis membuat mereka bertindak melawan kepentingan kelas pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MASYARAKAT KOMUNIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku ingin mengatakan beberapa hal tentang implikasi semua ini terhadap karakter masyarakat komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide tentang revolusi komunis sebagai reorganisasi demokratis yang sangat luas dari sebuah masyarakat sangatlah kuat, bahkan dengan tendensi politik yang kita pikir mungkin ada sesuatu yang sedang mendukung mereka. Dewan Komunis (seperti Pannekoek) secara harfiah melihat dewan pekerja sebagai parlemennya kelas pekerja. Bahkan para Situationis telah mengadakan pembicaraan serius tentang demokrasi—bicara tentang “demokrasi langsung” dan sebagainya. Kalau kamu membaca &lt;i&gt;Enrages and Situationists in the Movement of the Occupations&lt;/i&gt; kamu akan menemukan mereka membuat berbagai klaim tentang bagaimana aksi-aksi mereka mengekspresikan kehendak demokratis dari Perhimpunan Sorbonne (&lt;i&gt;Sorbonne Assembly&lt;/i&gt;) ketika jelas-jelas mereka terus-menerus melanggar keputusan majelis atau hanya memintanya memberi stempel karet pada apa yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, bukanlah kebetulan bahwa orang-orang yang membela demokrasi juga cenderung membela swakelola (&lt;i&gt;self-management&lt;/i&gt;)—yaitu mengambil kendali sebongkah masyarakat ini dan menjalankannya sendiri. Hubungannya sangat sederhana—komunisme adalah tentang mentransformasikan hubungan-hubungan sosial, bukan hanya tentang mengubah rezim-rezim politik, seperti yang diinginkan oleh para demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus dewan komunis, swakelola sudah sangat jelas menjadi bagian darinya. Soal para Situasionis, terdapat lebih dari satu kasus dari mereka yang tidak membuat gebrakan nyata dari orisinalitas swakelola mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain dari permasalahan semacam ini bisa jadi adalah konsep “perencanaan”, yang aku tahu membuat banyak orang tertarik. Untukku, “perencanaan” menyiratkan kita semua akan berkumpul bersama dan memutuskan apa yang akan kita lakukan 5 tahun ke depan untuk kemudian kita pergi dan melakukannya. Ini terdengar seperti contoh lain dari ketertarikan pada momen pembuatan keputusan. Jadi sebagai komunis, yang bisa dibilang: musuh demokrasi, kupikir kita haruslah sangat curiga pada konsep perencanaan. Sebagai lawan dari sosial-demokrasi kita harus menolak demokrasi dalam setiap bentuknya sebagaimana kita menolak sosialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wildcat UK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keterangan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[*] Tory adalah partai ultra-konservatif di Inggris yang mendambakan persatuan negera-negara Britania Raya. Sementara Tories adalah julukan bagi para penganut paham konservatif dan anggota partai Tory. Secara umum, mereka mengadvokasikan monarkisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-3098414618433277208?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/3098414618433277208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=3098414618433277208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/3098414618433277208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/3098414618433277208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/12/lawan-demokrasi.html' title='LAWAN DEMOKRASI!'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Mu2IQ_Hvgoc/TvVP_Bjq8uI/AAAAAAAAAa0/sQybHSc4-Ns/s72-c/femdom-sexy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-4173630604985207400</id><published>2011-12-23T02:33:00.000-08:00</published><updated>2011-12-23T03:35:44.664-08:00</updated><title type='text'>TEKNOFASIS KAPITALISME</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-j6kcRy3xA3k/TvRZ_Q5eWkI/AAAAAAAAAac/fA5bf_5w4dg/s1600/fuck-the-police.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 269px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-j6kcRy3xA3k/TvRZ_Q5eWkI/AAAAAAAAAac/fA5bf_5w4dg/s400/fuck-the-police.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5689271172678441538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style="font-family: verdana;"&gt;TEKNOFASIS KAPITALISME:&lt;br /&gt;PERSPEKTIF PESIMIS TENTANG KAPITALISME, TEKNOLOGI, DAN PENINDASAN MANUSIA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style="font-family: verdana;"&gt;... if the natural utilization of productive force is impeded by the property system, the increase in technical devices, in speed, and in the sources of energy will press for an unnatural utilization... (Walter Benjamin)[1]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-family: verdana;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ada banyak pandangan terhadap teknologi modern. Pandangan dominan melihat teknologi modern sebagai cahaya terang yang akan membebaskan manusia dari jerat kelangkaan (&lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: verdana;"&gt;scarcity&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;) dan kemiskinan. Di kalangan Marxis, Lenin berpandangan optimis terhadap teknologi modern dan mengatakan bahwa komunisme tiada lain adalah kekuasaan Soviet plus kelistrikan. Karena keyakinan inilah kemudian Lenin, dan terutama di tangan Stalin, Uni Soviet memaksakan industrialisasi yang telah mengantar Uni Soviet ke jajaran negara-negara dengan teknologi maju terpenting di dunia[2]. Karl Marx sendiri pernah memuji borjuasi sebagai kelas revolusioner tidak hanya karena berhasil menumbangkan hegemoni feodalisme, tetapi juga karena mereka sanggup menghasilkan teknologi sebagai kekuatan produktif modern dengan kemakmuran yang dihasilkannya jauh melampaui prestasi peradaban-peradaban yang pernah ada sebelumnya[3].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Namun, di antara suara-suara optimis, ada juga keluhan-keluhan yang tidak hanya kritis, tetapi juga pesimis. Kaum kritis-pesimis[4] melihat pembebasan yang pernah diemban borjuasi dengan teknologi modernnya hanyalah bayangan maya dari wujud sebenarnya yang ternyata menindas. Teknologi modern dan perkembangannya di bawah dorongan akumulasi dan ekspansi kapital ternyata hanya mengabdi kepada kapital, bukannya demi kemaslahatan umat manusia. Dengan teknologi modern, Kapitalisme menjadi sistem yang kian totaliter dan berupaya mengendalikan manusia beserta kehidupannya. Tulisan ini akan mengulas dan mempertahankan pandangan kritis-pesimis tentang kedudukan teknologi di bawah formasi sosial Kapitalisme, khususnya dalam pembentukan tatanan totaliter yang menindas manusia bahkan hingga ke akar definisinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PARADOKS PEMBEBASAN TEKNOLOGI KAPITALIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme tidak hanya dibangun di atas pengusiran-pengusiran, kolonisasi, dan kokangan senjata. Ia juga dihidupi semangat pembebasan. Seruan terpenting revolusi borjuis ialah kemerdekaan, kesetaraan, persaudaraan. Demi pembebasan manusia dari penindasan ini, sebagai kelas tertindas di dalam formasi sosial feodal, borjuasi berjuang penuh semangat memenggal semua kepala naga feodal dalam perang panjang mereka. Mereka tebas leher Louis XIV dan mendirikan parlemen; mereka runtuhkan kuasa Paus dan mencetak Alkitab untuk umat awam; mereka lepaskan uang dan pasar dari kerangkeng perupetian kuno dan membiakkan ekonomi pasar-bebas; mereka juga berhasil ciptakan ilmu dan teknologi modern yang mengubah pandangan tentang bumi dan menjadikannya salah satu tumpuan proyek industrialisasi. Dihapuslah segala mitos tentang omong-kosong indahnya hirarkhi dan sucinya bumi. Semua manusia setara di hadapan Kapitalisme, dan bumi bukanlah Bunda Agung atau ladang semaian kasih Tuhan tetapi sekadar sumberdaya yang harus dikeruk demi produksi kekayaan. Pokoknya, Kapitalisme telah memberangus semua sumber derita dan cerita-cerita palsu yang pernah hidup di jaman sebelumnya[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisasi pertanian dan sistem pabrik di Inggris di akhir abad ke-18 telah membebaskan para petani-hamba dari belenggu upeti dan ikatan-ikatan perhambaan[6]. Keluarga-keluarga petani kini lepas dari kewajiban-kewajiban hina untuk menghamba pada tuan tanah. Tuan-tuan tanah bebas memerdekakan hamba dan menjual atau menyewakan tanah-tanahnya. Para hamba yang telah bebas ini betul-betul bebas untuk bekerja atau tidak; bebas untuk hidup atau mati. Perempuan-perempuan di dalam keluarga mereka juga bebas untuk bekerja ataupun tidak. Para tuan feodal tidak lagi punya hak untuk meniduri mereka tanpa membayar. Di dalam Kapitalisme, lepas sudah derita panjang perempuan sebagai makhluk nista. Sejak matahari cerah sistem pabrik dan industrialisasi menyingsing di Inggris dan kemudian menyebarkan kehangatannya ke penjuru dunia lewat kolonisasi dan imperialisme, perempuan menjadi setara dengan laki-laki. Perempuan boleh bekerja dan menjual dirinya bila menghendaki. Bila pun tidak, itu bukan soal. Pilihan ada pada perseorangan. Tapi mesti diingat, satu-satunya sumber kehidupan bagi siapa saja yang tidak memiliki kapital atau tanah ialah menjual tenaganya kepada yang punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya: dari mana Kapitalisme mendapat kekuatannya membentuk masyarakat baru yang ‘membebaskan’ sekaligus menciptakan bentuk penindasan baru itu? Karl Marx, dalam &lt;i&gt;Das Kapital&lt;/i&gt;[7], menjelaskan bahwa penghisapan nilai-lebih, akumulasi kapital, dan ekspansi kapital hanya dimungkinkan dengan peningkatan kekuatan produktif. Meski bukan satu-satunya, teknologi adalah kekuatan produktif yang memungkinkan munculnya sistem pabrik, kolonisasi, dan akhirnya, pasar dunia. Tujuan akhir pengembangan teknologi adalah meningkatkan serta melindungi akumulasi dan ekspansi kapital. Teknologi menghapus semua batas-batas, geografis maupun mitologis. Ruang, waktu, dan psikologi dipampatkan sedemikian rupa sehingga pengekang gerak kapital sepenuhnya (atau paling tidak hampir seluruhnya) ditumbangkan. Teknologi modern adalah agen pembebas. Semuanya dibebaskan, terutama kekang kapital. Hanya melalui gerbang nilai paling mulia dalam Kapitalisme inilah segalanya lewat. Tidak ada kartu pas untuk tujuan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi modern yang perkembangannya didorong hasrat akumulasi dan ekspansi kapital punya satu ciri pokok: ia tidak akan berhenti berkembang. Hanya tuhan dan siluman yang bisa menghentikannya. Selama keduanya tidak turut campur, teknologi kapitalis akan terus-menerus berkembang. Mengapa? Bukan karena fitrahnya ia berkelakuan demikian. Ia hanya ‘sesuatu’ buatan manusia. Akarnya tidak berada dalam teknologi itu sendiri. Segala hal di dunia ini sejak peradaban Jericho hingga sekarang, ialah pantulan dari tatanan dan dinamika masyarakat, dan kalbu terdalam tatanan dan dinamika masyarakat adalah produksi-distribusi-pertukaran; ringkasnya ekonomi-politik. Copernicus tidak diperlukan sejarah selama pandangan dunia masyarakat melihat bumi itu datar seperti meja sehingga eksplorasi sumber-sumber kekayaan terhalang oleh naga-naga penjaga tepi bumi. Ia dilahirkan sejarah ekonomi-politiknya. Begitu pula sistem kredit dan ekonomi spekulasi beserta Internetnya sekarang ini. Jadi, dari mana teknologi memiliki daya linuwih mengembangkan dirinya terus-menerus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum pesimis, teknologi memanggul kutukan ketika ia pertama kali disentuh tangan Kapitalisme. Ruh Absolut Kapitalisme atau nilai pemandu gerak kehidupannya ialah akumulasi dan ekspansi kapital. Seperti bocah manja yang dilahirkan dari keluarga kaya yang boros, Kapitalisme akan selalu meminta lebih dan lebih tanpa pembatas selain kematiannya sendiri. Akumulasi kapital hanya mungkin dengan ekspansinya. Ekspansi kapital hanya mungkin lewat akumulasi penghisapan nilai-lebih. Akumulasi penghisapan nilai-lebih hanya mungkin dengan memeras tenaga kerja. Pemerasan tenaga kerja hingga tetes terakhirnya tidaklah mungkin. Tenaga kerja tidak boleh diperas sampai kering sebab kematiannya akan merusak semua roda mesin Kapitalisme. Lalu apa yang bisa dilakukan? Peningkatan produktivitas kerja, tentu saja. Caranya ialah meningkatkan efektivitas dan efisiensi dengan meningkatkan teknik dan perkakas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan produktivitas atau dengan istilah lain ‘pembebasan kapital dari halangan untuk terakumulasi dan berekspansi’ ternyata seperti Marduk yang telah membebaskan peradaban Babilonia dari sopan-santun terhadap Bunda Bumi Tiamat. Ia meminta korban. Tidak tanggung-tanggung, korban yang diminta adalah manusia. Di dalam &lt;i&gt;Discipline and Punish&lt;/i&gt;, Michel Foucault mengajukan pandangan bahwa di bawah kapitalisme, teknologi produksi saja tidak cukup untuk menjaga akumulasi kapital. Kapitalisme memerlukan metoda baru untuk menata proses akumulasi kapital ini dengan teknik akumulasi manusia sebagai sumberdaya atau apa yang disebut Foucault sebagai ‘teknologi pendisiplinan’[8]. Akumulasi kapital dan akumulasi manusia tidak bisa dipisahkan. Tidaklah mungkin pemecahan masalah akumulasi manusia dibereskan tanpa pertumbuhan perangkat produksi yang memungkinkan keberlangsungan hidup dan pemanfaatannya. Sebaliknya, teknik-teknik yang memungkinkan akumulasi kapital didukung oleh pemanfaatan teknik-teknik pelangsungan dan pemanfaatan manusia. Dengan kata lain, mutasi-mutasi teknologis perangkat produksi, pembagian kerja, dan penerapan teknik-teknik pendisiplinan merupakan satu kesatuan yang memungkinkan Kapitalisme tetap hidup sebagai sebuah sistem totaliter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik pendisiplinan seperti apa yang (harus) berkembang dalam Kapitalisme? Yaitu yang meresapkan pengawasan sampai ke tulang sum-sum atau Foucault menyebutnya dengan Panoptisisme. Teknik ini jauh lebih manusiawi, halus, elegan, dan canggih ketimbang teknik-teknik jaman feodal. Tubuh tidak dikurung secara fisik, tidak dilecut, dicambuk, atau dihancurkan, tetapi ia disusupi miliaran menara pengawas gaib yang menuntun tubuh untuk patuh bahkan sebelum ia menyadarinya. Tubuh di sini bukanlah badan wadag semata. Ialah tubuh-berkesadaran, kesadaran-menubuh, tubuh-tubuh populasi, dan dinamika kuasa atasnya disebut Foucault sebagai biopolitik. Mengapa harus demikian? Senjata ideologis yang dulu digunakan borjuasi melawan tirani feodal tentu tidak bisa dilenyapkan. Ideal kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan malah menjadi salah satu ikatan nilai pokok dalam kebudayaan borjuis. Tentu tidak istiqomah bila nilai-nilai mulia ini hanya untuk mereka. Bukankah mereka berjuang sebagai wakil umat manusia di muka bumi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persoalan pendisiplinan tubuh, teknik ‘manajemen sumber daya manusia’ yang dikembangkan di universitas-universitas dan diterapkan di perusahaan-perusahaan hanya salah satu teknik pendisiplinan. Sekolah, media massa, persekutuan agama, partai politik, keluarga, bahkan serikat-serikat buruh adalah aparatus-aparatus pendisiplinan yang penting. Bukan hanya proletariat yang didisiplinkan, tetapi semua. Bukan hanya mereka yang di pabrik yang didisplinkan oleh Kapitalisme, tetapi semua orang, semua golongan, baik di kafe, sekolah, lembaga penelitian, kampus, pos ronda, rumah, parlemen, pengadilan, atau markas serikat buruh. Merekalah pengawas-pengawas tata tertib dan semua orang adalah kadet-kadet siap perang demi akumulasi dan ekspansi kapital. Seperti Mungkar dan Nakir, aparatus pendisiplinan mencatat dan melaporkan segalanya kepada Kapitalisme. Saluran catatan dan laporan ini salah satunya ialah ilmu (pengetahuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henri Lefebvre, dalam &lt;i&gt;the Survival of Capitalism&lt;/i&gt;, mengajukan dua kesimpulan terkait dengan peranan ilmu dalam Kapitalisme. Ilmu ialah kepanjangan tangan dari teknik akumulasi dan ekspansi kapital. Ilmu sosial, misalnya, menjadi alat kendali politik dari ibadah Kapitalisme ini[9]. Hal ini berlaku bagi ekonomi, politik, psikologi, sosiologi, dan tentu saja antropologi. Ada pembauran antara ilmu ideologis dan siasat akumulasi kapital. Contohnya, di dalam babak Kapitalisme-lanjut dari 1950 hingga 1970-an, sosiologi menjadi alat kendali kehidupan sosial secara tak langsung, terutama lewat dominasi teori-teori fungsionalisme dan interaksi simbolik-nya yang masyur itu[10]. Secara langsung, ilmu-ilmu sosial menjadi pemasok data (terutama yang dibangun lewat statistik) yang dijual ke pengguna melalui media bank datanya. Ilmu-ilmu kealaman bahkan berada dijantung akumulasi itu sendiri. Ilmu kealaman secara langsung menyatu ke dalam produksi lewat teknologi dan pengembangan permesinan demi akumulasi. Akhirnya Lefebvre menyimpulkan bahwa Kapitalisme tidak lagi soal akumulasi sederhana kekayaan atau peningkatan kinerja perkakas-perkakas produksi, tapi juga soal akumulasi teknik, informasi, serta pengetahuan pada umumnya untuk mengendalikan manusia dan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar ilmu, media massa, terutama televisi yang merupakan anak kandung perkembangan teknologi elektronika modern dan disebut Lefebvre tiada lain sebagai ‘piranti produksi tontonan’, memeragakan atau menjelaskan nilai-nilai dan norma Kapitalisme melalui tampilan ‘sederhana’[11]. Media massa bukan saluran jutaan informasi demi memenuhi kebutuhan pemirsa, tapi lebih sebagai podium ‘pengkhotbahan’ yang mewartakan Kabar Baik, menuntun, dan merekayasa kebutuhan pemirsa. Media massa menempatkan pemirsa sebagai umat awam yang pasif menerima curahan berkah dari kerangka pikir dan cara hidup yang selaras dengan kebudayaan Kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Herbert Marcuse, kebudayaan Kapitalisme ialah kebudayaan komoditi; kebudayaan yang berbasis pengejaran laba. Di bawah kebudayaan ini semua nilai ditakar dengan takaran komoditi atau laku-atau-tidaknya di pasar. Tujuan kehidupan bermasyarakat seperti kerja, produksi barang, produksi budaya dan penciptaan seni, pendidikan, dan lain-lain berada di bawah pengawasan hukum besi komoditi yang tidak untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sebenarnya, tetapi kebutuhan semu yang direka-reka. Segala tujuan diarahkan dan diperjuangkan sepanjang ‘laba’ menghendaki. Produksi umum bukan untuk memenuhi kebutuhan manusiawi tetapi agar terjual. Kebutuhan manusiawi yang sebenarnya, terutama komunikasi dan kebersamaan, malah tidak terpenuhi[12]. Dalam kebudayaan komoditi, “manusia tidak (perlu) lagi saling berhubungan sebagai sesama manusia. Benda-benda material telah mengambil alih hubungan antarmanusia yang seharusnya manusiawi itu”[13].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Marcuse, teknologi bermain penting dalam pengendalian dan rekayasa keinginan; menggiring manusia seperti seorang gembala menggiring domba-domba patuhnya ke dalam kerangkeng yang menjadikan dimensi-dimensi manusia yang beraneka itu cuma tinggal satu: sebagai komoditi belaka. Manusia yang dipandang sebagai benda akhirnya ikut memandang dirinya (tanpa disadarinya) tak lebih dari sekadar benda. Ketika sedang mengkritisi teknologi kepatuhan rezim-rezim otoriter, F. Budi Hardiman menyimpulkan bahwa “Dalam era industrialisasi dan teknologisasi masyarakat, manusia mengadaptasi dirinya dalam dunia teknis dan memperlakukan dirinya sendiri sebagai suatu komponen dalam sebuah sistem produksi”[14]. ‘Individu-individu bebas’ ditempatkan oleh dan menempatkan dirinya sebagai sekrup mesin raksasa produksi kekayaan. Di dalam keadaan seperti ini, akhirnya, mengambil perumpamaan Theodore Adorno, manusia di bawah rezim kebudayaan Kapitalis berperilaku “... seperti narapidana yang mencintai kerangkengnya karena tidak ada hal lagi yang bisa dicintai”[15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sistem teknofasis kapitalisme ini, seperti dalam agama-agama totaliter, keluar jalur berarti murtad dan hukumnya jelas: pembasmian. Di dalam pandangan Marcuse dan kaum pesimis lainnya, tidak ada sekam menyala sepercik pun yang bisa menerangi kegelapan dalam kebudayaan kapitalis. Semua bara telah dipadamkan. Semua pintu telah terkunci. Kita yang berada di dalamnya haruslah terbiasa dengan dan mencintai kegelapan. Ideal revolusi proletariat yang pernah menjadi bara pembakar kini telah padam. Ia telah menjadi sejarah abad ke-20; sudah menjadi mitos serta dongeng sebelum tidur yang hanya cocok untuk meredakan lelah setelah sepanjang hari menjadi sekrup mesin Kapitalisme. Walter Benjamin, seorang pesimis lainnya, tidak sedang bernubuat ketika menulis:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;“Pertentangan-pertentangan yang ditimbulkan oleh modernitas melawan bakat-bakat kreatif manusia [...] melampaui batas kekuatan-kekuatan manusia. Dapatlah dimengerti kalau manusia menjadi lelah dan mencabut nyawanya sendiri”[16] (dikutip Hardiman 2007, 88-9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;OTOMASAI TEKNOLOGI, ILUSI PEMBEBASAN, DAN KELANJUTAN PENINDASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam kepustakaan Marxis, ada &lt;i&gt;Grudrisse&lt;/i&gt;, buku setebal kitab suci yang isinya ancangan kasar, komentar-komentar, dan catatan-catatan terkait dengan penulisan buku tentang ekonomika. &lt;i&gt;Grundrisse&lt;/i&gt; menyimpan gagasan tentang munculnya tatanan masyarakat jenis baru di dalam Kapitalisme yang berlandaskan perkembangan teknologi paling maju yang disebutnya tahap otomasi (automation)[17].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marx, otomasi akan meluas sehingga mesin-mesin canggih berswadaya sanggup menggantikan tenaga manusia. Produksi tidak lagi bertumpu kepada manusia, tetapi kepada teknologi sebagai porosnya. Bila di masa sebelumnya mesin hanya bisa ‘bekerja’ di bawah kendali manausia, maka dalam tahap otomasi teknologi, mesin-mesin bisa ‘bekerja’ sendiri dan manusia sekadar membantunya. Mesin dan teknik-teknik produksi modern memungkinkan produksi yang efisien dan sedikit saja membutuhkan tenaga kerja manusia sehingga banyak waktu luang yang dihasilkan. Dalam keadaan seperti ini manusia (kelas pekerja) tidak lagi diperbudak oleh ekonomi dan bisa meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup. Namun sayangnya kekuatan produktif baru yang membebaskan manusia dari kerja-fisik tersebut ternyata tidak untuk kemaslahatan semua orang. Tujuan pokok dalam pengembangan teknologi bukanlah meringankan beban manusia, tetapi semata-mata untuk meningkatkan daya hisap kegiatan produksi atas nilai-lebih. Bagi kelas pekerja, waktu kerja bukannya menjadi semakin berkurang, tapi malah bertambah, dan waktu luang yang dihasilkan teknologi otomasi hanya dimanfaatkan untuk akumulasi dan ekspansi kapital lebih lanjut. Meminjam istilah Anthony Giddens[18], ekonomi kapitalis adalah ‘ekonomi tunggang-langgang’ yang terus berlari mengejar bayangan kepalanya sendiri, dan di dalam sistem ekonomi seperti ini perkembangan teknologi seperti apapun justru merupakan malapetaka ketimbang juru selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tahap otomasi juga diiringi oleh terbentuknya kelas-kelas pekerja baru yang lebih terampil, berpendidikan, dan akrab dengan teknologi tinggi. Kelas pekerja baru ini akan menggeser kelas pekerja tradisional. Kelas pekerja lama ini pada akhirnya akan menjadi setumpuk cadangan industrial yang ‘berguna’ untuk mempertahankan rata-rata pengeluaran kapital-kerja di masa-masa krisis. Kebutuhan akan jenis pekerja baru yang berpendidikan tinggi pada ujungnya mengharuskan kapitalis memperdulikan persoalan pendidikan yang selama ini masih menjadi ‘eksternalitas’ dalam perhitungan ekonomi mereka. Paling tidak, kapitalis harus mendesak Negara sebagai lembaga yang dikhayalkan otonom itu untuk mengerjakan pekerjaan kapitalis menghasilkan tenaga-tenaga kerja jenis baru ini. Tentu saja, proses menghasilkan tenaga-tenaga kerja jenis baru ini tidak boleh dilepaskan dari rancangan untuk menghasilkan ‘sumberdaya manusia’ yang patuh karena reproduksi kapital harus selaras dengan reproduksi sumberdaya manusia seperti yang disinyalir Foucault.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain lembaga-lembaga pendidikan bukan lagi sekadar lembaga kebudayaan dengan ideal-ideal borjuasi lama yang bertujuan meningkatkan martabat manusia di dunia modern ini. Dengan meningkatnya ketergantungan kapitalisme kepada pengoperasian teknologi canggih, maka lembaga-lembaga pendidikan lebih merupakan lembaga produksi jasa penghasil komoditi yang bernama pengoperasi teknologi. Ilmu pengetahuan menjadi semakin terkomodifikasi dan terkena langsung oleh hukum pasar kapitalis. Ilmu menjadi semakin teknis dan ilmu-ilmu yang semakin dekat dengan proses sirkulasi kapital akan semakin berkembang, sementara ilmu-ilmu yang jauh dari sirkulasi kapital semakin surut. Sejak akhir dasawarsa 1980-an, jenis ilmu terapan baru, teknik informatika, muncul dan berkembang pesat. Tentu saja bukan karena kurikulum, kualitas pengajar, dan sumbangsihnya bagi kemanusiaan yang membuat teknik informatika, administrasi niaga, hukum, manajemen bisnis, dan psikologi industri lebih berkembang ketimbang arkeologi, antropologi, filologi, sastra, atau filsafat. Sebabnya jelas terkait dengan perubahan moda sirkulasi kapital dan keterkaitan ilmu-ilmu tersebut dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dengan berubahnya sirkulasi kapital berupa kecenderungan ekonomi dunia yang bergerak ke arah ekonomi spekulasi finansial berbasis internet atau yang dalam istilah Giddens disebut ekonomi elektronik global (&lt;i&gt;global electronic economy/GEE&lt;/i&gt;)[19], teknik-teknik manajemen sumberdaya manusia juga harus berubah. Tidak lagi untuk mengendalikan tubuh-tubuh pekerja upahan di pabrik-pabrik, tetapi untuk mengontrol pikiran sehingga di mana saja mereka bekerja, maka mereka bekerja sesuai dengan kepentingan kapital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, perkembangan teknologi hingga pada tahap otomasi yang semestinya banyak membebaskan manusia dari beban kerja fisik dan menyumbang pada peningkatan waktu luang yang dihasilkan peningkatan produktivitasnya, ternyata tidak untuk manusia, tapi untuk kepentingan berhala kapital yang kini semakin mirip dengan Marduk, tuhan yang diciptakan peradaban Babilonia yang telah membebaskan manusia dari penghambaan terhadap batas-batas alamiah Bunda Bumi. Seperti juga Marduk, kapital dipuja. Doa-doa dan kurban bakaran dipanjatkan. Kurban itu adalah manusia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENUTUP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang pesimis, di dasar kotak Pandora Kapitalisme tidak ada lembar harapan[20]. Kelangsungan formasi sosial Kapitalisme tidak cukup dengan terpenuhinya kebutuhan akan bahan baku, pasokan tenaga kerja murah, dan pasar dunia yang terbuka lebar, tetapi jauh lebih dalam lagi terkait persoalan penyeragaman-kesadaran melalui berbagai aparatus ideologis yang menyusupkan ke dalam tubuh satu generasi ke generasi berikutnya tentang segala kewajaran dunia sosial dalam Kapitalisme. Teknologi tidak hanya berperan sebagai alat dalam mewujudkan kesuraman nasib manusia ini. Ia mungkin satu-satunya pemeran paling penting. Ia telah mengangkut manusia dari kedudukan sebagai pencipta menjadi sekadar ciptaan. Ia mengasingkan manusia dari perannya sebagai pelaku dan pembentuk kehidupan menjadi sekadar wayang-wayang bisu yang bergerak kesana-kemari mengikuti tangan dalang gaib yang mahakuasa: Kapital. Seperti tersurat dari pernyataan Walter Benjamin di muka, di bawah naungan Kapitalisme, peningkatan teknologi lebih berperan sebagai malaikat petaka ketimbang juru selamat, entah bagi manusia ataupun bagi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Zorosastro Wardoyo&lt;/b&gt;,&lt;br /&gt;Perhimpunan Muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;CATATAN KAKI:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[1] W. Benjamin, &lt;i&gt;The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction&lt;/i&gt;, dalam &lt;i&gt;Continental Philosophy: An Anthology&lt;/i&gt; (disunting W. McNeill dan K.S. Feldman), Massachusetts dan Oxford: Blackwell Publishers, 1998, hlm. 250.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[2] F. Magnis-Suseno, &lt;i&gt;Teknologi dalam Tayangan Filosofis&lt;/i&gt;, Pijar-pijar Filsafat, Jogjakarta: Kanisius, 2005, hlm. 26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[3] lihat K. Marx dan F. Engels, &lt;i&gt;The Communist Manifesto&lt;/i&gt;, New York: International Publishers, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[4] Di dalam tulisan ini, yang dimaksud dengan kaum kritis-pesimis terutama merujuk kepada Herbert Marcuse dan mereka yang melihat semata-mata keburukan sistem teknologi modern di bawah Kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[5] Borjuasi berasal dari istilah burg (kota-benteng) dan burgher (penduduk kota benteng yang hidupnya dari sektor perdagangan, keuangan, dan industri di akhir jaman feodal Eropa). Tentang peran borjuasi dalam perjuangan pembebasan dari penindasan feodal dan membangun basis tatanan sosial modern, lihat Kuntowijoyo, &lt;i&gt;Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa&lt;/i&gt;, Jogjakarta: Ombak, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[6] proses kapitalisasi pertanian ini berlangsung berbeda-beda masa di berbagai tempat, namun pada dasarnya dimulai di Inggris akhir abad ke-18 lalu merembet ke Jerman dan Prancis. Dari negeri-negeri Eropa tersebut kapitalisasi pertanian merambah negeri-negeri jajahan di Asia dan Afrika seiring dengan gencarnya kolonisasi dan penjajahan yang menghancurkan tatanan sosial feodal di sana (lihat K. Marx, &lt;i&gt;Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi-Politik Buku I&lt;/i&gt;, Jakarta: Hasta Mitra, 2004, hlm. 800-832; kasus Indonesia lihat M. Hoadley, &lt;i&gt;Toward a Feudal Mode of Production&lt;/i&gt;, West Java 1680-1800, Sinagpora: ISEAS,  1994; J. Kahn, &lt;i&gt;Merchantilism and the Emergence of Serville Labour in Colonial Indonesia&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Anthropology of Pre-capitalist Society&lt;/i&gt; (Joel Kahn ed.), London: Macmillan, 1984, hlm. 185-213.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;[&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;7] Marx, Karl, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik, Buku I&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, Jakarta: Hasta Mitra, 2004.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[8] M. Foucault, &lt;i&gt;Discipline and Punish: The Birth of the Prison&lt;/i&gt;, terjemahan Alan Sheridan, New York: Pantheon, 1978, hlm. 216-228.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[9] H. Lefebvre, &lt;i&gt;The Survival of Capitalism&lt;/i&gt;, New York: St. Martin’s Press, 1976, hlm. 111-112.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[10] Di Indonesia, dominasi teori modernasi pada masa Orde Baru merupakan contoh peran ilmu sosial dalam akumulasi kapital. Teori modernasi bukan hanya salah satu teori dominan dalam ilmu sosial di Indonesia, dia menjadi ilmu sosial itu sendiri (lihat H. Farid, &lt;i&gt;Masalah Kelas dalam Ilmu Sosial Indonesia&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia&lt;/i&gt; (V.R. Hadiz dan D. Dakhidae, ed.), Jakarta: Equinox Publishing Indonesia, 2006, hlm. 187-217).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[11] Lefebvre, op.cit, hlm. 74-75.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[12] H. Marcuse, &lt;i&gt;One Dimensional Man&lt;/i&gt;, Boston: Beacon Press, 1964.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[13] F.K. Sitorus, &lt;i&gt;Menuju Dunia yang Filosofis: Rekonstruksi Historis Lukacs atas Roh Absolut Hegel&lt;/i&gt;, Jurnal Filsafat Driyarkara, XXVII No. 2, 2004, hlm. 71.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;14] F.B. Hardiman, &lt;i&gt;Tubuh dan Mesin: Mengurai Teknologi Kepatuhan, dalam Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma&lt;/i&gt;, Jakarta: Penerbit Kompas, 2005, hlm. 117.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[15] dikutip F.B. Hardiman, &lt;i&gt;Filsafat Fragmentaris&lt;/i&gt;, Jogjakarta: Kanisius, 2007, hlm. 108.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[16] ibid, hlm. 89-89.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[17] K. Marx, &lt;i&gt;Grundrisse: the Foundations to the Critique of Political Economy&lt;/i&gt;, terjemahan dan pengantar oleh M. Nicolaus, Harmondsworth: Penguin Books dan New Left Review, 1973, hlm. 692-695.&lt;br /&gt;[18] A. Giddens, &lt;i&gt;Dunia yang Lepas Kendali: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita&lt;/i&gt;, Jakarta: Gramedia, 2004.&lt;br /&gt;[19] ibid, hlm. xv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;[20] Dalam mitologi Yunani Kuno, seorang Dewi bernama Pandora diberi sebuah kotak yang diamanatkan untuk tidak dibuka. Pandora membukanya dan keluarlah segala kehajatan dan kenistaan ke dunia manusia tanpa bisa dicegah dan ditutupi. Namun, ketika semua isi kotak keluar, Pandora melihat ada lembar harapan di dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KEPUSTAKAAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Benjamin, Walter, &lt;i&gt;The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction&lt;/i&gt;, dalam Continental&lt;i&gt; Philosophy: An Anthology&lt;/i&gt; (disunting W. McNeill dan K.S. Feldman), Massachusetts dan Oxford: Blackwell Publishers, 1998, hlm. 244-252.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Farid, Hilmar, Masalah&lt;i&gt; Kelas dalam Ilmu Sosial Indonesia, Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia&lt;/i&gt; (V.R. Hadiz dan D. Dakhidae, ed.), hlm. 187-217, Jakarta: Equinox Publishing Indonesia, 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Foucault, Michel, &lt;i&gt;Discipline and Punish: The Birth of the Prison&lt;/i&gt;, terjemahan Alan Sheridan, New York: Pantheon, 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Giddens, Anthony, Dunia&lt;i&gt; yang Lepas Kendali: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita&lt;/i&gt;, Jakarta: Gramedia, 2004.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Hardiman, F. Budi, &lt;i&gt;Tubuh dan Mesin: Mengurai Teknologi Kepatuhan, dalam Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma&lt;/i&gt;, hlm. 114-146, Jakarta: Penerbit Kompas, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Hardiman, F. Budi, Filsafat&lt;i&gt; Fragmentaris&lt;/i&gt;, Jogjakarta: Kanisius, 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Hoadley, Mason, &lt;i&gt;Toward a Feudal Mode of Production&lt;/i&gt; West Java 1680-1800, Singapore: ISEAS, 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Kahn, Joel, &lt;i&gt;Merchantilism and the Emergence of Serville Labour in Colonial Indonesia, The Anthropology of Pre-capitalist Society&lt;/i&gt; (Joel Kahn ed.), hlm. 185-213, London: Macmillan, 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Kuntowijoyo, &lt;i&gt;Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa&lt;/i&gt;. Jogjakarta: Ombak, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Lefebvre, Henri, &lt;i&gt;The Survival of Capitalism&lt;/i&gt;, New York: St. Martin’s Press, 1976.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Magnis-Suseno, Franz, &lt;i&gt;Teknologi dalam Tayangan Filosofis&lt;/i&gt;, Pijar-pijar Filsafat, hlm. 25-39, Jogjakarta: Kanisius, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Marcuse, Herbert, &lt;i&gt;One Dimensional Man&lt;/i&gt;, Boston: Beacon Press, 1964.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Marx, Karl, &lt;i&gt;Grundrisse: the Foundations to the Critique of Political Economy&lt;/i&gt;, terjemahan dan pengantar oleh M. Nicolaus, Harmondsworth: Penguin Books dan New Left Review, 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Marx, Karl, &lt;i&gt;Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik, Buku I&lt;/i&gt;, terjemahan Oey Hay Djoen, Jakarta: Hasta Mitra, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Marx, Karl dan Frederick Engels, &lt;i&gt;The Communist Manifesto&lt;/i&gt;, New York: International Publishers, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sitorus, Fitzgerald K. &lt;i&gt;Menuju Dunia yang Filosofis: Rekonstruksi Historis Lukacs atas Roh Absolut Hegel&lt;/i&gt;, Jurnal Filsafat Driyarkara, XXVII No. 2, hlm. 63-77, 2004.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-4173630604985207400?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/4173630604985207400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=4173630604985207400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/4173630604985207400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/4173630604985207400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/12/teknofasis-kapitalisme.html' title='TEKNOFASIS KAPITALISME'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-j6kcRy3xA3k/TvRZ_Q5eWkI/AAAAAAAAAac/fA5bf_5w4dg/s72-c/fuck-the-police.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-101472514571594030</id><published>2011-12-19T06:54:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T07:03:51.228-08:00</updated><title type='text'>SWA-ORGANISASI OTONOM DAN INTERVENSI ANARKIS: SEBUAH TEGANGAN DALAM PRAKSIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/380413_2251566852169_1338199835_32224603_1225538381_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 600px;" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/380413_2251566852169_1338199835_32224603_1225538381_n.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;INTRODUKSI: BEBERAPA DEFENISI DAN PENJELASANNYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Potensi perjuangan pembebasan apa pun yang terjadi di antara mereka yang tereksploitasi dan terampas mestinya berdasarkan pada pengorganisasian diri yang otonom. Sebagai anarkis, yang biasanya berada disekitar mereka yang tereksploitasi, kita memiliki banyak alasan untuk berpartisipasi dalam/dan mendorong bentuk perjuangan semacam ini. Akan tetapi semenjak kita juga memiliki ide-ide spesifik mengenai arah dari perjuangan kita dan tujuan revolusioner yang juga spesifik, bentuk partisipasi kita mengambil bentuk intervensi yang mencoba menggerakkan perjuangan dalam arah yang lebih spesifik. Tak memiliki hasrat untuk menjadi vanguard atau pun pemimpin atau berada dalam suatu permainan politis yang tanpa kegembiraan sama sekali, kita menemukan diri kita sendiri berada dalam suatu ketegangan yang mencoba untuk menghidupkan konsepsi perjuangan dan kebebasan kita dalam konteks realitas yang tak bebas sama sekali, mencoba untuk menghadapi masalah-masalah keseharian yang kita hadapi melalui bentuk penolakan kita untuk bermain menurut aturan dunia ini. Hingga kini, pertanyaan mengenai swa-organisasi yang benar-benar otonom dan bentuk intervensi ala anarkis telah menjadi masalah yang sering dihadapi, menolak untuk jatuh ke dalam jawaban-jawaban mudah serta keyakinan dalam “kemujaraban” pola organisasional. Untuk mulai mengeksplorasi pertanyaan ini mari kita mulai dengan beberapa defenisi dan penjelasan-penjelasan mengenai hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;SWA-ORGANISASI OTONOM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika saya berbicara mengenai swa-organisasi, saya berbicara mengenai fenomena spesifik yang cenderung muncul kapan pun orang-orang, yang dibuat marah karena kondisi mereka dan kehilangan keyakinan pada mereka yang didelegasikan untuk bertindak bagi mereka, memutuskan untuk bertindak bagi diri mereka sendiri. Swa-organisasi yang otonom oleh karena itu sama sekali tidak pernah terwujud dalam bentuk partai politik, serikat pekerja atau pun jenis organisasi representatif lainnya. Semua bentuk seperti ini mengklaim diri sebagai representasi dari orang-orang yang sedang berjuang, serta bertindak atas nama mereka. Dan hal yang mendefenisikan swa-organisasi yang otonom sesungguhnya merupakan penolakan atas semua bentuk representasi. Partai-partai serikat buruh dan bentuk organisasi representatif lainnya cenderung berinteraksi dengan organisasi otonom hanya dalam bentuk rekuperator dari suatu perjuangan, berusaha keras untuk mengambilalih kepemimpinan dan mengesankan diri mereka sendiri sebagai juru bicara dari mereka yang sedang berjuang–seringkali dengan tujuan untuk bernegosiasi dengan para penguasa. Dengan cara demikian, mereka hanya dapat dilihat sebagai pengambilalih kekuasaan yang sangat potensial di mana pun pemberontakan nyata dari mereka yang mengorganisir diri sendiri terjadi.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Swa-organisasi otonom memiliki sifat esensial yang mendefenisikannya. Paling pertama adalah non-hirarkis. Tak ada aspek institusional, kepemimpinan permanen, atau pun otoritas di dalamnya.Ketika seseorang terbukti memiliki pengetahuan secara khusus berkenaan dengan persoalan-persoalan spesifik yang berkaitan dengan perjuangan yang sedang dilakukan akan mendapat perhatian yang sepatutnya diterima olehnya atas pengetahuan tersebut, hal ini tak dapat dibiarkan begitu saja menjadi dasar bagi peran kepemimpinan permanen apa pun, sebab hal tersebut dapat merusak sifat/karakter esensial dari pola organisasi-diri yang otonom tersebut, yang terdiri atas: bentuk komunikasi horizontal dan pertalian/hubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini merupakan persoalan yang terkait dengan komunikasi satu dengan yang lain, interaksi, pengekspresian keinginan serta hasrat secara terbuka, mendiskusikan masalah-masalah yang mereka hadapi bersama dan dalam terminologi praksis, tanpa memerlukan kepemimpinan apa pun untuk memenuhi ekspresi ini sesuai jalur-jalur yang ada. Hal tersebut membawa kita pada sifat mendasar lainnya, salah satu yang menjadi hal kontroversial bagi ideologi-ideologi kolektivis, namun itu merupakan satu-satunya jalan untuk menjamin sifat yang pertama : unit yang mendasari swa-organisasi otonom adalah individual. Di lain pihak, hal itu dapat membantah bahwa semua bentuk negara dan dunia bisnis adalah bentuk swa-organisasi yang otonom, sebab dalam level institusional dan kolektif mereka juga mengorganisir diri mereka sendiri, namun individu-individu yang terdiri dari komponen-komponen manusiawi tersebut terdefenisikan oleh institusi semacam ini dan ditempatkan sesuai (atau berdasar pada) kebutuhan-kebutuhan institusional. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jadi swa-organisasi yang otonom di atas semuanya ialah individu yang mengorganisir perjuangannya sendiri atas kondisi-kondisi yang dipaksakan terhadap dirinya, atau menemukan sumber-sumber yang diperlukan untuk memenangkan perjuangan itu. Tetapi di antara sumber-sumber yang diperlukan itu hal yang tak kalah pentingnya juga ialah relasi/hubungan dengan orang lain, oleh karena itu bentuk swa-organisasi otonom juga berarti praktek-praktek secara kolektif. Namun praktek kolektif tersebut tidaklah berdasarkan pada bentuk penyesuaian masing-masing individual terhadap kebutuhan organisasional yang dipaksakan, tapi lebih kepada pembentukan relasi-relasi yang mutual di antara mereka di mana setiap orang akan menemukan area-area komunalitas di setiap perjuangan dan kebutuhan mereka demi suatu realisasi sepenuhnya dari individu-individu yang terlibat di dalamnya. Selanjutnya untuk mengklarifikasi point tersebut (dan meng-counter dikotomi keliru yang seringkali timbul di lingkungan revolusioner), siapa pun dapat melihat dalam terminologinya sebagai bentuk perjuangan kelas yang revolusioner. Ketika detail-detail yang berbeda, anti-negara, para kaum revolusioner anti-kapitalis pada umumnya setuju bahwa “tugas revolusioner” dari kelas yang tereksploitasi ialah untuk menghapus kelas itu seperti halnya struktur kelas masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Apakah makna dari pernyataan tersebut dan apakah itu terjadi pada rangkaian perjuangan revolusioner? Hal itu bagi saya justru berarti suatu bentuk penemuan diri sebagai individual di mana hasrat, keinginan, serta mimpi-mimpinya tak memiliki relasi apa pun dengan apa yang ditawarkan oleh kapital, setiap hasrat, keinginan, serta mimpi-mimpi tersebut terpenuhi dalam suatu asosiasi bebas dengan yang lain berdasar pada mutualitas dan affiniti. Ketika, dalam rangkaian perjuangan, yang tereksploitasi mulai menemukan metode-metode mengorganisir aktivitas mereka sendiri secara bersama-sama, proses pengabolisian diri mereka sebagai kelas telah dimulai semenjak mereka telah mulai benar-benar berbicara dan bertindak kepada masing-masing orang sebagai individual-individual. Akhirnya, swa-organisasi otonom itu pun terpraksiskan. Semua itu bukan merupakan usaha dari bentuk organisasi formal apa pun untuk merepresentasikan segala hal. Hal tersebut lebih condong untuk mengajukan elemen-elemen yang diperlukan untuk menyelesaikan beragam tugas dan aktivitas bagi suatu perjuangan tertentu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hal ini cenderung akan mengikutsertakan perkembangan dari setiap pola komunikasi, cara untuk mengkoordinasikan bentuk aksi, cara untuk mengumpulkan perangkat yang dibutuhkan dan demikian seterusnya. Berikutnya kita akan melihat selanjutnya, dalam perjuangan skala yang lebih luas, bentuk pertemuan yang bertujuan untuk mendiskusikan hal-hal yang diperlukan, hal ini bukanlah suatu bentuk struktur yang terformalkan, namun merupakan metode-metode spesifik guna menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;INTERVENSI ANARKIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Para anarkis dan juga kita seringkali berada di antara/atau menjadi yang tereksploitasi. Dengan demikian, kita memiliki kebutuhan yang sangat mendesak untuk berjuang melawan tatanan sosial ini. Pada saat yang sama, kita menghadapi perjuangan keseharian tersebut dengan kesadaran perspektif revolusioner dan disertai pula oleh ide-ide spesifik mengenai bagaimana untuk mewujudkan perjuangan tersebut. Oleh karena itu, tak bisa dihindari lagi bahwa bentuk partisipasi kita sebagai para anarkis akan mengambil suatu bentuk intervensi. Maka adalah hal yang berguna untuk mencoba mempertimbangkan mengenai apa yang menjadikan partisipasi kita sebagai bentuk intervensi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Paling pertama, sebagai para anarkis, kita muncul dalam setiap perjuangan dengan perspektif revolusioner yang berkesadaran. Apa pun bentuk spesifik yang memprovokasi munculnya suatu pemberontakan, kita mengenalinya sebagai aspek dari suatu tatanan sosial yang mesti dihancurkan dengan tujuan untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi suatu eksistensi yang bebas serta memutuskan sendiri apa yang mereka kehendaki (self-determined). Perjuangan dan pemberontakan secara umum terprovokasi oleh keadaan-keadaan tertentu, bukan oleh pengakuan massa atas keinginan untuk menghancurkan negara, kapital, dan semua institusi yang membawa segala bentuk dominasi dan eksploitasi. Intervensi Anarkis, oleh karena itu, berusaha untuk memperluas perjuangan melampaui segala batasan yang mungkin menjadi penyebabnya, untuk menegaskan, tidak hanya di dalam perkataan, tapi melalui aksi yang dapat menghubungkan masalah-masalah spesifik yang dihadapi dengan realitas secara luas dari tatanan sosial yang ada di sekitar kita. Hal ini akan disertai oleh penemuan dan membongkar komponen-komponen yang sama di antara beragam perjuangan dan demikian juga dengan perbedaan yang dapat meningkatkan kualitas dari bentuk pemberontakan yang lebih luas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Karena kita para anarkis yang muncul di setiap bentuk perjuangan apa pun dengan perspektif revolusioner yang spesifik, Adalah tugas dan keinginan kita untuk mengajukan suatu metodologi perjuangan yang menyertakan perspektif ini di dalamnya, suatu metodologi prinsipil yang menyediakan basis/dasar bagi keterlibatan kita di segala bentuk perjuangan. Metodologi yang saya bicarakan di sini adalah bukan hanya suatu metodologi perjuangan, namun sesuatu yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sejauh mungkin. Pertama, suatu perjuangan mesti benar-benar dijauhkan dari segala bentuk organisasi representatif. Kita perlu mengenali serikat buruh dan partai-partai sebagai pengambilalih kekuasaan dan mulai untuk menentukan aktifitas spesifik kita di setiap perjuangan kita sendiri, tanpa perlu memperdulikan tuntutan-tuntutan dari partai-partai tersebut. Kedua, praktek-praktek kita memerlukan aksi-aksi langsung yang sesungguhnya–mencermati bagaimana cara untuk menyelesaikan tugas-tugas spesifik yang mewakili keberadaan kita, dan bukannya menuntut otoritas atau pun sesuatu yang “representatif” untuk berjuang bagi diri kita. Ketiga, kita perlu untuk tetap terlibat dalam konflik permanen dengan tatanan sosial yang kita lawan dengan mempertimbangkan hal-hal yang spesifik, terus memelihara setiap serangan kita dengan tujuan untuk memperjelas bahwa kita sama sekali tak memiliki tujuan untuk terekuperasi. Keempat, kita perlu untuk melakukan serangan, serta menolak untuk bernegosiasi atau pun berkompromi dengan mereka yang berkuasa. Metodologi seperti ini turut disertai oleh prinsip swa-organisasi dan keinginan revolusioner untuk menghancurkan tatanan kekuasaan saat ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Karena sifat alamiah dari aspirasi anarkis yang kita miliki tersebut, maka intervensi kita dalam akan selalu mengekspresikan dirinya sebagai tekanan di beberapa level tertentu. Hal yang paling pertama, seperti yang saya katakan, sebagian besar dari kita (para anarkis) juga merupakan bagian dari mereka yang tereksploitasi dan yang terampas hak-haknya dalam tatanan sosial saat ini, dan bukan menjadi bagian dari kelas penguasa atau pun kelas pengatur. Dengan demikian, kita menghadapi suatu realitas yang sangat dekat dengan mereka yang ada di sekitar kita, dengan hasrat yang sama untuk suatu relief yang sama pula. Akan tetapi kita juga memiliki hasrat untuk suatu tatanan dunia yang baru dan hendak membawa hasrat ini ke dalam setiap perjuangan kita, bukan hanya sekedar kata-kata saja, namun dalam setiap bentuk praksis yang kita lakukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jadi, terdapat tekanan di dalamnya yang dengan sadar bergerak melalui otonomi dan kebebasan di bawah kondisi-kondisi yang menyesakkan/menindas. Di samping itu, kita memiliki cara-cara spesifik yang kita hendaki akan menyertai setiap perjuangan dan perjalanan kehidupan kita. Metode sperti ini adalah berdasarkan pada relasi-relasi/pertalian yang horizontal dan juga bentuk penolakan atas hirarki dan vanguardisme/kepeloporan. Dengan demikian ada semacam tekanan/tensi yang berusaha keras untuk menemukan jalan guna mengedepankan konsepsi-konsepsi yang kita miliki tentang bagaimana melakukan perjuangan yang mampu mendorong berbagai tendensi-tendensi yang eksis melalui swa-organisasi dan aksi langsung yang takkan berakhir menjadi metode-metode evangelisme politis. Kita, karena itu, mencari cara untuk menghubungkan para kamerad dan accomplices, bukan pemimpin. Dan kemudian terdapat tekanan yang menginginkan untuk segera bertindak melawan tekanan dari orang-orang ini terhadap hidup kita, bagaimana pun juga, tingkat perjuangan saat ini untuk sementara ini dapat menghindarkan tendensi vanguardisme mana pun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dalam beberapa hal, intervensi anarkis merupakan tali penyelamat antara menghidupkan setiap perjuangan dalam kehidupan kita sehari-hari dan menemukan jalan untuk menghubungkan perjuangan ini dengan perjuangan dari mereka yang tereksploitasi, yaitu orang-orang yang sama sekali belum menyadari perspektif yang kita miliki, suatu koneksi yang sangat diperlukan jika kita ingin mengarah pada suatu bentuk insureksi sosial dan revolusi. Kekeliruan dalam satu arah akan mengembalikan perjuangan kita berbalik ke kondisi semula, mentransformasikannya ke dalam hedonisme radikal individu yang tak memiliki relevansi sosial apa pun. Suatu kesalahan di arah yang lain akan menjadikan perjuangan kita hanya sekedar bentuk persaingan ala partai politik (apa pun nama yang diberikan untuk menyembunyikan kenyataan ini) untuk mengontrol perjuangan sosial. Itulah sebabnya mengapa kita perlu untuk mengingat bahwa kita pada dasarnya sama sekali tidak mencari pengikut atau pun penganut, namun kaki tangan dalam suatu kejahatan kebebasan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Intervensi anarkis dapat terwujud di bawah dua kondisi tertentu: di mana perjuangan yang terorganisir-sendiri dari mereka yang tereksploitasi sedang berjalan/mengalir, atau di mana situasi tertentu/spesifik membutuhkan respon yang cepat dan usaha keras para anarkis untuk mendorong metode-metode swa-organisasi. Contoh dari situasi yang pertama seperti pemogokan yang dilakukan oleh gerakan wildcat dalam bagian di mana para anarkis dapat mengekspresikan solidaritas, mendorong tersebar luasnya pemogokan, menyingkap penghianatan oleh serikat, memberikan kritik yang lebih luas mengenai serikat sebagai insitusi dan berbagi visi mengenai perbedaan cara pandang mengenai dunia dan kehidupan dibanding sekedar bekerja untuk menjaga kelangsungan bertahan hidup pada level-level tertentu. Kita akan melihat jenis dari contoh-contoh yang lain dibawah ini. Jenis intervensi yang kedua seperti dalam pembangunan pangkalan nuklir di sebuah area di mana seseorang atau polisi membunuh orang-orang miskin dan minoritas. Hal itu segera membutuhkan respon yang cepat, dan dalam menghadapi situasi-situasi semacam ini para anarkis akan memilih untuk menjaga dan mendorong respon-respon otonom dengan menggunakan aksi langsung ketimbang membuat tuntutan-tuntutan terhadap mereka yang berkuasa. Cara yang tepat yang mana para anarkis dapat mengintervensi -tangan dalam situasi semacam ini akan sangat bergantung pada kondisi yang ada. Namun titik penekanannya adalah selalu pada mendorong kecenderungan menuju otonomi, swa-organisasi, dan aksi langsung daripada menekan perspektif politik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;BEBERAPA PERISTIWA SEJARAH DAN SITUASI SAAT INI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Untungnya, sejak kehidupan yang tercuri dari mereka sering mencapai level kemarahan pada kondisi serta rasa tidak percaya pada aturan2 dan pada mereka yang mengklaim merepresentasikan mereka yang tereksploitasi, tidaklah sulit untuk menemukan contoh-contoh mengenai praktek swa-organisasi otonom. Dalam beberapa kondisi, kita juga dapat menemukan beberapa contoh-contoh intervensi melalui para revolusioner anti-politik ( meskipun tidak melulu para anarkis) dalam perjuangan ini. Sebagai tambahan, saya telah menemukan satu contoh mengenai intervensi anarkis dalam merespon situasi-situasi yang spesifik, di mana mereka berperan untuk mendorong swa-organisasi, aksi langsung melawan pangkalan instalasi nuklir di Sisilia. Mari kita lihat beberapa contohnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;ITALIA TAHUN 1970-AN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selama tahun 1970-an, italia mendapatkan pengalaman yang massif mengenai gerakan sosial yang juga menyertakan para pekerja, pelajar, kaum miskin dan kaum muda yang tereksploitasi, dengan wanita yang berperan penting dalam aktifitas tersebut. Salah satu karakteristik yang paling menonjol dari gerakan ini boleh dikata otonom dari organisasi yang biasanya yang mengklaim merepresentasi/mewakili gerakan dari mereka yang tereksploitasi. Tak juga serikat buruh atau pun partai-partai yang mampu menggiring pergerakan dan kecurigaan dari organisasi-organisasi ini sedemikian tinggi dan makin membesar semencolok usaha yang dilakukan oleh partai-partai dan serikat buruh dalam merekuperasi atau mendiskrediktkan perjuangan-perjuangan yang menunjukkan sifat mereka yang paling mendasar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Rangkaian perjuangan-perjuangan ini, berbagai macam bentuk pemogokan wildcat yang berbeda bentuk, demonstrasi yang massif, sabotase, masifnya pendudukan bangunan dan ruang-ruang publik yang lain, pertempuran jalanan dengan para polisi dan para fasis dan sejumlah besar bentuk-bentuk lain dari aksi langsung telah mengambil tempat di sepanjang negeri. Berkaitan dengan hal itu, perjuangan bersenjata mulai terbentuk dalam beragam bentuk yang berbeda, seringkali kurang spektakuler dan terspesialisasi dalam kelompok-kelompok seperti Red Brigades. Guna mengkomunikasikan realitas dari perjuangan ini dengan yang lain dan mengkoordinasikan beragam aktivitas, dewan-dewan mulai terbentuk secara spontan di berbagai pabrik, Universitas yang diduduki serta di lingkungan pemukiman. Diskusi-diskusi dan debat yang penuh semangat telah memunculkan pertanyaan-pertanyaan terhadap kondisi mendasar masyarakat saat ini dan bagaimana melakukan perlawanan terhadap hal tersebut dalam tingkat level tertinggi, termasuk mempertanyakan kerja dan tidak hanya dalam wilayah spesifik seperti kondisi kerja, pernikahan dan keluarga sebagai sumber dari penindasan gender dan relasi umur, dari aparatus teknologis dan sifat alamiah dari produksi dan demikian seterusnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tentu saja, terdapat sekian banyak anarkis dan para kaum revolusioner anti-politik lain yang juga turut terlibat dalam pergerakan ini. Intervensi mereka turut mengambil bentuk yang mungkin akan saya sebutkan beberapa. Terdapat banyak sekali publikasi-publikasi yang menyebarluaskan analisa-analisa anarkis dan anti-politik mengenai rangkaian insureksi tersebut. Sejumlah besar stasiun radio pembajak mulai eksis dan sangat menolong dalam meningkatkan penyebarluasan informasi mengenai perjuangan spesifik dalam wilayah di mana mereka berlokasi. Terkait dengan hal tersebut, banyak para anarkis (dan juga yang lain) secara bersama dalam kelompok affiniti melakukan serangan-serangan spesifik dan aksi-aksi sabotase yang berhubungan dengan aspek-aspek spesifik dari perjuangan yang sedang berlangsung tersebut. Banyak dari kelompok-kelompok ini muncul secara temporer dengan tujuan untuk melengkapi aksi yang lebih spesifik. Salah satu kelompok bersenjata yang spesifik, Azione Rivoluzionaria (AR) juga turut menumbuhkan perspektif anti-politik, anti-otoritarian, dan anti-kapitalis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saat membaca teks-teks teoritis dan communiques, semakin jelas bahwa kelompok tersebut secara luas terinspirasi oleh Vaneigem. Untuk semua kepentingan praktis, adalah federasi informal dari kelompok affniti yang melakukan beragam serangan bersenjata terhadap institusi kekuasaan. Tidak seperti Stalinis Red Brigades, yang sangat jelas berniat untuk menjadi partai bersenjata yang akan menggiring para proletariat menuju kemenangan, AR hanya memandang keberadaan mereka sebagai sebuah langkah maju dari generalisasi perjuangan bersenjata. Meskipun demikian, perjuangan bersenjata tersebut melakukan serangannya dalam cara yang memungkinkan untuk ter-spektakuler-kan dan terpisah dari perjuangan yang lebih luas, cara demikian dalam tataran praktis telah menjadi bagian yang sangat spesial dalam satu perangkat khusus suatu perjuangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perjuangan insurgen pada tahun 1970-an di Italia telah berkembang sangat maju. Tentu saja banyak revolusi yang berhasil diketahui/tercium (termasuk oleh, sangat disayangkan, otoritas). Adalah hal yang tak mungkin untuk mengetahui hal yang lebih luas dari aktivitas spesifik para anarkis atau revolusiner anti-politik lain yang telah mempengaruhi arah dari suatu pemberontakan besar, namun banyak dari bentuk intervensi (mulai dari radio untuk melakukan sabotase hingga yang lebih dari itu) terbukti sangat berguna. Dan dalam cara di mana banyak dari perjuangan otonom–khususnya aksi-aksi yang berskala kecil–yang terorganisir mengingatkan pada ide-ide dan praktek para anarkis yang dipengaruhi oleh ide-ide Galleani. Jika kelompok-kelompok seperti Azione Rivoluzionaria jatuh ke dalam peranan yang lebih spesifik, maka hal itu akan menumpulkan kegunaan dari aktivitas yang mereka lakukan, banyak di antaranya yang tidak, dan di dalalamnya terdapat suatu kapasitas bagi kritik yang sangat serius di tengah perjuangan yang memungkinkan kita untuk belajar dari peristiwa-peristiwa tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada akhirnya, kerasnya represi negara yang dikombinasi dengan ditaburkannya benih kesalahpahaman di antara pemberontakan tersebut telah membawa pada kenyataan hilangnya pergerakan semacam ini. Ketika negara menghantam, pergerakan itu tidak dalam kondisi yang siap untuk mempertahankan diri. Meskipun isyarat dari kemungkinan untuk memperluas perjuangan bersenjata masih ada (individu-individu yang tidak menjadi bagian dari kelompok bersenjata manapun mulai perlahan mempersenjatai diri mereka untuk tujuan mempertahankan diri), kombinasi dari berbagai pernyataan yang berasal dari kelompok-kelompok kiri tertentu mengatakan bahwa waktunya belumlah matang untuk melakukan konflik bersenjata yang dikombinasikan dengan spektakulerisasi yang dilakukan oleh media terhadap kelompok-kelompok bersenjata tertentu guna mencegah munculnya kejelasan dari pertanyaan ini. Meskipun demikian, uraian yang sangat penting dari analisa para anarkis mengenai keadaan saat ini telah muncul guna menyelesaikan berbagai pertanyaan tentang bagaimana suatu perjuangan bersenjata itu dibentuk, terkait bentuk intervensi para anarkis, perjuangan bersenjata dan seterusnya. Dan masalah yang sangat besar terkait eksperimentasi dan bentuk eksplorasi melalui jalur-jalur semacam ini yang terus berlanjut di Italia hingga saat ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;SPANYOL PADA TAHUN 1976-1979 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada Desember tahun 1975, Franco, yang telah menjadi rezim diktator di Spanyol selama lebih dari 35 tahun, meninggal dunia. Saat rezim yang baru mencoba untuk mengembalikan tatanan ke dalam bentuk negara demokratik, gerakan wildcat menggebrak kemungkinan yang terbuka bagi tatanan masyarakat yang baru di mana negara dan para majikan tak akan memperoleh tempat sama sekali. Pergerakan wildcat tersebut berhasil merefleksikan beberapa aspek di masa itu, yang antara lain adalah: terbukanya kesempatan yang muncul seiring dengan kejatuhan rezim Franco, dalam merestrukturisasi kapital Spanyol yang sangat diinginkan oleh kelas penguasa dengan mengorbankan para pekerja, menyerahnya serikat buruh dan berbagai partai kiri dalam menuntut kelas penguasa dalam harapan akan adanya suatu proses legislasi, kesiapan dari mereka yang selama ini terseksploitasi untuk meraih kesempatan yang ada untuk bertindak sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Perjuangan itu menyebar di sejumlah besar kota yang ada di Spanyol. Para pekerja memblokade jalan-jalan, menyebarkan berita mengenai pemogokan tersebut ke tempat-tempat lain, menyusun barikade-barikade, bertempur melawan para polisi dan menduduki pabrik-pabrik dan ruang-ruang publik lainnya. Berbagai aksi dari para pemogok terorganisir melalui pertemuan dewan-dewan pabrik di mana keputusan-keputusan riil dihasilkan dan secara dwi-mingguan melakukan pertemuan di mana hal tersebut diperuntukkan hanya untuk tujuan koordinasi saja. Untuk kepentingan itu, saat pergerakan mulai menyebar, dewan-dewan ketetanggaan juga dibentuk, menyebarkan perjuangan menentang eksploitasi di seluruh wilayah kehidupan harian. Menariknya, hal tersebut menjadi medium penyebaran gerakan dewan-dewan melampaui tembok-tembok pabrik yang juga turut menggiring pada berbagai kritik dan pertanyaan mengenai keberadaan buruh upahan itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kelemahan terbesar dari pergerakan ini sepertinya terdapat pada sikap tolerannya terhadap serikat buruh dan kooptasi partai di dalam dewan-dewan yang terbentuk. Para pelayan dari berbagai birokrasi oposisional tersebut, tentu saja, selalu mengajak mereka untuk bernegosiasi dan bermoderasi, dan berusaha untuk mengontrol dewan-dewan tersebut. Meskipun mereka seringkali diabaikan, mereka tidak juga keluar dari dewan-dewan yang terbentuk itu dan dalam beberapa insiden, mereka merusak perjuangan tersebut dengan cara merebut dan bernegosiasi dengan para penguasa. Hal ini memainkan peranan besar yang pada akhirnya memboroskan energi pemberontakan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Semenjak Spanyol telah memiliki latar belakang sejarah anarkis yang sangat kuat, para anarkis tak diragukan lagi memainkan peranan yang sangat signifikan di dalam perjuangan ini. Akan tetapi bukan melalui bentuk organisasi-organisasi yang selama ini telah dikenal luas. Organisasi “anarkis” yang sangat diketahui di Spanyol, yaitu CNT, telah membuktikan sekali lagi bahwa adalah serikat buruh, dapat dikatakan, merupakan suatu organisasi yang merepresentasikan perjuangan para pekerja dalam bentuk negosiasi dengan para majikan. Seperti serikat buruh yang lainnya, mereka terus mencari-cari celah legislasi dengan rezim yang baru, yang pada dasarnya juga memainkan peranan sama dengan apa yang mereka lakukan–salah satunya dengan mencoba untuk memanipulasi perjuangan tersebut ke arah moderasi dan kompromi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di lain pihak, terdapat juga para revolusioner anti-politik yang terlibat dalam gerakan wildcat ini dengan cara yang sangat bervariasi. Sepanjang waktu tersebut berbagai tulisan-tulisan anonim juga menyebarkan analisa mengenai situasi dari perspektif revolusioner yang sangat tegas dan mengekspos bentuk manipulasi yang dilakukan oleh serikat-serikat buruh dan partai-partai. Salah satu group/kelompok, yang menyebut diri mereka “uncontrollables”, menggunakan istilah menghina bahwa setiap orang yang berasal dari para republikan dan CNTistas adalah sangat bertentangan dengan para revolusioner yang tak mau mematuhi para pemimpin yang berkompromi di tahun 1930-an, menawarkan analisa mengenai situasi yang berlangsung saat itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Untuk tujuan tersebut, muncul beberapa “kelompok-kelompok otonom” yang kemudian terlibat aktif dalam pergerakan tersebut. Kelompok-kelompok ini terbentuk dari individu-individu yang berasal dari kelas tereksploitasi dengan analisa revolusioner yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan hidup di luar dari hukum yang ada, turut mengambil bagian dalam bentuk perjuangan di titik ini. Praktek yang mereka lakukan dimulai dari kebutuhan dan keinginan mereka sendiri, namun sejak hal ini turut menyertakan solidaritas dengan yang lain, tindakan pengambilalihan yang mereka lakukan, yakni vandalisme dan sabotase akan merefleksikan bentuk keterlibatan ini. Mereka tidak memandang diri mereka sebagai para spesialis mana pun, namun hanya semata-mata sebagai individual yang mengambil pilihan tentang bagaimana mereka akan hidup dan kini dalam pertempuran dengan tatanan sosial ini, serta bertindak berdasarkan pilihan tersebut. Bentuk intervensi mereka begitu tepat dan ditargetkan demikian sebagaimana yang dipahami dalam terminologi rangkaian pergerakan wildcat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;COMISO, SISILIA TAHUN 1982-1983 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada Desember 1979, Amerika membuat kesepakatan dengan pemerintah Italia utnuk membuat pangkalan peluru kendali di Italia. Perjanjian tersebut dibuat secara rahasia, namun pada musim semi di tahun 1981, berita mengenai hal tersebut mulai bocor. Sebuah airport di dekat kota Comiso di bagian selatan Sicilia telah dipilih sebagai basis guna menyimpan 112 misil nuklir. Dengan Seketika, muncul kemarahan atas hal ini yang jelas mengacaukan hidup dari orang-orang yang ada di area tersebut. Orang-orang mulai mendiskusikan masalah tersebut dan para anarkis turut mengambil bagian dalam diskusi tersebut, mendistribusikan leaflet-leaflet dan menghadiri pertemuan-pertemuan terkait dengan hadirnya pangkalan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Biasanya para rekuperator juga muncul dalam situasi tersebut, bersama dengan partai-partai kiri yang membentuk komite perdamaian yang mengarah pada protes-protes simbolik untuk mempengaruhi keputusan para penguasa. Namun para anarkis dan revolusioner yang lain,tertarik pada potensi radikal dari orang-orang yang marah di wilayah tersebut, membentuk kelompok yang cenderung melakukan pendekatan berdasarkan bentuk aksi langsung dan melakukan penyerangan secara langsung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika komite perdamaian mengorganisir demonstrasi simbolis massif yang menuntut “perdamaian”, Para anarkis dan revolusioner lain dari kelompok yang terorganisir tersebut berdebat tentang bagaimana membangun dan mengkonsentrasikan perjuangan di Comiso dan area-area lain yang sedang menghadapi gangguan yang sama dengan objektif spesifik bagi perjuangan tersebut. Para anarkis dari Catania mengatakan bahwa perjuangan mesti mengambil bagian di basis sosial dan basis revolusioner. Di tahun 1982, terkait dengan berbagai kontradiksi yang tak terpecahkan, kelompok yang terorganisir tersebut memutuskan untuk memecah diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada bulan April 1982, komite perdamaian mengorganisir barisan perdamaian di Comiso. Barisan tersebut hanyalah barisan damai menyebalkan seperti biasanya, hanya merefleksikan oportunisme dari partai-partai kiri. Oleh karena itu di bulan Mei, para anarkis dari Ragusa dan Catania memutuskan untuk menghalanginya dengan maksud untuk membawa oposisi yang massif ke pangkalan tersebut, dengan tujuan untuk menduduki tempat pangkalan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selama beberapa bulan berikutnya mereka mengadakan rangkaian pertemuan publik dan mendistribusikan literatur-literatur lain terkait dengan topik tersebut. Para wanita anarkis berkunjung dari rumah ke rumah dengan maksud untuk berbicara dengan para wanita di wilayah tersebut yang sangat jarang keluar rumah mengingat masih ekstremnya sifat kultur patriarki di wilayah tersebut. Muncul berbagai respon positif yang berasal dari populasi lokal tersebut, Sehingga para anarkis mengajukan suatu metode guna mengorganisir perjuangan dalam cara yang otonom. Insurgensi Sicilia di masa lalu telah banyak diketahui, dan salah satu bentuk paling umum swa-organisasi yang sering ditempuh adalah liga swa-kelola. Para anarkis merekomendasikan bahwa orang-orang berpikir untuk mengadopsi bentuk semacam ini lagi bagi perjuangan tersebut. Sebuah konfrensi para anarkis yang mengambil tempat pada juli 31/1 Agustus diakhiri dengan pertemuan terbuka lainnya di mana perjuangan dalam menentang pangkalan missil tersebut memiliki keterkaitan dengan penolakan atas militerisme saat salah satu anarkis menghancurkan surat keterangan wajib militernya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Liga-liga swa-kelola mulai terbentuk dan para anarkis mulai menata kantor untuk berkoordinasi guna menunjang mereka secara teknis dan untuk memfasilitasi komunikasi di antara liga-liga yang ada. Para anarkis terus menerus melangsungkan pertemuan publik dan mendistribusikan leaflet-leaflet. Seiring dengan terbentuknya liga-liga di antara para pekerja, para pelajar, pengangguran dan demikian seterusnya, berbagai aksi, seringkali ditujukan guna mengambil waktu dan ruang yang diperlukan untuk mendiskusikan permasalahan tersebut. Secara khusus, para pelajar tingkat tinggi di Vitoria melakukan pemogokan, memanfaatkan waktu untuk mendiskusikan apa yang akan dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di waktu yang sama efek-efek yang ditimbulkan oleh hadirnya pangkalan tersebut makin bertambah jelas seiring dengan tersingkirnya para petani dari tanah mereka untuk memberi ruang bagi test/latihan jarak jangkauan missil tersebut, sementara para pejabat Amerika dan NATO memesan pelayanan berbagai hotel dan pelayanan yang lainnya dan sementara itu para Mafia* menggunakan intimidasi serta teror untuk mencoba menakuti mereka yang menentang keberadaan pangkalan tersebut. Para anarkis terus menerus berhubungan dengan para pekerja, pengangguran, pelajar dan ibu rumah tangga di area tersebut, namun kekuatan represi bertindak untuk menghalangi aktivitas mereka melalui intimidasi, menyebarkan informasi yang keliru dan demikian seterusnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pendudukan itu sendiri tak pernah terjadi. Saat proyek tersebut mulai melangkah maju sejumlah besar anarkis pun berdatangan ke Comiso, dan sebagian besar dari mereka merasa bahwa pendudukan tersebut terlalu beresiko untuk saat itu. Meskipun demikian, aktivitas yang sedang berlangsung untuk menentang pangkalan selama masa itu telah membawa berbagai ledakan situasi dan tentunya mengindikasikan keterbukaan diri banyak orang terhadap perjuangan bercorak swa-organisasi. Inisiatif tersebut diakhiri dengan demonstrasi besar-besaran yang mengarah ke pangkalan missil tersebut. Polisi melakukan sejumlah kekerasan terhadap para demonstran yang berakhir beberapa jam kemudian. Para polisi, pada kenyataannya, terus mengejar para demonstran hingga satu kilometer. Pangkalan missil tersebut mulai beroperasi di pertengahan tahun 1980-an, namun kemudian berhenti beroperasi di tahun 1992. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hal yang menarik dari inisiatif ini bukanlah sukses atau kegagalannya, akan tetapi dari usaha yang dilakukannya guna mendorong munculnya pemberontakan dengan pola swa-organisasi untuk menentang keberadaan pangkalan tersebut dan disaat yang bersamaan juga beroposisi dengan protes-protes simbolik yang terus dipromosikan oleh Partai Komunis Italia dan partai-partai kiri lainnya. Pada akhirnya, para anarkis telah menunjukkan suatu koneksi antara munculnya pangkalan missil dan realitas eksploitasi yang terjadi di area pangkalan tersebut–yakni tersingkirnya para petani dari tanah mereka, makin memburuknya situasi ekonomi bagi para pekerja, pengingkaran atas janji-janji pekerjaan sepanjang periode pembangunan pangkalan tersebut, dll. Mereka juga bercermin kembali pada insurgensi yang pernah terjadi di wilayah tersebut di masa lalu, membawa kembali metode-metode swa-organisasi yang terbentuk terkait dengan hal ini. Di balik semua ini, para anarkis hanya membantu untuk menyediakan perangkat yang diperlukan. Apakah mereka berhasil lolos dari bentuk praktek-praktek politisasi saat mereka melakukan hal tersebut…??? Bagi saya mereka berhasil, namun hal ini dapat diperdebatkan lebih lanjut lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;ALBANIA 1997  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di tahun 1997, sebuah pemberontakan terjadi di Albania di mana aparatus kekuasaan hampir dijinakkan. Sebagaimana yang sering terjadi, pemberontakan tersebut juga lebih ditandai dengan kedangkalan daripada suatu ideologi besar. Saat mendesak presiden Albania Sali Berisha, sejumlah besar keluarga Albania telah menginvestasikan seluruh tabungan mereka di beberapa perusahaan finansial yang berjanji akan memberikan keuntungan besar. Perusahaan-perusahaan tersebut rupanya mengoperasikan beberapa versi dari skema piramida. Di bulan Januari, perusahaan-perusahaan ini mulai beranjak bangkrut satu demi satu, menghilangkan populasi Albania yang telah dimiskinkan oleh tindakan perusahaan-perusahaan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Partai Sosialis mengajak untuk melakukan demonstrasi di pusat kota dengan harapan untuk menjadikan diri mereka sebagai pemimpin gerakan protes damai tersebut. Kemarahan diekspresikan dalam demonstrasi yang memperlihatkan ke semua partai bahwa ledakan ini tak dapat dikontrol sama sekali. Kerasnya aksi demonstrasi tersebut menyebar lebih jauh. Kantor-kantor polisi, pengadilan, dan kantor-kantor kementerian serta partai diserang dengan lemparan batu. Balai-balai kota juga turut dibakar. Perdana menteri yang buruk disandera dan dilukai. Parlemen diserang dan juga terjadi pemberontakan di penjara. Semua kejadian tersebut terjadi dalam dua minggu pertama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seiring dengan resistensi yang menyebarkan serangan terhadap struktur-struktur negara dan kapital mulai beranjak meningkat. Orang-orang mulai mempersenjatai diri mereka dengan menyerang kantor-kantor polisi, dengan merampas persenjataan militer (di mana para tentara wajib militer seringkali terlibat di dalamnya) dan melalui berbagai sumber-sumber lainnya. Ketika tuntutan pertama dibuat, serangan-serangan mulai menjadi praktek yang biasa. Gedung-gedung pemerintahan, markas besar partai, markas polisi, bank-bank dan kantor-kantor dinas rahasia seluruhnya menjadi sasaran yang wajar untuk diserang. Saat pemberontakan menyebar luas, maka makin banyak pula orang-orang yang mempersenjatai diri. Mereka dapat menyusun blokade-blokade untuk menghentikan kendaraan-kendaraan yang coba mengendalikan kontrol huru-hara yang bergerak di antara berbagai kota. Para pemberontak tersebut berkeinginan melucuti para polisi (hingga, dapat mempersenjatai diri mereka lebih jauh lagi), menelanjangi mereka dan membakar kendaraan mereka. Bahkan kediaman/residen Berisha diserang dan dibakar. Penjara, sebagaimana penjara pada umumnya, diserang dan para tahanannya dibebaskan. Para insurgen telah menunjukkan secara praktis dalam mengejutkan dan mengambil senjata dari kantor-kantor polisi (dan membebaskan para tahanan dari penjara mereka) sebelum membakar kantor polisi tersebut, hal yang sama juga selalu dilakukan dengan mempersulit operasi polisi dengan mencuri atau menghancurkan perlengkapan polisi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setiap orang, baik pria, wanita dan anak-anak mempersenjatai diri mereka untuk melawan para polisi dan militer. Barikade dan blokade dibangun di daerah di mana para insurgen memegang kendali untuk mengantisipasi serangan balik pemerintah. Agen-agen polisi seringkali juga melakukan penculikan atau bahkan membunuh ; personil militer seringkali membangkang dan bergabung dengan para insurgen. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saat hal tersebut makin menjelaskan bahwa militer Albania tidak dapat mengalahkan para insurgen (terkait dengan banyaknya pembangkangan yang dilakukan oleh tentara/desersi), kekuatan rekuperasi juga mulai bermain. Para pemimpin dari partai-partai oposisi, menyatakan diri mereka sebagai representatif dari para insurgen dan mendeklarasikan sebuah kondisi untuk menyerahkan senjata–suatu kondisi yang semata-mata berarti mengganti pemerintahan yang ada. Tak satu pun dari hal ini, tentu saja, dilakukan berdasarkan permintaan para insurgen. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di waktu yang sama, para insurgen terus menerus menyerang bangunan-bangunan pemerintah, menjarah toko-toko, mempersenjatai diri dan membangun pertahanan. Banyak dari anggota militer yang membangkang, dan memilih untuk bergabung dengan para insurgen atau melarikan diri ke Yunani. Menyebarnya pemberontakan ini telah memaksa Berisha untuk melakukan rekonsiliasi dengan beberapa partai oposisi dengan tujuan untuk merekuperasi pemberontakan tersebut. Public Health Committees (Komite-komite kesehatan publik), termasuk anggota-angota partai oposisi yang berkeinginan untuk mengontrol dan menjinakkan insurgensi itu, terbentuk di sejumlah kota-kota para insurgen. Ketika mereka menyetujui kesepakatan yang dibuat oleh Berisha dengan partai sosialis, para insurgen tersebut mengabaikan PHC (Public Health Committees) itu, dan membuat keputusan mereka sendiri. Insurgensi tersebut menyebar dengan cepat dan negara-negara yang berbatasan dengan Albania mulai dilanda rasa takut bahwa situasi yang sama juga akan menyebar keluar dari perbatasan negara itu. Di pertengahan Maret, pemerintah, termasuk polisi rahasia, dipaksa untuk mengamankan pusat kota/pemerintahan. Penjarah persenjataan dan barang-barang lainnya makin merajalela, dan kantor dinas rahasia serta Bank Negara mengalami serangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di titik ini EU menjanjikan suatu “intervensi humanitarian” dengan 50 ribu pasukan seperti yang disarankan oleh penasehat teknis guna membantu otoritas Albania untuk menghidupkan kembali fungsi kekuatan polisi dan militer. Untuk saat ini, insurgensi tersebut telah meraih suatu titik di mana menurut pendapat Perdana Menteri Albania,”sama sekali tak ada penjara-penjara yang berfungsi.” Pada akhir Maret, di luar intervensi militer pun telah dimulai. Antara bulan April dan Agustus, kombinasi dari tindakan represi, rekuperasi dan pendudukan militer berhasil mengembalikan tatanan publik. Melalui proses pemilihan di akhir bulan Juni, dapat dikatakan bahwa revolusi yang mengancam tersebut telah berangsur-angsur menghilang dengan kembalinya tatanan politik, dan pada 12 Agustus, kekuatan Multinasional pun meninggalkan Albania. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bahkan setelah jatuhnya rezim “komunis” Hoxha, Albania bukanlah tempat yang mudah untuk memperoleh informasi, sehingga sangatlah sulit untuk mengetahui secara jelas bagaimana para insurgen mengorganisasikan perjuangan mereka. Hal yang muncul ialah bahwa mereka membentuk dewan-dewan. Di sana pun juga terdapat “konsil-konsil insurgen”, meskipun mereka benar-benar organisasi dari orang-orang tereksploitasi yang otonom, atau organisasi untuk merekuperasi melalui partai-partai oposisional masih belum diketahui. Semenjak banyak orang-orang Albania masih benar-benar merupakan daerah pedesaan, maka sepertinya struktur-struktur lama para petani seolah menawarkan beberapa basis guna menciptakan pengambilan keputusan secara horizontal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Karena luasnya tingkat kecenderungan ekonomi Italia di Albania, maka tidak mengherankan jika hal itu kemudian memunculkan penindasan internasional terhadap pemberontakan tersebut. Di saat yang sama, para anarkis Italia tetap mencari cara untuk menyelesaikan situasi tersebut dan memetakan cara dalam mengekspresikan bentuk solidaritas dengan para insurgen Albania. Sayangnya, represi yang mereka hadapi bersama dengan investigasi Marini telah berhasil membatasi segala kemungkinan yang ada, khususnya ketika sejumlah anarkis tersebut berhasil dijebloskan ke penjara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;BOLIVIA TAHUN 2000 - HINGGA SEKARANG &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Terdapat banyak sekali aktivitas yang seolah tak pernah berhenti di Amerika bagian selatan selama lebih dari beberapa tahun dan Bolivia telah menjadi pusat dari beberapa aktivitas yang sangat menarik. Ada sejumlah alasan yang turut mendorong terjadinya pemberontakan-pemberontakan di Bolivia : Usaha pemerintah untuk menyerahkan kontrol hak atas sumber daya air kepada kekuasaan asing; situasi yang dialami oleh beragam pekerja, kelompok-kelompok pribumi, para petani coca (cocaleros), sejumlah orang-orang yang berutang, usaha pemerintah untuk menjual sumber daya gas alam ke perusahaan multinasional, dll. Keputusan-keputusan yang dikeluarkan secara resmi tersebut telah bertemu dengan blokade-blokade jalan dan kota, pemogokan-pemogokan, kerusuhan, serangan-serangan di kantor-kantor polisi dan gedung-gedung milik pemerintah. Di sana pun terdapat sejumlah kecil koordinasi dari berbagai aktivitas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Meskipun serikat buruh dan partai-partai, sebagaimana halnya organisasi poltik yang lainnya memiliki beberapa keterlibatan dengan berbagai pemberontakan, hal itu secara umum seolah-olah menjadi sesuatu yang periferal dan tujuan ke arah hal-hal yang bergerak pada arah reformasi dan pengesahan pemerintahan yang “lebih demokratik”. Meskipun begitu, beberapa pemimpin dari kelompok-kelompok ini sepertinya lebih memiliki pengaruh dibanding sehatnya suatu gerakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Namun disamping faktor reformis ini, metode dari perjuangan ini dalam beberapa tahun terakhir secara umum diambil dari bentuk aksi langsung yang otonom. Para petani pribumi di dataran tinggi dan cocaleros telah kembali ke metode-metode tradisional-informal dan non-hirarkis sebagai suatu cara dalam mengorganisir perjuangan mereka. Pada satu titik, mereka yang menjadi bagian dari perjuangan tersebut menyerukan pengabolisian parlemen dan membentuk dewan-dewan popular, sesuatu yang menandakan keinginan akan swa-organisasi atas kehidupan seiring dengan munculnya perjuangan mereka. Di samoing itu, para petani dan cocaleros mulai merespon represi dengan mulai mempersenjatai diri mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Para anarkis telah begitu banyak terlibat dalam pemberontakan ini. Juvantedas Libertarias (Libertarian Youth) telah begitu aktif dalam perjuangan, berpartisipasi, menyediakan kritik-kritik sesegera mungkin terhadap berbagai aktivitas rekuperatif yang dilakukan oleh serikat buruh, partai-partai dan kelompok politik serta memperoleh berita dari luar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mujeres Creando (Woman`s Inisiative), yang merupakan sebuah kelompok anarcho-feminis, telah begitu aktif, khususnya dalam membantu orang-orang yang berutang (small debtors) dalam mengorganisasikan perjuangan mereka. Mungkin salah satu bentuk aksi mereka yang sangat dikenal adalah ketika small Debtors dipersenjatai dengan dinamit dan molotov cocktail, di antara para wanita yang merupakan para wanita yang terlibat dengan Mujeres Creando, yang berhasil mengambil alih tiga gedung pemerintahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perjuangan yang terjadi di Bolivia sangatlah menarik dalam beberapa hal tertentu. Seluruh kelompok yang tereksploitasi, masing-masing dengan masalah dan pengalaman spesifik mereka, telah mampu mengkoordinasikan pemberontakan mereka, serta bertindak dalam suatu solidaritas. Metode-metode swa-organisasi yang sangat bermanfaat bagi perjuangan ini berhasil ditemukan dalam tradisi pribumi di negara tersebut. Para anarkis telah memainkan bagian yang sangat signifikan dalam perjuangan itu dan secara terus-menerus mengekspos kekuatan-kekuatan yang sifatnya rekuperatif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;WILAYAH KABAYLE, ALGERIA TAHUN 2001 - HINGGA SEKARANG  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada April 2001, polisi di area Tizi Ouzou di wilayah Kabayle-Algeria telah membunuh seorang anak sekolah. Kericuhan dengan segera terjadi di Beni-Douala, sebuah perkampungan di area tersebut. Kerusuhan dan berbagai demonstrasi menyebar begitu cepat ke kota-kota dan perkampungan yang lain. Para perusuh menyerang kantor polisi dan pasukan detasemen dengan batu, molotov dan ban-ban yang dibakar, serta membakar kendaraan-kendaraan milik polisi, kantor milik pemerintah dan pengadilan. Target-target penyerangan meluas dengan begitu cepat hingga ke sejumlah gedung-gedung milik pemerintah, kantor-kantor partai politik dan kelompok-kelompok fundamentalis Islam. Pada Akhir bulan April seluruh wilayah Kabayle menjadi wilayah yang terbuka bagi Insureksi. Upaya-upaya pemerintah dalam menekan Insureksi tersebut membawa situasi itu pada suatu konflik terbuka beserta kematian dan luka-luka dikedua belah pihak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Wilayah tersebut telah memiliki suatu tradisi pedesaan pribumi dan juga dewan-dewan regional yang sangat lampau. Oleh karena itu, cukup mudah bagi mereka untuk mulai mempertahankan dewan-dewan tersebut sebagai suatu cara yang dipakai dalam mengorganisasikan perjuangan mereka. Di samping itu, sejak abad ke 19 gerakan perlawanan terhadap aturan kolonial Perancis telah membentuk suatu metode guna mengkoordinasikan berbagai aktivitas pedesaan dan dewan-dewan regional yang dikenal sebagai aarch. Hal ini juga dibangkitkan kembali. Manfaat dari metode tersebut adalah murni sebagai bentuk koordinasi, dan para delegasi dari dewan-dewan desa diberi mandat secara spesifik dan mandat mereka dapat pula dicabut kapan saja. Mereka juga mesti menyepakati suatu hal yang sangat menarik yang disebut sebagai “code of honor”. Melalui bentuk swa-organisasi ini, orang-orang Kabaylia telah berhasil mengorganisasikan demonstrasi yang sangat massif, pemogokan besar-besaran, aksi-aksi perlawanan terhadap polisi dan pemilihan umum. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di pertengahan Juni, kontrol negara di wilayah tersebut hampir benar-benar dilumpuhkan, markas besar polisi berhasil dirusak dan polisi itu sendiri hampir secara keseluruhan menghindarkan diri, memaksa pemerintah untuk menyuplai makanan kepada mereka dan kebutuhan-kebutuhan mendasar lainnya via helikopter dan konvoi-konvoi tentara. aarch menolak untuk bertemu dengan pemerintah, dan di pertengahan Juli, the aarch “code of honor” menimbulkan efek yang memerlukan para delegasi untuk “tidak melakukan aktivitas atau urusan apa pun yang bertujuan untuk menciptakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan kekuasaan beserta kolaborator mereka”, “tidak menggunakan gerakan tersebut dan mengakhirinya sebagai gerakan para partisan atau menggiringnya ke dalam kompetisi elektoral atau berbagai kemungkinan lain untuk menaklukkan kekuasaan”, dll. Ikrar atau janji ini dengan seketika diuji ketika para anggota serikat buruh dan anggota partai mencoba untuk menginfiltrasi pergerakan mereka. Gagalnya upaya mereka dalam membajak pergerakan tersebut makin diperjelas saat para demonstrator di tengah pemogokan besar-besaran berseru “Out with the traitors..! Out with the unions!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika aparat pemerintahan mencoba untuk meyakinkan beberapa orang dalam aarch untuk melakukan negosiasi, para insurgen menjauhkan seluruh aparat pemerintah dari wilayah Kabayle. Mereka yang mencoba untuk masuk akan disambut dengan lemparan batu. Di bulan Oktober, para demonstran mencoba untuk menghadirkan daftar tuntutan terhadap pemerintah, namun mereka disambut dengan sejumlah perlakuan represif. Guna merespon hal tersebut, the aarch dan kelompok-kelompok dewan lainnya memutuskan bahwa mereka tak mau lagi mengajukan tuntutan mereka kepada pemerintah, bahwa tuntutan-tuntutan mereka sungguh-sungguh tak dapat dinegosiasikan lagi dan siapa pun yang mencoba untuk bernegosiasi dengan pemerintah akan ditendang keluar dari tersebut. Di antara sekian banyak tuntutan tersebut adalah pembersihan seluruh bigade polisi dari wilayah mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Penolakan secara keseluruhan terhadap ketetapan pemerintah telah menjadi satu norma di Kabylia. Saat pemerintah memberanikan diri untuk muncul kembali di tengah jalanan konflik dengan seketika, dan dalam tingkat yang lebih jauh lagi dipaksa keluar dari wilayah tersebut. Pergerakan itu juga mampu mengkoordinasikan dua pemboikotan massif terhadap proses pemilihan di mana hampir tak seorang pun di Kabylia yang mengikuti proses pemilihan dan di Algeria secara keseluruhan, jumlah para calon pemilih mengalami penurunan yang sangat tajam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada akhir 2002 hingga awal tahun 2003, pemerintah Algeria mengambil tindakan represif terhadap gerakan tersebut dan khususnya terhadap the aarch. Sekitar 100 orang berhasil ditangkap, akan tetapi berlangsung pula aksi protes. Sekalipun represi tersebut berhasil memperlambat aktivitas para insurgen dan para polisi telah kembali lagi ke wilayah tersebut, pemberontakan itu tidak juga berhenti. Kerusuhan terus berlangsung sebagai respon yang biasa terhadap kelalaian negara beserta kekejamannya. Di samping itu, Presiden Algeria Bouteflika sudah bisa menduga bahwa kedatangannya akan disambut dengan kerusuhan dan hujanan batu kapan pun dia mengunjungi wilayah Kabayle. The aarch menyerukan suatu pemogokan besar-besaran di wilayah tersebut yang terjadi pada 18 Maret 2004 dan pemboikotan proses pemilihan terhadap pemilihan Presiden yang baru saja berlangsung pada waktu itu (April, 2004). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tak diragukan bahwa terdapat banyak sekali pernyataan sepihak anarkis di Algeria. Di luar Algeria, seperti di Itali dan Perancis, sejumlah besar anarkis menyebarkan informasi mengenai perjuangan itu dan melakukan aksi solidaritas. Masih dapat dipertanyakan apakah intervensi langsung di Algeria merupakan langkah yang tepat atau dapat membantu, namun aktivitas solidaritas itu sendiri pastinya telah menjawab pertanyaan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;ARGENTINA 2001 - ? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sebelum terjadi kerusuhan pada Desember 2001, jauh sebelumnya Argentina memang tak pernah tenang. Hancurnya ekonomi memang memiliki efek yang sangat merusak, dan dengan angka tingkat pengangguran yang lebih dari 25%, tidak adanya lapangan pekerjaan, di antara faktor lainnya, telah bercampur aduk dalam suatu protes massif yang disertai dengan berbagai blokade dan bentuk-bentuk aksi langsung lainnya. Akan tetapi di bulan Desember 2001, ekonomi Argentina mulai mengalami kolaps. Orang-orang mulai menarik uang mereka dari berbagai bank dan bersamaan dengan itu Menteri Ekonomi menetapkan batasan atas seberapa banyak jumlah uang yang bisa ditarik. Respon pun muncul dengan seketika. Pada 20 Desember, kerusuhan dan penjarahan mulai berlangsung di kota Buenos Aires yang disertai pula dengan berbagai demonstrasi. Bank-bank dan institusi pemerintah mengalami serangan. Meskipun seringkali dilukiskan sebagai pergerakan “kelas menengah”*, peristiwa tersebut pada kenyataannya juga mencakup keseluruhan dari mereka berada di luar dari politik dan ekonomi kelas penguasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kerusuhan, penjarahan, dan demonstrasi-demonstrasi menyebar hingga melampaui kota Buenos Aires, termasuk seluruh kota-kota besar dan sebagian besar dari wilayah negara tersebut. Dalam demonstrasi tersebut, orang-orang seringkali menyerukan untuk secara menyeluruh mematikan fungsi pemerintah, dan dalam kenyataannya selama beberapa minggu pertama dari aksi kerusuhan itu, beberapa presiden dipaksa untuk turun dari kekuasaannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dan pada bulan Desember itu juga, Dewan ketetanggaan pertama mulai muncul di Buenos Aires dengan tujuan untuk menyediakan ruang bagi setiap orang guna mendiskusikan permasalahan yang mereka hadapi dan bagaimana mereka akan menjalankan perjuangan mereka. Dewan-dewan tersebut mengambil tempat di sudut jalan dan di taman-taman. Menjadi suatu dewan yang membuka diri, tentu saja, akan mengundang para penyusup dari partai-partai politik dan serikat-serikat buruh masuk dengan harapan untuk mengambil-alih pergerakan tersebut, namun usaha-usaha mereka untuk mengkooptasi gerakan sama sekali tak dapat ditolerir. Saat kerusuhan menyebar, maka demikian pula dengan metode swa-organisasi, berhasil beradaptasi terhadap kondisi-kondisi tertentu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika aksi demonstrasi, menyerang berbagai institusi pemerintah dan lokasi bisnis, berbagai blokade dan bahkan serangan terhadap para politisi-politisi tertentu terus berlangsung(satu dari mereka dipukuli di sebuah restoran tempat ia makan), dewan-dewan tersebut mulai mengambil bentuk aksi yang juga sama. Ruang-ruang publik diduduki dengan tujuan untuk mengembangkan berbagai aktivitas dan proyek-proyek. Para pekerja juga menduduki berbagai pabrik dan membentuk dewan-dewan pabrik. Terdapat pula beberapa pertemuan yang dilangsungkan antara para pekerja dari pabrik-pabrik yang diduduki, orang-orang dari dewan-dewan ketetanggaan dan mereka yang termasuk dalam kelompok-kelompok pengangguran guna mendiskusikan di mana mereka akan menjalankan perjuangan tersebut. Hal ini merupakan pertanyaan yang signifikan, sebab berbagai macam aksi pendudukan juga berarti membutuhkan bermacam-macam perangkat yang berfungsi bagi masyarakat saat ini dan akan digunakan oleh para insurgen. Pertanyaannya disini ialah apa yang akan mereka lakukan dengan berbagai alat/perangkat tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ruang-ruang yang telah diduduki oleh dewan-dewan ketetanggaan telah dipandang sebagai ruang bagi mereka yang terlibat dalam berbagai aktivitas dan proyek yang mereka kehendaki sendiri. Para pekerja di pabrik-pabrik yang diduduki itu sepertinya masih kurang jelas dengan hal baru yang akan mereka lakukan. Pada kenyataannya, sejumlah pekerja dengan begitu mudahnya mulai menyokong proses produksi di bawah label“Kontrol para pekerja”. Di salah satu pabrik, tuntutan yang muncul ialah “nasionalisasi melalui kontrol para pekerja”. Tak ada lagi berita baru dari Argentina sejak kabar terjadinya pendudukan ini. Sangatlah mungkin bahwa “realisme” para pekerja, atau sederhananya kesulitan untuk mencoba hidup secara berbeda saat dunia terus-menerus mengikuti bentuk eksploitasi dan dominasi telah berhasil mendinginkan segala sesuatunya untuk sekarang ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Argentina telah menjadi sejarah lampau anarkis, oleh karena itu tidaklah mengejutkan jika di sana terdapat sejumlah kelompok anarkis. Apa yang mengejutkan di sini adalah betapa tidak siapnya mereka dalam menghadapi pemberontakan ini. Pada kenyataannya, pernyataan yang pertama kali saya peroleh dari para anarkis Argentina sungguh sangat mengejutkan, mereka berusaha menjauhkan diri mereka dari berbagai aksi penjarahan dan kerusuhan tersebut, dan nyaris berbicara mengenai hal tersebut sebagai aksi holiganisme semata. Tentu saja ini telah berubah, namun meski begitu, para anarkis di sana sepertinya telah berhasil memanfaatkan pergerakan tersebut. Satu hal yang mereka lakukan, mereka telah menjadi partisipan aktif di berbagai dewan ketetanggaan, aksi pendudukan dan sejenisnya, dan seseorang dapat mengasumsikan bahwa mereka turut mengambil peran dalam memelihara kecurigaan terhadap para politisi dan pemimpin, itulah bagian yang paling menyegarkan dari pemberontakan ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;BASILICATA, ITALIA, NOVEMBER 2003 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Gubernur wilayah Basilicata telah mendapatkan suatu kejutan yang sangat tidak diinginkan pada akhir bulan November saat menyadari bahwa terkadang orang-orang tidak hanya tidur menyaksikan keputusan ditetapkan atas hidup mereka. Gubernur telah membuat suatu perjanjian untuk membangun tempat penampungan limbah buangan nuklir di salah satu tempat di wilayah tersebut, yang berdekatan dengan kota Scanzano Jonica. Penduduk di kota ini tidak hanya tinggal diam. Meski mereka dapat saja membawa petisi untuk memohon gubernur mereka guna mengubah keputusannya. Daripada melakukan hal itu mereka malah memutuskan untuk mengambil langkah dengan melakukan aksi langsung, pemblokadean jalan-jalan di seluruh wilayah tersebut dan menutupnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di wilayah itu tak ada satu pun kelompok politik yang terlibat dalam mengorganisir aktivitas ini. Mereka malah memilih untuk bertemu secara bersama-sama dalam suatu pertemuan guna mendiskusikan berbagai pertanyaan serta mengorganisir aksi pemblokadean. Dan rupanya satu politisi mencoba untuk ikut terlibat, namun tidak mendapatkan sambutan baik. Untuk beberapa minggu pada bulan November, gerakan tersebut tetap mempertahankan pemblokadean di wilayah itu. Dengan berakhirnya bulan November, Gubernur tersebut mengurungkan niatnya untuk mendirikan tempat pembuangan limbah nuklir. Meskipun kemudian orang-orang Scanzano Jonica akhirnya menghentikan aksi blokadenya, mereka tetap membangun suatu dewan umum guna mendiskusikan realitas kehidupan yang mereka alami. Ketidakyakinan mereka terhadap para penguasa sudah sangat jelas, dan keberlanjutan dari dewan-dewan tersebut menyediakan suatu basis yang sangat potensial untuk perjuangan kedepannya nanti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saya tidak mendengar adanya para anarkis yang turut berperan secara langsung dalam perjuangan ini, akan tetapi jika terdapat anarkis yang tinggal di wilayah tersebut, saya berasumsi bahwa mereka pun ikut terlibat. Pergerakan itu sendiri terekspresikan dalam suatu elemen-elemen praktis, yaitu : praktek aksi langsung, pembentukan suatu metode untuk berkoordinasi secara langsung, serta berkomunikasi secara horizontal, ketidakpercayaan terhadap solusi-solusi politis dan menolak untuk bernegosiasi atau pun menyerah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;PEMOGOKAN WILDCAT DI ITALIA, MUSIM DINGIN 2003-4 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada 1 Desember 2003, para sopir angkutan jalan di Milan melakukan suatu pemogokan pada hari itu. Hari itu merupakan hari yang tepat untuk melakukan aksi semacam itu, karena hari itu juga menjadi hari pertama dilangsungkannya konferensi mengenai lingkungan di kota Milan—suatu konferensi di mana para politisi dan pemimpin-pemimpin ekonomi akan mendiskusikan bagaimana memperkecil kerusakan serta penyusutan sumber daya alam sambil terus-menerus memaksimalkan profit dan kekuasaan mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada 15 Desember, terjadi sejumlah aksi wildcat yang dilakukan oleh sopir angkutan kota di seluruh Italia. Di Turin dan Brescia, para sopir tersebut melakukan pemogokan dan banyak di antara mereka yang membakar kartu-kartu anggota serikat buruh mereka. Di beberapa kota lainnya terjadi mogok kerja yang sangat massif. Beberapa hari kemudian, para pekerja airport di kota Roma menjadwalkan suatu pemogokan wildcat, melakukan blokade di pintu-pintu masuk yang menuju bandara, hal ini mereka lakukan untuk memprotes pemberhentian yang akan menimpa mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada 19 Desember, serikat buruh menandatangani kesepakatan baru dengan transit boss terhadap para pekerja transit. Respon pun muncul dengan seketika saat para pekerja transit di seluruh Italia melakukan pemogokan wildcat, tidak masuk kerja dengan alasan sakit, dan “work-to-rule” perlahan-lahan mulai menurun selang beberapa hari kemudian. Dewan-dewan secara spontan dibentuk di banyak stasiun dan jumlah pekerja yang membakar kartu anggota serikat buruh mereka pun semakin bertambah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada 22 Desember, meskipun pemerintah telah mengembalikan tatanan seperti semula, para pemogok tetap memilih untuk melanjutkan perjuangan mereka. Polisi dipanggil untuk memaksa mereka kembali bekerja, namun di beberapa tempat, seperti di Brescia, para pekerja mampu untuk memukul mundur serangan polisi tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Berbagai aksi wildcat tetap berlanjut, dengan terjadinya beberapa pemogokan berikutnya di bulan Januari, pusat serikat buruh (yaitu COBAS dan serikat buruh yang diketahui peringkat dan data-datanya secara legal) menyerukan pemogokan legal nasional guna memprotes perjanjian yang menyangkut serikat buruh pada 19 Desember sebelumnya. Karena serikat buruh ini, meskipun secara relative mereka memiliki bentuk yang terdesentralisir, pada esensinya tak lain merupakan organ-organ negosiasi seperti halnya serikat buruh konfederal yang besar, ini bisa dilihat dalam setiap kejadian-kejadian rekuperatif yang terjadi. Meskipun demikian, di Genoa, para pekerja transit memilih untuk mengadakan suatu pemogokan yang sifatnya illegal. Pada 12 Januari, para pekerja di Milan menjadwalkan untuk melakukan pemogokan wildcat secara tiba-tiba. Pemerintah mengeluarkan isu mengenai perintah untuk “kembali bekerja”. Para pekerja di Milan menentang hal tersebut, dengan memperpanjang pemogokan mereka hingga 13 Januari. Dan pada 19 Januari, para pekerja airport di kota Roma sekali lagi melumpuhkan bandara selama 8 jam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di samping itu, berlangsung pula perjuangan untuk menentang Alfa Romeo, yang memprotes pemberhentian kerja. Di beberapa aksi ini, para pekerja yang diberhentikan dan mereka yang tidak diberhentikan melakukan aksi ini secara bersama-sama. Selain itu, hal tersebut juga muncul di para pekerja yang berada di industry metal/logam, disuapi dengan keterlibatan serikat buruh dan para majikan, telah menjadi catatan tersendiri dari berbagai aksi para pekerja transit wildcat. Bagaimana pun, perjuangan Alfa-Romeo sepertinya secara luas berada di bawah kendali Serikat buruh pusat, dan juga melampaui ekspresi ketidakpuasan, Saya sama sekali tidak mendengar aksi spesifik yang dilakukan oleh para pekerja logam. Jadi sangat sulit untuk mengatakan kemana hal tersebut mengarah. Pada kenyataannya, untuk sekarang hal tersebut tampaknya telah mereda. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dewan-dewan di stasiun-stasiun dan berbagai blokade terhadap jalan-jalan publik yang merupakan metode yang sangat penting dari aksi pemogokan ini telah menyediakan suatu ruang bagi sejumlah komunikasi langsung antara para pekerja transit dan yang lainnya. Di beberapa pemogokan, para pekerja yang lain dan para supporter dari aksi pemogokan tersebut turut serta mengambil peran dalam blokade ini. Pada akhir Januari dewan-dewan yang lebih besar juga turut mengambil tempat, namun mereka sepertinya muncul dengan berada di bawah kendali serikat buruh pusat. Di salah satu dewan semacam itu, para pekerja berjanji untuk mengadakan pertemuan-pertemuan di tempat-tempat kerja mereka guna meningkatkan dukungan terhadap para pekerja transit dan Alfa-Romeo. Jika ada para pekerja transit yang mengalami represi, respon massa akan diorganisir di semua tempat-tempat kerja. Akan tetapi kendali dari serikat buruh pusat menjadikan mereka sepertinya penuh dengan kecurigaan, terutama sejak waktu keterlibatan mereka yang pertama kali (9 Januari), sama sekali tidak terjadi aksi-aksi otonom di luar dari dua hari pemogokan wildcat yang terjadi di kota Milan dan setengah hari di Genoa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di bulan Februari, cengkeraman represi mulai menurun. Komite-komite Solidaritas terbentuk. Meskipun saya tidak pernah mendengarnya secara lebih detail, rupanya masih terdapat kelanjutan aksi-aksi yang dilakukan oleh para pekerja Alfa-Romeo yang diberhentikan dan pekerja yang lainnya di sepanjang kota Italia, meskipun seluruhnya berada di bawah kendali dari berbagai serikat-serikat buruh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jadi situasi telah ditenangkan. Sulit untuk mengetahui berapa lama ketenangan tersebut akan terus berlangsung atau apa tepatnya peranan kekuatan rekuperatif dalam mendinginkan perjuangan ini.Pastinya tanpa menyebar dalam cara-cara swa-organisasi, perjuangan tersebut tak dapat bertahan lama. Sebagian besar keluarga para pekerja, bekerja di bawah kondisi-kondisi yang sangat riskan (banyak di antara merek yang menjadi pekerja temporer atau masih dalam situasi training percobaan) dan tentunya memiliki upah rendah bagi seorang pekerja yang di wadahi oleh serikat pekerja. Serikat pekerja Konfederal merupakan musuh bagi wildcat sejak dari awalnya, dan serikat buruh pusat juga memiliki status legalnya sebagai perantara dalam memperselisihkan para buruh guna melindungi kepentingan majikan. Menjadikan para pekerja selalu kalah dalam berhadapan dengan majikannya. Insurgensi di Italia yang terjadi di tahun 1970-an diwarnai oleh aktivitas wildcat, akan tetapi keadaannya telah jauh berbeda sekarang. Sehingga sulit untuk membuat prediksi apa pun mengenai hal tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Para anarkis dan para revolusioner anti-politik lain yang melibatkan diri dalam perjuangan ini melalui sejumlah flyer dan bentuk komunikasi langsung, mengekspresikan solidaritas dan memberi harapan pada orang-orang yang terlibat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;BEBERAPA BAGIAN YANG SANGAT SIGNIFIKAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ada beberapa hal signifikan yang muncul dari beberapa situasi di atas: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kerusuhan, pemberontakan dan insureksi tidak seluruhnya diinspirasi oleh suatu ide besar, mimpi-mimpi utopian atau pun kritik-kritik teoritikal total atas tatanan sosial. Seringkali hal yang memunculkan peristiwa tersebut adalah cukup banal/dangkal: misalnya ketidakstabilan ekonomi, kondisi kerja yang buruk, pengkhianatan dari orang-orang yang mengklaim diri merepresentasikan hak-hak seseorang, serta dari kebrutalan polisi. Hal yang tampaknya merupakan detail-detail kecil ini memunculkan peberontakan ketika kemarahan terkombinasikan dengan rasa ketidakpercayaan terhadap institusi-institusi kekuasaan maupun yang oposisional. Fakta ini merupakan seruan bagi para anarkis untuk menghindari suatu bentuk kemurnian ideologis yang menganggap bentuk partisipasi hanya dapat tercapai dalam suatu perjuangan secara total. Kenyataan tersebut juga merupakan seruan bagi suatu bentuk teoritikal yang tajam yang mampu memahami situasi-situasi tertentu yang muncul secara cepat dalam terminologi totalitas dominasi, eksploitasi dan alienasi, dan pada saat yang sama juga dapat membuat aplikasi praktis dari teori tersebut. Hal ini membutuhkan keinginan besar untuk secara konstan menyelesaikan segala realitas yang terbentuk di sekeliling kita, membuat suatu hubungan yang dapat menunjukkan kebutuhan atas keterputusan revolusioner, di mana pada saat yang sama juga mengurutkan area-area yang tepat untuk melakukan suatu intervensi dan dengan tepat menargetkan sasaran serangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika suatu pemberontakan atau pun perjuangan berdasarkan spontanitas bergerak melampaui tingakatan paling awal, yaitu mereka yang tereksploitasi dapat mengenali kebutuhan akan komunikasi secara horizontal. Dewan-dewan atau sesuatu yang sejenis secara spontan akan terbentuk. Penolakan terhadap politik dan representasi akan muncul dengan sendirinya dalam berbagai metode ini. Pada saat yang sama, akan selalu muncul serangan dari berbagai partai dan serikat buruh, yang muncul bersama predator-predator lainnya, guna mencari titik terlemah di mana mereka dapat “menawarkan pertolongan mereka”. Di sini kembali, para anarkis dan revolusioner anti-politik perlu memelihara perangkat mereka demi keberlangsungan serangan terhadap berbagai tendensi rekuperatif yang sedang bermain, demikian juga dorongan-dorongan konstan terhadap perjuangan dalam arah anti-politik yang terencana di mana negosiasi dan segala bentuk representasi tidak akan mendapatkan tempat sama sekali. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ruang-ruang yang cenderung akan mengarahkan setiap orang pada suatu tujuan yang bukan menjadi keinginan mereka ditransformasikan pada kemungkinan yang jauh lebih luas dalam ruang-ruang di mana setiap orang dapat melakukan proyek-proyek yang mereka kehendaki. Aspek ini merupakan aspek yang sangat penting, sebab tatanan kekuasaan akan melakukan segala hal yang mereka bisa guna mematikan atau mengontrol setiap ruang publik yang ada. Di tahun 1970-an pabrik-pabrik sesungguhnya dapat menyediakan ruang bagi segala aktivitas dewan-dewan dan insurgensi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di mana terdapat sejumlah tradisi dan sejarah yang dapat diketahui mengenai swa-organisasi, maka seringkali ini dapat menyediakan semacam dasar bagi munculnya pemberontakan yang memiliki bentuk sejenis. Berbagai tradisi pribumi tertentu seringkali menyediakan struktur-struktur semacam itu. Di lain pihak, jika sama sekali tak terdapat tradisi semacam itu yang pernah eksis, imajinasi dan kapasitas guna dapat menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi suatu hal yang sangat esensial. Hal ini menunjuk pada wilayah lain di mana resistensi serentak menjadi hal yang sangat diperlukan : meningkatnya degradasi terhadap kapasitas pemikiran kreatif perlu untuk diperangi mati-matian. Standarisasi atas ide ke dalam kalkulasi semata-mata mesti ditolak dan ditentang, sehingga kapasitas untuk benar-benar bergulat dengan situasi yang ada dapat terus berlangsung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;KESIMPULAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Swa-Organisasi Otonom menjadi dasar baik bagi eksistensi kebebasan yang sesungguhnya maupun dari perjuangan untuk mencapai eksistensi tersebut. Hal tersebut sangat bertentangan dengan politik-politik dan praktek yang menolaknya atau pun yang dihancurkan olehnya. Praktek swa-organisasi sepertinya terbentuk secara spontan ketika orang-orang bangkit untuk melakukan pemberontakan. Apa yang membedakannya dari politik yang ada ialah oposisinya terhadap segala bentuk representasi dan kompromi–tidak hanya dengan tatanan sosial yang ada, namun juga dalam gerakan swa-organisasi itu sendiri. Oleh karena itu, dibanding mencari cara untuk menentukan keputusan kolektif yang melibatkan kompromi, ia justru menjadi suatu usaha untuk dapat menemukan metode guna menjalin segala kehendak, ketertarikan dan kebutuhan dari semua yang terlibat dalam cara yang dapat diperkenankan oleh masing-masing individu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ini bukan hanya merupakan aspek yang kecil, akan tetapi menjadi aspek yang sangat esensial. Sekali tujuan dari pengorganisasian perjuangan kita beserta hidup kita menemui suatu perhentian dan menemukan jalan untuk menjalin hasrat, ketertarikan dan segala kebutuhan kita yang berbeda sehingga kesemua hal tersebut dapat terpenuhi dan malahan menemui suatu titik di mana segala kompromi, posisi, program serta platform mulai mengambil-alih berbagai hasrat, mimpi dan aspirasi. Kemudian, representatif dari berbagai posisi, program dan platform yang beranekaragam mendapatkan tempatnya dalam sebuah situasi dan mentransformasikan swa-organisasi ke dalam politik. Hal tersebut pernah terjadi sebelumnya dalam suatu situasi revolusioner dengan hasil yang justru sangat mengerikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hal ini mengindikasikan cara intervensi anarkis menjadi sesuatu yang patut diterima. Kami tak perlu untuk menciptakan semacam organisasi politik apa pun untuk merepresentasikan anarki. Dengan melakukan hal itu, pada kenyataannya justru bekerja bertentangan dengan swa-organisasi. Justru kita perlu untuk memulai dari diri kita sendiri, dari kondisi kita sebagai individu yang telah tercuri hidupnya, perjuangan kita melawan kondisi tersebut dan hasrat kita untuk menjadi pencipta atas eksistensi kita sendiri. Dari dasar inilah, intervensi anarkis tidak akan menjadi evangelisme atas program-program politik atau pun kesadaran revolusioner. Bentuk Intervensi Anarkis justru akan menjadi suatu pencarian bentuk penyelesaian, pembentukan relasi affiniti, jalinan kehendak dan hasrat kita, atas segala kemarahan kita yang destruktif, ide-ide dan mimpi kita dengan orang lain dalam perjuangan dan pemberontakan mereka. Pencarian semacam itu dapat menemukan jalannya di tengah-tengah gerakan pemberontakan sosial, menemukan penyebaran afiniti yang menawarkan keterlibatan suatu bentuk federasi informal, dan dalam urat nadi yang tersembunyi ini mungkin akan ditemukan suatu embrio dari bentuk gerakan sosial yang lebih baru. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dalam beberapa hal, intervensi ini, dalam penolakan politik beserta metodenya, telah menjadi tekanan besar yang mengarah ke revolusi dan kebebasan dalam hidup dan perjuangan, terus-menerus mendorong dan menjungkirbalikkan segala bentuk dominasi dan eksploitasi, untuk mengakhiri semua bentuk praktek spesialisasi dan representasi termasuk segala bentuk aktivisme yang terspesialisasi. Hal tersebut merupakan tekanan besar yang bersumber dari pengetahuan akan hasrat seseorang dan di saat yang sama mengetahui bahwa seseorang sedang menghadapi dunia yang dirancang guna menghindari realisasi dari hasrat individu–mengetahui, dengan kata lain, bahwa hidup seseorang adalah suatu pertempuran. Hal ini, di saat yang sama, merupakan tekanan dari keterlibatan hasrat di mana segala perbedaan antara individu-individu telah menciptakan suatu jalinan harmoni dari berbagai affiniti yang mengindikasikan arah bagi jalan hidup yang benar-benar bebas. Ini terjadi dalam suatu tekanan besar di mana swa-organisasi yang spesifik dari kesadaran pemberontakan anarkis dapat menemukan jalan untuk berjalinan dengan perjuangan harian dari semua yang tereksploitasi di titik di mana mereka yang berjuang itu akan mulai bereksperimen dengan bentuk-bentuk aksi-langsung dan swa-organisasi. Dunia yang berdasarkan pada kegembiraan dan eksplorasi dari kehendak kita adalah sesuatu yang mungkin, hal itu akan mulai bertumbuh di mana pun bentuk swa-organisasi dari suatu pemberontakan terhadap dunia ini mengalir menuju pada swa-organisasi kehidupan itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;* Di sisilia, Mafia masih tetap menjadi bagian yang signifikan dari struktur kekuasaan. Mafia juga dengan sangat jelas mengenali sejumlah area yang dapat mendatangkan keuntungan dengan munculnya pangkalan yang berkisar di wilayah operasi-operasi “legal” hingga pada prostitusi dan obat-obatan terlarang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;* Istilah ini secara relatif tidak memiliki makna sebagaimana yang digunakan saat ini. Dalam konteks pemberontakan ini hal tersebut merujuk pada fakta yang terjadi di antara mereka yang dikenai efek dengan kolapsnya ekonomi di mana orang-orang yang berada dalam pendudukan membayar dengan jumlah yang sedang, tidak seperti mereka yang miskin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-101472514571594030?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/101472514571594030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=101472514571594030' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/101472514571594030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/101472514571594030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/12/swa-organisasi-otonom-dan-intervensi_1592.html' title='SWA-ORGANISASI OTONOM DAN INTERVENSI ANARKIS: SEBUAH TEGANGAN DALAM PRAKSIS'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-5855521334793937891</id><published>2011-12-19T06:44:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T06:51:08.963-08:00</updated><title type='text'>TEKNOLOGI DAN TOTALITERIANISME: GAGASAN HERBERT MARCUSE TENTANG SISTEM TEKNOLOGI KAPITALIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/383042_2315632933781_1338199835_32252839_139598536_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 600px;" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/383042_2315632933781_1338199835_32252839_139598536_n.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Zorosastro Wardoyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;[Perhimpunan Muda]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tulisan ini merupakan semacam ulasan gagasan Herbert Marcuse dalam karyanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manusia Berdimensi Tunggal &lt;/span&gt;(1964).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Teknik dan perkakas semula adalah kepanjangan tubuh peningkat hasil kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Keberanjakan manusia dari dunia binatang ke dunia manusia pertama kali ketika Homo Ergaster menggunakan kapak batu-genggam. Teknologi itu membebaskan manusia perlahan-lahan dari sekat-sekat alamiah dan mengistirahatkan manusia dari beban-beban produksi yang berat sehingga kehidupan lebih mudah di tengah-tengah alam. Artinya teknologi itu pada mulanya berpusat-pada-kehidupan dan pembebas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Persoalannya, produksi di dalam kapitalisme industri bukanlah untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi demi akumulasi dan ekspansi kapital. Di dalam kapitalisme kedudukan teknologi di dalam lingkaran produksi-distribusi-konsumsi kapital sangat penting, bahkan mendasar dari sisi kapital. Teknologi adalah kekuatan produktif karena meningkatkan produktivitas. Untuk akumulasi dan ekspansi kapital perlu pengingkatan kekuatan produktif, terutama teknologi. Untuk peningkatan kekuatan produktif perlu akumulasi kapital. Kedua malaikat penjaga kapitalisme ini berkelindan tanpa bisa dilepaskan satu dengan lainnya. Teknologi dibutuhkan untuk efisiensi, dan kapital dibutuhkan untuk pengembangan teknologi lebih lanjut. Tanpa salah satunya keruntuhan kapitalisme bisa terjadi cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;Namun, di dalam kapitalisme keberadaan teknologi mengandung paradoks. Akumulasi kapital hanya mungkin dengan memeras nilai-lebih. Satu-satunya sumber nilai-lebih ialah tenaga kerja sebagai komoditi. Peningkatan perolehan nilai-lebih hanya bisa dengan dua cara: 1) memperpanjang jam kerja pekerja sehingga tenaga kerja yang dihisap nilai-lebihnya bisa lebih banyak, dan 2) meningkatkan kekuatan perkakas produksi sehingga tenaga kerja berlipat-lipat dayanya. Pilihan cara pertama sudah sulit dilakukan dan tidak efisien secara sosial. Keberadaan serikat buruh yang diakhir abad ke-19 telah berhasil memangkas jam curahan tenaga kerja menjadi 8 jam sehari, masih dibenarkan dalam konteks negara-kesejahteraan. Meskipun kekuatannya kian lama kian lemah karena kemenangan perjuangan kapitalis neoliberal di kancah internasional, namun norma-norma perlindungan buruh menjadi bagian dari (meski di pinggiran) norma-norma masyarakat borjuis. Ada pembenaran untuk upaya-upaya pemogokan dan bentuk pemberontakan buruh lainnya. Artinya, pemaksaan penambahan waktu kerja berat ongkos sosialnya. Oleh karena itu, hanya cara kedua yang memungkinkan terus berlangsungnya akumulasi dan ekspansi kapital di tengah-tengah ancaman the law of deminishing return (penyusutan keuntungan rata-rata seiring dengan peningkatan produktivitas). Namun, peningkatan kekuatan perkakas produksi berakibat pada penyusutan kebutuhan tenaga kerja manusia. Bila sebelumnya dengan teknologi sederhana seratus lembar kain dihasilkan oleh 10 pekerja selama 48 jam, maka dengan mesin tenun jumlah komoditi yang sama bisa dihasilkan oleh seorang pekerja dalam waktu 24 jam saja. Ke manakah 9 pekerja dan 24 jam lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengangguran dan penurunan kualitas perlindungan pekerja karenanya merupakan bagian dari paradoks keberadaan teknologi dalam produksi kapitalis. Keadaan ini berujung pada penyusutan pasar secara umum karena jumlah pembeli menyusut sebab jumlah orang yang memiliki uang juga menyusut. Jalan keluar yang dilakukan ialah pengalihan pusat perhatian produksi ke pembuatan barang dan jasa yang semakin mewah atau semakin murah. Kedua-dua pilihan berujung pada tingkat persaingan yang meninggi dan menyusutkan tingkat laba rata-rata di antara kapitalis. Bila tahap ini mencapai apa yang dalam ekonomika disebut over-produksi dan under-konsumsi, maka krisis ekonomi bisa terjadi. Untuk menghindarinya maka kapitalisme mempergunakan teknologi (lagi) untuk menggenjot konsumsi. Teknologi tidak hanya ditempatkan dalam produksi namun juga kian penting dalam sirkulasi kapital, terutama konsumsi konsumtif. Ujung-ujungnya kapitalis merekayasa aneka rupa komoditi baru untuk menciptakan pasar baru yang kian lama kian kategorial dan khusus. Dulu sabun mandi dibuat dan bisa digunakan untuk semua anggota. Sekarang sabun-sabun mandi dibuat khusus untuk golongan jenis kelamin dan usia tertentu saja. Spesifikasi ‘kegunaan’ barang dan jasa memang ‘memperluas’ pasaran namun ia membutuhkan media untuk meyakinkan konsumen mengenai kekhususannya. Di sinilah media massa dan teknologi periklanan menjadi penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama, produksi imajinasi dan penggempuran dayanya lewat media menjadikan rezim kapitalisme-lanjut bersifat totaliter. Semua segi kehidupan dirambah demia tujuan mulia menghasilkan laba sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknologi begitu penting dalam semua simpul dalam rangkaian sirkulasi kapital telah mendorong merambahnya nalar teknik ke segenap sendi kehidupan. Dalam istilah Gramscian, teknologi menjadi ideologi hegemonik. Nalar teknik atau rasionalitas teknologi sebagai satu-satunya nalar kebenaran dalam kapitalisme-lanjut menjadi nalar kehidupan sosial, kerangka kerja ekonomi, tuntunan baku politik, dan sumbu bakar kebudayaan. Teknologi bukan hanya alat pengendalian sosial baru yang menata perihidup individu dan kolektif, namun menjadi ‘sosial’ itu sendiri. Ruang, waktu, dan psikologi ditata berdasarkan dan demi Sistem Teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu nalar teknik ialah operasionalisme atau sejenis corak pikir yang mendefinisikan segala sesuatu berdasarkan operasionalitasnya. Dalam nalar teknik ini benar-salah atau baik-jahatnya segala sesuatu bergantung pada sasarannya. Simpul nilai-sasaran dalam kapitalisme ialah akumulasi dan ekspansi kapital. Segala hal ditakar berdasarkan kedudukannya dalam proses akumulasi dan ekspansi kapital. Segala hal yang menghambat atau tidak memajukannya akan disingkirkan. Kalau pun tidak bisa, penghambat itu harus dipangkas. Salah satunya ialah kebebasan. Ini merupakan kontradiksi lain lagi dalam kapitalisme. Nalar teknik dalam kapitalisme memangkas kebebasan yang ditempatkan sebagai penghambat pencapaian tujuan akumulasi dan ekaspansi kapital secara efisien, murah, dan cepat. Namun kebebasan merupakan prasyarat pula bagi berkembangnya persaingan dalam pasar bebas sehingga pembaharuan dan pengembangan teknik-teknik (produksi) bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya demokrasi borjuis, sistem teknologi tidak mengendalikan kehidupan dengan kekerasan vulgar, tapi dengan persetujuan semu. Dalam istilah Foucauldian, sistem teknologi menciptakan ‘tubuh-tubuh patuh’; menjinakkannya tanpa rasa sakit, tanpa kejutan karena berlangsung sejak ‘tubuh’ hadir di panggung kapitalisme. Selain memanipulasi kebutuhan, teknologi juga menunjukkan diri kehadapan individu-individu sebagai sosok ‘yang berjasa’ karena telah memurahkan komoditi. Dalam kerangka pikir Marcuse, teknologi dalam kapitalisme-lanjut menjadikan proletar terserap ke dalam budaya borjuis dan menyetujuinya. Inilah salah satu sumber alienasi dan ketertutupan proletar dari kenyataannya sendiri. Sebab itulah revolusi proletar yang diramalkan Karl Marx bakal muncul di negeri-negeri industrial ternyata tidak. Kesadaran proletar (dan semua orang dari berbagai lapisan sosial) menjadi satu dengan kesadaran borjuis. Hegemoni nalar borjuis ini membuat kapitalisme disetujui bukan hanya oleh kelas yang menikmati keuntungan dalam formasi sosial ini, namun juga oleh kelas-kelas yang tertindas di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hegemoni nalar borjuis dalam dan melalui teknologi memang begitu kuat sampai-sampai dunia dan kehidupannya sekarang ini dianggap sebagai satu-satunya bentuk kehidupan yang alamiah dan baik. Globalisasi neoliberal adalah keniscayaan alamiah. Ia semacam kehendak Tuhan di bumi yang tidak bisa dielakkan. Tidak ada alternatif lain selain memperbaiki kekeliruan-kekeliruan kecil yang ada di dalamnya. Kebenaran sejati dalam formasi sosial kapitalisme ini meresap bahkan hingga ke sudut-sudut markas serikat buruh dan bedeng-bedeng pemukiman kaum proletar. Kerja yang semestinya menjadi sarana untuk perwujudan diri, kini dalam naungan nalar teknologi kapitalis, menjadi sepenuhnya kegiatan menghasilkan barang dagangan. Tidak ada tempat bagi permainan dan kesenangan dalam kerja-kerja upahan. Keadaan ini tidak hanya menimpa kelas buruh upahan kecil, tetapi juga proletar yang disebut sebagai pekerja kerah putih. Untuk menghibur diri, teknologi kapitalis menyediakan jasa-jasa hiburan yang menjadi sumber akumulasi dan lahan semaian ekspansi kapital juga. Keterasingan kian padat dan mendalam sehingga tidak ada cara lain untuk keluar darinya selain menghibur dan menipu diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Marcuse, hampir-hampir tidak ada harapan bagi perubahan dan pembebasan. Namun masih ada celah renik untuk keluar dari gelimang tirani borjuis, yaitu 1) menolak teknologi kapitalis dan nalarnya lalu mencipta teknologi yang bisa menggabungkan kerja produksi dan kesenangan (atau perwujudan diri); dan 2) melawan totaliterianisme dan pemassalan melalui komuniti-komuniti kecil swadaya dan swakarsa; semacam kolektif-kolektif mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara umum cakrawala yang terbangun dalam One Dimensional Man cenderung pada pesimisme. Marcuse melihat kapitalisme dan perangkat-perangkat ideologis dan teknisnya hampir-hampir tidak bisa ditolak atau dijatuhkan. Seperti mahluk kerdil yang berada di kaki raksasa, manusia modern sama sekali tidak punya kuasa melawan hegemoni kebudayaan kapitalis dan sekadar menjadi bahan mentah dari pemassalan dan penunggalan dimensi yang menjadi tujuan-antara kapitalisme. Pandangan ini hampir tidak bisa dibedakan dengan pandangan Jacques Ellul yang juga melihat sistem teknologi kapitalisme sebagai sistem otonom yang mahakuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pemikir sama-sama menganut sejenis ‘determinisme teknologi’ dan ‘determinisme sosial’ yang bila dirunut akarnya ada dalam pemikiran Karl Marx tentang kapitalisme. Pada satu aras teknologi berkembang dari tatanan dan dinamika kehidupan sosial-ekonomi. Pada aras berikutnya teknologi mengembangkan tatanan baru yang bercorak tertentu pula. Teknologi tidak sepenuhnya otonom meski mempunyai kekuatan dan logika sendiri dalam perkembangannya. Teknologi adalah bagian dari suatu formasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibanding-banding, jalan keluar kedua yang diajukan Marcuse begitu dekat dengan gagasan E.F. Schumacher dalam buku terkenalnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Small is Beautiful&lt;/span&gt;. Bagi Schumacher, jalan keluar dari perekonomian skala besar kapitalisme dengan teknologinya yang juga berskala besar dan ternyata menghancurkan tujuan dari ekonomi itu sendiri, ialah mengembangkan teknologi berskala kecil untuk menopang perekonomian skala kecil pula sehingga masalah-masalah totaliterianisme dan penindasan yang ada di bawah sistem kapitalisme sekarang ini, bisa diatasi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-5855521334793937891?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/5855521334793937891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=5855521334793937891' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/5855521334793937891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/5855521334793937891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/12/teknologi-dan-totaliterianisme-gagasan.html' title='TEKNOLOGI DAN TOTALITERIANISME: GAGASAN HERBERT MARCUSE TENTANG SISTEM TEKNOLOGI KAPITALIS'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-1201784478236666710</id><published>2011-12-18T21:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T06:53:06.530-08:00</updated><title type='text'>PAPUA: NEGARA, NASIONALISME &amp; KAPITAL MULTINASIONAL</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bFceHY8JopA/Tu7Gzz-HurI/AAAAAAAAAaQ/5qsszbOrImM/s1600/west-papua-protest.jpg"&gt;&lt;img alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687701972841904818" src="http://3.bp.blogspot.com/-bFceHY8JopA/Tu7Gzz-HurI/AAAAAAAAAaQ/5qsszbOrImM/s400/west-papua-protest.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 300px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Semenjak berakhirnya pendudukan kolonial Hindia Belanda di tahun 1949, Papua (dalam teritori Indonesia saat ini menjadi dua provinsi, Papua Barat/Irian Barat dan Irian dan Papua) menjadi wilayah tarik menarik pengaruh antara rezim nasionalisme ekspansionis Sukarno dan Amerika di awal era perang dingin, yang disusul oleh pendudukan rezim brutal Suharto yang merupakan sekutu kepentingan ekonomi dan politik Amerika. Di luar kedua pihak tersebut, beberapa negara lain (Australia, Uni Sovyet, Belanda, Inggris) dan PBB juga memberikan pengaruhnya  untuk menentukan nasib wilayah dan masyarakat Papua.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Dengan dibentuknya Komisi PBB untuk Indonesia pada tahun 1949, dan diselenggarakannya Konfrensi Meja Bundar, pergolakan untuk mendominanasi Papua telah dimulai oleh Indonesia. Sepanjang dekade 1950-1960, terjadi negosiasi diantara rezim kolonial Belanda dan negara pasca kolonial, Indonesia, yang merupakan rezim Jawa yang tersentralis. Rezim kapitalis Blok Barat Australia, Belanda dan Inggris juga mulai mempengaruhi konflik dominasi terhadap Papua, yang ingin menghadang pengaruh rezim Sukarno yang terpengaruh oleh rezim Bolshevik Uni Soviet, kekuatan internasional tersentralis yang membangun satelit-satelit kekuatan politik sosialisme otoritarian di berbagai wilayah di dunia, terutama di wilayah-wilayah bekas kolonialisme.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sejak 1957, rezim Sukarno Indonesia, memulai serangakaian kampanye agresif dan aksi militer untuk mengkonsolidasi klaim kekuasaan teritori Indonesia pada wilayah Papua. Pada puncak ambisi ekspansionisnya, dari 1961-1963, rezim Sukarno membelanjakan sekitar US$2 trilyun (sekitar setengah dari anggaran negara) untuk peralataan militer. Uni Soviet, merupakan pendukung utama persenjataan dalam operasi ekspansionisme Sukarno di Papua, dengan kepentingannya untuk membangun satelit-satelit sosialis otoritarian. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ekspansionisme Sukarno yang didukung oleh rezim Bolshevik Uni Soviet, merupakan perintis dominasi  Papua pasca kolonialisme Indonesia, yang selanjutnya pada era awal Perang Dingin mulai mendapat tantangannya dari rezim kapitalis barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika memulai keterlibatan aktifnya dalam isu Papua pada era pemerintahan Kennedy (1961). Di tahun 1962, Amerika menginisiasikan solusi diplomatis untuk menengahi konflik Indonesia dan Belanda dalam isu Papua yang menghasilkan Resolusi PBB Nomor 1752 (dikenal sebagai Perjanjian New York), dimana bagian terpentingnya adalah ketetapan mengenai Penentuan Pendapat Rakyat (PAPERA) bagi rakyat Papua. “Penentuan pendapat” yang dilaksanakan pada tahun 1969 mengawali represifitas rezim Orde Baru/Suharto dan kapital internasional (khususnya Amerika) sampai jatuhnya rezim tersebut hingga sekarang;  yang dalam rentang hampir empat dekade menerapkan kekerasan dan perampasan dalam skala yang oleh sebagian pihak dinilai sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan genosida (Lowenstein, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian Rahasia Roma, tepat seminggu setelah ditetapkannya Perjanjian New York, memuat beberapa butir keputusan -  yang paling utama adalah tentang kemungkinan membatalkan atau menunda PAPERA;  Perjanjian tersebut juga memfasilitasi masuknya kapital melalui butir-butir yang “mewajibkan” Amerika untuk: menanam modal melalui badan usaha di Indonesia dalam bidang eksplorasi mineral dan sumber daya alam; menjamin pinjaman Bank Pembangunan Asia sebagai dana pembangunan PBB di Papua sebesar 30 Juta dollar AS untuk jangka waktu 25 tahun; menjamin Indonesia melalui Bank Dunia dengan sejumlah dana bagi pelaksanaan Transmigrasi dalam rangka penempatan orang-orang Indonesia di Papua, terhitung sejak tahun 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun akhir 1965, selang dua bulan setelah kudeta berdarah September, perusahaan tambang Amerika, Freeport McMoran menjajaki invetasi tambang tembaga di Papua. Selang dua tahun, pemerintah Indonesia melengkapi infrastruktur legalnya sebagai wilayah untuk perkembangan kapital dan mengintegrasikan Indonesia ke dalam kepentingan-kepentingan blok kapitalis internasional dengan mengeluarkan UU Penanaman Modal Asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAPERA kemudian dilaksanakan pada tahun 1969, tapi hanya dengan melibatkan sekitar atau bahkan kurang dari 1% populasi Papua yang dipilih oleh pihak Indonesia dan dengan pendekatan kekerasan, digiring untuk memilih berintegrasi dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengintegrasian Papua ke dalam teritori kekuasaan Indonesia memulai suatu era kelam bagi masyarakat di wilayah itu. Berbagai sumber memperkirakan jumlah orang yang dibunuh dan dihilangkan, berkisar dari ribuan hingga puluhan ribu bahkan ratusan ribuan (The West Papuan Case -Human Rights Abuses di situs Free West Papua; Lowenstein, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim militeristik Orde Baru yang tidak bisa dipungkiri masih utuh hingga saat ini, melancarakan operasi militer, pengontrolan militeristik terhadap populasi Papua dan meminggirkannya secara ekonomi, politik dan sosial - yang hampir seluruhnya terjalin erat dengan kepentingan modal multinasional dan dengan dukungan diplomatis, modal dan militer dari negara-negara blok kapitalis barat. Pembunuhan ekstrayudisial, penyiksaan fisik, pemerkosaan, teror mental, diskriminasi rasial, penghinaan terhdap kultur Papua terjadi seiring dengan perampasan lahan dan sumber-sumber daya alam dan perusakan lingkungan dan sumber-sumber mata pencarian.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kekerasan Negara, Negara Nasion dan Kapital Multinasional&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dikatakan oleh seorang diplomat Indonesia bahwa Papua Barat baginya adalah ‘sesuatu yang harus dipertahankan bahkan dengan mengorbankan nyawanya’. Pada realitanya, Papua Barat telah menjadi ‘sesuatu yang harus dikorbankan olehnya’.&lt;br /&gt;--Jason MacLeod&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia telah membebaskan masyarakat yang terjajah oleh rezim kolonial. Namun, sifat progresif dari perjuangan kemerdekaan nasional hanya terjadi dalam konfliknya vis a vis rezim kolonial dan setelah itu kekuatan negara nasion menjadi kekuasaan-kekuasaan yang mengendalikan dan merepresi populasi di dalam teritorinya. Negara-negara pasca kolonial di Asia, Afrika, Amerika tengah dan selatan, seperti Indonesia, hampir semuanya berkembang menjadi rezim-rezim despotik dan super korup. Visi-visi tentang negara nasion yang akan menciptakan kebebasan dan masyarakat egaliter di wilayah-wilayah pasca kolonial hanya menjadi ilusi-ilusi, seiring dengan pemapanan negara nasion, yang pada intinya adalah pemapanan kekuasaan segelintir elit (representatif) terhadap mayoritas (populasi yang direpresentasikannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, relasi dominan dan subordinat dalam relasi kekuasaan kapitalisme global berlanjut pasca era kolonialisme. Negara-negara bekas teritori kolonial tetap berperan sebagai wilayah-wilayah subordinat vis a vis negara-negara dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya negara-negara pasca kolonial merupakan perluasan modernisasi kapitalis, setelah sebelumnya kolonialisme mengintegrasikan wilayah-wilayah kolonial dalam jaringan kapitalisme global – dengan menundukan rezim-rezim feodal dan membangun wilayah-wilayah tersebut sebagai penyangga sektor-sektor industri ekstraktif dan agrikultur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dominan-subordinat dalam relasi kekuasaan global yang sempat diinterupsi oleh perjuangan-perjuangan melawan kolonialisme, kembali pada titik keseimbangnnya. Pasca perjuangan kemerdekaan nasional, institusi dan aparatus negara nasion pasca kolonial menjadi fasilitator bagi aktor-aktor kapital dari negara-negara dominan untuk mengakses teritori, sumber daya dan populasi di wilayah-wilayah tersebut. Negara nasion pasca kolonial menjalankan fungsinya sebagai fasilitator modernisasi kapital, khususnya dalam era developmentalisme, dimana terjadi perluasan infrastruktur untuk kegiatan-kegiatan industrial, intensifikasi ekstraksi sumber daya alam, pendisiplinan populasi menjadi sumber daya manusia dan perkembangan pasar bagi komoditi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara nasion Indonesia, melalui represi fisik dan mental terhadap populasi di dalam teritorinya, menjalankan perannya dalam menciptakan iklim investasi bagi kapital multinasional, terutama sejak naiknya rezim militieristik Orde Baru. Penciptaan iklim investasi yang diawali dengan pengorbanan jutaan jiwa, selanjutnya dimapankan dengan berkuasanya rezim Orde Baru. UU Penanaman Modal Asing diberlakukan dua tahun setelah pembantaian September 1965, sebagi kerangka legal yang menjamin keamanan investasi dan pemberian konsesi-konsesi pada kapital multinasional. Negara nasion ini menjalankan peran subordinatnya, untuk memfasilitasi kapital multinasinal, sebagai penjaga kapital dan mediasi antara kapital dan populasi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara Nasion Indonesia dan kapital multinasional membangun jalinan ekplotasi brutal terhadap populasi dan lingkungan di wilayah Papua. Kapital multinasional yang melakukan investasinya di wilayah yang begitu kaya akan sumber daya alam ini, menempatkan negara Indonesia pada peran pendisplin populasi yang bergejolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi militer di Tanah Papua dimulai secara de facto pada waktu bermulanya pendudukan Indonesia atas Papua pada tahun 1963 dan berlaku makin represif ketika secara de jure Papua menjadi DOM yang paling lama di Indonesia, selama 20 tahun dari 1978 hingga tanggal 5 Oktober 1998 (20 tahun). Sementara itu, “peresmian” aneksasi Papua melalui PAPERA merupakan proses yang diatur oleh kekerasan negara (berlangsung dua tahun setelah Freeport McMoRan, kapital multinasional terbesar di Papua beroperasi). PAPERA, menurut beberapa diplomat, merupakan proses jajak pendapat yang dipenuhi oleh ancaman kekerasan dan pembunuhan bagi wakil-wakil yang memilih opsi kemerdekaan untuk Papua (J. Saltford, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Papua, militer mempunyai kepentingan yang sangat besar dalam ekstraksi sumber daya alam, melalui keterlibaan langsungnya dalam industri kayu, perikanan dan pertambangan serta dana-dana dari industri ekstraksi yang dibayarkan sebagai uang pengamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih-benih konflik antara kepentingan negara dan modal dan hak-hak hidup masyarakat indigeneous Amungme di  Tembagapura dan Komora di Mimika, berawal pada tahun 1967, ketika PT Freeport Indonesia (PTFI), yang merupakan joint venture antara Freeport McMoRan dan Rio Tinto, menandatangani Kontrak Karya dengan pemerintah Indonesia. Kontrak Karya yang disusun oleh PTFI memberikan korporasi tersebut lingkup kekuasaan yang besar terhadap masyarakat indigenous dan sumber daya alam - yang termasuk kekuasaan untuk mengakses tanah dan merelokasi masyarakat, sekaligus penghilangan akses masyarakat indigenous untuk menuntut atau menolak beragam kegiatan dan pengambil alihan dalam operasi PTFI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa dekade, operasi pertambangan PTFI di Papua tidak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan militer Indonesia. Hubungan modal dan institusi dan aparatus kekerasan tersebut  telah menimbulkan banyak korban dalam konflik-konflik antara kepentingan masyarakat dan korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PTFI telah memberikan beragam fasilitas,logistik, akses pada infrastruktur PTFI dan pembayaran finansial kepada militer Indonesia. Sebuah laporan yang dipresentasikan dalam Konfrensi Internasional Tentara Dalam Bisnis, mencatat pembayaran yang dilakukan PTFI diantaranya berjumlah US$35 juta, selain pembayaran tahunan sebesar US$11 juta. Komisi Hak Asasi Manusia, pada bulan September 1995, menyatakan terjadinya pelanggaran HAM yang jelas dan dapat diidentifikasikan di dalam dan sekitar wilayah operasi PTFI, yang termasuk pembunuhan, penyiksaan, perlakukan yang tidak manusiawi atau merendahkan, penangkapan yang tidak legal, penghilangan orang, penahanan yang tidak sah, pengawasan yang belebihan dan pengrusakan properti – yang secara langsung terkait dengan militer Indonesia yang menjadi pengaman bisnis tambang PTFI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan negara atau yang difasilitasi oleh negara dan yang melibatkan kapital multinasional, juga meliputi salah satu sektor industri terbesar di Papua, yaitu, industri kayu dan kertas. Pengambil alihan lahan masyarakat kerap terjadi di Papua oleh investasi-investasi di sektor tersebut. Pada tahun 1982, beberapa koran melaporakan kerja dengan upah rendah yang diterapkan pada masyarakat Asmat oleh industri kayu dengan melibatkan aparat desa. Militer Indonesia di Tiga Danau juga dilaporakan terlibat dalam skema-skema kerja paksa dalam ektraksi kayu. Menurut aktivis dari TELAPAK, militer di Papua  dinilai sebagai salah satu pihak kunci yang terlibat dalam ektraksi kayu ilegal di wilayah itu (Environment News Service, Febuari 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak jatuhnya rezim Suharto dan melemahnya Orde Baru, pengamanan terhadap modal oleh militer telah mengalami perubahan pola, dimana militer mengurangi keterlibatannya secara langsung untuk kemudian melibatkan taktik pembangunan milisi-milisi sipil untuk meredam potensi-potensi konflik terhadap kepentingan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa wilayah, seperti di Sorong dan Fak fak, Laskar Jihad dan milisi nasionalis digunakan untuk mengacaukan situasi dalam rangka mendiskreditkan resistensi yang diorganisir oleh masyarakat terhadap penguasa dan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skema rekayasa konflik yang diterapkan militer mengambil pola yang diterapkannya di Timor Leste. Milisi-milisi dibentuk untuk meningkatkan intensitas konflik yang bertujuan sebagai pembenaran untuk melakukan agresi terhadap gerakan resistensi dan membersihkannya.  Kemunculan kelompok-kelompok milisi Merah Putih di Papua dan peran Kolonel Burhanuddin Siagian, (tertuduh sebagai aktor dalam kejahatan terhadap kemanusiaan di Timor Leste pada panel khusus di Dili) sebagai Komandan KOREM 172 Papua, mengindikasikan kemungkinan terulangnya pola-pola pembersihan seperti di Timor Leste.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekayasa konflik ini juga digunakan untuk mempertajam sentimen nasionalisme Indonesia, dan memberikan stigma kepada segala bentuk resistensi sebagai anti Indonesia. Sentimen nasionalis tersebut digunakan untuk melegitimasi tindakan-tindakan militer di mata publik Indonesia. Selain itu, penggunaan kelompok-kelompok milisi juga bertuj;uan untuk menghindari sorotan pelanggaran HAM secara langsung pada militer Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Genosida?: Kekerasan Negara &amp;amp; Rasialisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme Indonesia, seperti nasionalisme di bekas wilayah-wilayah kolonial, mendasari klaim teritorialnya pada teritori pemerintahan kolonial yang berkuasa sebelum kemerdekaan nasional. Anggapan bahwa segalanya yang merupakan peninggalan dominasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda harus kemudian menjadi dominasi kedaulatan nasional Indonesia,merupakan konsepsi teritorial Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasion, meminjam istilah Benedict Anderson adalah konsepsi tentang “komunitas yang dibayangkan”, dimana anggota sebuah nasion membentuk komunitas tidak melalui interaksi fisik, tapi melalui pembayangan mental tentang kesamaan-kesamaan diantara kelompok-kelompok masyarakat yang saling membayangkan tersebut. Di sini nasionalisme Indonesia mengangankan kelompok-kelompok masyarakat yang saling membayangkan diri dalam suatu komunitas Indonesia yang mungkin berdasarkan pembayangan kesamaan senasib sepenanggungan selama penjajahan kolonial Belanda. Meskipun seperti kita ketahui bahwa tidak seluruh wilayah yang sekarang merupakan teritori Indonesia mengalami rentang masa penjajahan kolonial yang sama, dimana bahkan sebagian dari wilayah tersebut hampir tidak terjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi ala Anderson dipertanyakan: Siapa yang berhak membayangkan nasion? Apakah konsekwensi dari pembayangan yang dilakukan oleh segelintir kelompok masyarakat dari kelompok (etnis) tertentu, tapi dimana pembayangannya tentang nasion mencakup banyak kelompok masyarakat lainnya? Pembayangan tentang Indonesia, pencetusan tentang Indonesia sendiri sebagian besar diartikulasikan oleh segelintir orang dari kelompok etnis Jawa dan Melayu (khususnya merujuk pada populasi di pulau Sumatera dan sekitarnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendudukan Indonesia di Papua selama lebih dari 40 tahun telah meyingkirkan ratusan ribu penduduk Papua, melalui pembunuhan, penghilangan dan penciptaan kondisi represif yang memaksa orang untuk meninggalkan wilayah asalnya. Bagi sebagian pihak, skala pelanggaran HAM di Papua tersebut, dinilai sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan; bahkan sebagian pihak lagi menilainya sebagai genosida. Berbagai sumber memperkirakan jumlah orang yang dibunuh dan dihilangkan, dalam kisaran ribuan hingga puluhan ribu bahkan ratusan ribuan. Lebih jauh lagi beragam bentuk intervensi pemerintah Indonesia juga telah menimbulkan korban jiwa secara tidak langsung, yang termasuk relokasi penduduk secara paksa, pengrusakan terhadap lahan-lahan yang mensuplai kebutuhan pangan dan dugaan penyebaran penyakit (cysticercosis), atau tidak adanya usaha serius dan memadai dari pemerintah untuk menangani epidemik yang banyak memakan korban jiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kebijakan pemerintah Indoenesia di bidang keamanan, politik dan sosial di Papua bertujuan untuk meminggirkan akses politik dan ekonomi masyarakat Papua dan melenyapkan identitas Papuan, yang menjadi penghalang bagi operasi kekuasaan elit politik dan akses ekonomi aktor-aktor modal multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peminggiran akses politik masyarakat Papua dan penghilangan identitas Papuan secara sistematis dilakukan beberapa tahun sebelum diselenggarakannya  Penentuan Pendapat Rakyat (PAPERA) pada tahun 1969. Untuk memastikan keberhasilan aneksasi Papua ke dalam teritori Indonesia, sejak tahun 1963, pemerintah Indonesia mulai melakukan intervensi-intervensi untuk menghilangkan identitas Papuan, dengan pelarangan menyanyikan lagu nasional Papua,  dan pengibaran bendera Matahari Pagi, melalui dekrit presiden; ketentuan legal yang kemudian diterapkan secara lentur untuk mengait-ngaitkan beragam ekspresi lainnya sebagai subversif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAPERA yang diklaim sebagai usaha memfasilitasi masyarakat Papua untuk menentukan pilihannya sendiri, ironisnya tidak melibatkan satu pun elemen masyarakat Papua. Proses PAPERA bahkan tidak memberlakukan sistem satu orang satu suara, dengan alasan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Papua. Di sisi lain, kebijakan rasialis Indonesia dalam PAPERA, juga didukung kondisi politik internasional yang rasis, seperti yang tercermin dari pernyataan seorang diplomat Inggris pada tahun 1968 yang mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak bisa membayangkan bahwa pemerintah Amerika, Belanda, Jepang atau Australia mempertaruhkan…hubungan mereka dengan Indonesia atas alasan yang prinsipil hanya untuk orang-orang yang sangat primitif, dalam jumlah yang relatif kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kebijakan rasialis yang memarjinalkan masyarakat Papua adalah program transmigrasi Orde Baru pada pertengahan 1980an,  yang diimplementasikan atas prinsip asimilasi – untuk menghilang-lenyapkan etnis Papua dengan memfasilitasi perpindahan orang-orang dari luar (Papua) “yang lebih beradab” ke Papua. Mochtar Kusumaatmadja seorang menteri pada rezim Order Baru mengatakan bahwa transmigrasi mungkin merupakan satu-satunya cara untuk membawa masyarakat zaman batu yang primitif ke dalam arus utama pembangunan Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam kebijakan transmigrasinya, pemerintah bukan hanya tidak melakukan konsultasi dengan masyarakat Papua, bahkan mengambil alih lahan-lahan dari para pemilik tradisionalnya dan mengusir paksa penduduk lokal dalam ‘Operasi Sapu Bersih’ (1981). Slogan  militer  yang terkenal pada saat berlangsungnya operasi tersebut adalah, “Biarkan tikus lari ke hutan, agar ayam ayam bisa berkembang biak di kandangnya”. Lahan-lahan yang diambil alih untuk para transmigran juga banyak yang diperoleh dengan penipuan dan ancaman terhadap pemiliknya (Lowenstein dkk, 2003). Bank Dunia juga telah mengucurkan dananya sebesar US$ 650 juta untuk program transmigrasi pemerintah Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain transmigrasi sebagai salah satu proyek rasialis untuk ‘memperadabkan’ masyarakat Papua, proyek rasialis lainnya adalah Proyek Pembinaan Masyarakat Terasing yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia di Papua. Proyek ini sebagai bagian dari kebijakan rasialis lainnya, secara konsisten ingin menanamkan stigma pada masyarakat Papua, bahwa mereka adalah orang-orang yang inferior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebalikan dari klaim perbaikan kondisi masyarakat, proyek-proyek pemeradaban ini malahan memperburuk kondisi masyarakat Papua. Peradaban yang dibawa oleh pemerintah Indonesia ini menyebabkan hilangnya lahan produktif (yang dirampas), berkembangnya penyakit-penyakit yang sebagian berkembang dalam skala epidemik dan bencana lingkungan (yang mencemari sumber-sumber pangan, yang merusak atau menghancurkan sumber-sumber tersebut) – akibat-akibat yang secara langsung atau tidak langsung berimbas negatif pada survival orang Papua. Buruknya layanan kesehatan pemerintah yang beradab bagi masyarakat ‘tidak beradab’ ini juga memberikan kontribusi dalam memperburuk kondisi masyarakat Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek-proyek pemeradaban tersebut, khususnya transmigrasi, bagi sebagian pihak dipandang sebagai intervensi yang jelas merupakan penciptaan kondisi kehidupan yang diperhitungkan untuk menghancurkan masyarakat Papua. Pemerintah Indonesia tentunya mengetahui bahwa kebijakan-kebijakan pemeradabannya tersebut akan berakibat pada pemusnahan fisik dan kultural masyarakat indegenous Papua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-1201784478236666710?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/1201784478236666710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=1201784478236666710' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/1201784478236666710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/1201784478236666710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/12/papua-negara-nasionalisme-kapital.html' title='PAPUA: NEGARA, NASIONALISME &amp; KAPITAL MULTINASIONAL'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bFceHY8JopA/Tu7Gzz-HurI/AAAAAAAAAaQ/5qsszbOrImM/s72-c/west-papua-protest.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-7809245186535301437</id><published>2011-09-15T06:22:00.001-07:00</published><updated>2011-09-15T06:27:03.610-07:00</updated><title type='text'>KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-80uJCIN3acA/TnH8Lgv1pmI/AAAAAAAAAaI/FF81gxZIMX4/s1600/funky_bussiness_by_autumnfeeling.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-80uJCIN3acA/TnH8Lgv1pmI/AAAAAAAAAaI/FF81gxZIMX4/s400/funky_bussiness_by_autumnfeeling.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652576282026026594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;John Zerzan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Apakah kebahagiaan benar-benar mungkin dalam masa penuh kehancuran? Bisakah kita (entah dengan cara bagaimana) berkembang, memiliki hidup yang penuh? Apakah kesenangan masih bisa selaras dengan kehidupan hari ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perasaan mendalam akan kesejahteraan telah diambang kepunahan. Seberapa sering kita mendengar, "Betapa bahagianya kami berada di tempat ini”? (Matius 17:4, Lukas 9:5, Lukas 9:33) atau referensi dari Wordsworth tentang "Kesenangan yang melekat dalam kehidupan itu sendiri"[1]? Sebagian besar dari kondisi yang sedang terjadi dan dilema yang menyertainya diungkapkan Adorno melalui pengamatannya: “Kehidupan yang salah tak bisa dihidupi dengan benar.”[2]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam era ini kebahagiaan, jika tidak menjadi usang, adalah sebuah ujian, sebuah kesempatan. "Untuk menjadi bahagia artinya dapat menjadi sadar diri tanpa rasa takut.”[3] Kita telah sedemikian putus asa-nya demi mendapatkan kebahagiaan, lihatlah rak-rak buku, ruang konseling, dan acara talk show yang tak henti-hentinya mempromosikan resep kepuasan. Namun, kalimat-kalimat penenang lama dan klise baik dari Oprah, Eckhart Tolle, dan Dalai Lama nampaknya bekerja sama baiknya seperti Happy Meal, happy hour, atau sebuah ajakan dari Coca Cola untuk “Pour Happiness!” Tuangkan kebahagiaan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mabuk akan cuma jadi optimisme dangkal dari tahun kemarin, selalu begitu. Mandat suci dari kebahagiaan justru ada dalam kecompang-campingan. Seperti yang Hélène Cixous katakan, kita "dilahirkan dalam kesulitan untuk mengambil kesenangan dari ke-tidak-ada-an."[4] Kita hanya merasakan "sedikit cahaya/dalam kegelapan yang hebat," mengutip Pound, yang meminjam dari Dante.[5]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bagaimana kita mengeksplorasi ini? Apakah yang diharapkan kembali adalah: kebahagiaan? Dalam terang dari semua yang berdiri teguh di jalannya atau yang mengikisnya, apakah kebahagiaan sejatinya hanya sebuah kecelakaan yang tak disengaja?[6]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sangat sering, memang, kebahagiaan dibahasakan dengan pendekatan yang tidak pada tempatnya. Walter Kerr membuka bukunya The Decline of Pleasure dengan pernyataan: “Saya akan mulai dengan asumsi bahwa anda kurang lebih sama tidak bahagianya dengan saya”[7]  “Kita adalah masyarakat yang terkenal akan ke-tidak bahagia-annya,” menurut Erich Fromm.[8] Tapi kita tidak harus pergi kemana-mana untuk mengakui kebenaran mendasar tentang diri kita sendiri dan masyarakat ini. Berbagai macam teori kontemporer telah terus menerus secara bertahap mengarah kepada gagasan tentang diri, mendefinisikan ulang hal itu sebagai tak lebih dari persimpangan diskursus yang terus bergerak. Ketika diri adalah segalanya tapi terhapuskan, “kebahagiaan” bahkan tidak lagi bisa menjadi tema yang valid.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi impian kita akan kesejahteraan (wellbeing) tidak bisa dengan begitu mudah dihilangkan. Elisabeth Roudinesco memberikan penilaian yang masuk akal akan hal ini: “Semakin besar individu dijanjikan kebahagiaan dan perlindungan yang ideal, semakin ketidakbahagiaan dalam dirinya akan terus ada. Tingkatkan profil resiko secara tajam, dan mereka yang menjadi korban kebohongan akan semakin bangkit melawan mereka yang telah mengkhianatinya.”[9]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam dunia yang tidak stabil ini kebahagiaan dan ketakutan bergabung dengan aneh. Orang-orang merasa takut. "Mereka takut," kata Adorno, bahwa "mereka akan kehilangan segalanya, karena kebahagiaan yang mereka ketahui bahkan sejak dalam pikiran, adalah untuk dapat berpegangan pada sesuatu."[10] Kondisi ini secara kualitatif kontras dengan apa yang kita ketahui tentang beberapa masyarakat yang tidak terdomestikasi: ketiadaan rasa takut mereka, kepercayaan mereka terhadap dunia yang mereka tinggali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bhutan, sebuah negara di pegunungan Himalaya menarik banyak perhatian di pertengahan dekade awal abad ini karena konsep mereka tentang Kebahagiaan Domestik Bruto (Gross National Happiness): sebuah keputusan untuk mengukur kualitas masyarakat mereka, bukan dengan output industrialnya (Produk Domestik Bruto/Gross National Product), akan tetapi dengan melihat sisi kebahagiaan warganya. Akan tetapi akhirnya, Bhutan dengan cepat kehilangan karakter tersendiri dari kebudayaannya, yang berhasil mendorong gagasan GNH ini di tempat pertama. Dibanjiri dengan budaya pop, perhatian selebriti, mode dan tren, juga semua hal berbau globalisasi modernitas, penekanan pada kebahagiaan sebagai nilai nasional pada akhirnya memudar.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Masyarakat massa membatasi "kebahagiaan" hanya dalam lingkup konsumsi dan hiburan hingga dalam derajat yang tinggi. Namun, kebahagiaan tetap merupakan pengalaman tentang kepenuhan (fullness), ketimbang sebagai upaya serius yang salah untuk mengisi kekosongan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan menjadi menurun dengan meningkatnya akumulasi kekayaan.[11] Dengan menyingkirkan diri kita sendiri dari alam, kita semakin tidak peka terhadap keutuhannya, dan melihat alam hanya seperti obyek pasif lainnya untuk dikonsumsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adakah kebenaran dari kebahagiaan, melalui pendapatnya siapa kebahagiaan dapat dibenarkan? Kebahagiaan adalah sesuatu yang melingkupi dengan cepat. Kebahagiaan memiliki banyak aspek dan manifestasi. Kebahagiaan adalah hal yang mendasar, potensial; sebagaimana kesehatan, kebahagiaan menjalar dan berkembangbiak pada hal-hal lainnya. Kebahagiaan dilakukan dengan reaksi keseluruhan dari seseorang terhadap hidupnya, dan untuk alasan itu sendiri, kebahagiaan adalah sesuatu yang personal sebagaimana misteri. Filsuf Wittgenstein memiliki pandangan yang keras dan temperamen pesimistik terhadap pengalaman nestapa yang intens dia bagi. Dia merupakan sosok dari lelaki yang tidak bahagia, namun kemudian penulis biografinya, Norman Malcolm, mengabarkan kata-kata terakhirnya, “Katakan pada mereka aku memiliki hidup yang indah.”[12] Kehidupan John Keats yang singkat selalu dibayang-bayangi oleh penyakit, tapi dia sering mengklaim bahwa semuanya begitu indah karena mereka mati. Sumberdaya kebahagiaan bersandar pada berbagai bidang dari hidup kita, tapi karakter mereka sesungguhnya tidak terpisah. Kehidupan manusia tidaklah pernah tinggal dalam isolasi, maka kita mencari pengalaman-pengalaman yang lebih dari sekedar berarti bagi diri kita sendiri. Pengalaman mendalam Vivasvan Soni berkata banyak: “Tak ada bagian dari hidup yang terkurung dan tidak berkaitan dengan kebahagiaan. Segala yang berkaitan dengan hidup adalah sesuatu yang tak terhingga. Tak ada tragedi yang paling mengenaskan dibandingkan dengan ketidakbahagiaan, dan tak ada tanggungjawab bagi kita selain dari kebahagiaan.”[13]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada pengalamanku sendiri, prinsip dasar dari kebahagiaan adalah cinta. Inilah dimensi di mana kita menemukan pemenuhan yang terbesar. Frantz Fanon, yang terkenal untuk karya-karyanya pada bahasan lain, adalah orang yang loyal pada sebuah standar dari “cinta otentik—mengharapkan bagi orang-orang lain apa yang diasumsikan untuk dirinya sendiri.”[14] Terdapat juga kepuasan-kepuasan lainnya, tapi apakah mereka cocok untuk memuaskan dan memperkaya kualitas dari relasi-relasi cinta? Jika seorang anak mendapatkan cinta dan perlindungan, itulah hal mendasar untuk kebahagiaan hidup yang menyeluruh. Jika keduanya tidak tersajikan, prospek anak tersebut akan sangat-sangat terbatas. Jika hanya salah satunya saja yang diberikan, aku pikir kadar cinta atau bahkan perlindungan atau keamanan adalah sesuatu yang janggal untuk kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa orang tidak bersepakat tentang sentralitas cinta. Nietzsche dan Sartre merasa melihat cinta sebagai sesuatu yang bersifat membatasi, mendekati sejenis hak istimewa. Seorang juara dari ironi murahan, E.M. Cioran, memperlihatkan meditasi ini: “Aku berpikir bahwa sang kaisar memikat hatiku, Tiberius, aku terpikat oleh kebencian dan kebuasannya... Aku mencintai dia karena baginya para tetangganya tampak tidak dapat dibayangkan. Aku mencintainya karena dia tak mencintai siapa pun.”[15]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akan terlihat seperti apakah wajah dari sejarah kebahagiaan? Kebahagiaan pernah menjadi fokus sentral dari pemikiran di dunia Barat. Nicomachean Ethics-nya Aristoteles, misalnya, adalah dikursus besar yang membahas hal tersebut. Epikurus menghabiskan hidupnya dengan menghadapi pertanyaan tentang bagaimana untuk merealisasikan kebahagiaan, merangsang kemarahan dari teman modern kita, Cioran. Cioran merujuk pada tulisan-tulisan Epikurus yang dianggapnya sebagai sebuah “tumpukan kompos”, mengutipnya sebagai indikasi dari jalan salah yang menjadi “saat masalah kebahagiaan menggantikan pengetahuan.”[16]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lebih dari itu, akuntabilitas emosi Cartesian dihitung dari seberapa banyak sensasi yang memasuki gambaran, dan Voltaire (1694-1778) adalah penulis terakhir yang berbahagia, merujuk pada Roland Barthes. Abad 18 menunjukan begitu banyaknya tulisan-tulisan tentang kebahagiaan, kebanyakan berfokus pada kesejahteraan privat. Sebuah depolitisasi secara menyeluruh dari apa yang bermakna sebagai kebahagiaan yang mengambil tempat, pada surga masyarakat massa. Kant melambangkan trend tersebut, dengan mengikat—bahkan menyamaratakan—tugas yang berorientasi moralitas dengan kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Abad baru memamerkan ketegasan Romantis pada kesenangan ketimbang kebahagiaan (contohnya Blake, Wordsworth, dll), dengan kekuatan kesenangan berkonotasi bahwa hal tersebut hanyalah fana belaka. Kesementaraan memang adalah himne untuk masa depan yang penuh harapan yang diekspresikan dalam Simponi Kesembilan nya Beethoven, khususnya gerakan akhirnya berdasarkan "Ode to Joy"-nya Schiller. Musik tersebut baru-baru saja disebut sebagai musik serius terakhir yang mengeksepsikan kebahagiaan/kesenangan. Sejak kehidupan industrial mulai menyebar, bukanlah suatu kebetulan Hegel melihat sejarah manusia sebagai catatan dari kesialan yang tidak dapat ditukar.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Upah buruh modern dan politik teori kontrak sosial (Rousseau, the U.S. Constitution, etc.) mengesahkan pengejaran kebahagiaan privat. Dalam ranah publik, pertanyaan akan kebahagiaan umum selalu diremehkan. Penghargaan menjadi nama dari permainan ini. Untuk Hegel, properti dan kepribadian menjadi hampir sama artinya; Marx mengasosiasikan kebahagiaan dengan kepuasan kepentingan saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sentimentalisme merupakan aspek penting bagi etos budaya abad ke-19:  tablo emosional mendasar dari masyarakat yang hilang. Masyarakat anonim yang terfragmentasi telah memiliki segalanya namun meninggalkan tujuan dari kebahagiaan luas. Para utilitarianisme awal Victoria, John Stuart Mill, yang setidaknya lebih tidak kasar dari pendirinya Bentham, telah gagal untuk menyadari pelemahan zaman. Mill merupakan filsuf kebahagiaan sosial yang terakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jean-François Lyotard menempatkan “pengambilan dari yang nyata” di tengah pengalaman modernitas.[17] Kita kehilangan acuan-acuan, hal-hal yang nyata, merasakan kontak dengan apa yang non-simulasi. Bagaimana bisa kebahagiaan tidak mengalami penurunan dalam negosiasi? Kebahagiaan telah mengalami penurunan; pendakian budaya tekno adalah penurunan dari kebahagiaan tersebut.[18] Kesuraman hari ini, mengisolasi kegilaan teknologi terus tenggelam lebih jauh, dengan efek-efek patologis. Tetapi pencarian kita tetap pada apa yg telah bagi Spinoza adalah: pencarian kebahagiaan, dengan realitas tubuh-tubuh kita dalam kenyataan, dunia jasmani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada tahun 1890an Anton Chekhov mengunjungi Pulau Sakhalin, dengan para pengumpul-pemburu Gilyak-nya. Chekhov mengamati bahwa mereka belum terbiasa dengan jalanan. “Seringkali,” ia menulis,”anda akan melihat mereka…berjalan melewati rawa di samping jalanan.[19] Mereka selalu berada di suatu tempat, dan tidak tertarik berada di jalan raya industrialisasi. Mereka belum kehilangan singularitas masa kini, yang secara tepat dihapus oleh teknologi. Dengan rentang perhatian kita yang menurun, serta kehausan akan hiburan, di manakah kita di dunia ini? Diri tanpa tubuh menjadi semakin terlepas dari dunia nyata, termasuk realitas emosional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kecemasan telah menggantikan kebahagiaan sebagai sensasi yang disahkan, sekarang komunitas tidak lagi hadir.[20] Kita tidak lagi mempercayai naluri-naluri kita. Mempertahankan jarak yang jauh dari ritme alam dan pengalaman-pengalaman pokok dari indra-indra dalam kekonkritan mereka yang intim, para “pemikir” yang terkemuka seringkali mentahbiskan atau menegakkan keadaan yang tidak bahagia dan tidak berwujud ini. Alain Badiou, contohnya, sepakat dengan Kant bahwa kebenaran dan kesehatan secara menyeluruh adalah “kemerdekaan kebinatangan dan seluruh dunia akal.”[21]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi apa yang abstrak mengenai kebahagiaan? Setiap keadaan-keadaannya adalah lengkap pada setiap saat-saat yang diwujudkan. “Setiap kebahagiaan datang untuk pertama kalinya,” seperti Levinas sadari.[22] Czeslaw Milosz mendeskripsikan kebahagiaan masa kecilnya: “Aku hidup tanpa kemarin atau pun hari esok, dalam saat ini yang abadi. Itulah, tepatnya, arti dari kebahagiaan.”[23] Ironi dan pemisahan postmodern, dengan landasan merangkul area teknologi, merupakan salah satu sarana untuk merebut kita dari saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Salah satu kerinduan manusia yang paling mendasar adalah untuk memiliki, untuk mengalami sebuah persatuan dengan sesuatu di luar dirinya. Bruno Bettelheim menggambarkan sebuah perasaan, dalam kasusnya ditimbulkan oleh seni yang hebat, “dari menjadi selaras dengan alam semesta… [dari] kebutuhan-kebutuhan yang terpenuhi. Saya merasa seolah-olah saya sedang berkomunikasi dengan masa lalu manusia dan berhubungan dengan masa depannya. Dia mengasosiasikan hal ini dengan “oceanic feeling”-nya Freud, sensasi dari sebuah ikatan yang tidak terpisahkan, dari menjadi satu dengan dunia luar sebagai sebuah keseluruhan.”[25]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menurut saya adalah masuk akal untuk melihat ini sebagai sesuatu yang tertinggal—sebagai rantai hidup yang mendalam untuk kondisi yang sebelumnya. Ada sebuah kesepakatan hebat akan literatur antropologi/etnologis dalam menggambarkan orang-orang pribumi yang tinggal dalam kesatuan dengan dunia alam dan satu sama lain. Kelangsungan hidup itu sendiri mengharuskan ketidakadaan batas antara dunia dalam dan dunia luar. Pertahanan hidup kita yang pokok mengharuskan kita untuk mengembalikan kesatuan tersebut. Sementara itu kita masih bisa merasakan pengembalian ke keadaan yang bersatu tersebut. Cukup sering dalam konseling psikologi, ada pencarian masa kecil di mana seseorang pernah sehat dan bahagia. Bisa dikatakan, untuk menerapkan tesis “ontogeny recapitulates phylogeny”, kita masing-masing memberlakukan kembali sejarah kemanusiaan yang lebih besar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Freud mengkontradiksikan peradaban dan kebahagiaan disebabkan karena peradaban [domestikasi, lebih tepatnya] adalah “berdasarkan wajib kerja dan penolakan instingtual.”[27] “Harus berjuang melawan insting-insting adalah formula untuk kemerosotan; selama hidup menanjak, kebahagiaan dan insting adalah satu hal,” Nietzsche mengamati.[28] &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Internalisasi dan universalisasi dari penolakan kebebasan adalah apa yang disebut oleh Freud sebagai sublimasi. Sebagaimana Norman O. Brown melihat hal tersebut, sublimasi “mengandaikan dan melanggengkan kehilangan dalam hidup dan tidak bisa menjadi modus di mana hidup itu sendiri adalah hidup.[20] Kemajuan yang sangat dari peradaban mengharuskan ukuran yang lebih besar dari penolakan, penempatan yang lebih hebat untuk menempatkan diri kita terpisah dari lingkungan. Dan tetap saja “ocean feeling” dapat tetap dirasakan dengan kuat, memanggil kembali keadaan sebelumnya dari menjadi. Betapa hidup akan terasa lebih segar, jelas dan bernilai setelah penyakit yang serius; ini banyak menjadi kasus dalam pemulihan kita dari penyakit yang kita sebut sebagai peradaban. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi sekarang kita berada di sini, sangat jauh dari keutuhan asli atau kepenuhan. Dan “ketakutannya,” dalam penilaian Adorno, “adalah pertama kalinya kita hidup di dunia yang menyebabkan kita tidak bisa lagi mengimajinasikan hidup yang lebih baik.”[30] Sekarang ini satu-satunya konteks kebahagiaan adalah yang terimajinasikan tersebut, atau setidaknya, kebahagiaan yang dicapai dengan mengekspresikan kenyataan akan ketidakbahagiaan. Dalam kata-kata sakit hatinya Milosz: “Akan terlihat bahwa semua manusia harus jatuh ke dalam pelukan masing-masing, menangis bahwa mereka tidak dapat hidup….”[31]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tujuan hidup adalah untuk menghidupi hidup dengan kuat, untuk menjadi sepenuhnya terbangun. Tujuan ini bertabrakan dengan putusnya harapan dari peradaban yang baru, sebuah kiamat pemahaman seluruhnya, sebuah “gardu” yang kamu namakan lanskap kebudayaan. Sebuah rasa tidak berdaya dipromosikan dalam bagian besar oleh doktrin postmodernisme ambiguitas dan ambivalensi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kebahagiaan memerlukan penolakan yang disebut Foucault dengan kondisi “tubuh-tubuh jinak”, penolakan yang lebih terhadap menjadi jelas dibandingkan menjadi yang dijinakkan, penentuan untuk hidup sebagai “kaum barbar” mempertahankan ketidakbebasan dan matinya rasa dari peradaban. Insting memberitahu kita adanya sesuatu yang berbeda, namun betapa jauhnya hal tersebut; kita tahu bahwa kita dilahirkan untuk sesuatu yang lebih baik. Realita ketidakbahagiaan yang mendalam adalah pengingat bahwa insting tersebut, yang hidup dan berjuang untuk didengar. Cerita mengenai kebahagiaan tidak perlu berkembang seperti yang sudah terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam hidup kita sendiri kita sangat beruntung untuk bisa merasa diberkati, mendapatkan sedikit kesenangan, rasa menjadi berarti. Untuk memiliki akan ketercengangan terhadap keluarbiasaan karena kita berada di bumi ini. Kebahagiaan didasarkan kepada ketidakberartian; hidup yang berarti adalah arti sebuah hidup. “Untuk kebahagiaan, hal yang sama berlaku sebagaimana pada kebenaran: seseorang tidak mempunyai hal tersebut, selain yang terdapat di dalamnya,” dalam formulasi tajam Adorno.[32]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ia juga mengatakan,”Filsafat ada dalam rangka untuk menebus apa yang kau lihat dalam penampilan seekor hewan.”[33] “Untuk bertemu muka dengan diri sendiri,” dalam kata-katanya Thoreau.[34] Untuk menyadari diri kita sendiri dalam kapasitas kemanusiaan kita yang mungkin (yaitu tidak menyalahkan diri kita sendiri untuk batasan yang dipaksakan kepada kita). Dan untuk menemukan kekuatan untuk mengatakan apa yang tidak terucapkan. Ketidakbahagiaan bukanlah hasil dari pemahaman kedalaman nyata akan keberadaan kita; sesungguhnya, pemahaman ini bisa membebaskan, menguatkan. Hal ini bisa mengantarkan kepada sesuatu yang hampir tidak bisa menjadi lebih penting lagi: pencarian langsung dan kedekatan di dunia nyata. Sebuah tugas untuk menghadapi ketidakbahagiaan kita yang telah dijinakkan, telah dibuat beradab dan diatur oleh teknologi.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Catatan Kaki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[1]^Dikutip dari John Cowper Powys, The Art of Happiness (New York: Simon and Schuster, 1935), hal. 49.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[2]^Theodor Adorno, Minima Moralia (London: MLB, 1974), #18, hal. 39. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[3]^ Walter Benjamin, One-Way Street and Other Writings (London: NLB, 1979), hal. 71. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[4]^Hélène Cixous, First Days of the Year (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1998), hal. 142. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[5]^Ezra Pound, The Cantos of Ezra Pound (New York: New Directions, 1972), #CXVI, hal. 795.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[6]^Its etymology is of interest in this regard. From hap (Greek): chance, fortune, as in happen. Our English word luck comes, in fact, from the German for happiness, Glück.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[7]^Walter Kerr, The Decline of Pleasure (New York: Touchstone, 1962), hal. 1. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[8]^Erich Fromm, To Have or to Be? (New York: Harper &amp;amp; Row, 1976), hal. 5.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[9]^Elisabeth Roudinesco, Philosophy in Turbulent Times: Canquilhem, Sartre, Foucault, Deleuze, Derrida (New York: Columbia University Press, 2008), hal. xii.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[10]^Theodor Adorno, Negative Dialectics (New York: The Seabury Press, 1973), hal. 33.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[11]^Jeremy Rifkin, The Empathic Civilization (New York: Penguin, 2009), hal. 498.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[12]^Norman Malcolm, Ludwig Wittgenstein: A Memoir (Oxford: Oxford University Press, 1958), hal. 106.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[13]^Vivasvan Soni, Mourning Happiness: Narrative and the Politics of Modernity (Ithaca: Cornell University Press, 2010), hal. 494.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[14]^Frantz Fanon, Black Skin, White Masks, diterjemahkan oleh Charles Lam Markmann (New York: Grove Press, 1967), hal. 41.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[15]^E.M. Cioran, The Temptation to Exist (New York: Quadrangle, 1968), hal. 200.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[16]^Ibid., hal 168-169.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[17]^Jean-François Lyotard, The Postmodern Condition: a Report on Knowledge (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1984), hal. 79.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[18]^Albert Borgmann, Technology and the Character of Contemporary Life (Chicago: University of Chicago Press, 1984), hal. 124, 130.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[19]^Quoted and discussed in Timothy Taylor, The Artificial Age (New York: Palgrave MacMillan, 2010), hal. 192.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[20]^Peter LaFrenière, Adaptive Origins: Evolution and Human Development (New York: Psychology Press, 2010), pp 288, 296-297. Also Patricia Pearson, A Brief History of Anxiety…Yours and Mine (New York: Bloomsbury, 2008).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[21]^Dikutip dari Peter Hallward, pengantar dari penerjemah untuk Alain Badiou, Ethics: an essay on the understanding of evil (New York: Verso, 2001), hal. xxi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[22]^Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1998), hal. 114.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[23]^Czeslaw Milosz, Proud to be a Mammal: Essays on War, Faith and Memory (New York: Penguin Classics, 2010), hal. 80.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[24]^Bruno Bettelheim, Freud’s Vienna and Other Essays (New York: Alfred A. Knopf, 1990), hal. 115.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[25]^Sigmund Freud, Civilization and its Discontents, translated by James Strachey (New York: W.W. Norton, 1962), hal. 12.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[26]^T.S. Eliot, “Little Gidding,” in Collected Poems 1909-1962 (New York: Harcourt, Brace &amp;amp; World, Inc., 1963), hal. 208.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[27]^Sigmund Freud, The Future of an Illusion, translated by James Strachey (New York: W.W. Norton, 1961), hal. 12.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[28]^Friedrich Nietzsche, Unmodern Observations, William Arrowsmith, ed. (New Haven: Yale University Press, 1990), hal. xv.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[29]^Norman O. Brown, Life Against Death: The Psychoanalytic Meaning of History (New York: Vintage Books, 1959), hal. 171.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[30]^Theodor Adorno and Max Horkheimer, “Dialogue,” NLR September/October 2010, hal. 61.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[31]^Czeslaw Milosz, op.cit., hal. 296.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[32]^Theodor Adorno, Minima Moralia, op.cit., #72, hal. 112.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[33]^Adorno and Horkheimer, “Dialogue,” op.cit., hal. 51.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[34]^Henry David Thoreau, Journal (Toronto: Dover Publications, 1962), hal. 51.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-7809245186535301437?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/7809245186535301437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=7809245186535301437' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/7809245186535301437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/7809245186535301437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/09/kebahagiaan_15.html' title='KEBAHAGIAAN'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-80uJCIN3acA/TnH8Lgv1pmI/AAAAAAAAAaI/FF81gxZIMX4/s72-c/funky_bussiness_by_autumnfeeling.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-8748166243735347673</id><published>2011-03-31T22:31:00.000-07:00</published><updated>2011-03-31T22:53:58.242-07:00</updated><title type='text'>DISPOSISI: PEMIKIRAN TENTANG CINTA DAN KERUSUHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-kzioxW6uHwo/TZVj3mMfm6I/AAAAAAAAAZw/b3xDNJ3ceJo/s1600/4trackdemons.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 395px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-kzioxW6uHwo/TZVj3mMfm6I/AAAAAAAAAZw/b3xDNJ3ceJo/s400/4trackdemons.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590484319247244194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;N. Commaneci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Itulah yang biasanya merupakan esensi dari pembentukan kerumunan… untuk menemukan sebuah sinyal umum yang membuat setiap orang yakin bahwa, bila dia bertindak atasnya, dia tidak akan bertindak sendirian.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;—Thomas Schelling, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Strategy of Conflict&lt;/span&gt; (1960)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kami memutuskan untuk mengajukan beberapa pertanyaan singkat tentang cinta dan kerusuhan bukan hanya sebagai jalan untuk memahami kekurangan sistem-sistem politik liberal, tetapi juga untuk mencari pemecahan dari kebuntuan sistem politik tersebut serta untuk menemukan kembali unsur-unsur afektif yang telah terlupakan (seperti kemarahan, hasrat, dan sebagainya) yang membuat sebuah perlawanan menjadi mungkin dan dapat dikomunikasikan. Politik liberal telah menghindari dan menghilangkan sesuatu yang esensial dari perang yang tengah berkecamuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam cinta, sebagaimana halnya dalam kerusuhan, selalu ada sesuatu yang luput dari pemikiran politik klasik. Berdasarkan pembawaan mereka, ledakan ini tidak jauh-jauh dari ide-ide tentang keadilan, persaudaraan dan kesetaraan. Seperti virus, mereka selalu membuka sesuatu yang bisa dikomunikasikan dan bersifat terpadu. Kami tertarik untuk memperhebat kondisi-kondisi untuk komunikasi tersebut: memahami disposisinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Disposisi adalah persiapan, kecenderungan atau kesiapan untuk bertindak dengan cara tertentu dalam kondisi-kondisi tertentu. Dalam bahasa Latin, disposisi memiliki akar etimologis dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;affection (affectionem)&lt;/span&gt;, yang berarti kecenderungan, pengaruh, perasaan yang menetap/permanen, dan kata dasar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(affect—dari afficere)&lt;/span&gt; yang berarti “melakukan sesuatu atau bertindak atas dasar suatu hal”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Disposisi selalu memiliki dua sisi. Pada satu sisi adalah keberadaan disposisi (yang mungkin tidak terlihat ) dan di sisi lainnya adalah manifestasinya. Sebagai contoh, sebuah elektron memiliki muatan elektrik minimal yang seringkali dideskripsikan sebagai “tersembunyi”. Kita butuh melakukan sesuatu yang sangat spesial untuk melihatnya benar-benar ada. Seseorang mungkin berkata bahwa dengan eksperimen yang tepat, muatan tersebut akan nampak dengan sendirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seperti halnya cinta, kerusuhan terkadang akan menjadi suatu hal yang mengejutkan kita ketika kita berada dalam kondisi yang tidak siap. Dan adalah sesuatu yang sia-sia untuk mengatakan bahwa kita dapat mempersiapkan sebuah kerusuhan, meskipun setidaknya kita dapat bersiap-siap untuk kerusuhan: dengan melakukan apa yang diperlukan untuk membantu menyalakan api, untuk melepaskan muatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kadang-kadang kita terdesak untuk masuk ke dalam sebuah permainan, di antara pilihan untuk melakukan kerusuhan atau mencintai. Ketika situasi telah memuncak selalu muncullah sebuah pertanyan mengenai disposisi etis—kita dipaksa untuk bertindak berdasarkan disposisi kita, atau kembali, atau melarikan diri. Karena jika kamu tidak bermain, kamu tak akan mendapatkan kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah disposisi terhadap cinta, sebagaimana terhadap kerusuhan, memungkinkan kita untuk merebut situasi. Seperti misalnya, kita berpikir ada sebuah ikatan langsung antara hubungan-hubungan yang menentukan bagaimana kita hidup dan mengorganisir diri, serta disposisi kita terhadap kerusuhan; cara-cara kita mengorganisir diri dan hubungan kita dengan ide-ide komunisme. Hal ini tidak hanya lahir dari kemarahan kita terhadap arogansi kekuasaan, tetapi juga melalui cara-cara kita hidup bersama. Inilah model yang menumbuhkan disposisi kita, serta kesiapan kita untuk melakukan serangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seperti dasar semua hasrat manusia, cinta dan kerusuhan yang terjadi selalu merupakan permasalahan dalam hubungan di antara setiap individu. Sebuah kerusuhan selalu membutuhkan kerumunan, seperti halnya seorang kekasih selalu membutuhkan orang yang dikasihinya. Dan lebih jauh lagi, kerusuhan hanya akan terwujud apabila ada kepercayaan yang cukup bahwa orang-orang lain juga akan melakukan kerusuhan. Haruslah ada sekumpulan orang-orang yang memiliki disposisi terhadap kerusuhan, dan mereka juga haruslah percaya bahwa orang-orang lain yang berada di dalam kerumunan itu juga sama-sama memiliki hasrat untuk melakukan kerusuhan. Seperti halnya cinta, ini adalah sebuah keyakinan yang dapat menular. Ciuman pertama yang gugup, atau jendela pertama yang hancur, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“bukanlah merupakan sinyal yang memberitahukan kepada seseorang tentang apa yang harus dilakukan. Mereka adalah sinyal yang memberitahukan seseorang apa yang orang-orang lain mungkin lakukan.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Mengapa Unsur Afektif Berkurang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tak satu pun dari apa yang kita pertahankan dalam keseragaman berada di luar perang yang tengah berkecamuk, bukti yang terbanyak adalah melalui pembuatan kebijakan dan pengaturan terhadap tubuh, etos/semangat dan emosi yang kita miliki. Kehidupan politik, telah direduksi menjadi permasalahan pengaturan sehingga berubah menjadi sesuatu yang menentang kekuatan yang tersisa; yang membuat kita mengesampingkan cinta, mencampuradukkan politik dengan persahabatan dan seni, menjadi terpisah dari ruang untuk menyebarkan gairah. Politik telah mengalami pengaburan makna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Depolitisasi terhadap kehidupan kita ini telah menegasikan pembangunan etika kolektif untuk mendukung pengaturan mekanikal sistem politik. Affinitas dipandang hanya sebagai masalah pribadi dalam kehidupan kita, sementara kehidupan pribadi kita telah secara total didepolitisir. Ini adalah bagian yang esensial dari ideologi liberal. Apa yang nampak secara jelas dan benar-benar diinginkan dalam kehidupan pribadi kita, apa yang dibutuhkan dan apa yang kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran yang bersifat intim, dijauhkan dari segala kemungkinan untuk membentuk organisasi politik. Kehidupan pribadi dikondisikan agar berada dalam ruang-ruang produksi, dan pengambilan keputusan dialihkan dari keberadaan masalah-masalah politik. Semua pertanyaan lain hanya akan menjadi sebuah selingan dalam interaksi kita dengan teman sekamar kita selama makan malam santai setelah rapat “pengorganisiran” pekerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bentuk-bentuk affinitas telah terabaikan menjadi sebuah gaya hidup: tak lebih dan tak kurang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mereka yang memutuskan untuk menjalani kehidupan “alternatif” seringkali mudah terisolir dari pengalaman-pengalaman “alternatif” yang mereka alami, cenderung hidup berdampingan dengan sistem kapitalisme. Upaya untuk hidup secara kolektif dan kecenderungan terhadap utopia hedonistik serta berbagai bentuk gaya hidup yang penuh petualangan menukarkan strategi-strategi ofensif menjadi getaran-getaran yang menyenangkan. Walaupun bila mereka berhasil dalam mengaktualisasikan kehidupan individualnya, mereka mengabaikan usaha-usaha yang kongkrit untuk mengkomunikasikan hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selalu akan ada sebuah momen, dalam sebuah perjalanan individual ataupun dalam selubung sebuah komunitas ketika pertanyaan-pertanyaan menantang muncul dari dunia luar. Berhadapan dengan keniscayaan pertemuan politik dengan orang-orang lain di dunia, posisi yang tepat haruslah diambil. Jarak dari permasalahan-permasalahan dunia tak pernah menjadi sebuah keputusan yang netral. Keselamatan pribadi cenderung identik dengan disasosiasi dan pengkhianatan. Kita tak bisa menjustifikasi kecurigaan terhadap semua pihak yang mengikuti aspirasi tersebut. Tetapi kita harus tidak mempercayai aspirasi ini sebagai sebuah eksistensi fundamental yang telah ditakdirkan. Kisah ini telah mendapat dukungan. Ini merupakan kisah kaum liberal mulai dari Locke ke Thoreau hingga Smith. Mereka adalah para individu yang berjuang dalam proses individualisasi. Komunisme tak pernah menjadi tujuan akhir mereka. Dunia mereka hanyalah sebuah pulau kecil yang menyediakan segala macam kenyamanan. Mereka mengabaikan perang kelas demi melayani keserakahan mereka sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mengubah model akses dan akumulasi dari individual tak akan bisa mengubah model yang lebih luas dari produksi dan eksploitasi. Koneksi politik kita dengan affinitas, kesia-siaan strategi dan hanya dipertahankan oleh penghidupan, telah dikosongkan oleh konten politik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penderitaan yang diakibatkan oleh liberalisme atas hidup kita tidak akan terurai di toilet kering komune di dalam hutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Kembali Pada Disposisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menghubungkan kembali disposisi terhadap cinta dengan disposisi terhadap kerusuhan berarti menghubungkan kembali affinitas dan mempengaruhinya dengan kehidupan politik. Kita tak bisa memisahkan apa yang kita inginkan dari apa yang kemudian kita lawan. Pada satu sisi terdapat apa yang hendak kita bangun (berbagi pemanfaatan dunia, komunisasi) dan pada sisi yang lain terdapat sesuatu yang kita ingin musnahkan (para bos, penjara, perbatasan, polisi, patriarki dan negara). Konstruksi dan destruksi merupakan dua gerakan yang memiliki impuls yang sama. Hal ini merupakan pengembangan disposisi yang berdasarkan pada kekuatan emosi yang telah melampaui pemikiran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pembangunan posisi etika kolektif kita mengharuskan kita untuk pertama-tama memahami basis dari hubungan kita: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“apa yang kuat dan apa yang tidak kita ingin serahkan dalam kondisi apa pun”&lt;/span&gt;. Pusat fokus: sebuah simpul. Posisi etika dan politis kita tidak bisa digabungkan sebagai sebuah kekuatan material apabila kita mengindari membangun disposisi kolektif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-8748166243735347673?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/8748166243735347673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=8748166243735347673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/8748166243735347673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/8748166243735347673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/03/disposisi-pemikiran-tentang-cinta-dan.html' title='DISPOSISI: PEMIKIRAN TENTANG CINTA DAN KERUSUHAN'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-kzioxW6uHwo/TZVj3mMfm6I/AAAAAAAAAZw/b3xDNJ3ceJo/s72-c/4trackdemons.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-1868460978409059429</id><published>2011-03-20T21:53:00.000-07:00</published><updated>2011-03-31T22:38:07.522-07:00</updated><title type='text'>MASYARAKAT SENDIRILAH YANG MENJADI PEMIMPIN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-WCtEYY7SXJo/TYbaiLj9WzI/AAAAAAAAAZg/-SJp8P14m1U/s1600/190744_1654904772311_1227827382_31541370_4679001_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-WCtEYY7SXJo/TYbaiLj9WzI/AAAAAAAAAZg/-SJp8P14m1U/s400/190744_1654904772311_1227827382_31541370_4679001_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586392668553698098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Perbincangan dengan warga Padarincang yang melawan Aqua-Danone&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;PT. Aqua Golden Mississippi didirikan pada tahun 1973 oleh Tirto Utomo di mana pabrik pertamanya terletak di Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat. Pabriknya sendiri bernama Golden Mississippi dengan kapasitas produksi enam juta liter per tahun. Awalnya Aqua bernama Puritas, namun berganti nama atas saran Eulindra Lim, konsultan Tirto Utomo. Produksi pertama Aqua diluncurkan dalam bentuk kemasan botol kaca ukuran 950 ml dengan harga jual Rp. 75, hampir dua kali lipat harga bensin yang ketika itu bernilai Rp. 46 untuk 1.000 ml.[1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;4 September 1998 PT. Aqua Golden Mississipi menjual sahamnya kepada Danone, sebuah korporasi multinasional yang bergerak dalam produk-produk makanan instan yang bermarkas di Prancis. Hal ini dilakukan agar Aqua mampu menghadapi ketatnya persaingan di bisnis Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Dua tahun kemudian, Aqua meluncurkan produk berlabel Danone-Aqua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dengan saham mayoritas sebesar 74% yang dikuasai Danone, Aqua semakin percaya diri untuk terus mengekspansi berbagai kawasan dengan sumber mata air alami yang baik. Tentu saja tujuan utamanya adalah profit untuk mengakumulasikan modalnya. Dengan restu dari H. Ahmad Taufik selaku Bupati Serang yang menerbitkan Surat Izin Bupati dengan nomor 593/Kep.50-Huk/2007, Aqua-Danone—lewat PT. Tirta Investama—mencoba untuk mengeksplotasi kawasan Cirahab. Kawasan yang masuk dalam Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten, ini kaya akan sumber mata air alami yang menjadi incaran berbagai korporasi yang bergerak di industri air, khususnya Air Minum Dalam Kemasan. Sekarang saja telah ada beberapa perusahaan yang mengeksploitasi wilayah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;Bagi warga Padarincang, yang terdiri atas 14 desa, PT. Tirta Investama adalah penyakit penyumbang bencana kekeringan air yang melanda beberapa wilayah. Catatan warga di Sukabumi dan Klaten merupakan referensi empirik bagi warga Padarincang untuk terus menolak pembangunan pabrik Aqua-Danone tersebut.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak maraknya penolakan warga Padarincang dari tahun 2008, Aqua-Danone sempat tidak aktif selama kurang lebih 2 tahun. Baru pada tahun 2010 pembangunan pabrik Aqua-Danone mulai kembali gencar dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Padarincang pun mulai aktif kembali melakukan berbagai cara untuk menggagalkan pembangunan pabrik tersebut. Beberapa aktifitas yang pernah dilakukan warga adalah menggagas audiensi dengan pejabat pemerintahan terkait, membangun jaringan solidaritas dengan berbagai individu, forum serta organisasi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Desember 2010 warga Padarincang unjuk kekuatan. Sekitar 4000an orang dari semua desa di Kecamatan Padarincang mendatangi lokasi pabrik dengan berjalan kaki. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, menjalin harmoni dalam kebersamaan untuk menolak pembangunan pabrik Aqua-Danone. Keberadaan polisi yang selalu berpihak pada perusahaan membuat emosi warga membuncah. Alat produksi perusahaan pun menjadi sasaran. Alat bor, bangunan, dan mobil milik PT. Tirta Investama pun berubah menjadi rongsokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Februari 2011, melalui berbagai berita di media massa, Aqua membatalkan rencananya untuk mengeksploitasi sumber mata air di wilayah Cirahab, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten.[3] PT. Tirta Investastama memilih hengkang dari Padarincang dan mencari wilayah lain, yang desas-desusnya masih berada di Kabupaten Serang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan perlawanan warga Padarincang yang inspiratif tersebut, Ovi—pemudi Padarincang yang ikut aktif melawan privatisasi air—bercerita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sejak awal aksi pada 5 Desember 2010 bertujuan untuk menutup pengeboran air oleh Aqua di Padarincang. Awalnya sih tidak bermaksud untuk merusak lokasi pilot project tersebut, namun karena warga sudah gerah dengan keberadaan Aqua di Padarincang, akhirnya kemarahan warga tak bisa dibendung lagi. Lokasi pengeboran sendiri sebenarnya sudah ditutup sejak 2008 lalu, namun warga mempertanyakan kenapa malah dibuka kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi yang dilakukan warga benar-benar spontan, karena tidak direncanakan sebelumnya. Hasilnya, bangunan-bangunan yang berada di lokasi pengeboran rata dengan tanah dan beberapa polisi yang mengamankan pilot project ikut terluka terkena lemparan batu warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang warga lakukan adalah tindak lanjut dari upaya warga yang meminta audiensi kepada pemerintah. Dari bebapa kali permohonan audiensi, semuanya ditolak. Atas kejadian ini pemerintah menyalahkan masyarakat karena mengapa sampai melakukan perusakan terhadap pilot project. Tetapi masyarakat juga punya alasan, mengapa penolakan kami terhadap Aqua dan permohonan audiensi tidak pernah digubris? Salah sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Apa yang terjadi setelah aksi 5 Desember tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aksi tersebut, pemerintah bukan bersikap bijak menanggapi tuntutan kami, tetapi malah melakukan aksi penculikan terhadap warga yang terlibat aksi 5 Desember. Kenapa kami menyebutnya “penculikan”, bukan “penangkapan”? karena menurut kami, cara yang dilakukan tidak sesuai prosedur. Jadi, polisi-polisi itu datang dan berjaga mengelilingi rumah warga yang dijadikan target. Polisi langsung menangkap warga tanpa penjelasan apa pun. Para polisi tersebut hanya mengatakan, “ini surat penangkapannya”, tapi tidak memberikan kesempatan bagi target untuk membaca surat tersebut. Terlebih lagi penangkapan itu dilakukan pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, 5 hari setelah penutupan paksa lokasi pengeboran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum penangkapan itu terjadi, kepolisian memang pernah menelpon tokoh masyarakat setempat (Haji Dhaif). Polisi mengatakan ingin bertemu warga untuk melakukan audiensi tentang aksi penutupan lokasi pengeboran. Polisi berjanji tidak akan melakukan penangkapan terhadap warga, dan kami pun memegang janji tersebut. Namun selang beberapa hari, terjadilah aksi penangkapan 5 warga pada Jumat (10/12/2010) dini hari. Warga yang ditangkap pun merasa seperti dituduh maling di rumah sendiri. “Ini rumah kami, kenapa kami diperlakukan seperti ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Apa sih GRAPPAD (Gerakan Rakyat Anti Pembangunan Pabrik Aqua Danone) itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GRAPPAD adalah gerakan yang dibentuk oleh masyarakat Padarincang sendiri. Kami tidak punya pemimpin, tidak punya struktur baku, dan murni masyarakat yang bergerak—yang mempunyai pemikiran sama bahwa Padarincang harus dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar yang tergabung dalam GRAPPAD adalah petani karena pertanian adalah mata pencaharian utama warga Padarincang. Warga ini berpikir tidak ada alasan untuk tidak menolak keberadaan pabrik Aqua di Padarincang. Meskipun para petani ini tinggal di desa, bukan berarti mereka bisa dibodohi begitu saja oleh janji-janji manis perusahaan. Para petani juga belajar tentang dampak keberadaan pabrik tersebut. Selama ini para petani punya pengalaman bahwa ketika musim kemarau datang, debit air akan berkurang. Dengan pengalaman tersebut, kemudian warga berpikir, tanpa adanya pengeboran saja, debit air akan berkurang, apalagi jika pengeboran itu benar-benar dilakukan. Apa yang para petani lakukan adalah murni karena pikiran dan keresahan mereka sendiri terhadap pembangunan pabrik Aqua-Danone, tanpa ada yang mengompori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Padarincang juga bukan orang-orang yang buta informasi. Dari pemberitaan di berbagai media massa masyarakat tahu banyak masalah yang ditimbulkan oleh korporasi, seperti lumpur Lapindo dan sebagainya. Juga kasus-kasus kekeringan yang terjadi di beberapa daerah di Indoneisa. Berbekal informasi itulah para petani berpikir dan sadar untuk menolak Aqua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pemerintah berpikir bahwa ada aktor intelektual di belakang kami, mereka salah. Malah LSM, gerakan mahasiswa dan kelompok lain yang juga menolak Aqua, datang belakangan setelah masyarakat bergerak. Barisan pertama yang menolak pembangunan pabrik Aqua adalah petani, warga setempat dan para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak juga wartawan yang bertanya, “Siapa pemimpin GRAPPAD?” Tapi yang paling sering bertanya sih polisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang meneror, “Siapa yang mendanai kalian?” Semua pertanyaan itu kami jawab, “Tidak ada!” Masyarakat sendirilah yang menjadi pemimpin dalam GRAPPAD dan kami mengelola gerakan ini secara swadaya. Dana yang kami punya pun didapat dari warga yang berjuang. Tidak ada yang mendanai kami. Kalaupun ada orang-orang yang ingin mendanai gerakan ini, silakan saja selama tidak ada kepentingan di balik pemberian dana tersebut. Namun jika ada embel-embel-nya, silakan pergi dari sini. Kami tidak butuh itu, karena kami gerakan masyarakat yang murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Selama terlibat di GRAPPAD bagaimana pandangan Ovi tentang struktur gerakan yang seperti ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi menilai, struktur gerakan seperti ini sangat bagus. Dengan tidak adanya pemimpin maka tidak ada struktur yang hierarkis yang membuat gerakan ini tersentral. Jika ada pimpinan, seolah ada yang menggerakkan, ada yang menginstruksikan. Dengan pola yang non-hierarkis, gerakan ini akan sulit untuk dibungkam. Lain cerita jika ada pemimpinnya. Tinggal ambil ketua/pemimpinnya, urusan selesai. Gerakan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam GRAPPAD?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan terbesar berada di tangan masyarakat. Jika ada usul untuk melakukan kegiatan, entah dari pemuda, kelompok lain yang bersolidaritas, bahkan alim ulama yang biasanya menjadi panutan warga, tetap akan didiskusikan terlebih dahulu dalam GRAPPAD. Setiap elemen masyarakat dilibatkan, keputusan tetap dipegang masyarakat. Tidak ada tirani kepemimpinan dalam GRAPPAD. Kami tidak pernah memaksakan warga untuk ikut bergabung dengan gerakan ini, mereka sendiri yang berinisiatif untuk terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Apakah ada pembedaan status sosial dalam GRAPPAD?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam GRAPPAD tidak ada pembedaan status sosial. Siapa pun orangnya, baik pengusaha, ulama, petani, mahasiswa, tetap memiliki kedudukan dan hak berpendapat yang sama dalam GRAPPAD. Meski ulama seringkali menjadi orang-orang yang sering diminta pendapatnya, mereka juga tidak mempunyai hak yang lebih besar daripada yang lain. Ulama seringkali menjadi penasehat atau penengah jika timbul perbedaan pendapat dalam masyarakat. Namun kembali lagi, keputusan kolektif tetap dipegang oleh masyarakat, bukan segelintir tokoh masyarakat. Walaupun ulama-ulama tersebut mempunyai kemampuan untuk membuat keputusan dan memengaruhi masyarakat, mereka tidak melakukan hal itu. Setiap tindakan dan keputusan dikembalikan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bagaimana GRAPPAD merawat dan mengelola struktur non-hierarkisnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan tiap-tiap individu adalah kunci utama keberhasilan gerakan ini. Selain itu tidak adanya paksaan dalam GRAPPAD juga membuat organisasi ini lebih sehat. GRAPPAD adalah gerakan yang terbentuk dari kesadaran tiap-tiap individunya, yang berpikir dan merasa punya tanggung jawab untuk melindungi Padarincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ini menjadi pertanyaan paling mendasar, kenapa menolak Aqua-Danone?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan. Pertama, dalam Undang-Undang Dasar disebutkan bahwa air, tanah dan kekayaan alam tidak boleh dijadikan bisnis komersial untuk kepentingan segelintir orang. Kedua, warga khawatir ketika sumber mata air tersebut dimiliki oleh segelintir orang, maka mayoritas warga akan sulit mengaksesnya. Terlebih petani yang mata pencahariannya bergantung sepenuhnya pada air. Saya sendiri pernah coba datang ke lokasi pengeboran. Tetapi di pintu masuk saya sudah ditanya macam-macam, “datang darimana?”, “Anda siapa?”, “ada kepentingan apa?”, “sudah dapat izin dari Lurah atau belum?” Ini belum apa-apa loh. Mereka baru menancapkan plang “Tanah Ini Milik Aqua”, apalagi jika sudah berdiri pabriknya? Sebelum ada lokasi pengeboran, warga bisa bebas keluar masuk wilayah itu untuk mengambil air dari mata air tersebut. Setelah Aqua datang, warga jadi susah mengaksesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, warga juga banyak mendapat informasi mengenai proses produksi Aqua nanti, seperti jumlah air yang disedot mencapai 63 liter/detik. Bayangkan, 63 liter/detik dikalikan 24 jam, dikalikan berapa tahun? Itulah alasan mengapa warga Padarincang menolak keberadaan Aqua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya mata air, tanah yang akan dijadikan lokasi pengeboran air oleh Aqua itu pun sebenarnya adalah lahan pertanian produktif seluas 12 hektar. Petani akan kehilangan mata pencahariannya jika Aqua bikin pabrik di Padarincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bagaimana relasi masyarakat sebelum kedatangan Aqua-Danone?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Aqua datang relasi masyarakat sangat baik. Sejauh apa pun mereka tinggal di Kecamatan Padarincang masih mempunyai hubungan keluarga dan terjalin dengan baik. Namun begitu Aqua datang, warga mulai terganggu dengan adu domba yang dilakukan oleh korporasi. Jangankan antar tetangga, dalam sebuah keluarga pun seringkali terjadi perpecahan antara yang pro dan kontra keberadaan Aqua. Kebanyakan orang yang pro Aqua memang sudah menjadi orang bayaran untuk mendukung keberadaan lokasi pengeboran. Bahkan pegawai pemerintahan desa juga mengaku bahwa mereka dibayar Rp 1 juta/bulan hanya untuk menunggu dan menjaga lokasi pengeboran siang atau malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Menurut Ovi, apakah kehadiran industri, baik Aqua ataupun yang lainnya akan mengubah relasi yang sudah terbangun sejak lama itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas iya. Sebab keberadaan Aqua-Danone saat ini saja sudah sangat mengganggu kehidupan warga Padarincang, bahkan sebelum pabriknya berdiri. Bagaimana nanti kalau pabrik dan proses produksinya sudah mulai jalan? Sekarang saja korporasi sudah mulai membuat perpecahan dan adu domba di antara warga. Belum lagi dampak terjadinya kesenjangan dalam masyarakat, bahkan dalam lingkup keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Aqua menjanjikan akan menyerap 2000 tenaga kerja dari warga setempat. Namun setelah kami melihat dalam dokumen AMDAL, hanya 175 orang dari warga setempat yang akan dipekerjakan. Jelas kita tahu, warga seperti apa yang bisa diterima bekerja di sana kan? Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk. Belum lagi jika pabrik itu sudah beroperasi, tentunya akan ada seleksi lebih ketat yang makin merugikan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bagaimana dengan Negara, di mana posisinya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja negara berpihak pada industri! Bahkan hingga saat ini si Taufik (Bupati Serang) masih keukeuh mempertahankan Aqua dengan tidak mencabut SK (surat keputusan) pembangunan pabrik Aqua di Padarincang. Pemerintah tidak pernah mendengarkan kami, meski kami berkali-kali menuntut penutupan lokasi pengeboran Aqua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Bagaimana peran perempuan dalam GRAPPAD?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan punya peran yang sama penting dengan warga pria Padarincang. Dari kebutuhan akan air itu kita bisa lihat, perempuan sangat membutuhkan air dalam kesehariannya untuk mandi, minum, mencuci dan lain sebagainya. Jadi bagaimana mungkin perempuan bisa tinggal diam jika hak mereka akan air akan diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Apa saja yang dilakukan perempuan dalam gerakan ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran informasi akan keberadaan lokasi pengeboran Aqua menjadi lebih efektif melalui pengajian-pengajian yang sering dilakukan oleh perempuan. Tidak ada yang mengompori mereka untuk menolak keberadaan Aqua, karena informasi pun tidak diberikan secara provokatif. Tapi perempuan, yang kebanyakan ibu-ibu tersebut juga punya kesadaran yang sama akan untuk menolak Aqua dengan alasan dan kekhawatiran yang sama. Dari forum ke forum dan pengajian ke pengajian, para perempuan menjadi lebih aktif dan berani untuk mengutarakan penolakan terhadap Aqua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Apakah perempuan terlibat aktif dalam aksi langsung penutupan lokasi pengeboran Aqua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tidak banyak, mungkin hanya 10 persen dari total laki-laki yang turun pada saat itu. Tetapi saat istighosah dan pasca “penculikan”, perempuan lebih banyak lagi yang terlibat. Saya sebagai pemudi dan mahasiswa bangga dengan gerakan ini. Bahkan sebelumnya tidak percaya, masa sih tidak ada pemimpin dalam GRAPPAD? Namun kenyataannya setelah saya mulai terlibat lebih banyak, fakta itulah yang ada di lapangan: tidak ada pemimpin, tidak ada struktur baku serta tidak ada segelintir orang yang menggerakkan masyarakat. Dan berhasil mengusir Aqua!&lt;br /&gt;{11/03/11/ frd&amp;amp;jck}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;[1] sumber diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Aqua_(air_mineral) (diakses tanggal 16 Maret 2011).&lt;br /&gt;[2] sumber diambil dari kronologi perjuangan warga Padarincang versus Aqua-Danone yang ditulis sendiri oleh warga. Info: http://timkatalis.blogspot.com/2011/03/kronolog-perlawanan-warga-padarincang.html&lt;br /&gt;[3] sumber diambil dari http://bantenpress.com/banten/fokus-banten/serang/2256-aqua-hengkang-dari-serang.html (diakses tanggal 16 Maret 2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-1868460978409059429?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/1868460978409059429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=1868460978409059429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/1868460978409059429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/1868460978409059429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/03/masyarakat-sendirilah-yang-menjadi.html' title='MASYARAKAT SENDIRILAH YANG MENJADI PEMIMPIN'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-WCtEYY7SXJo/TYbaiLj9WzI/AAAAAAAAAZg/-SJp8P14m1U/s72-c/190744_1654904772311_1227827382_31541370_4679001_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-8363263834043689216</id><published>2011-03-15T10:44:00.000-07:00</published><updated>2011-03-15T10:56:10.724-07:00</updated><title type='text'>KRONOLOGI PERLAWANAN WARGA PADARINCANG VS. AQUA-DANONE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-957a_yTNq7k/TX-m1P3WB9I/AAAAAAAAAZY/PoamopwqFMs/s1600/188332_1654903052268_1227827382_31541361_8293217_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-957a_yTNq7k/TX-m1P3WB9I/AAAAAAAAAZY/PoamopwqFMs/s400/188332_1654903052268_1227827382_31541361_8293217_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584365496684644306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;PETA MASALAH DAN LATAR BELAKANG PENOLAKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Masyarakat Padarincang yang menyadari masa depan ketersediaan air menyatakan kesefahaman bersama bahwa komersialisasi air akan memunculkan resiko dampak bagi lingkungan dan masyarakat sekitar; setidaknya akan menghilangkan hak dasar warga atas air serta pengurangan kapasitas dan kualitas air di wilayah Padarincang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada pertengahan Juni 2010 warga Padarincang menggelar forum terbuka yang melahirkan kesepakatan mengenai bahaya krisis yang paling penting di Padarincang, Forum ini digelar sebagai bentuk respon dari akan dilanjutkannya rencana pembangunan pabrik Danone yang pada tahun 2008 sempat dihentikan oleh karena ada penolakan dari warga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Forum yang dihadiri beberapa aktivis, tokoh pemuda, ulama dan perwakilan tokoh masyarakat dari berbagai sektor tersebut telah mengadakan perundingan mengenai sikap apa yang perlu ditempuh terhadap kehadiran industri air minum dalam kemasan di Padarincang, dan diskusi tentang dampak komersialisasi dan privatisasi air telah menyuntikan kembali gagasan penolakan terhadap kebijakan pemerintah kabupaten Serang yang telah mengizinkan PT. Tirta Investama untuk beroperasi di Padarincang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sejak tahun 2008 warga dengan tegas menolak kehadiran korporasi sektor air, PT. Tirta Investama telah dipandang sebagai salah satu perusahaan yang menyumbang terjadinya bencana kekeringan air, catatan di Sukabumi dan Klaten merupakan referensi empirik bagi warga Padrincang untuk terus menggalang solidaritas dan dukungan dalam upaya mencabut Surat Izin Bupati dengan nomor 593/Kep.50-Huk/2007 tertanggal 8 Februari 2007.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara kronologis Surat izin ini memiliki kecacatan dari sisi proses, pertama, tidak adanya proses sosialiasi untuk mendapatkan legitimasi public terkait dukungan warga atas rencana pembangunan tersebut, kedua, tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku bahwa seharusnya surat izin itu terbit setelah ANDAL selesai di buat. Pemaksaan kehendak ini pada akhirnya memunculkan gerakan penolakan jilid pertama dengan memunculkan nama Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan. Aliansi yang terdiri dari organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, LSM, serta himpunan para alim ulama, tokoh masyarakat dan aktivis yang didukung oleh berbagai lembaga seperti Kontras, LBH Jakarta, Walhi serta mendapatkan perhatian dari Komnas HAM ini telah dapat menghentikan sementara rencana pembangunan yang sudah mulai beroprasi di kawasan Cirahab Padarincang. Bupati Serang, H. Ahmad Taufik Nuriman bersedia menghentikan dan berjanji akan mencabut surat izin yang telah diberikan kepada PT. Tirta Investama tersebut disusul dengan pernyataan pihak perusahaan bahwa mereka akan bersedia menghentikan pembangunan dan mencari tempat lain jika warga Padarincang tetap melakukan penolakan.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penolakan tentu saja bukan tanpa alasan, tetapi tetap memunculkan polemik bahwa jika Danone tidak bisa diterima di kabupaten Serang, hal itu memungkinkan akan adanya penolakan terhadap korporasi lain yang ingin mengembangkan bisnisnya di Kabupaten Serang, masalah ini memunculkan asumsi bahwa iklim investasi di kabupaten Serang tidak kondusif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penolakan terhadap komersialisasi air di kawasan Cirahab Padarincang tentu saja telah memunculkan gejolak dalam dunia investasi, Danone selaku korporasi multi nasional yang memiliki jangkauan pasar yang luas di seluruh dunia telah menjadi catatan, memungkinkan bagi para investor lain berpikir ulang untuk menanamkan modalnya di kabupaten Serang, asumsi semacam ini tentu saja akan direproduksi oleh para pengusaha untuk membentuk kehati-hatian dalam membuka bisnis baru dalam berbagai sector, dan pemerintah seakan ingin cuci tangan dari segala polemik yang berbau ketidak sehatan iklim investasi di daerah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Warga yang melakukan penolakan disudutkan pada situasi yang tidak mengenakan, mereka dipandang sebagai masyarakat tertutup dan irasional, tidak memiliki visi pembangunan dan cenderung anti kompromi, terbelakang, dan sulit diajak maju. Sementara kegagalan pemerintah dalam kontek kebijakan seperti sepi dari kritik, selalu benar dan harus mendapatkan dukungan berbagai pihak, sementara terdapat fakta yang tidak bisa diabaikan begitu saja, bahwa: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Pemerintah daerah tidak mampu mengelola sumber daya alam dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Terjadi inefesiensi dalam agenda pembangunan dan cenderung menempuh langkah praktis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Tidak memiliki political will terhadap isu perubahan iklim dan bahaya bencana kekeringan air di bumi dalam decade terakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Tidak pernah ada keterlibatan warga dalam proses mengambil atau mempengaruhi proses menentukan kebijakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Terdapat birokrasi yang tidak sehat yang memungkinkan terjadinya banyak penyimpangan dan penyalahgunaan kewenangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;6. Tidak sesuai prosedur yang berlaku, sehingga menciptakan iklim investasi tidak kondusif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;7. Terdapat kekuatan diluar birokrasi pemerintah yang turut mengendalikan lancar atau tidaknya investasi di Banten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penolakan warga terhadap kehadiran PT. Tirta Investama yang akan mengeksploitasi air di kawasan Cirahab Padarincang karena minimnya keterlibatan warga dalam proses mempengaruhi kebijakan pemerintah daerah tidak bisa disalahkan, Pemerintah seharusnya sejak awal melakukan sosialisasi dengan baik dan transparan .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bahkan ada sebagian warga yang merasa telah dibodohi pada tahap pembebasan lahan, mereka mendapatkan informasi jika lahan itu diperuntukan bagi dunia pendidikan hingga memunculkan antusiasme untuk membatu rencana tersebut, dalam perjalannya masyarakat dikagetkan oleh hadirnya alat berat di kawasan tersebut, pengeboran yang dilakukan pada akhirnya memunculkan reaksi dari warga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Upaya penolakan warga berbuah hasil saat Bupati Serang menghentikan sementara proses pembangunan pabrik dan berjanji akan mencabut surat izin pembangunan, tetapi dipandang lemah karena tidak dilakukan pengawalan secara ketat atas rencana pencabutan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Gerakan Penolakan Jilid 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pertengahan tahun 2010 warga Padarincang kembali bergejolak setelah mendapatkan kabar bahwa Bupati akan meneruskan rencana pembangunan pabrik Danone di Cirahab. Reaksi kembali muncul dan mempertanyakan komitmen bupati atas pernyataan awal yang siap mencabut surat izin pembangunan yang telah diberikan kepada PT. Tirta Investama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Spanduk, baliho dan media lain digunakan untuk menunjukan sikap penolakan sebagai mana sebelumnya pernah dilakukan, musyawarah akbar digelar untuk membangun kembali persepsi bersama tentang konsistensi penolakan tetapi tidak dengan menggunakan strutur keorganisasian yang jelas, warga cenderung melebur dan terkesan tidak memunculkan coordinator sebagaimana gerakan jilid pertama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi pencomotan nama-nama tertentu untuk melemahkan gerakan. Gerakan jilid kedua justeru tidak tertata sebagai mana gerakan jilid pertama yang memiliki komando dan struktur yang jelas, hingga ada yang memandang jika gerakan jilid kedua ini terkesan sporadis dan tidak memiliki akar dukungan yang jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Apapun asumsi yang muncul, faktanya gerakan penolakan masih ada dan cukup menjadi perhatian pemerintah untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan dalam kontek pembangunan pabrik Danone.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Pro dan Kontra &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara garis besar, saat ini terdapat dua kubu yang bertentangan dalam merespon rencana pembanunan Pabrik Aqua di Padarincang dengan sejumlah alasan-alasan yang menyertainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pertama, masyarakat yang mendukung rencana pembangunan memiliki alasan bahwa segala kebijakan pemerintah dalam bentuk apapun perlu didukung dengan segala konsekwensi yang menyertainya, industrialisasi memang memiliki dampak negatif dan positif tetapi saat ini ada yang dibutuhkan masyarakat dari dunia industry meski ada pula yang harus dikorbankan, para pendukung ini memiliki alasan:  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Dapat membuka lapangan pekerjaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Memberi peluang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Memberi konstribusi terhadap pengembangan pembangunan khususnya di kecamatan Padarincang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kelompok ini memiliki pandangan praktis dan cenderung bermuara pada bagaimana mendapatkan keuntungan finansial, terkait persoalan kekeringan dan hilangnya hak warga atas air tidak begitu dipersoalkan. Secara politik kelompok ini mendapatkan dukungan dari pihak legislatif khususnya dari salah satu anggota dewan dari Komisi IV bahkan anggota dewan ini terlibat dalam melakukan penggalangan dukungan,   mengkleim mendapatkan restu dari alim ulama yang terhimpun dalam kelompok pengajian Tambihul Umah, sebagai catatan, penggerak pengajian ini memiliki relasi yang dekat dengan kekuasaan, sebelumnya terlibat dalam gerakan penolakan dan salah satu pengusaha (Hariri) yang memiliki kepentingan langsung terhadap rencana pembangunan pabrik Danone memiliki hubungan saudara dengan anggota dewan dari komisi 4 (Damimi) ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para kepala Desa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kelompok ini, sebelumnya mereka pun termasuk dari kolompok yang melakukan penolakan, seiring perjalanan waktu dan bahkan ada dugaan bahwa penolakan yang berubah menjadi dukungan ini lebih sebagai upaya untuk meningkatkan posisi tawar dihadapan PT. Tirta Investama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keterbukaan investasi menjadi alasan lain yang menguatan upaya dukungan terhadap rencana eksploitasi air ini, jika Danone gagal beroperasi di Padarincang asumsinya adalah tidak akan ada investor lain yang berkeinginan untuk menanamkan investasinya karena terdapat iklim investasi yang tidak kondusif di kabupaten serang kuhusunya di kecamatan Padarincang dan sekitarnya.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kedua, masyarakat yang menolak memiliki alasan jangka panjang dengan beberapa pertimbangan bahwa tidak setiap kebijakan pemerintah harus selalu didukung mengingat kemungkinan-kemungkinan adanya penyimpangan dan penyalah gunaan wewenang serta tidak berpihak terhadap kepentingan warga, kelompok ini cenderung beranggapan bahwa kebijakan pemerintah perlu dikawal dan dikotrol untuk menghindari dampak buruk akbibat dari kegagalan kebijakan, beberapa alasan dan tujuan penolakan ini antara lain: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Mempertahankan hak dasar warga atas air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Melindungi sumber air dari ancaman kekeringan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Menjaga ketentraman dan kenyamanan Padarincang sebagai daerah pertanian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Menghindari terjadinya kerusakan yang lain sebagai efek domino dari aktifitas idustri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Menjaga ketersediaan air Rawa Danau sebagai cagar alam yang harus dipertahankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pandangan yang dikemukakan lebih berdasar pada bagai mana menjaga kelestarian alam sekitar, bahwa ada unsur hak dasar warga yang tidak boleh diabaikan Negara atas air, komersialisasi air dipandang hanya akan menghilangkan hak dasar ini, selebihnya ada alasan yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiyah bahwa keyakinan agama tetang perlindungan atas air begitu kuat, hal ini dianut oleh para orang tua dan alim ulama yang mengkategorikan perlawanan ini sebagai bentuk jihad mempertahankan ketersediaan air di tanah Padarincang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Informasi dasar investasi PT. Tirta Investama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Luas lahan: 12 hektar. Keterangan: Status sudah dibebaskan, rencana kedepan PT. Tirta Investama akan melakukan pembebasan lahan lain di sekitar area dengan proyeksi pabrik terbesar se-Asia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- RT/RW lahan: Tegalan sawah dan pepohonan tahunan. Keterangan: Padahal 12 hektar lahan adalah lahan sawah produktif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Rencana Investasi: Rp. 298.241.000.000,00.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Izin pengeboran: 150m. Keterangan: Sulit untuk mengontrol tingkat kedalaman pipa penyedot, bias saja piha perusahaan menambah tingkat kedalaman saat ketersediaan air bawah tanah mulai menurun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Rencana penggunaan tenaga kerja: 174 orang. Keterangan: Terdapat penyimpangan informasi di level publik, warga mendapatkan informasi bahwa tenaga yang akan tertampung di pabrik Danone berkisar pada 2.000 tenaga kerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Volume penyedotan air rencana tahap awal: 63 liter perdetik. Keterangan: Sulit untuk melakukan control terhadap aktifitas produksi, bias saja piha perusahaan menambah volume daya sedot untuk meningkatkan kuantitas produksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Rencana Produksi per-tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Air minum dalam kemasan, 15540 liter dengan kapasitas 550.000.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Minuman ringan, 15541 liter dengan kapasitas 72.000.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;CIRAHAB DAN PROFIL WARGA PADARINCANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Cirahab diapit dari dua area penting; Rawa Danau dan Gunung Karang yang memiliki potensi aktif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Rawa Danau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rawa Danau terletak di sebelah utara Cirahab, di apit diantara Kecamatan Padarincang, Gunungsari, dan Mancak di kabupaten Serang, Rawadano kaya akan ekosistem seperti binatang reptil, ular, buaya dan 250 jenis burung yang bermukim diluas areal 2.500 ha yang merupakan rawa dan danau. Rawadano memiliki potensi pariwisata yang cukup menjanjikan, selain memiliki keindahan panorama yang eksotic, akses transportasi yang baik dapat ditempuh dari segala arah, ditopang oleh pariwisita Pantai Anyer dan Ibu kota, dan potensi lain yang dimiliki ialah kandungan karbon, Rawadano merupakan area konservasi alam yang telah mendapatkan perhatian dunia untuk dipertahankan eksistensinya, memiliki fungsi penting bagi keseimbangan alam dan berstatus sebagai empedu bumi yang harus dijaga kelestariannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rawa Danau mendapatkan pasokan air dari beberapa sungai di Padarincang, seperti sungai Kalumpang, Sungai Cibojong, sungai Cilehem dan termasuk dari Cirahab. Cirahab termasuk pemasok air terbesar bagi ketersediaan air di Rawa Danau. Tetapi dalam beberapa catatan survey menunjukan saat ini telah terjadi penurunan volume air di luar aktivitas produksi industri. Sungai Cibojong telah mengalami pendangkalan yang cukup signifikan karena aktifitas penebangan liar di daerah hulu, hal serupa terjadi pada sungai Cilehem, menyusul Cikalumpang yang mulai tampak indikasi penurunan pertahunnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Limpahan air dari Rawa Danau ini dimanfaatkan oleh PT. Krakatau Tirta Investama untuk kebutuhan industri termasuk bagi kebutuhan harian masyarakat di kota Cilegon. Rawa Danau tidak sekedar cagar alam rawa, namun memiliki hidden potensi sebagai industri karbon. Rawa Danau merupakan rawa dan danau yang gambut memiliki kandungan unsur karbon (C). Menurut berbagai studi, kandungan karbon yang terdapat dalam gambut di dunia sebesar 329-525 Gt atau 35% dari total karbon dunia. Sedangkan gambut di Indonesia memiliki cadangan karbon sebesar 46 GT (catatan 19 GT sama dengan 10 ton) atau 8 14% dari karbon yang terdapat dalam gambut di dunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adanya perusahaan pabrik aqua di Padarincang akan mengganggu ekosistem Rawa Danau, menyusutnya air, kerusakan hutan, terancamnya kehidupan mahluk didalamnya dan kelestarian rawadanao itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Gunung Karang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Gunung Karang terletak di Sebelah Selatan kecamatan Ciomas dan Padarincang yang relatif dekat dengan Cirahab. Terdapat beberapa sumber air panas di Padarincang yang berasal dari Gunung Karang ini. Aliran Sumber air panas ini secara geografis relatif dekat dengan Cirahab sebagai lahan yang akan dijadikan area eksploitasi air oleh PT. Tirta Investama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Banyak warga menghawatirkan jika eksploitasi air bawah tanah ini dilakukan di Cirahab dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang akan terjadi penurunan kuantitas air dingin yang memungkinkan akan ada dominasi air panas di wilayah Padarincang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Cirahab terletah di desa Curug Goong Kecamatan Padarincang, 10 kilo meter dari arah Palima menuju Anyer, dan terdapat beberapa kecamatan yang memungkinkan terkena dampak eksploitasi air di area ini, antara lain; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Kecamatan Ciomas dan Pabuaran terletak  di sebelah timur,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Kecamatan Cinangka, dan Anyer di Sebelah barat, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Kecamatan Mancak dan Gunung Sari di sebelah selatan di mana sebagian besar luas Rawa Danau terletak di kecamatan ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Penggunaan Atas Air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara turun temurun mata air Cirahab digunakan oleh warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari, ratusan hektar sawah mendapatkan pasokan air bagi kebutuhan tanaman padi dan tanaman lainnya, petani mendapatkan berkah dari limpahan air yang keluar dari Cirahab ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Warga sekitar dapat menanfaatkan keindahan alam Cirahab untuk berekreasi, satu-satunya area wisata air di Padarincang yang dapat dimaksimalkan jika tidak karena akan adanya pembangunan pabrik Danone, satu kebanggaan warga Padarincang akan hilang oleh satu kekeliruan kebijakan pemerintah yang mengizinkan PT. Tirta Investama melakukan eksploitasi air di sana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa kampung yang berdekatan di area Cirahab yang akan menerima dampak langsung antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. kampong Sukaraja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Kampung Sukamanah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Kampung Eksodan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Kampung Cibetus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Kampung Cilehem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Jumlah Kepala Keluarga (KK) per Desa di Kecamatan Padarincang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Curug Goong, 742 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Cisaat, 553 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Citasuk, 1596 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Batu Kuwung, 1526 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Padarincang, 1648 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;6. Kalumpang, 1112 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;7. Bugel, 1173 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;8. Cibojong, 1048 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;9. Keramat Laban, 987 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;10. Kadu Beureum, 1372 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;11. Barugbug, 473 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;12. Ciomas, 1356 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;13. Cipayung, 947 KK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;14. Kadu Kempung, jumlah KK tidak diketahui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebagian besar dari seluruh warga di Padarincang ini memanfaatkan air sumur dengan kedalaman rata-tara 8-14 meter , sebagian yang lain menggunakan aliran sungai untuk memenuhi kebutuhan mencuci dan mandi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sementara beberapa desa yang posisinya berada di atas kawasan Cirahab sering kesulitan mendapatkan air disaat musim kemarau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Jumlah Penduduk per Kecamatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Padarincang, 31.634 laki-laki dan 29.793 perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Ciomas, 19.175 laki-laki dan 17.967 perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Pabuaran, 19.669 laki-laki dan 18.279 perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Cinangka, 27.768 laki-laki dan 25.536 perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Gunungsari, 10.063 laki-laki dan 9.281 perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;6. Anyer, 26.435 laki-laki dan 25.233 perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;7. Mancak, 22.488 laki-laki dan 20.687 perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;KERUGIAN-KERUGIAN YANG AKAN DITIMBULKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;1. Kerugian Sektor Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kecamatan padarincang adalah salah satu kecamatan yang mempunyai lahan sawah yang cukup luas, yaitu sekitar 6000 Ha, itupun data yang tercatat, dan itu adalah sawah produktif irigasi alam, belum sawah tadah hujan, tanah padi gogo dan perkebunan rakyat. Sawah-sawah dikecamatan padarincang hampir secara keseluruhan adalah mempunyai masa panen sebanyak 3 (tiga) kali dalam satu tahun, atau 4 (Empat) bulan sekali. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara matematis kerugian ekonomi bagi masyarakat petani kecamatan Padarincang dari kebijakan pembangunan industri air minum yang akan dilakukan oleh PT.Tirta Investama dengan merk Danone sebagai pabrik air minum dalam kemasan (AMDK)  terbesar di Asia dapat diukur dari seberapa besar hasil keuntungan yang dapat diperoleh dari dunia pertanian di wilayah Padarincang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Iktisar keuntungan Pertanian Kecamatan Padarincang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Luas Sawah    : 6000 Ha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Potensi Panen/Ha    : 4000 Kg / 4 ton&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Waktu Panen    : 4 Bulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;- Asumsi harga gabah standar  : Rp. 2000 / Kg&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maka :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;6000 Ha x 4000 Kg   = 24.000.000 Kg / 24.000 ton&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jadi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 24.000 x Rp. 2000   = Rp. 48 Miliar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Atau pendapatan masyarakat Kecamatan Padarincang / bulannya adalah Rp. 12 Miliar. Itupun belum termasuk Kecamatan-Kecamatan lain yang terkena imbas kekeringan akibat eksploitasi yang akan dilakukan PT. Tirta Investama yaitu Kecamatan Ciomas, Kecamatan Pabuaran, Kecamatan Gunung Sari, Kecamatan Mancak, Kecamatan Cinangka, Kecamatan Anyer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Ikhtisar Keuntungan Hasil Pertanian per Kecamatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Pabuaran, luas sawah 2.500 Ha, potensi hasil 10.000 ton dengan nilai 20 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Ciomas, luas sawah 1.500 Ha, potensi hasil 6.000 ton dengan nilai 12 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Padarincang, luas sawah 6.000 Ha, potensi hasil 24.000 ton dengan nilai 48 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Cinangka, luas sawah 2.500 Ha, potensi hasil 10.000 ton dengan nilai 20 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Gunungsari, luas sawah 615 Ha, potensi hasil 2.460 ton dengan nilai 4.92 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;6. Anyer, luas sawah 2.000 Ha, potensi hasil 8.000 ton dengan nilai 16 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;7. Mancak, luas sawah 2.000 H, potensi hasil 8.000 ton dengan nilai 16 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jika mengukur dari retribusi yang didapat dari pabrik Danone jelas tidak sebanding ditambah dengan resiko dampak yang ditimbulkan dari proses eksploitasi air dalam kurun waktu 15-20 tahun mendatang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;2. Kerugian dari sisi Sosial/ Hilangnya Hak Dasar Warga Atas Air &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kerugian yang akan dialami oleh masyarakat Kecamatan Padarincang dari sisi sosial adalah akan terjadi konflik horizontal diantara masyarakat, yaitu antara masyarakat yang dapat berfikir jernih dan sehat yang berusaha memepertahankan sumber air untuk kehidupannya saat ini dan anak cucunya kelak, dengan golongan orang-orang yang mendukung berdirinya industri tersebut atas dasar kepentingan pribadi demi keuntungan sesaat semata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selain itu, komersialisasi atau privatisasi air akan dapat menghilangkan hak dasar warga atas air yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara untuk memenuhinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;3. Kerugian Sisi Budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kearifan lokal yang sudah tertanam di tengah-tengah masyarakat seperti pola hidup bergotong royong, kesahajaan, kebijaksanaan dalam lingkungan masyarakat relijius akan terkikis oleh pola hidup masyarakat yang indifidualistik yang cenderung materialistik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;4. Kerugian sisi Religi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Padarincang merupakan daerah di mana terdapat banyak pesantren mememiliki akar keagamaan yang cukup kuat. Proses akulturasi budaya dalam dunia industri akan berdampak pada semakin terkikisnya nilai-nilai keagamaan suatu masyarakat yang pada akhirnya akan terkikisnya moral masyarakat digantikan dengan pola hidup yang materialistis dan hidup dalam bayang-bayang kriminalitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;5.  Infrastruktur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hampir kebanyakan dari daerah industri adalah berdampak pada rusaknya fasilitas publik seperti jalan yang rusak akibat dari volume produksi yang cukup besar dengan daya angkut kendaraan di setiapharinya dapat menibulkan kemacetan dan keresahan di tengah-tengah masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;6.  Kerugian Lingkungan/ Kekeringan Air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akibat dari proses eksploitasi air dengan volume yang cukup besar ditambah dengan waktu yang cukup lama akan menyebabkan ketersediaan air/ kuantitas dan kualitas air akan semakin menurun. Bahwa danone akan menggunakan sumur artesis sebagai bahan produksi jelas akan mempengaruhi air permukaan yang akan terserap ke dalam tanah, dengan demikian akan menyebabkan kekeringan yang akan merugikan masyarakat dan menciptakan ketidak seimbangan alam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Negara, dalam hal ini Pemerintahan Daerah Kabupaten Serang seharusnya memiliki itikad baik untuk menjaga ketersediaan air di Padarincang dengan tidak menjadikan Cirahab Sebagai daerah industri air minum dalam kemasan, selain cirahab merupakan bagian dari area konservasi air yang sangat berdekatan dengan cagar alam Rawa Danau yang harus dijaga kelestariannya. Pemerintah seharusnya memiliki komitmen untuk melindungi air dari kekeringan yang sudah menjadi isu global, bukan mengikuti kehendak pasar yang hanya merugikan masyarakat dan lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;TENTANG GRAPPAD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Gerakan ini memiliki nama Gerakan Rakyat Anti Pembangunan Pabrik Aqua Danone disingkat menjadi GRAPPAD terdiri dari koalisi rakyat, gerakan mahasiswa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda yang berhimpun dalam satu persepsi bahwa segala bentuk eksploitasi hanya akan menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Koalisi ini memfokuskan diri pada isu kekeringan air dan kerusakan lingkungan lainnya akibat dari proses eksploitasi sebagai aktifitas industri seperti yang dilakukan oleh PT. Tirta Investama dengan merk Aqua Danone.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bahwa dalam perjalanannya, GRAPPAD telah melakukan konsolidasi dengan lembaga-lembaga nasional seperti Kontras, LBH Jakarta, Walhi, Koalisi Raktat Untuk Hak Atas Air (KRUHA) serta badan-badan lain yang memiliki jaringan nasional di Indonesia, dan memandang perlu untuk menggalang solidaritas korban berskala nasional akibat dari proses eksploitasi air yang dilakukan oleh PT. Tirta Investama di beberapa daerah di Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;APA, KENAPA DAN SIAPA YANG KAMI LAWAN?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Orang, Badan, Lembaga, Perusahaan yang menyatakan dan memeperaktekan bahwa air adalah komoditas komersial, yang dengan seenaknya diperdagangkan demi keuntungan semata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Mereka yang dengan seenaknya memasang meteran di jaringan irigasi persawahan, rumah-rumah penduduk, kolam-kolam ikan, sekolah dan rumah sakit serta sarana publik lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Serta semua kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan dari lembaga-lembaga yang akan mendorong terjadi kesengsaraan masyarakat akibat dari bencana yang ditimbulkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;TUJUAN GERAKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Mendesak pemerintah kabupaten Serang untuk mencabut surat izin dengan nomor 593/Kep.50-Huk/2007 tentang izin lokasi pembangunan Pabrik Danone oleh PT. Tirta Investama di kawasan Cirahab kecamatan Padarincang Kabupaten Serang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Mempertahankan kawasan padarincang khususnya Cirahab dan sekitarnya sebagai area pertanian dan sebagai wilayah konservasi air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Melindungi kawasan cagar alam Rawa Danau dari bahaya kekeringan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Mencegah terjadinya proses komersialisasi dan atau privatisasi air yang hanya akan menghilangkan hak dasar warga atas air.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-8363263834043689216?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/8363263834043689216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=8363263834043689216' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/8363263834043689216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/8363263834043689216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/03/kronolog-perlawanan-warga-padarincang.html' title='KRONOLOGI PERLAWANAN WARGA PADARINCANG VS. AQUA-DANONE'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-957a_yTNq7k/TX-m1P3WB9I/AAAAAAAAAZY/PoamopwqFMs/s72-c/188332_1654903052268_1227827382_31541361_8293217_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-2078290792132758623</id><published>2011-01-23T08:40:00.000-08:00</published><updated>2011-01-23T08:43:55.252-08:00</updated><title type='text'>LUCIO, SI BANDIT BUDIMAN: REFLEKSI SEORANG ANARKIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TTxab5irKYI/AAAAAAAAAZM/WYFyNnCwhAc/s1600/lucio.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 326px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TTxab5irKYI/AAAAAAAAAZM/WYFyNnCwhAc/s400/lucio.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565422674872314242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;BLAK-BLAKAN dan kharismatik, Lucio bicara layaknya seorang anarkis sejati. Bila ditanya apa maknanya menjadi seorang anarkis, Lucio menolak anggapan keliru tentang anarkis sebagai teroris, “Anarkis adalah seorang yang baik di hatinya, seorang yang bertanggung jawab.” Namun, dia tidak berapologi sedikitpun tentang kebutuhan untuk menghancurkan tatanan sosial yang kini berlangsung, “baguslah kiranya menghancurkan hal-hal tertentu, karena itu berarti kamu membangun hal-hal baru untuk menggantikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucio punya teman-teman lama di Southern Cone . Dana dari para pekerja pemalsuan membantu ratusan orang dari organisasi-organisasi revolusioner yang sedang berada di pengasingan dan membiayai aksi-aki bawah tanah untuk melawan kediktatoran-kediktatoran bengis yang telah melenyapkan puluhan ribu aktivis, mahasiswa dan pekerja sepanjang 1970-an di seluruh Amerika Latin. Di Uruguay, dana dari cek-cek perjalanan Citibank yang dipalsukan mendanai kelompok gerilyawan Tupamaros, juga mendanai Black Panthers di Amerika Serikat dan kelompok-kelompok revolusioner lainnya di seluruh Eropa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;Selama kunjungannya baru-baru ini ke Amerika Selatan, Lucio menginap di Hotel BAUEN yang dikelola oleh para pekerja di ibu kota Argentina, Buenos Aires. Dia takjub melihat kecakapan para pekerja tanpa majikan itu. Di Hotel BAUEN, para pekerja mempraktekkan autogestíon atau swakelola. Swakelola telah menjadi arus utama pemikiran anarkis sejak kelahiran kapitalisme. Bukan hubungan otoritas-kepatuhan antara kapitalis dan pekerja, sebaliknya swakelola justru menyiratkan bahwa pekerja mempraktekkan sebuah sistem egaliter dimana orang-orang secara bersama memutuskan, menghasilkan dan mengontrol nasibnya sendiri demi kemanfaatan komunitas. Tapi agar sistem seperti itu bisa berjalan, para pesertanya haruslah gigih bekerja dan bertanggung jawab, salah satu ciri paling penting yang menurut Lucio hendaknya dimiliki seorang lelaki ataupun perempuan. “Gerakan anarkis dibangun oleh pekerja. Tanpa kerja, kita tak bisa bicara tentang swakelola. Untuk mempraktekkan swakelola, kita perlu mengetahui bagaimana melakukan berbagai hal, bagaimana bekerja. Kalau hanya menjadi bohemian, itu mudah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucio menjelaskan bahwa anarkismenya bersumber dari masa kanak-kanaknya yang miskin di Spanyol pada masa kekuasaan fasis. “Asal-usul anarkis-ku berakar pada pengalamanku tumbuh besar di dalam sebuah keluarga miskin. Ayahku adalah seorang kiri, dipenjara karena dia menginginkan otonomi untuk negeri Basque. Bagiku, itu bukanlah revolusi, aku bukan seorang nasionalis. Dengan nasionalisme, umat manusia telah melakukan banyak kesalahan. Setelah keluar dari penjara, ayahku menjadi seorang sosialis. Kami sangat menderita. Aku sering pergi mencari roti dan tukang roti tidak mau memberikannya kepadaku, karena kami tidak punya uang. Bagiku, kemiskinan telah menyuburkanku, aku tidak perlu susah-susah berusaha untuk bisa kehilangan rasa hormatku kepada kemapanan, Gereja, properti pribadi dan Negara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Spanyol, fasisme mampu bertahan sampai 30 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II. Ratusan orang dipenjarakan karena melawan kediktatoran Franco. Para antropolog memperkirakan bahwa dari awal Perang Sipil Spanyol pada Juli 1936 sampai matinya Franco pada November 1975, kaum Nasionalis Franco membunuh sekitar 75.000 sampai 150.000 orang pendukung Republik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucio melarikan diri ke Perancis, dimana dia menemukan anarkisme. Dia disersi dari ketentaraan nasionalis dan lari ke Perancis. Paris pada tahun 1960-an merupakan kota yang subur bagi para intelektual, pengorganisir dan gerilyawan anarkis yang berada di pengasingan. Di sanalah Lucio bertemu dengan anggota-anggota serikat buruh anarko-sindikalis Confederación Nacional de Trabajo (CNT). Dia pun ingin sekali bergabung dengan CNT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun-tahun awalnya di Perancis, Lucio bertemu dengan Francisco Sabate, seorang anarkis legendaris dan gerilyawan yang luarbiasa. Di masa ini, Sabate, yang juga dikenal dengan nama panggilan “El Quico”, merupakan anarkis yang paling dicari-cari oleh rezim Franco. Polisi Perancis juga mencari-cari Sabate, yang memimpin perlawanan terhadap Franquismo. “Saat bertemu Quico, aku sedang tergabung dalam Juventud Libertarias. Mereka bertanya apakah aku bisa membantu Sabate. Bayangkan, aku, orang yang tidak tahu apa-apa, aku bahkan tidak tahu siapa itu Quico.” Sabate menggunakan rumah Lucio sebagai tempat persembunyian. Lucio muda mendengarkan cerita-cerita Sabate tentang aksi langsung dan menyerap kearifan apapun yang bisa disampaikan oleh Sabate, misalnya tentang cara-cara untuk mengendus adanya penyusup. “Aku bertemu dengan para gerilyawan yang membawaku ke jalan menuju aksi langsung dan pengambil-alihan. Sabate mengajariku untuk tidak menghormati properti pribadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah Lucio mulai ikut serta dalam perampokan-perampokan bank. “Tak ada bajingan yang lebih besar daripada bank,” kata Lucio saat membela pengambil-alihan. “[Inilah] satu-satunya cara yang dipunyai anarkis, tanpa dana dari industri dan tanpa ada wakil-wakil pemerintahan yang membiayai mereka. Uang itu dikirimkan kepada orang-orang yang menderita akibat tindakan rezim Franco.” Organisasi mahasiswa dan organisasi buruh mendapatkan dana itu untuk melakukan pengorganisiran akar rumput. Pada contoh lain, uang itu digunakan untuk aksi-aksi langsung gerilya melawan rezim Franco, misalnya kampanye untuk pembebasan tahanan politik di penjara-penjara nasionalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelamatkan hidup orang-orang yang berada di pengasingan, Lucio memikirkan sebuah rencana besar untuk memalsukan paspor agar warga Spanyol bisa bepergian. “Paspor untuk pengungsi berarti bisa melarikan diri ke luar negeri da menjalani hidup yang aman di tempat lain,” jelas Lucio. Bukan hanya di Eropa, tapi juga di AS dan Amerika Selatan, para pembangkang menggunakan kartu identitas palsu untuk menjalani hidupnya dan melakukan aksi-aksi langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1977, kelompok Lucio mulai memalsukan cek sebagai bentuk langsung untuk membiayai gerakan perlawanan. Secara esensial, Lucio adalah “bos” dari operasi ini – dia membuat, membagikan dan mencairkan cek-cek itu. Cek lebih sulit dipalsukan daripada uang kertas. Lucio berpikir bahwa mereka harus mentarget lembaga perbankan terbesar di dunia, National City Bank. Distribusi cek-cek tersebut mengalir ke berbagai kelompok subversif yang menggunakan dana itu untuk membiayai aksi-aksi solidaritas. Lucio menjelaskan bahwa “tak seorang pun yang menjadi kaya” karena cek-cek itu. Sebagian besar dana itu digunakan untuk tujuan aksi solidaritas. Di seluruh Eropa, cek-cek dengan nomor kode yang sama ini dicairkan pada waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancangan besar Lucio ini merugikan City Bank sejumlah puluhan juta dolar akibat cek-cek perjalanan palsu. Tapi banyak yang mengatakan bahwa jumlah yang jauh lebih besar telah diambil-alih. City Bank tak berdaya menghadapi pemalsu, yang telah merugikan begitu besar hingga bank ini terpaksa menangguhkan cek-cek perjalanan, yang berarti menggagalkan liburan bagi ribuan wisatawan. Pada masa itu, orang belum menggunakan kartu cek ataupun kartu kredit. Lucio ditangkap pada tahun 1980 dan didapati membawa sebuah tas koper yang penuh dengan cek palsu. Sementara itu, selama penahanan Lucio, Citibank terus mendapat cek-cek perjalanan palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citibank menjadi khawatir. Wakil-wakil dari bank itu setuju untuk berunding. Lucio akan dilepas jika dia menyerahkan plat-plat master untuk mencetak cek-cek palsu tersebut. Pertukaran pun terjadi, dan Lucio menjadi seorang legenda karena rancangan cemerlangnya itu. Meski hidupnya sebagai pemalsu dokumen berakhir pada usia 50, namun hidupnya sebagai seorang anarkis terus berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucio selalu bekerja sebagai tukang batu. “Yang paling membantuku adalah pekerjaanku. Anarkis selalu adalah pekerja.” Lucio – si tukang batu, anarkis, pemalsu dokumen dan pengambil-alih – telah meninggalkan warisan seperti halnya para pendahulunya. “Orang-orang seperti Loise Michel, Sabate, Durruti, semua pengambil-alih itu mengajariku bagaimana mengambil-alih, namun bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan bagaimana menggunakan kekayaan itu untuk perubahan.” Pada usia 76 tahun, dia tidak meminta maaf atas aksi-aksinya. “Aku telah melakukan pengambil-alihan, yang mana menurut agama Kristen adalah perbuatan dosa. Bagiku, pengambil-alihan itu perlu. Sebagaimana yang dikatakan oleh para revolusioner, merampok dan mengambil-alih adalah tindakan revolusioner asalkan kita tidak mengeruk keuntungan dari tindakan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-oo0oo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucio Urtubia Jiménez (lahir pada tahun 1931 di Cascante, Navarre[1]) adalah seorang anarkis Spanyol yang terkenal akan praktek pengambil-alihan politis-nya. Terkadang disejajarkan dengan Robin Hood,[1] Urtubia melakukan perampokan bank dan pemalsuan dokumen sepanjang tahun 1960-an dan 1970-an. Mengutip kata-kata Albert Boadella, “Lucio adalah seorang Quijote yang tidak bertarung melawan kincir angin, melainkan melawan raksasa yang sesungguhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Biografi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucio Urtubia lahir di Cascante, merupakan anak kelima di sebuah keluarga yang sangat miskin. Ayahnya, seorang Carlist , dipenjarakan dan, saat di dalam penjara, mengalami peralihan ke komunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direkrut ke dinas militer, Urtubia dan kawan-kawannya membobol sebuah gudang milik kompinya, lalu disersi dan melarikan diri ke Perancis pada tahun 1954. Di Paris dia mulai bekerja sebagai tukang batu, pekerjaan yang terus dia lakukan sepanjang hidupnya. Selain itu, dia jadi terlibat dengan kalangan Libertarian Muda dari Fédération Anarchiste dan berteman dengan André Breton dan Albert Camus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah pindah ke Paris, Urtubia diminta untuk menyembunyikan di rumahnya seorang anggota Maquis, kelompok gerilyawan Spanyol yang melawan Franco dari pengasingan. Pengungsi itu ternyata adalah Francesc Sabaté Llopart yang legendaris. Sabaté tinggal bersama Urtubia selama beberapa tahun sampai kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabaté memandu keluarga-keluarga dan kaum libertarian yang berada di pengasingan di Toulouse, Perpignan dan Paris serta anggota-anggota CNT Spanyol tua di Barcelona, Saragossa, Madrid dan Pamplona. Sebelum pemenjaraan Sabaté menghentikan aktivitas-aktivitas ini, Urtubia mulai meniru serangan-serangan yang biasa dilakukan Sabaté ke wilayah Spanyol. Kemudian dia melakukan serangkaian perampokan dan penodongan untuk mencari dana untuk kepentingan revolusioner. Dalam melakukan itu semua, dia selalu ditemani senapan mesin Thompson-nya yang tak terpisahkan yang dia warisi setelah kematian Sabaté.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini, pemalsuan dokumen oleh Urtubia telah dimulai dan tak seorang pun gerilyawan atau orang dalam pengasingan yang meninggalkan dia tanpa membawa dokumen palsu. Dia bergabung dengan kawan-kawan libertarian lainnya untuk memalsukan mata uang pada tahun 1960-an. Dengan strategi ini, mereka membiayai banyak kelompok sambil berupaya menggoncang ekonomi kapitalis. Dengan aktivitas-aktivitas ini, di tengah memanasnya gejolak akibat invasi ke Teluk Babi, Urtubia mengusulkan kepada Simeón Rose, duta besar Kuba di Perancis, untuk menghancurkan kepentingan-kepentingan Amerika di Perancis dengan menggunakan bahan peledak. Namun, tawaran ini ditolak. Kemudian dia mempresentasikan kepada Ernesto Che Guevara, Menteri Dalam Negeri Kuba, sebuah rencana untuk memalsukan dolar Amerika secara besar-besaran. Usulan ini juga ditolak, dan Urtubia pun meninggalkan pertemuan itu dengan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukulan telak nan cemerlang yang merubah hidupnya adalah pemalsuan cek-cek perjalanan Citibank pada tahun 1977. Tindak kriminal ini mencakup 8.000 copy dari 25 cek yang masing-masing senilai 100 dolar dan merugikan bank ini begitu parahnya hingga harga sahamnya jatuh. Uang yang dicuri ini digunakan, seperti biasanya, untuk membantu gerakan-gerakan gerilya di Amerika Latin (Tupamaros, Montoneros, dll.) dan Eropa. Kendati pemalsuan itu begitu hebat dan menghebohkan, Urtubia hanya dijatuhi hukuman penjara 6 bulan berkat kesepakatan ekstrayudisial dengan Citibank yang menurunkan tuntutan-tuntutannya sebagai pertukaran dengan plat-plat pencetak cek milik Urtubia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya adalah petualangan terus-menerus: menjadi target lima tatanan internasional, termasuk CIA; dia merancang penculikan tokoh Nazi, Klaus Barbie, di Bolivia; berkolaborasi dalam upaya pelarian pemimpin Black Panthers; membantu upaya penculikan Javier Rupérez;menjadi perantara dalam kasus Albert Boadella; dan bekerjasama dengan Movimiento Ibérico de Liberación dan kemudian dengan Groupes d'action révolutionnaire internationalistes. Dia selalu membela pekerjaannya dengan mengatakan, “Kami adalah tukang batu, tukang cat, tukang listrik – kami tidak butuh negara untuk apapun”; “Kalau memang pengangguran dan marjinalisasi menciptakan kaum revolusioner, pastilah pemerintahan-pemerintahan itu sudah mengakhiri pengangguran dan marjinalisasi.” Urtubia terus tinggal di Paris, dan kini dia pensiun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-2078290792132758623?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/2078290792132758623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=2078290792132758623' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/2078290792132758623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/2078290792132758623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2011/01/lucio-si-bandit-budiman-refleksi.html' title='LUCIO, SI BANDIT BUDIMAN: REFLEKSI SEORANG ANARKIS'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TTxab5irKYI/AAAAAAAAAZM/WYFyNnCwhAc/s72-c/lucio.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-7400798678055793013</id><published>2010-12-23T21:58:00.001-08:00</published><updated>2010-12-23T22:42:37.912-08:00</updated><title type='text'>PANJANGUMUR ANARKI!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TRQ6JyZp8KI/AAAAAAAAAX8/CfVzEJmBXoE/s1600/di%2Bgiovanni%2B%255B640x480%255D.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 282px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TRQ6JyZp8KI/AAAAAAAAAX8/CfVzEJmBXoE/s400/di%2Bgiovanni%2B%255B640x480%255D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554128180277276834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Severino Di Giovanni dan Propaganda-Dengan-Tindakan di Argentina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Severino Di Giovanni (1901-1931), adalah seorang anarkis kelahiran Italia yang kemudian pindah ke Argentina, di mana ia menjadi anarkis yang paling terkenal atas aksi kekerasannya di negeri itu. Sebagian besar aksinya ditujukan sebagai bentuk dukungan untuk Sacco dan Vanzetti juga sebagai bagian dari proyek anti-fasis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Anarkis yang menyukai kopi manis ini dilahirkan pada 17 Maret 1901, di kota Chieti, di Abruzzo (Italia), sekitar 180 km dari Roma. Dia dibesarkan pada era pasca-perang dunia pertama, di mana kelaparan, kemiskinan dan tentara yang terluka memenuhi jalanan. Kenyataan ini membawa dampak besar terhadap ide-ide Di Giovanni selanjutnya. Ia mengikuti kursus untuk menjadi seorang guru, dan segera mulai mengajar di sebuah sekolah di kotanya bahkan sebelum lulus dari kursus tersebut. Secara otodidak Di Giovanni juga mempelajari seni tipografi, selain membaca Bakunin, Malatesta, Proudhon, and Élisée Reclus pada masa-masa senggangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di Giovanni mulai memberontak melawan penguasa pada usia sangat muda. Pada usia 19 tahun ia menjadi yatim piatu, dan pada usia dua puluh tahun (1921) telah sepenuhnya mengadopsi prinsip-prinsip gerakan anarkis. Dia menikahi Teresa Masciulli, pada 1922. Di tahun yang sama pada bulan maret, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Black Shirt&lt;/span&gt; (grup paramiliter Mussolini) mengambilalih kekuasaan di Roma. Giovanni dan Teresa memutuskan untuk pindah ke Argentina, di mana ia segera terlibat dengan para anarkis dan gerakan anti-fasis di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEDATANGAN DI ARGENTINA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Anarkis yang beristrikan gadis dari Chieti ini, tiba di Buenos Aires bersama gelombang besar terakhir imigran Italia yang masuk Argentina sebelum Perang Dunia II, kebanyakan imigran ini adalah orang-orang miskin dan kurang pendidikan. Dia tinggal di daerah Morón namun pergi ke Buenos Aires tiap hari untuk berpartisipasi dalam rapat dan rencana aksi melawan fasisme dan pendukung diktator fasis Italia di Argentina. Banyak anarkis asal Italia yang berimigrasi ke Argentina. Bahkan sampai hari ini, Argentina tercatat sebagai negara yang memiliki kelompok anarkis terbesar dari semua negara di Amerika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Giovanni cenderung lebih dekat dengan faksi radikal anarkis Argentina, seperti mereka yang ada di lingkaran Ramón González Pachecho dan Teodoro Antilla dari majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Antorcha&lt;/span&gt;, dibandingkan dengan FORA (Federasi Regional Pekerja Argentina) dan surat kabar bersejarah: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Protesta&lt;/span&gt;, yang diterbitkan oleh Emilio López Arango dan dieditori oleh Diego Abad de Santillán.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selama tahun 1920-an, Argentina dikuasai oleh Partai kiri moderat UCR, yang secara bergantian dipimpin oleh Presiden Hipólito Yrigoyen dan Marcelo Torcuato de Alvear. Sebagai seorang anarkis, Di Giovanni menyerang UCR, yang baginya tak lebih dari sekedar bayangan yang condong ke arah elemen sayap kanan dan fasis dalam politik Argentina.&lt;br /&gt;`&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Aksi pertama Severino Di Giovanni dilakukan pada 6 Juni 1925, pada saat berlangsungnya peringatan ke-25 tahun naiknya Victor Emmanuel III ke tahta Italia yang sedang dirayakan di Teatro Colón. Presiden Alvear beserta istri, penyanyi opera Regina Pacini, dan pangeran Luigi Aldrovandi Marescotti—Duta Besar diktator Fasis Italia—hadir pada acara itu. Sejumlah anggota Black Shirt juga disiagakan oleh Marescotti untuk mengantisipasi para perusuh. Ketika orkestra memulai lagu kebangsaan Italia, Giovanni dan kawan-kawannya menyebarkan selebaran, dan meneriakkan, "Pembunuh! Pencuri!" Pada saat itu, anggota Black Shirt bisa menangkap dan menyerahkan mereka kepada polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;CULMINE&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;, SACCO &amp;amp; VANZETTI, DAN PROPAGANDA-DENGAN-TINDAKAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setelah keluar dari penjara, Giovanni ambil bagian dalam protes internasional terhadap penangkapan dan pengadilan Sacco dan Vanzetti, dua orang anarkis yang dikenal sebagai Galleanis. Sacco dan Vanzetti dituduh melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap dua pengawal penggajian. Pada masa itu di Argentina, Giovanni adalah salah satu anarkis yang paling aktif dalam membela kedua orang tersebut yang kebetulan juga sama-sama imigran asal Italia, menulis di berbagai surat kabar, termasuk melalui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Culmine&lt;/span&gt;, surat kabar miliknya sendiri yang didirikan pada Agustus 1925, juga di Adunata dei L'Refrattari yang diterbitkan di New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Culmine&lt;/span&gt; mendorong penggunaan aksi langsung dan propaganda-dengan-tindakan. Di Giovanni mengerjakannya pada malam hari, selain dia juga harus mendukung aktivismenya dan menghidupi keluarganya dengan bekerja di pabrik serta menjadi opseter. Di Giovanni meringkas tujuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Culmine&lt;/span&gt; sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;* Menyebarkan ide-ide anarkis di antara para pekerja asal Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Melawan propaganda pseudo-revolusioner dari partai politik, yang menggunakan ide anti-fasisme palsu sebagai alat untuk memenangkan pemilihan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;* Memulai agitasi anarkis di antara para pekerja asal Italia dan menjaga ide anti-fasisme tetap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Menarik minat para pekerja asal Italia di argentina untuk melakukan protes dan pengambilalihan pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;* Menciptakan kerjasama yang aktif dan berkelanjutan di antara grup-grup anarkis, mitra yang terisolasi dan gerakan anarkis regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada tanggal 16 Mei 1926, hanya beberapa jam setelah dijatuhkannya hukuman mati untuk Sacco dan Vanzetti, Giovanni mengebom kedutaan besar Amerika Serikat di Buenos Aires, yang menghancurkan seluruh bagian depan bangunan. Keesokan harinya, Presiden Alvear memerintahkan polisi melakukan pencarian orang-orang yang dicurigai dalam serangan tersebut. Polisi kemudian meminta bantuan dari Kedutaan Besar Italia untuk mengidentifikasi tersangka. Kedutaan langsung menyerahkan nama Giovanni, yang dianggap telah mengganggu perayaan di Teatro Colón. Dia ditangkap oleh polisi dan disiksa selama 5 hari, namun polisi tidak mendapat informasi apa pun. Giovanni selanjutnya dibebaskan karena kurangnya bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sementara itu, di Massachusetts pembela hukum Sacco dan Vanzetti berhasil menunda pelaksanaan eksekusi sampai 23 Agustus 1927. Gerakan yang mendukung para anarkis Galleanis ini berlanjut menjadi dorongan untuk memberikan pengampunan dan melepaskan keduanya. Pada tanggal 21 Juli 1927, Kedutaan Besar Amerika Serikat menerbitkan sebuah artikel di koran konservatif &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Nación&lt;/span&gt;, yang menggambarkan dua anarkis asal Italia ini sebagai pelanggar hukum yang tak beretika. Keesokan harinya, Giovanni dan dua anarkis lainnya, Alejandro dan Paulino Scarfó, meledakkan patung Washington di Palermo, dan beberapa jam kemudian, sebuah bom meledak di salah satu lahan konsesi yang paling penting dari Ford Motor Company.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dihadapkan dengan bukti keterlibatan anarkis dalam pengeboman itu, pada 15 Agustus 1927, Eduardo Santiago, petugas Polisi Federal yang bertanggung jawab atas penyelidikan, mengklaim bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali dan bahwa tidak ada anarkis di dunia ini yang bisa mengalahkannya. Pada hari berikutnya, rumah Santiago dibom oleh Giovanni dan kelompoknya. Dia beruntung dan tetap hidup karena keluar rumah beberapa menit sebelumnya untuk membeli rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada tanggal 23 Agustus 1927, Sacco dan Vanzetti akhirnya dihukum mati; sebagai respons, 24 jam kemudian diproklamasikan pemogokan umum di Buenos Aires, dan juga di berbagai ibukota negara lain di dunia. Beberapa hari setelah eksekusi, Giovanni menerima surat dari janda mendiang Sacco, yang berterima kasih atas apa yang dilakukannya. Janda mendiang Nicola Sacco pun memberi informasi bahwa direktur perusahaan tembakau Combinados telah mengusulkan padanya sebuah kontrak untuk memproduksi rokok dengan merek "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sacco &amp;amp; Vanzetti&lt;/span&gt;". Pada 26 November 1927, Giovanni dan rekan-rekannya mengebom toko tembakau Combinados milik Bernardo Gurevich di Rivadavia 2279. Giovanni dan rekan-rekannya pun meneruskan kampanye teror anti-Amerika Serikatnya. Markas besar Citibank dan Bank of Boston rusak parah dalam ledakan bom pada 24 Desember 1927, peristiwa ini menewaskan 2 orang dan melukai 23 lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada awal 1928, koran liberal berbahasa Italia di Buenos Aires, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;L'Italia del Popolo&lt;/span&gt;, menyerang Konsul Italia, Italo Capil, sebagai informan dan unsur-unsur pendukung fasis di Kepolisian Federal. Setelah diberitahu bahwa konsul akan mengunjungi kantor konsulat yang baru dengan Duta Besar baru Martin Franklin, Giovanni dan Scarfo bersaudara mengebom konsulat Italia pada 23 Mei 1928 yang menewaskan 9 orang dan melukai 34 lainnya. Pada saat itu, pengeboman konsulat Italia tersebut adalah serangan paling mematikan yang pernah terjadi di Argentina. Para penentang pemerintahan fasis Italia mencatat bahwa pemakaman pegawai konsuler dilangsungkan sesuai dengan "upacara pemakaman fasis", dihadiri oleh para duta besar dan Pangeran Martin Franklin, utusan resmi pemerintahan fasis Italia di Argentina Romualdo Materlli. Tak ketinggalan presiden Alvear serta istrinya Regina Pacini dan Jenderal Agustín P. Justo turut hadir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada hari yang sama, Giovanni mencoba melakukan pengeboman pada perusahaan farmasi milik Benjamín Mastronardi di La Boca. Mastronardi adalah Ketua Komisi fasis La Boca. Namun, bom itu tanpa sengaja bisa dinonaktifkan oleh anak Mastronardi. Setelah berusaha mengebom katedral, Giovanni dicap oleh otoritas Gereja Katolik sebagai "orang yang paling jahat yang pernah berjalan di muka bumi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kecenderungan propaganda-dengan-tindakan yang dilakukan Giovanni memicu perdebatan sengit di dalam komunitas anarkis. Beberapa tokoh anarkis berpendapat bahwa aksi Giovanni adalah tindakan yang kontraproduktif dan hanya akan menghasilkan kudeta militer dan kemenangan bagi kekuatan fasis. Jurnal anarkis seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Protesta&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Antorcha&lt;/span&gt; mengkritik metode aksi-langsung Giovanni dan juga kekerasan yang dianggap tidak pandang bulu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Protesta&lt;/span&gt; dieditori oleh penentang keras Giovanni yang bernama Diego Abad de Santillán yang mengambil garis sikap terang-terangan anti-Di Giovanni. Sikap seorang anarko-sindikalis itu semakin mengeras tatkala pengeboman tanpa pandang bulu Di Giovanni semakin menjadi-jadi. Sementara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Antorcha&lt;/span&gt; lebih samar-samar dalam kritiknya, namun tetap tidak ada surat kabar yang menyukai Giovanni. Kedua surat kabar tersebut juga terlibat saling cela sekali atau beberapa kali dengan kolom yang ada di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Culmine&lt;/span&gt;. Perang kata-kata terus meningkat, hingga pada 25 Oktober 1929 seseorang membunuh Emilio Lopez Arango, salah satu editor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Protesta&lt;/span&gt;. Mula-mula sekelompok tukang roti yang menjadi anggota serikat pekerja yang sama dengan Arango dicurigai sebagai pelaku pembunuhan tetapi tidak pernah ada tuntutan atas itu. Kemudian, meskipun tidak pernah terdapat bukti yang meyakinkan, Giovanni dan rekan-rekannya menjadi tersangka utama dalam pembunuhan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Protesta&lt;/span&gt; lalu mengecam pengeboman konsulat Italia. Kritik itu tidak memberi pengaruh apa-apa. Karena tiga hari setelah pengeboman konsulat Italia, Giovanni menyerang lagi di daerah Caballito, dia melakukan pengeboman di rumah Afeltra César, seorang anggota polisi rahasia Mussolini. Alfeltra banyak dituduh oleh anarkis buangan asal Italia telah melakukan penyiksaan terhadap beberapa anarkis dan kelompok-kelompok radikal anti-fasis di Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada bulan Desember 1928, Presiden Amerika Serikat terpilih Herbert Hoover mengunjungi Argentina. Giovanni pun berencana melakukan pengeboman yang ditujukan ke kereta Hoover sebagai pembalasan dendam atas pelaksanaan eksekusi terhadap Sacco dan Vanzetti, tapi eksekutor pengeboman, Alejandro Scarfó, ditangkap sesaat sebelum menempatkan bahan peledak di rel. Tragedi ini membuat Giovanni menunda kampanye pengebomannya. Untuk sesaat kemudian dia lebih fokus pada jurnal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Culmine&lt;/span&gt;, Pada 1929, ia menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Menghabiskan waktu yang monoton di antara orang-orang pada umumnya, yang menyerah, yang menjadi kolaborator, yang jadi konformis; bukanlah kehidupan, itu cuma tanda keberadaan diri yang membosankan, hanya pembawa, dalam bentuk kemampuan bergerak, dari sekumpulan daging dan tulang. Kehidupan butuh keindahan yang sempurna, yang hanya bisa dialami dengan pemberontakan pikiran dan kedua lengan."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Menyusul peristiwa kudeta militer September 1930, yang menggulingkan Hipólito Yrigoyen, dan digantikan oleh Jenderal José Félix Uriburu dan Agustin P. Justo, Di Giovanni berencana untuk membebaskan koleganya Alejandro Scarfó dari penjara. Memerlukan dana dalam rangka untuk menyuap penjaga penjara, ia menyerang Obras Sanitarias de la Nación pada 2 Oktober 1930, ini menjadi perampokan yang paling penting sampai saat itu di Argentina. Di Giovanni berhasil membawa pergi hasil senilai 286.000 peso. Namun, rencana pembebasan tidak pernah terjadi, dan Alejandro Scarfó tetap dalam penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENANGKAPAN DAN EKSEKUSI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tahun 1927, Di Giovanni meninggalkan istrinya, dan memulai hubungan dengan Amerika Josefina ("Fina") Scarfó seorang gadis berusia lima belas tahun yang juga adik dari Scarfó bersaudara, Alejandro dan Paulino. Sebagai kamuflase, Fina menikahi seorang anarkis bernama Silvio Astolfi hanya agar lebih mudah dan nyaman tinggal bersama Di Giovanni, tapi lalu dengan tiba-tiba dia memutuskan semua kontak dengan keluarganya. Pada awal dekade keji yang diprakarsai oleh kudeta militer, Di Giovanni melewatkan jangka waktu yang lama dalam pengasingan diri, mengerjakan karya-karya lengkap dari Elisée Reclus. Polisi mencoba untuk menangkapnya di sebuah toko percetakan, tapi Di Giovanni berhasil melarikan diri dengan diwarnai baku tembak yang menyebabkan satu polisi tewas dan seorang lainnya luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bulan Januari 1931, Di Giovanni ditangkap setelah terluka parah akibat baku tembak yang lain. Fina dan Paulino Scarfó juga tertangkap bersamanya, dua anarkis lainnya tewas dalam pertempuran itu. Di Giovanni kemudian menyatakan bahwa sekitar 300 ayam yang ditemukan di rumah mereka harus diberikan kepada orang miskin di kota Burzaco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Junta militer menyatakan penangkapan tersebut sebagai kemenangan rezim yang baru dan mereka segera mengadakan pengadilan militer. Di Giovanni dibela oleh pengacara kompeten yang ditunjuknya, Letnan Juan Carlos Franco, yang menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan sistem peradilan dan menuduh bahwa Di Giovanni telah disiksa oleh polisi. Semangat Letnan Franco dalam membela kliennya menyebabkan dirinya sendiri kemudian ditangkap setelah sidang. Kemudian ia dipecat dari jajaran pasukan bersenjata dan dipenjarakan sebentar sebelum dideportasi dari Argentina. Semua usaha itu tetap tidak membuahkan hasil, bukti-bukti yang dipakai melawan Di Giovanni terlalu nyata, baik dia dan Paulino Scarfó kemudian dijatuhi dihukum mati; sementara Fina, karena masih di bawah umur akhirnya dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dalam pamflet politik terakhirnya, yang ditulis setelah pasukan pemerintah membunuh para pekerja yang sedang berparade dalam prosesi pemakaman bagi mereka yang tewas dalam serangan kekerasan, Giovannni menulis, "Hati-hati, Uriburu (José Félix Uriburu, diktator Argentina) dan para pembunuh suruhannya; peluru kami akan mencari tubuh kalian... borjuis, industrialis, bankir, dan pemilik tanah, hati-hati... harta dan hidupmu akan dihancurkan dan dibakar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Beberapa jam sebelum kematiannya, Giovanni minta kopi manis untuk dibawa ke selnya. Setelah mencicipinya, dia mengembalikan kopi itu. Sambil bercanda Giovanni berkata, "Aku mau yang lebih banyak gulanya... ah sudahlah, mungkin lain kali saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Severino Di Giovanni dieksekusi oleh regu tembak pada tanggal 1 Februari 1931. Di Giovanni meneriakkan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Viva l'Anarchia!&lt;/span&gt;" (Panjang umur anarki!) sebelum diterjang sedikitnya delapan peluru 7.65mm senapan Mauser. Setelah bertukar perpisahan terakhir, Paulino Scarfó juga dieksekusi. Jenazah Di Giovanni secara rahasia dimakamkan atas perintah Menteri Dalam Negeri Matías Sánchez Sorondo, di La Chacarita. Meskipun sudah dilakukan tindakan pencegahan ini, hari berikutnya tanpa diketahui dilakukan oleh siapa, makam Di Giovanni telah berhiaskan bunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KETERANGAN TAMBAHAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setelah eksekusi Di Giovanni, Fina meninggalkan suaminya, Silvio Astolfi, sebelum akhirnya menikah lagi dan menetap dalam kehidupan yang tenang di Buenos Aires. Setelah menjalani hukuman penjara yang panjang, Silvio Astolfi kembali ke Eropa dan melanjutkan aksi-aksi anti-fasisnya, dia kemudian meninggal selama perang saudara di Spanyol. Pada tanggal 28 Juli 1999, Fina Scarfó mendapatkan kembali surat cinta dari Di Giovanni yang telah dikirim padanya dari penjara, yang selama satu dekade sebelumnya disita oleh polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Teresa Masciulli, istri Giovanni, juga menikah lagi; anak-anak Di Giovanni dari Teresa akhirnya berganti nama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Alejandro Scarfó, setelah menjalani hukuman penjara untuk percobaan pembunuhan Presiden Hoover, dibebaskan dari penjara pada tahun 1935. Ditinggalkan oleh keluarganya dan bahkan oleh tunangannya, ia pergi menghilang ke dalam kegelapan, kepedihan dan kebencian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-7400798678055793013?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/7400798678055793013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=7400798678055793013' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/7400798678055793013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/7400798678055793013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2010/12/panjangumur-anarki.html' title='PANJANGUMUR ANARKI!'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TRQ6JyZp8KI/AAAAAAAAAX8/CfVzEJmBXoE/s72-c/di%2Bgiovanni%2B%255B640x480%255D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-6058452786629872854</id><published>2010-12-03T12:08:00.000-08:00</published><updated>2011-03-31T22:31:00.122-07:00</updated><title type='text'>INTELEJENSIA SWARM*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-PLWEjh89JOc/TZVi-tY6pOI/AAAAAAAAAZo/AcVebSR1sGM/s1600/8eb4035acd362f34.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PLWEjh89JOc/TZVi-tY6pOI/AAAAAAAAAZo/AcVebSR1sGM/s400/8eb4035acd362f34.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590483341925852386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bagaimana aksi individual berpengaruh pada perilaku yang kompleks dari sebuah kelompok? Bagaimana ratusan lebah madu membuat keputusan tentang sarang mereka apabila sebagian dari mereka tak sepakat? Apa yang membuat sekelompok besar ikan herring mengoordinasikan gerakan mereka dengan tepat sehingga mampu mendadak bersamaan berkelok hanya dalam waktu sepersekian detik, seakan kelompok tersebut hanyalah sebuah organisme tunggal? Kemampuan kolektif beberapa binatang–tampak menakjubkan bahkan bagi para ahli biologi yang lebih dekat mengenal mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Perilaku individu yang bergerak bersamaan dalam jumlah banyak tapi tanpa koordinasi terpusat (swarm) adalah sebuah topik yang sedang menjadi hip saat para pengamat berusaha untuk memahami gerakan para perusuh di Perancis dalam dekade terakhir ini. Penggunaan SMS misalnya, salah satu inovasi teknologi yang mengarah pada berkembangnya "gerombolan yang pintar" yang diaplikasikan oleh para perusuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tetapi intelijensi swarm, tidak hanya sebuah cara untuk mengoordinasikan pertempuran jalanan, adalah sebuah topik penelitian yang kaya yang sebaiknya didalami oleh para anarkis. Poin pentingnya, adalah karena gerak yang terdiri dari beberapa atau banyak proyek yang begitu kompleks dapat berkoordinasi tanpa memerlukan otoritas sentral. Hal tersebut juga merupakan sesuatu yang didambakan oleh para anarkis. Peter Kropotkin, seorang anarkis jaman lalu, telah memulai penelitian mengenai perilaku tersebut tentang peran mutual-aid dalam proses evolusi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, para ahli biologi dan ilmuwan komputer (termasuk militer) juga tertarik pada intelijensi swarm ini, dan riset mereka membantu menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan penting yang dibuat oleh sekelompok binatang yang berjumlah ribuan, bahkan saat beberapa dari mereka tak sepakat. Itulah keindahan intelijensi swarm. Baik kita berbicara mengenai semut, lebah, bebek, manusia, komposisi perilaku kelompok yang cerdas–kontrol desentral, respon terhadap informasi lokal, aturan simpel–berperan penting dalam penentuan strategi untuk berurusan dengan sesuatu yang teramat kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset-riset yang ada, kini mengarah pada kesimpulan lain: kerumunan cenderung menjadi bijak hanya apabila individu-individu di dalamnya beraksi dengan responsif dan mampu membuat keputusannya sendiri. Sebuah kelompok tidak akan pernah menjadi kuat dan pintar apabila tiap anggota kelompoknya hanya saling mengimitasi, hanya mampu mentaati perintah, atau menunggu seseorang menyuruh mereka melakukan sesuatu. Saat sebuah kelompok menjadi kuat dan cerdas, entah itu kelompok semut ataupun kelompok manusia, kelompok tersebut bergantung pada tiap-tiap anggotanya untuk mampu melakukan bagiannya dengan tepat. Dengan demikian jelas bahwa kesimpulan tersebut tidak hanya dapat diaplikasikan dalam momen kerusuhan. Apabila kita terbiasa bergerak sebagai sebuah kelompok yang terdiri dari individu-individu dan bukan sekedar massa, maka kekuatan itulah yang juga akan mendefinisikan kelompok kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kelompok binatang, mampu melakukan hal-hal menakjubkan, dari membangun tempat tinggal yang kompleks, hingga menghindari predator yang dapat bergerak cepat dalam momen-momen yang tepat. Mereka melakukannya dengan bergantung pada sensitivitas masing-masingnya atas informasi lokal, pola komunikasi langsung yang dapat diandalkan dan kemampuan individu-individu di dalamnya dalam merespon secara simultan terhadap apapun yang berpengaruh pada kepentingan kelompoknya tapi dengan tetap menjaga perilaku universal kelompoknya tersebut. Beberapa strategi tampaknya memang sederhana dan jelas (hingga tak pelak lagi beberapa individu akan berkata, "Memang ini yang selama ini kami lakukan kok!"), tapi hasilnya jelas kompleks dan sangat efektif. Intelijensi swarm tidak membutuhkan semua individu untuk berpikir serupa atau bahkan sama, intelijensi ini justru merupakan sebuah fakta tentang pola pengambilan keputusan yang memang tak biasa kita kenal. Mengadopsi strategi tersebut jelas akan sangat menguntungkan bagi sebuah kelompok desentral, baik bagi binatang, atau bahkan apabila mampu, bagi kita manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;[*] Swarm: (bahasa Inggris) gerakan sekelompok besar individu (baik itu binatang ataupun manusia), bergerak dengan cepat dan dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anti-Massa: Metoda-Metoda Berorganisasi Bagi Kolektif-Kolektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penelitian yang dilaporkan oleh New York (http://www.nytimes.com/2007/11/13/science/13traff.html?pagewanted=2&amp;amp;_r)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tentang penelitian yang dilakukan oleh Kropotin (http://info.interactivist.net/node/1121)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-6058452786629872854?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/6058452786629872854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=6058452786629872854' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/6058452786629872854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/6058452786629872854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2010/12/intelejensia-swarm.html' title='INTELEJENSIA SWARM*'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PLWEjh89JOc/TZVi-tY6pOI/AAAAAAAAAZo/AcVebSR1sGM/s72-c/8eb4035acd362f34.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-3591849752519755657</id><published>2010-12-03T11:14:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T17:39:19.852-08:00</updated><title type='text'>TENTANG KEMISKINAN HIDUP MAHASISWA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TQV5LFQN8xI/AAAAAAAAAXM/atxdzvMEyOA/s1600/demo-mahasiswa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 272px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TQV5LFQN8xI/AAAAAAAAAXM/atxdzvMEyOA/s400/demo-mahasiswa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549975347099726610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;DIPERTIMBANGKAN DALAM SEGI EKONOMI, POLITIK, PSIKOLOGI, SEKSUAL DAN KHUSUSNYA ASPEK INTELEKTUAL, DENGAN SEBUAH PROPOSAL SEDERHANA UNTUK MENGOBATINYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mustapha Khayati (Situationist International) dan mahasiswa-mahasiswa di Strasbourg, November 1966&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;BAB I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;UNTUK MEMBUAT SESUATU YANG MEMALUKAN MENJADI LEBIH MEMALUKAN LAGI ADALAH DENGAN CARA MEMPUBLIKASIKANNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adalah suatu hal yang cukup aman untuk berkata bahwa mahasiswa adalah makhluk paling dianggap remeh di Perancis, disamping polisi dan pendeta. Tapi alasan-alasan tentang kenapa ia menjadi dianggap rendah seringkali merupakan sebuah alasan palsu yang hanya merefleksikan ideologi dominan, yang mana alasan-alasan di mana ia benar-benar dianggap remeh dari sudut pandang revolusioner tetap disembunyikan dan tersimpan rapat-rapat. Para partisan yang berasal dari oposisi palsu, bagaimanapun juga, sebenarnya menyadari kesalahan ini—kesalahan yang sebenarnya justru mereka lakukan sendiri. Mereka menjungkir-balikkan kejijikan mereka yang sesungguhnya menjadi sebuah puji-pujian terhadap patron-patron tertentu. Lantas intelelejensia orang-orang Kiri yang impoten justru bergembira dengan adanya “kebangkitan mahasiswa”, dan pembusukkan organisasi-organisasi birokratis (seperti Partai Komunis) yang dicemburui atas dukungan “moral dan material”nya. Kami akan memperlihatkan alasan-alasan dengan fokus pada mahasiswa dan tentang bagaimana masalah mereka berakar dari kenyataan dominan dari situasi kapitalisme yang sangat mapan. Kami akan menggunakan pamflet ini untuk mencela mereka satu persatu: untuk menghajar alienasi diperlukan tindakan yang serupa dengan pengalienasian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hingga kini semua analisa dan studi tentang kehidupan mahasiswa telah melupakan isu-isu esensialnya. Tak ada satupun dari hal tersebut yang berhasil keluar dari sudut pandang spesialisasi akademis (psikologi, sosiologi, ekonomi) dan dengan demikian maka semuanya secara fundamental akan tetap merupakan sebuah error. Sudah sejak lama Fourrier mengekspos tentang hal ini sebagai “methodical myopia” yaitu suatu metode yang memperlakukan pertanyaan-pertanyaan fundamental tanpa melihat relasinya dengan keadaan pada saat ini dalam masyarakat secara keseluruhan. Kecenderungan pemujaan terhadap fakta-fakta justru menopengi kategori paling mendasar dan kategori-kategori yang esensial sehingga seseorang tak dapat lagi melihat totalitas atas seluruh detail yang ada. Segala sesuatu tentang tatanan masyarakat ini telah dibahas, kecuali tentang apa sesungguhnya tatanan masyarakatnya sendiri: sebuah masyarakat yang didominasi oleh komoditi dan spectacle. Para sosiolog, Bourderon dan Passedieu, dalam studinya berjudul Les Héritiers: les étudiants at laculture, tetap impoten dalam menghadapi beberapa kebenaran parsial yang mau tak mau harus mereka demonstrasikan dengan berhasil. Demi maksud baik, mereka justru telah jatuh kembali ke dalam moralitas professorial, etika Kantian yang tak terelakkan dalam sebuah demokratisasi sesungguhnya melalui sebuah rasionalisasi nyata dalam sistem pendidikan—itu dia, sistem pendidikan; saat murid-murid mereka, para pengikut Kravetz , mengimbanginya malah justru dengan kebencian birokratik kelas menengah yang dikembangkan melalui fraseologi revolusioner yang sudah ketinggalan jaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Reifikasi dari spektakularisasi  kapitalisme modern memberi setiap orang sebuah peran yang spesifik dalam sebuah kepasifan umum, tidak terkecuali para mahasiswa. Bagi mereka, itu adalah sebuah peran sementara, sebuah latihan bagi peran utama mereka di kemudian hari sebagai sebuah elemen konservatif yang memfungsikan sistem komoditi. Menjadi mahasiswa hanyalah sebagai sebuah bentuk inisiasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Inisiasi ini secara magis mengikhtiarkan kembali seluruh karakteristik inisiasi mistis. Hal itu membuat mahasiswa tetap terpotong dari kenyataan historis, sosial dan individual. Mahasiswa menjalani dua kehidupan, terposisikan di antara status saat ini dengan status masa depan yang terpisah, yang pada suatu saat akan ditolaknya dengan kasar. Sementara ini, kesadaran schizofrenik mereka membuat diri mereka terlepas dari “kelompok inisiasinya sendiri”, melupakan masa depan dan bersenang-senang dalam keadaan tak sadarkan diri yang sangat mistis, yang merupakan tempat mereka berlindung dari sejarah. Hal ini tidaklah mengherankan saat melihat bagaimana mereka menolak menghadapi situasi mereka sendiri, terutama pada aspek ekonomi.  Dalam “masyarakat yang telah makmur”, mereka tetaplah makhluk yang miskin. Lebih dari 80% mahasiswa datang dari kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan sedikit lebih di atas kelas pekerja, sementara 90% dari mereka sendiri memiliki uang jauh lebih rendah dari yang dimiliki rata-rata para pekerja. Kemiskinan mahasiswa adalah sebuah bentuk anakronisme dalam masyarakat spectacle: belum lagi kemiskinan baru yang akan dihadapi para mahasiswa dalam kehidupan proletariat yang menunggu mereka. Dalam periode di mana semakin banyak anak-anak muda yang semakin berusaha membebaskan diri dari prasangka moral dan otoritas keluarga, sebagaimana yang mereka jadikan subyek secara blak-blakan, secara terang-terangan mengeksploitasi masa muda mereka, mahasiswa justru berpegang teguh pada sikapnya yang tak bertanggung jawab dan larut pada sikap kekanak-kanakkan mereka yang berlarut-larut. Krisis remaja yang datang terlambat cenderung menjauhkan mereka dari keluarga, tapi mereka justru tanpa mengeluh menerima diperlakukan seperti seorang bayi saat berbagai institusi mengendalikan kehidupan sehari-hari mereka. (Apabila institusi-institusi tersebut sekali waktu berhenti mengencingi wajah para mahasiswa tersebut, hal tersebut justru membuat para mahasiswa merasa terganggu).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemiskinan mahasiswa adalah ekspresi terjelas dari kolonisasi segala aspek praktik-praktik sosial. Merupakan proyeksi dari segala rasa bersalah masyarakat, yang kemudian menopengi mahasiswa dari kenyataan kemiskinan dan penghambaan yang dialami setiap orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi kejijikan kami terhadap mahasiswa berdasarkan pada alasan-alasan yang cukup berbeda. Mahasiswa menjadi menjijikan bukan hanya karena kemiskinan mereka, tetapi juga karena kepuasan diri mereka sendiri atas segala bentuk kemiskinan, kecenderungan mereka yang tak sehat untuk berkubang dalam alienasi diri mereka sendiri, berharap hal tersebut akan menjadi menarik di tengah ketidak-menarikkan mereka. Kebutuhan kapitalisme modern menentukan bahwa kebanyakan mahasiswa akan menjadi sekedar kader-kader rendahan (dengan mengatakan bahwa mereka memiliki sebuah fungsi yang sama dengan para pekerja yang berskill di abad ke-19) . Berhadapan dengan kemiskinan yang terang-terangan dan sudah di depan mata, yang menjadi “kompensasi” bagi kemiskinan mereka saat ini yang sangat memalukan, para mahasiswa memilih untuk bergerak melampaui apa yang mereka dapatkan dan mendekorasinya dengan ilusi-ilusi yang glamor. Sayangnya, kompensasi utama mereka adalah justru dengan melihat melampaui hal-hal di atas: masa depan, yang sebenarnya sama suramnya dan tetap begitu-begitu saja sebagaimana hari-hari mereka kemarin. Maka mereka memilih untuk menjadi seorang pengungsi ke dalam kehidupan mereka saat ini yang tidak nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mahasiswa adalah budak-budak yang sabar: di mana semakin banyak rantai otoritas mengikat mereka, semakin mereka merasa bebas. Seperti juga keluarga baru mereka, universitas, mereka menganggap diri mereka sebagai makhluk yang paling “independen”, di mana pada kenyataannya mereka secara langsung dan sukarela bersikap patuh pada dua sistem otoritas sosial yang terkuat: keluarga dan negara. Mahasiswa adalah anak yang patuh dan penurut. Mengikuti logika anak penurut, mereka membagi segala nilai-nilai dan mistifikasi sistem, serta mengkonsentrasikannya ke dalam diri mereka sendiri. Ilusi-ilusi yang sebenarnya diperuntukkan bagi pencekokkan para pekerja kerah putih sekarang justru dengan sukarela diinternalisasikan dan ditransmisikan oleh dan bagi calon kader-kader rendahan di masa datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jika kemiskinan sosial masa lampau memproduksi sistem-sistem yang menakjubkan sebagai kompensasi dari sejarah (agama-agama), mahasiswa dalam kemiskinannya yang terpinggirkan, tak dapat menemukan pelipur laranya selain imaji-imaji paling usang dari kelas borjuis, ejekan-ejekan yang merupakan pengulangan dari segala produk yang teralienasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebagai makhluk yang ideologis, mahasiswa Perancis selalu hadir terlambat. Segala nilai dan antusiasme yang merupakan kebanggaan dunia mereka yang sempit, telah sejak lama dikutuk oleh sejarah sebagai sesuatu yang menggelikan dan ilusi-ilusi yang tak tertahankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dahulu kala, universitas memiliki sebuah prestise khusus; mahasiswa menjadi yakin bahwa mereka beruntung karena diterima di sana. Tapi mereka sangat terlambat. Pendidikan mekanikal dan spesialisasi telah mengalami degradasi yang parah (dalam kaitannya dengan tingkat kultur borjuis secara umum)  sebagaimana juga tingkat intelektualitasnya, karena sistem ekonomi modern menuntut mahasiswa-mahasiswa yang diproduksi secara massal, yang telah dibuat sehingga tak mampu lagi berpikir. Universitas menjadi sebuah organisasi pembodohan yang institusional; “kultur tinggi” sendiri telah didegradasikan dalam ban berjalan di pabrik-pabik untuk mencetak profesor. Tetapi para mahasiswa tidak sadar akan hal ini; mereka tetap mendengarkan dosen-dosennya dengan penuh respek, dengan sungguh-sungguh meniadakan segala semangat kritis yang dengan demikian membenamkan diri mereka ke dalam ilusi mistis tentang menjadi seorang “mahasiswa”, seseorang yang dengan sangat serius menekuni hal-hal yang juga serius, dengan harapan bahwa profesor mereka pada akhirnya akan memberikan kebenaran sejati dunia pada mereka. Hingga saat tersebut menjadi sebuah menopause bagi semangat-semangat yang pernah ada. Masyarakat revolusioner masa depan secara alamiah akan mengutuk segala ruang-ruang ceramah dan kelas-kelas sebagai sesuatu yang berisik, polusi verbal. Mahasiswa akan menjadi sebuah lelucon yang paling buruk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mahasiswa tidak menyadari bahwa sejarah mengubah juga dunia kecil mereka yang “tertutup”. “Krisis universitas” yang terkenal, menjelaskan dengan detail tentang kapitalisme modern yang dalam keadaan lebih krisis lagi, tetapi tetap menjadi sekedar obyek dari dialog bisu-tuli antar berbagai spesialis. Hal tersebut mengekspresikan kesulitan-kesulitan dari sektor-sektor industri dalam usahanya yang sudah terlambat untuk memperbaiki seluruh transformasi aparatus produktif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sisa-sisa ideologi universitas borjuis liberal yang sudah ketinggalan jaman menjadi dangkal berbarengan dengan lenyapnya dasar-dasar sosialnya. Selama era pasar bebasnya kapitalisme, saat negara liberal meninggalkan sedikit saja kebebasan yang tersisa untuk universitas, universitas malah mengimajinasikannya sebagai sebuah kekuatan independen. Tapi bahkan kemudian saat universitas terikat secara intim pada tipikal kebutuhan masyarakat saat ini: dengan catatan bahwa kebutuhan tersebut untuk memberikan privilase bagi kaum minoritas sebuah pendidikan umum yang memadai, sebelum mereka ini mengambil posisinya dalam kelas yang berkuasa. Hal-hal tersebut adalah hasil kekonyolan para profesor yang nostalgis , yang sakit hati karena kehilangan fungsi utama mereka sebagai anjing penjaga yang melayani kepentingan majikan masa depannya, saat fungsi mereka kemudian menjadi lebih rendah yaitu sebagai anjing penggembala yang bertugas menggembalakan jemaat kerah putih ke arah pabrik-pabrik dan kantor-kantor yang penuh respek, sesuai dengan kebutuhan ekonomi yang telah direncanakan. Profesor-profesor tersebut memegang pendapat-pendapat tolol mereka sebagai sebuah alternatif atas teknokratisasi universitas dan kesinambungan yang tak dapat diganggu gugat untuk kemudian menyediakan sisa-sisa kultur “umum” bagi audien-audien spesialis masa datang yang tidak akan pernah tahu bagaimana cara menggunakan kemampuan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yang lebih serius dan jelas lebih berbahaya adalah para modernis Kiri dan mereka yang dipimpin oleh UNEF dengan para ekstrimis FGEL-nya, yang menuntut sebuah “reformasi struktur universitas” atas “reintegrasi universitas ke dalam kehidupan sosial ekonomi”, atau bisa dikatakan sebagai sebuah tuntutan untuk reformasi atas adaptasi universitas terhadap kebutuhan kapitalisme modern. Berbagai fakultas dan sekolah yang pernah menyuplai “kultur umum” kepada kelas yang berkuasa, walaupun masih mempertahankan beberapa prestise anakronistisnya, kini telah tertransformasikan menjadi pabrik yang bertugas menyuap dengan paksa ideologi demi akselerasi garis belakang kader-kader tengah dan rendahan. Jauh dari keikutsertaan dalam proses historis ini, yang mensubordinasikan satu dari beberapa sektor kehidupan sosial yang masih relatif otonom demi tuntutan sistem komoditi, protes yang progresif melawan keterlambatan dan ketidakefisienan dalam pemenuhannya. Mereka adalah para partisan dari universitas cybernetik masa depan, yang telah muncul di sana sini . Sistem komoditi dan pelayan-pelayan modernnya—merekalah musuh yang sesungguhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi seluruh perjuangan tersebut secara alamiah telah berada dalam kepala setiap mahasiswa, di suatu tempat di antara dunia surgawi para master mereka. Keseluruhan hidup para mahasiswa tersebut berada di luar kontrol mereka sendiri, seluruh hidup berada di luar jangkauan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dikarenakan kemiskinan ekonomi yang sangat akut, mahasiswa dikutuk untuk selalu melakukan tindak survival yang rendahan. Tetapi selalu membuat diri mereka bangga, mereka juga memparadekan kefakir miskinannya yang sangat biasa-biasa seakan-akan hal tersebut adalah sebuah “gaya hidup” yang orisinil: mereka membuat  pembenaran kebaikan dari kegembelannya dan berpura-pura menjadi seorang bohemian. “Bohemianisme” tersebut sangat jauh dari solusi atas masalah apapun, selain pada intinya yang jelas-jelas konyol, mereka menyataan bahwa seseorang dapat hidup dengan gaya hidup bohemian tanpa perlu sebuah pemutusan hubungan yang definitif dan kompit dengan lingkungan pergaulan universitas. Tetapi bohemianisme mahasiswa (dan semua mahasiswa yang merasa bahwa mereka adalah seorang bohemian di hati mereka) sangat tergantung pada versi imitatif dan terdegradasi dari bohemianisme itu sendiri, yang dalam banyak kasus, hanya sebuah solusi individual yang biasa-biasa saja. Bahkan perempuan-perempuan tua yang hidup di pinggiran lebih banyak tahu tentang hidup daripada diri mereka. Mahasiswa tersebut sangat “tidak konvensional” sehingga selama tigapuluh tahun setelah Wilhelm Reich , seorang pendidik kaum muda yang sangat menarik, mereka masih juga mengikuti bentuk-bentuk tradisional dalam kebiasaan percintaan yang erotis, mereproduksi relasi umum dalam relasi interseksual yang terdapat dalam masyarakat yang masih terbagi atas kelas-kelas sosial. Kegampangan para mahasiswa untuk direkrut sebagai seorang militan dalam berbagai kasus adalah sesuatu yang cukup mendemonstrasikan keimpotenan mereka yang sesungguhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di samping ada tidaknya waktu yang dapat digunakan oleh para mahasiswa dalam batas kebebasan individual yang diperbolehkan oleh spectacle totalitarian, mahasiswa menghindar untuk berpetualang dan bereksperimen, serta lebih memilih untuk merasa aman—walaupun hal tersebut merupakan rantai yang mengikat mereka—dalam ruang dan waktu yang telah diorganisir demi kepentingan para penjaga sistem. Walaupun tidak terang-terangan memisahkan antara waktu kerja dan waktu senggang, mahasiswa justru melakukannya dalam pandangannya sendiri, saat dengan munafik mereka memproklamirkan kejijikan mereka terhadap “musuh mahasiswa”. Mereka menerima setiap pemisahan dengan kehadiran mereka dalam klub-klub keagamaan, olah raga, atau klub yang berbau politik, untuk meratapi ketiadaan komunikasi. Saking bodoh dan menyedihkannya, mereka dengan sukarela mendaftarkan diri pada University Psychological Aid Centers (BAPU), yaitu agensi-agensi polisi yang mengontrol mahasiswa secara psikologis, yang dikembangkan oleh para penindas modern yang avant-garde dan secara alamiah malah dirayakan sebagai sebuah kemenangan besar bagi serikat-serikat pelajar .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi kemiskinan kehidupan sehari-hari mahasiswa yang sesungguhnya justru ditemukan di dekat mereka sendiri, sebuah kompensasi fantastis dalam opium komoditi kultural. Dalam kultur yang hanya merupakan spectacle, mahasiswa menemukan tempat alamiah mereka sebagai seorang murid yang patut direspek. Walaupun sudah sedemikian dekat dengan titik produksi, akses kepada tempat-tempat suci kebudayaan tetap ditutup bagi mereka; maka mereka menemukan “kultur modern” sebagai seorang pemerhati yang setia. Dalam era di mana seni telah mati mahasiswa tetap menjadi pematron yang loyal pada teater-teater dan klub-klub film dan sebagai konsumer yang paling keranjingan terhadap rongsokan-rongsokan dari bangkai awetan yang dikemas menawan dan didisplay di supermarket-supermarket, yang sebenarnya diperuntukkan bagi ibu-ibu rumah tangga yang kaya raya. Mengkonsumsi dengan tak terbendung dan tak dapat dikritik, adalah salah satu elemen yang tak terpisahkan dari mahasiswa. Apabila “pusat-pusat kebudayaan” tidak eksis, maka para mahasiswalah yang akan mempeloporinya. Mereka adalah bukti hidup dari segala kekosongan riset pasar Amerika: konsumer yang sangat menyolok, lengkap dengan penyikapan mereka yang berbeda tapi cenderung artifisial terhadap produk-produk yang sangat identik dengan ketololan mereka, dengan pilihan-pilihan irasional terhadap merk X (Pérec atau Godard, sebagai contohnya) dan sebuah prasangka yang juga irasional terhadap  merk Y (Robbe-Grillet atau Lelouch, mungkin).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dan ketika “tuhan-tuhan” mereka yang memproduksi dan mengorganisir spectacle kultural bagi mereka mengambil alih bentuk manusia dari panggung pertunjukan, para mahasiswa tetap ada di barisan penonton, seorang penonton yang sempurna. Mahasiswa berubah menjadi massa dalam pameran-pameran mereka yang sangat aneh. Saat para pendeta dari gereja-gereja yang berbeda merepresentasikan dialog-dialognya yang mengawang-awang (seminar pemikiran “Marxis”, konferensi intelektual Khatolik) atau saat reruntuhan literer hadir bersamaan untuk memberanikan mahasiswa agar melihat pada keimpotenan diri mereka sendiri (lima ribu mahasiswa hadir dalam sebuah forum “Apa Kemungkinan Yang Tersedia Bagi Dunia Literatur?”), siapa selain para mahasiswa yang hadir di ruang-ruang tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Atas ketidakmampuan mereka atas hasrat yang sesungguhnya, para mahasiswa mencari rangsangan ke dalam polemik-polemik yang tak bergairah di antara para selebritis yang sama sekali tak intelek: Althusser—Garaudy—Sartre—Barthes—Picard—Levebvre—LevisStrauss—Halliday—Châtelet—Antoine... dan di antara rival-rival ideologis mereka yang berfungsi untuk menopengi masalah-masalah sesungguhnya dengan cara memperpanjang lebarkan masalah-masalah palsu seperti: Humanisme—Eksistensialisme—Cybernetikisme—Planéteisme—Metafilosofisme...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mahasiswa berpikir bahwa dirinya adalah seorang avant-garde saat mereka telah memperhatikan karya terbaru Godard, atau telah membeli buku terbaru Argumentist , atau berpartisipasi dalam sebuah happening yang diorganisir oleh Lapassade, si manusia brengsek itu. Mahasiswa menemukan bahwa perjalanan paling mutakhir adalah sesuatu yang diproduksi oleh pasar sebagai versi perpanjangan tangan dari petualangan (walaupun hal itu jelas sudah ketinggalan jaman); dan dalam ketidakpeduliannya mereka mengambil semua pengulangan-pengulangan untuk sebuah revolusi kultural. Fokus utama mereka yang prinsipil selalu saja untuk mempertahankan status kulturalnya. Mereka berbangga hati dengan membeli, seperti juga yang terjadi di mana-mana, buku-buku yang merupakan cetak ulang dari teks-teks yang penting dan sulit dimengerti yang disebarkan oleh “kultur massa” dengan sangat cepat . Sayangnya mereka tidak tahu bagaimana cara membacanya. Mereka mengambil manfaat darinya hanya dengan cara memandang buku-buku tersebut penuh kekaguman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bacaan favorit para mahasiswa adalah koran-koran yang secara khusus mempromosikan pengkonsumsian hal-hal baru dengan penuh gairah; mereka dengan patuh menerima pernyataan-pernyataan di dalamnya sebagai penuntun selera mereka. Mereka menggemari L’Express atau Le Nouvel Observateur, atau mungkin mereka lebih memilih Le Monde, yang mereka rasa sebagai koran yang sangat akurat dan benar-benar “obyektif”, walaupun mereka tetap berpikir bahwa gaya penulisannya dalam beberapa hal terlalu sulit. Untuk memperdalam pengetahuan umumnya, mereka beralih pada Planéte, majalah cerdik dan menakjubkan yang menggeser gagasan-gagasan dan noda-noda hitam ide-ide lama. Dengan beberapa petunjuk, mereka berharap untuk memperoleh pengertian tentang dunia modern dan menjadi sadar politik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di Perancis, lebih daripada di manapun juga, para mahasiswa cenderung dipolitisir. Tetapi partisipasi politis mereka termediasikan oleh spectacle yang sama. Jadi mereka menggenggam seluruh ampas dari puing-puing Kiri yang telah dihajar lebih dari empat puluh tahun yang lalu oleh reformisme “sosialis” dan kontra-revolusinya Stalinis. Para pemimpin kaum Kiri tersebut telah sangat sadar walaupun dengan agak membingungkan, bahwa gerakan pekerja telah mengalami kekalahan, yang dengan demikian juga berarti merupakan kekalahan para pekerja itu sendiri. Tetapi para mahasiswa tetap tidak peduli pada hal tersebut, dan tetap terus berpartisipasi secara sembarangan dalam demonstrasi-demonstrasi yang paling menggelikan, yang tak pernah dapat berhasil menarik siapapun untuk terlibat di dalamnya kecuali para mahasiswa sendiri. Ini adalah kesadaran politik yang palsu dalam titik terdalamnya, sebuah fakta yang membuat universitas menjadi ladang perburuan yang menggembirakan bagi para manipulator dari organisasi-organisasi birokratis yang sebenarnya telah sekarat (dari partai “Komunis” hingga UNEF). Dengan cara yang totalitarian para birokrat tersebut memprogram opsi-opsi politik bagi para mahasiswa. Kadang terdapat beberapa kecenderungan penyimpangan dan impuls-impuls “independensi” yang kecil, tetapi setelah melalui sebuah periode tertentu, tanda-tanda perlawanan para pembangkang tersebut diinkorporasikan kembali ke dalam sebuah aturan yang secara fundamental tak pernah mereka pertanyakan . Kelompok “Revolutionary Communist Youth”, yang namanya sendiri merupakan sebuah kasus pendistorsian yang akut (mereka bukanlah kelompok revolusioner, bukan komunis, bahkan juga bukan kelompok pemuda), berbangga hati dengan sikap pemberontakannya terhadap Partai, kemudian mengambil posisi di samping Paus dengan seruannya untuk menciptakan “Perdamaian di Vietnam”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para mahasiswa berbangga hati dalam sikap oposisinya terhadap “pernyataan-pernyataan kuno” rezim de Gaulle, tetapi mereka melakukan hal ini dengan ketidakmengertiannya beralih pada kejahatan yang lebih tua lagi (seperti misalnya pada Stalinisme dalam era Togliatti, Garaudy, Khruschev dan Mao). Sikap-sikap “muda” para mahasiswa jadinya hanya benar-benar lebih kuno daripada rezim yang ditentangnya sendiri—para Gaullis setidaknya telah memahami dengan baik masyarakat modern ini untuk dapat menjalankan pemerintahannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi ini semua bukanlah satu-satunya kekunoan para mahasiswa. Mereka merasa memiliki kewajiban pada ide-ide umum tentang segala sesuatu, hingga pandangan logis atas dunia yang mengawang-awang yang memungkinkan mereka untuk meminjam arti bagi kebutuhan mereka akan aktifitas yang membuat tertekan dan persetubuhan aseksual. Mereka bergegas dengan gairah atavistik, mencintai bangkai Tuhan yang telah membusuk dan merayakan semua sisa-sisa yang masih tertinggal dari agama-agama prehistorik dengan keyakinan bahwa hal-hal tersebut dapat memperkaya diri mereka dan masanya. Bersamaan dengan para perempuan tua di daerah pinggiran, para mahasiswa membentuk kategori sosial dengan presentase tertinggi dalam tingkat kefanatikan atas agama mereka. Di manapun juga para pendeta diledek atau dipukuli, tetapi para klerik di universitas secara terbuka melanjutkan perampokan atas ribuan mahasiswa dalam rumah brengsek spiritualnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kita harus menambahkan bahwa ada juga para mahasiswa yang tingkat intelektualitasnya dapat ditolerir. Tetapi mereka di kemudian hari dengan mudah memposisikan diri dalam aturan-aturan yang menyedihkan, yang didesain untuk mengontrol lebih banyak lagi mahasiswa-mahasiswa yang biasa, dan mereka mampu melaksanakannya dengan tepat karena mereka mengerti sistem yang berlaku, karena mereka membenci sistem tersebut dan mengerti bahwa diri mereka adalah musuh baginya. Para mahasiswa ini ada dalam sistem pendidikan untuk mendapatkan hal-hal terbaik yang ditawarkan: katakanlah itu sebagai upah. Untuk mengeksploitasi kontradiksi tersebut, setidaknya untuk sementara, menuntut sistem tersebut tetap sebagai sebuah sektor “riset” akademis yang kecil dan relatif independen, mereka dengan tenang terus membawa kuman-kuman pemberontakannya ke tingkat tertinggi: kebencian mereka yang terbuka atas sistem yang berlaku sebagai pengimbang yang jernih yang memungkinkan mereka untuk mengisi kekurangan-kekurangan sistem tersebut, terutama dalam hal intelektualitas. Mereka berada dalam jajaran para teoris gerakan revolusioner masa depan, dan berbangga hati saat mereka mulai ditakuti. Mereka tidak merahasiakan fakta bahwa mereka menyadap dengan mudah “sistem akademik” dan menggunakannya untuk menghancurkannya. Mahasiswa tak dapat memberontak melawan apapun tanpa melawan sistem pendidikannya, walaupun keperluan pemberontakan ini dianggap kurang natural bagi diri para mahasiswa dibandingkan bagi para pekerja, yang secara spontan memberontak melawan kondisi mereka sebagai pekerja. Tetapi mahasiswa adalah sebuah produk dari masyarakat modern seperti Godard dan Coca-Cola. Alienasi ekstrim mereka dapat dihajar melalui penyerangan terhadap seluruh masyarakat. Kritik ini bagaimanapun juga tak dapat dibawa keluar dari medan mahasiswa: para mahasiswa, sejauh ini sebagaimana mereka mendefinisikan diri mereka sendiri, mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan sebuah nilai palsu yang menghalangi mereka untuk sadar akan kekurangannya, dan hasilnya mereka tetap berada di puncak kesadaran palsu. Tetapi di manapun juga, di mana masyarakat modern mulai diserang, anak-anak muda selalu mengambil bagian dalam penyerangan ini; dan pemberontakan ini merepresentasikan sebuah kritik yang langsung dan tak tanggung-tanggung atas kebiasaan mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;TIDAK CUKUP BAGI TEORI UNTUK MENCARI REALISASINYA DALAM PRAKTIK; PRAKTIK HARUS MENCARI TEORINYA SENDIRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setelah bertahun-tahun dalam keadaan tidur dan mengalami kontra-revolusi yang permanen, akhirnya muncul setelah periode baru akan sebuah gerakan, dengan anak-anak muda sebagai pembawa infeksi revolusionernya. Tapi masyarakat spectacle telah mengecat diri mereka sendiri, penggambaran diri mereka sendiri dan juga musuh mereka, yang menjatuhkan kategori-kategori ideologi mereka sendiri dalam sejarah dan dunia. Ketakutan adalah respon terakhir mereka. Apapun yang terjadi dianggap sebagai bagian dari sesuatu yang alamiah. Perubahan sejarah yang nyata terjadi, yang menjadi bukti bahwa tatanan masyarakat ini dapat digantikan, telah tereduksi menjadi sekedar cerita novel, yang merupakan bagian dari proses pengkonsumsian. Pemberontakan anak muda melawan keruntuhan dan "pemberian jalan hidup" adalah tanda-tanda awal dari sebuah subversi yang menyeluruh. Inilah yang menjadi awalan dari sebuah periode pemberontakan—pemberontakan mereka yang tak dapat lagi hidup dalam tatanan masyarakat ini. Berhadapan dengan bahaya, ideologi dan mesin-mesin harian, atau membuat pembalikan-pembalikan dari kebiasaan. Dengan metoda-metoda biasanya yang menjungkir balikkan kenyataan, ideologi dominan dan kebiasaannya ngobrol dalam kesehariannya, hal-hal tersebut mereduksi gerakan historis yang nyata kepada sebuah kategori sosial yang alamiah: ide para anak muda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anak-anak muda memberontak, tapi ini hanyalah pemberontakan abadi anak muda: setiap generasi memberi alasan-alasan pemberontakannya sendiri, dan hanya segera melupakannya saat "anak muda memulai bisnis yang serius mengenai produksi dan diberikan tujuan-tujuan sosial yang jelas dan nyata". Setelah para ilmuwan sosial, muncul para jurnalis beserta inflasi verbalnya. Pemberontakan ini diekspos secara berlebihan: kita disuguhi, hingga kita hanya duduk merenunginya dan pada akhirnya kita lupa untuk turut berpartisipasi di dalamnya. Dalam masyarakat spectacle, revolusi menjadi sebuah penyimpangan sosial—dengan kata lain merupakan katup pengaman sosial—di mana bagiannya berjalan dengan lembut dalam sistem ini. Hal ini membuat tenteram karena revolusi tetap menjadi sebuah fenomena pinggiran, dalam pendiskriminasian temporer akan sebuah pluralisme yang sehat (bandingkan dengan masalah "kesetaraan gender" dan "problem rasialisme"). Pada kenyataannya, jika ada sebuah problematika anak muda dalam kapitalisme modern, maka hal tersebut menjadi bagian dari krisis masyarakat dan hanya anak mudalah yang merasakan bahwa krisis ini sangat pedih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anak muda dan lelucon kebebasannya adalah produk masyarakat modern, baik apabila mereka memilih untuk menjadi bagian sepenuhnya dari neo-kapitalisme, ataupun apabila mereka menolak dengan sangat radikal. Yang mengejutkan, sebenarnya bukanlah pemberontakan anak muda, melainkan menyerahnya mereka yang telah "dewasa". Tapi alasan dibalik hal tersebut bukanlah masalah biologis, melainkan historis: generasi yang telah "dewasa" tersebut telah hidup melalui segala kekalahan dan menelan semua kebohongan dalam waktu yang lama, perpecahan memalukan dalam sebuah gerakan revolusioner.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Muda" sendiri adalah merupakan mitos yang dipublikasikan, mempunyai kaitan yang mendalam dengan corak produksi kapitalis, sebagai sebuah ekspresi dari dinamismenya. Pemberian ilusi atas anak muda ini menjadi sangat mungkin dengan adanya pemulihan ekonomi setelah Perang Dunia II. Para pemodal mendapat kesempatan untuk membuat bargain baru dengan para buruhnya: sebagai hasil dari produksi massal dari sebuah kelas baru—kelas konsumen—para buruh ditawarkan sebuah peran yang memberi mereka integrasi penuh ke dalam sebuah masyarakat spectacle. Di sini, sekali lagi ideologi-ideologi sosial yang telah umum menemui kontradiksinya sendiri saat berhadapan dengan kenyataan sosial dan ekonomi (ideologi-ideologi tersebut terlambat di belakang ideologi konsumer), dan hanya anak mudalah yang akan pertama kali mengeluarkan kemarahannya untuk hidup dan secara spontan memberontak melawan kebosanan harian dan batasan waktu yang terus diproduksi oleh dunia lama, sebagai perasaan dendam terhadap modernisasi. Segmen pemberontakan anak muda mengekspresikan sebuah penolakan yang murni dan nihilistik terhadap tatanan masyarakat beserta produknya, tanpa memiliki perspektif apapun mengenai tatanan penggantinya. Tapi bagaimanapun juga, sebuah perpektif mengenai penghancuran kapitalisme telah menjadi sebuah isu nyata, menjadi sebuah proses yang telah lama dimulai, dan dikembangkan di berbagai belahan dunia. Para anak muda juga harus melihat hubungan dari kritik-kritik yang teoritis dan praktik organisasional sebagai bentuk hubungannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada level yang paling primitif, para 'preman' (blousons noirs) di seluruh dunia mengekspresikan penolakan mereka terhadap tatanan masyarakat ini dengan cara yang penuh kekerasan. Tapi penolakan mereka bersikap abstrak: hal ini menghilangkan kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri dari kontradiksi sistem ini di mana mereka merupakan produksi negatif. Para preman adalah produk dari semua aspek tatanan ini: proyek perumahan di perkotaan, perpecahan segala nilai, tingkat kebosanan yang dihasilkan masyarakat konsumer, pertumbuhan kontrol atas segala aspek kehidupan sehari-hari oleh polisi, dan ekonomi survival dari unit keluarga yang sebenarnya telah kehilangan semua signifikansinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para preman ini menolak untuk bekerja tapi menerima komoditi. Mereka menginginkan apapun yang ditawarkan oleh masyarakat spectacle ini, tapi mereka tak mampu untuk membayarnya. Hal inilah yang menjadi kontradiksi fundamental dalam eksistensi para preman. Dia mungkin berusaha untuk meraih kebebasan nyata saat dia menggunakan waktunya untuk kekerasan hatinya dan juga untuk membangun komunitasnya. Tapi kontradiksi tersebut masih tetap ada dan membunuh perlahan-lahan (komunitas mikro mereka telah membangun kembali primitifisme yang secara tidak langsung juga membangkitkan lagi hirarki di dalam geng. Hirarki ini hanya dapat memenuhi hasratnya dengan cara berperang dengan geng lain, sehingga mengisolasi setiap geng dan setiap individu di dalam geng). Dalam usahanya untuk keluar dari kontradiksi ini, para preman harus mencari pekerjaan untuk dapat membeli komoditi—dalam titik akhir ini seluruh sektor produksi secara spesifik akan menyediakan apapun yang dia butuhkan sebagai konsumen (motor, gitar listrik, rekaman, pakaian, dll)—atau dia akan dipaksa untuk menyerang sistem komoditi, hukum-hukum pasar itu sendiri, dengan kata lain hal tersebut dilakukan dengan cara mencuri, atau dengan menerapkan kritik revolusionernya pada masyarakat komoditi. Konsumsi, akan mengubah perlahan-lahan perilaku para pemberontak muda tersebut sehingga pemberontakan mereka jatuh dalam konformisme yang menyebalkan. Bagi para preman muda tersebut hanya ada dua kemungkinan masa depan: membangkitkan lagi kesadaran revolusionernya atau menyerahkan diri pada pabrik dan perusahaan-perusahaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Provos, adalah organisasi preman pertama yang terbentuk di Belanda—organisasi preman yang mengajukan ekspresi politis pertama kali. Mereka adalah aliansi dari dua elemen yang berbeda: 'seniman' yang ingin menerapkan sisi petualangannya dalam dunia 'seni' mereka yang ideologis, dan para pemberontak muda yang dalam pemberontakannya tidak menawarkan apapun selain kekerasan. Sejak awal dua kecenderungan yang berbeda itu sulit sekali untuk disatukan: satu kelompok tanpa teori dan sama sekali tidak ideologis menempatkan diri mereka dalam lingkungan organisasi yang secara klise dibawah pemimpin yang berusaha memapankan 'kekuasaannya' dengan mengembangkan ideologi 'provotariat'. Nilai artistik mereka tidak ada bedanya dengan nilai artistik para penguasa pada masa kejayaan Bolshevik di Uni Soviet—realisme sosialis. Saat datang satu momen saat kecenderungan kekerasan dari para preman muda dianggap sebagai sebuah ide—sebuah kecenderungan untuk menghancurkan seni dan terus berjalan maju—kekerasan mereka tersalurkan melalui reformisme neo-artistik yang telah berusaha untuk mengubah seni itu sendiri. Provos adalah sebuah aspek dari reformisme terakhir yang diproduksi oleh kapitalisme modern: reformisme dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Bernstein yang memiliki visi mengenai transformasi kapitalisme ke sosialisme dengan cara reformasi, hirarki Provo berpikir bahwa mereka dapat mengubah kehidupan sehari-hari dengan beberapa improvisasi yang terpilih. Dengan cara seperti itu, pada akhirnya Provos menerima totalitas. Untuk memberi dasar pemikiran bagi mereka, para pemimpin Provos meramu sebuah ideologi yang menggelikan mengenai Povotariat. Provotariat baru ini sangat kontras dengan keadaan sebenarnya dari kelas proletar yang pasif dan 'terborjuiskan'. Karena mereka merasa putus asa akan adanya sebuah perubahan yang menyeluruh, mereka juga mengalami keputus asaan pada satu-satunya kekuatan yang dapat membawa perubahan tersebut. Proletariat adalah motor dari tatanan masyarakat kapitalis walaupun mereka selalu terancam: segala sesuatu didesain untuk menekannya—partai-partai politik, serikat-serikat yang birokratis, polisi, kolonisasi sepanjang hidupnya—karena hanya kelas tersebutlah yang merupakan kekuatan nyata. Provos rupanya tidak mengerti akan hal ini; mereka terus menerus mengkritisi sistem produksi sehingga mereka juga terus terpenjara oleh sistem ini secara keseluruhannya. Dan saat sebuah kerusuhan pekerja anti-perserikatan menginspirasi Provo untuk terlibat dengan kekerasan langsung, para pemimpinnya yang membingungkan ditinggalkan begitu saja dan mereka ini tak bisa lagi melakukan apapun selain hanya mengkritisi kejadian tersebut dan tetap teguh dengan prinsip anti-kekerasannya. Para pemimpin Provos, yang menyusun programnya untuk mengadvokasikan provokasi melawan pemerintah dan menjawab represifitasnya, malah berakhir dengan mengeluh bahwa mereka telah terprovokasi oleh polisi. Dan mereka menyerukan melalui radio pada para perusuh muda agar membiarkan diri dipimpin oleh Provos—yang di sini berarti adalah para pemimpin Provos—yang sebenarnya justru telah memperlihatkan pada semua orang bahwa 'anarkisme' para pemimpin Provos tidak lebih dari sebuah kebohongan belaka. Untuk sampai para kritik yang revolusioner, para pemberontak Provos harus bangkit memberontak melawan para pemimpinnya sendiri, yang berarti juga membuat hubungan langsung dengan kekuatan revolusioner obyektif dan menendang para birokrat. Itulah sebuah revolusi modern, di mana Provos telah menjadi salah satu bagiannya—tapi hanya apabila Provos tanpa pemimpin beserta ideologinya. Kalau mereka ingin mengubah dunia, mereka harus menyingkirkan semua yang ingin membuat dunia jadi kelabu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dengan memberontak melawan bidang studi mereka, para mahasiswa Amerika telah secara otomatis mempertanyakan tatanan masyarakat yang membutuhkan beberapa studi. Dan pemberontakan mereka (di Berkeley dan tempat lainnya) melawan hirarki untiversitas sejak awalnya telah menyatakan kejadian tersebut sebagai sebuah "pemberontakan melawan seluruh sistem sosial yang berdasarkan kepada hirarki dan kediktatoran ekonomi dan negara". Dengan menolak untuk menerima peranan institusional dan bisnis yang diperuntukan bagi spesialisasi bidang studi yang dipersiapkan untuk mereka, mereka menyerukan dengan mendalam untuk mempertanyakan sistem produksi yang mengalienasikan semua aktifitas dan hasil produksinya dari produsen. Untuk menyelesaikan kebingungannya, para pemberontak muda tersebut telah mencari alternatif revolusioner yang saling berkaitan dalam "masyarakat makmur" yang mereka tinggali. Gerakan mereka secara garis besarnya masih terkait dengan aspek insidental dari krisis di Amerika—masalah kulit hitam dan Vietnam—dan organisasi-organisasi "Kiri Baru" yang kecil menderita karena fakta-fakta berkala seperti ini. Bentuk gerakan mereka secara otentik jelas menuju ke arah demokrasi, tapi kelemahan mereka pada masalah pola pemikiran subversif secara berkelanjutan telah membuat mereka terperosok ke dalam kontradiksi yang berbahaya. Berhubung ketidak mengertian mereka akan masalah politik sangat parah dan malah memiliki ilusi-ilusi naif mengenai apa yang terjadi di dunia ini, sikap bermusuhan mereka terhadap politik-politik tradisional dari organisasi-organisasi yang lebih dulu, dapat dengan mudah dipulihkan kembali. Sikap oposisi mereka yang bersikap abstrak pada masyarakat mereka, justru membawa mereka pada musuh-musuh yang paling esensial: birokrasi "sosialis" China atau Kuba. Lalu sebuah grup seperti "Resurgence Youth Movement" dalam satu langkah dapat menghajar negara dan mengajukan "revolusi budaya" seperti yang dilakukan oleh birokrasi besar dalam sejarah modern ini: China-nya Mao.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada saat yang sama, organisasi-organisasi tersebut yang mengawinkan kecenderungan libertarian politis dan relijius, secara konstan berada dalam titik rawan, terjebak dalam "kedinamisan grup" yang seringkali berakhir pada dunia sektarian yang begitu sempit. Pengkonsumsian massa terhadap obat bius adalah sebuah ekspresi akan kemiskinan yang sesungguhnya dan juga merupakan sebuah protes terhadapnya; tapi hal tersebut tetap merupakan pencarian yang gagal akan kebebasan dalam dunia yang tanpa kebebasan, sebuah kritik relijius terhadap dunia yang telah mengubah nilai-nilai relijius. Para anak muda yang tingkah lakunya berlawanan dengan adat kebiasaan setempat di mana mereka menolak berbagai bentuk ideologi, menjadi cenderung menerima takhyul-takhyul yang fantastis (Zen, Spiritualisme, Mistikisme, dan berbagai bangkai yang telah membusuk seperti Gandhiisme dan Humanisme). Dalam pencarian mereka akan program-program revolusioner, para mahasiswa Amerika tersebut telah membuat kesalahan yang sama seperti Provos dan memproklamirkan diri mereka sebagai "kelas paling tertindas dalam masyarakat"; mereka seharusnya mengerti bahwa mahasiswa tidak memiliki "ketertarikan khusus" pada revolusi. Revolusi hanya akan dilakukan oleh seluruh korban yang menjadi subyek perbudakan komoditi dan penindasan secara umumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di dunia Timur, totalitarianisme birokratis juga telah memproduksi kekuatan negasinya sendiri. Pemberontakan anak muda lebih keras dan juga menerima perlakuan yang lebih represif—tapi untuk benar-benar mengetahui hal ini, kita harus mendapatkan informasi bukan dari publikasi-publikasi resmi atau pernyataan polisi, hal tersebut sudah jelas. Dari sumber-sumber tersebut, dapat dipelajari bahwa ada sebuah segmen dari anak-anak muda yang tidak lagi menaruh hormat pada nilai moral dan keluarga (yang masih eksis di sana dalam bentuk yang sangat ketat). Membuat mereka lebih memilih "penyelewengan", menolak kerja, bahkan menolak menuruti perintah polisi-polisi dari partai yang berkuasa. Uni Soviet bahkan telah membentuk menteri khusus yang ditugaskan untuk memerangi "kejahatan" baru ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam sepanjang pemberontakan yang membingungkan ini, penentangan yang lebih spesifik mulai terbangun, kelompok-kelompok dan jurnal-jurnal gelap muncul dan menghilang tergantung barometer represifitas polisi. Sejauh ini, aksi paling penting adalah sebuah publikasi "Surat Terbuka Bagi Partai Buruh Polandia" oleh anak-anak muda Polandia Kuron dan Modzelewski, yang mengadvokasikan masalah pentingnya "menghancurkan sistem produksi saat ini beserta kaitan-kaitan sosialnya" dan untuk merealisasikan hal tersebut harus dilakukan "revolusi yang tak dapat dielakkan". Kaum intelektual Timur mempunyai formula yang jelas—membangkitkan kesadaran dengan melakukan aksi-aksi kritis buruh-buruh di Berlin Timur, Warsawa dan Budapest: sebuah kritik proletariat terhadap kekuatan kelas birokratis. Pemberontakan ini mendapati dirinya terjebak dalam situasi yang sulit karena harus menampilkan masalah dan sekaligus menyelesaikannya dalam satu langkah. Di negara-negara Barat perjuangan lebih mudah, tetapi tujuannya tetaplah tidak jelas; sementara di Timur tujuannya sangat jelas karena birokrasi tidak pernah tertutupi ilusi apapun, walaupun perjuangannya lebih pahit. Masalahnya sekarang adalah menemukan bentuk-bentuk yang dapat membuka jalan menuju perealisasian semua ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di Inggris, pemberontakan anak muda menemukan ekspresi pertamanya yang terorganisir dalam gerakan yang terkenal dengan nama "Peace Movement". Tapi gerakan tersebut tidak pernah menjadi sebuah perjuangan yang sepenuh hati menerapkan program anti-kekerasan. Dan momen terbaik mereka adalah tahun 1963 dengan aksi protes "Spies For Peace" . Tapi karena kekurangan perspektif radikal, gerakan tersebut terjerumus ke dalam lingkaran para manipulator politisi Kiri dan para pasifis yang berorientasi pada medali Nobel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pemikiran kolot Inggris yang masih tersisa yang mengontrol pola hidup sehari-hari ternyata tidak mampu membendung serangan dunia modern dan menyelaraskan nilai-nilai sekuler yang kuno . Hal tersebut masih dapat menghasilkan sebuah kritik total mengenai kehidupan yang baru; tapi pemberontakan anak-anak muda membutuhkan sebuah aliansi dan karena kelas pekerja Inggris masih menjadi gerakan paling militan di dunia, maka dengan merekalah anak-anak muda tersebut harus membangun jaringan. Keberhasilan kedua perjuangan tersebut hanya mungkin jika mereka memiliki perspektif yang sama. Hancurnya pemerintahan buruh adalah sebuah faktor tambahan yang dapat dijadikan momen kondusif dalam membangun sebuah aliansi. Jika hal tersebut terjadi, sebuah ledakan akan dapat menghancurkan tatanan dunia lama—kerusuhan Amsterdam yang diikuti oleh Provos dapat menjadi sebuah mainan anak kecil saja. Hanya dengan cara ini gerakan revolusioner yang nyata akan menjawab kebutuhan akan sebuah praktik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jepang adalah satu-satunya negara di mana para anak muda menggabungkan dirinya dengan buruh-buruh militan. Zengakuren, organisasi mahasiswa revolusioner yang sudah sangat dikenal, dan Liga Pekerja Muda Marxis, adalah dua organisasi inti yang membentuk orientasi yang sama dalam Revolutionary Communist League (RCL), Liga Komunis Revolusioner. Formasi ini telah berhasil melenyapkan problem-problem yang biasa dialami organisasi revolusioner. Secara simultan organisasi tersebut memerangi kapitalisme Barat dan di saat yang sama melawan birokrasi negara-negara "Sosialis". RCL juga merupakan gabungan dari beberapa ratus pekerja dan mahasiswa yang mengorganisir diri mereka di dalam basis demokratik dan anti-hirarki, dengan semua anggotanya berpartisipasi aktif dalam segala aktifitas organisasi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para revolusioner Jepang tersebut adalah organisasi pertama di dunia yang membawa perjuangan besar yang terorganisir dengan program-program revolusionernya serta memiliki partisipasi massa yang sangat besar. Dari demonstrasi ke demonstrasi ribuan pekerja dan mahasiswa memenuhi jalanan untuk melakukan perjuangan yang penuh kekerasan melawan polisi Jepang. Bagaimanapun juga, kurangnya pendalaman teori oleh para anggota RCL tentang dua sistem yang mereka lawan, membuat mereka berjuang dengan buas. Walaupun mereka belum dapat mendefinisikan eksploitasi birokratis yang mereka lawan secara tepat, hal-hal yang mereka lakukan telah mengenai karakteristik kapitalisme modern, kritik terhadap kehidupan harian dan kritik terhadap masyarakat spectacle ini. Secara fundamental, RCL masih merupakan organisasi politis vanguard, dan menjadi contoh terbaik dari gerakan proletar klasik. Dengan demikian mereka tetap menjadi kelompok yang paling penting di dunia ini—serta sudah seharusnya menjadi bahan diskusi dan titik awal bagi kritik proletarian revolusioner global yang baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;BAB III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;SETIDAKNYA UNTUK MEMBANGUN SEBUAH SITUASI YANG TAK MEMILIKI TITIK BALIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Menjadi avant-garde berarti berjalan berbarengan dengan kenyataan” (Internationale Situationniste no. 8). Kritik radikal atas dunia modern saat ini harus memiliki totalitas terhadap obyek dan sasarannya. Kritik ini harus dibawa untuk mengemban masa lalu dunia yang sesungguhnya kepada kenyataan saat ini dan menjadikannya sebuah prospek bagi terciptanya sebuah transformasi. Kita semua tak dapat menggenggam seluruh kenyataan dunia saat ini, tapi setidaknya dapat memformulasikan proyek atas subversi yang menyeluruh, kecuali kita dapat membuka seluruh sejarah yang tersembunyi, kecuali kita menyoroti seluruh sejarah dari gerakan revolusioner internasional yang diinisiasikan lebih dari seabad yang lalu oleh para proletariat di Barat, untuk mendemistifikasikan analisa-analisa yang kritis. “Gerakan yang melawan seluruh organisasi dari tatanan dunia lama ini, telah lama berakhir” (Internationale Situationniste no.7). Semuanya gagal. Manifestasi historis terakhirnya adalah revolusi proletarian Spanyol, yang dikalahkan di Barcelona di bulan Mei 1937. Tetapi “kekalahan” dan “kemenangan” resminya harus dinilai dari konsekwensi-konsekwensi yang jelas atas situasi dan kondisi mereka, dan kenyataan-kenyataan esensial mereka akan dapat dilihat dengan jelas. Dengan cara demikian, kita dapat menyetujui pendapat Karl Liebknecht, di masa menjelang pembunuhan atas dirinya, yang menyatakan bahwa “beberapa kekalahan adalah kemenangan yang luar biasa, saat beberapa kemenangan justru lebih memalukan daripada seluruh kekalahan.” Maka “kekalahan” besar pertama dari kekuasaan proletarian, Komune Paris, dalam kenyataannya adalah kemenangan besar pertama yang untuk pertama kalinya proletariat masa itu mendemonstrasikan kapasitas historisnya untuk mengorganisir seluruh aspek kehidupan sosial dengan bebas. Justru saat “kemenangan” besar pertama, revolusi Bolshevik, hanya berakhir pada kekalahan yang penuh bencana. Kemenangan orde Bolshevik bertepatan dengan gerakan kontra-revolusi internasional yang bermula dengan dihancurkannya Spartakis oleh “Sosial Demokrat” Jerman. Persamaan kemenangan gabungan atas Bolshevikisme dan reformisme jauh lebih dalam daripada sikap permusuhan antara mereka yang tampak di permukaan, di mana aturan-aturan Bolshevik melangkah terlalu jauh hingga menjadi sekedar variasi baru dengan tema lama, sebuah bentuk baru dari orde lama. Hasil-hasil dari kontra-revolusi Russia, di dalam negeri, adalah pemapanan dan pengembangan sebuah metoda baru atas eksploitasi, kapitalisme-negara yang birokratis, dan di luar negeri, pertumbuhan sebuah gerakan “Komunis” internasional yang menyebarluaskan cabang-cabang yang berfungsi untuk melayani kepentingan tujuan yang mempertahankan dan mereproduksi model Russia mereka. Kapitalisme, dalam varian-varian borjuis dan birokratiknya, telah memenangkan sebuah kontrak hidup yang baru, di atas mayat para pelaut Kronstadt, petani Ukraina dan para pekerja di Berlin, Kiel, Turin, Shanghai dan akhirnya Barcelona.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Internasional Ketiga, dibuat oleh para Bolshevik seolah-olah untuk memerangi reformisme sosial-demokrat yang bobrok dalam Internasional Kedua dan mempersatukan para vanguard dari kaum proletariat ke dalam “partai-partai komunis revolusioner,” yang terlalu dekat berhubungan dengan kepentingan-kepentingan para pelopornya untuk membawa sebuah revolusi sosialis yang sesungguhnya di mana-mana. Kenyataannya Internasional Ketiga adalah kelanjutan yang esensial dari Internasional Kedua. Model Russia secara masif dipaksakan ke dalam organisasi-organisasi pekerja di Barat dan evolusi-evolusi mereka sejak saat itu menjadi satu kesatuan yang sama. Kediktatoran totalitarian dari birokrasi kelas penguasa baru atas proletariat Russia menemukan gaungnya dengan menjadikan kelompok massa pekerja yang besar di negara lain sebagai subyek dari strata politik dari para birokrat serikat-serikat pekerja yang kepentingannya telah jelas-jelas berkontradiksi dengan landasan mereka. Saat monster Stalinis menghantui kesadaran kelas pekerja, kapitalisme telah menjadi terbirokratisasi dan terlalu dimapankan, menyelesaikan krisis internalnya dan dengan bangga memproklamirkan kemenangan baru ini sebagai sesuatu yang permanen. Mengesampingkan variasi-variasi dan oposisi-oposisi yang tampak, sebuah bentuk sosial baru mendominasi dunia, dan prinsip-prinsip dari dunia lama melanjutkan penguasaannya atas dunia modern kita. Tradisi dari generasi-generasi yang telah lama mati masih menghantui pikiran kita yang masih hidup saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oposisi terhadap dunia ditawarkan dari dalam dunia itu sendiri, dalam medannya sendiri, dengan organisasi-organisasi revolusioner yang hanya merupakan sebuah oposisi dalam hal penampakannya saja. Beberapa oposisi, menyebarluaskan mistifikasi-mistifikasi terburuknya dan menyerukan ideologi-ideologi yang setidaknya sama-sama kaku, dengan tujuan menolong mengkonsolidasikan aturan dominan. Partai-partai dan serikat-serikat pekerja yang ditempa oleh kelas pekerja sebagai alat bagi emansipasi khusus mereka sendiri telah menjadi sekedar katup pengaman, menetralkan mekanisme sistem, kepemilikan privat dari para pemimpinnya yang bekerja demi emansipasi khususnya sendiri dengan menggunakan partai dan serikat tersebut sebagai batu loncatan bagi perannya  dalam kelas penguasa di masyarakat yang tak pernah mereka pertanyakan bahkan dalam mimpi. Program partai atau undang-undang perserikatan mungkin membawa sisa-sisa fraseologi “revolusioner”, tetapi dalam praktik mereka, di mana-mana adalah praktik reformis—dan seluruh kapitalismenya sendiri sekarang secara resmi telah menjadi reformis. Di manapun juga partai-partai tersebut berhasil mengambil kekuasaan—juga di negara-negara setelah Russia 1917—mereka hanya telah mereproduksi kontra-revolusi yang totalitarian model Stalinis . Di tempat lain, mereka menjadi pro-negara dan benar-benar sempurna  untuk mengatur dirinya sendiri menjadi kapitalisme birokratis, sebuah bukti bahwa oposisi memang diperlukan untuk menjaga keutuhan humanisme yang bersifat seperti polisi. Sebagai lawan dari massa pekerja, mereka tetap menjadi pembela yang non-kondisional dan tak pernah gagal bagi birokrasi yang kontra-revolusioner serta menjadi makhluk yang patuh terhadap kebijakan luar negerinya sendiri. Merekalah penyokong kebohongan terbesar dalam dunia yang memang sudah penuh kebohongan, yang bekerja untuk mengekalkan kediktatoran ekonomi dan negara yang universal. Sebagaimana yang para situasionis katakan, “Sebuah sistem sosial yang dominan secara universal, yang cenderung menuju pemerintahan totalitarian yang membuat aturan-aturannya demi kepentingannya sendiri, secara visual hanya diperangi oleh bentuk-bentuk oposisi palsu yang tetap berada di medan sistem itu sendiri dan jadinya hanya berhasil memperkuat sistem yang diperangi. Sosialisme palsu yang penuh birokrasi adalah hanya sebuah penyamaran yang paling sempurna dari hirarki dunia lama dan sistem yang mengalienasikan para pekerja.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dengan demikian, serikat-serikat mahasiswa hanyalah sekedar parodi atas sebuah parodi, repetisi lelucon yang sudah tak lucu lagi dari serikat-serikat pekerja yang telah terdegradasi sejak lama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Teoritis dan praksis dari Stalinisme dalam seluruh bentuknya jelas merupakan kedangkalan yang paling rendah dari segala bentuk organisasi revolusioner masa depan. Telah jelas bahwa di Perancis, misalnya, di mana tulang punggung ekonomi telah mengaburkan kesadaran akan terjadinya krisis, gerakan revolusioner dapat lahir kembali hanya melalui pembunuhan terlebih dahulu terhadap Stalinisme. Kata-kata kunci yang secara konstan diulang-ulang dari revolusi terakhir dalam abad yang masih kuno ini seharusnya adalah: Stalinisme harus dihancurkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Revolusi harus jelas-jelas melepaskan diri dari kekunoannya sendiri dan mengorisinilkan seluruh tindakan-tindakan puitisnya akan masa depan. Sekelompok kecil “militan” yang mengklaim diri mereka sebagai representasi dari peninggalan Bolshevik yang otentik adalah suara yang berasal dari alam kubur; yang berkicau soal masa depan. Sekelumit puing-puing dari keruntuhan besar “revolusi yang terkhianati” akan selalu hadir di sekeliling kita untuk mempertahankan USSR; hal inilah yang justru merupakan pengkhianatan penuh skandal terhadap revolusi itu sendiri. Hampir tak mungkin bagi mereka untuk memapankan ilusi-ilusi mereka di luar negara-negara dunia ketiga , di mana mereka bertugas mengentaskan kemiskinan teortitis. Dari Partisans (organ saat ini yang mendamaikan Trotsky dan Stalin) hingga seluruh kecenderungan perdamaian di atas bangkai Trotsky baik di dalam maupun di luar Internasional Keempat, selain bernaung di bawah ideologi revolusioner yang sama, juga memiliki ketidakmampuan untuk melihat masalah-masalah di dunia modern, baik secara teoritis maupun praksis. Tindakan kontra-revolusi yang mereka lakukan selama empat puluh tahun lamanya telah menjauhkan mereka dari Revolusi. Dan semenjak sekarang ini bukan lagi tahun 1920, apa yang mereka lakukan jadi serba salah (walaupun di tahun 1920 apa yang mereka lakukan juga salah).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pembubaran grup ultra-Kiri Socialisme ou Barbarie setelah divisi-divisi mereka terbelah menjadi dua faksi—“modernis-Cardanis” dan “Marxis tradisional” (Pouvoir Ouvrier)—adalah bukti, apabila memang dibutuhkan, bahwa tak akan pernah dapat terjadi revolusi di luar dunia modern, juga tidak bisa setiap pemikiran yang modern berada di luar penemuan kembali kritik-kritik revolusioner (Internationale Situationniste no.9). Setiap pemisahan yang dilakukan antara dua aspek tersebut di atas akan dengan tak terhindarkan akan terjerumus kembali kalau tidak ke dalam museum-museum revolusioner yang kuno atau ke dalam modernisme sistem, yang keduanya menjadi replika dari dua kelompok kontra-revolusi yang dominan: Voix Ouvrière atau Arguments.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sedangkan bagi berbagai grup “anarkis”, mereka tidak lebih daripada sebuah kelompok di mana ideologi hanya sekedar menjadi label, dan mereka semua terpenjara dalam label mereka sendiri. Le Monde Libertaire yang menakjubkanpun, ternyata diedit oleh para mahasiswa, merupakan pencapaian kebingungan dan ketololan dalam tingkat yang paling fantastis. Sejak mereka saling bertoleransi antara sesama kelompok yang mengaku revolusioner, mereka akan segera mentolerir segalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sistem sosial yang dominan, yang membaringkan dirinya dalam modernisasi permanennya, sekarang harus dikonfrontasi dengan sebuah oponen yang paling penting: negasi yang sama-sama modern yang sebenarnya diproduksi oleh dirinya sendiri . Yang telah mati biarkan mengubur dirinya sendiri. Demistifikasi-demistifikasi praksis dari gerakan-gerakan historis mengusir roh-roh jahat yang bergentayangan menghantui kesadaran revolusioner; revolusi dalam kehidupan sehari-hari menemukan dirinya berhadap-hadapan langsung dengan luasnya keharusan ini. Baik revolusi maupun hidup itu sendiri telah dipermaklumkan untuk kembali ditemukan. Apabila proyek-proyek revolusioner secara fundamental tetaplah sama—penghapusan masyarakat kelas—hal ini adalah karena kondisi yang melahirkan proyek-proyek tersebut secara radikal juga tidak tertransformasikan kemanapun juga. Tetapi proyek ini harus dibangun kembali dengan sebuah keradikalan yang baru dan koheren, belajar dari kesalahan-kesalahan para revolusioner sebelumnya, sehingga realisasi parsialnya tidak akan sekedar membawa sebuah divisi baru dalam masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sejak perjuangan antara sistem saat ini dan proletariat baru hanya dapat dilakukan melalui totalitas, gerakan revolusioner di masa yang akan datang harus menghabisi dalam dirnya sendiri segala bentuk kecenderungan yang mereproduksi alienasi yang dihasilkan oleh sistem komoditi—sistem yang didominasi oleh hasil komoditi. Ia juga harus menjadi kritik yang terus hidup terhadap sistem ini, negasi yang membadani segala elemen yang dibutuhkan untuk transendensinya. Sebagaimana diperlihatkan dengan benar oleh Lukács bahwa, organisasi revolusioner adalah mediasi yang paling penting antara teori dan praktik, antara manusia dan sejarah, antara massa pekerja dan proletariat yang dikonstitusikan sebagai sebuah kelas. (Kesalahan Lukács hanyalah karena ia meyakini bahwa Partai Bolshevik telah memenuhi seluruh prasyarat tadi). Apabila mereka mulai merealisasikannya dalam tataran praksis, kecenderungan-kecenderungan dan perbedaan “teoritis” harus secara langsung diterjemahkan ke dalam pertanyaan-pertanyaan organisasional. Pada akhirnya segalanya tergantung pada bagaimana gerakan revolusioner yang baru menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan organisasional, tentang apakah bentuk organisasionalnya akan tetap konsisten dengan proyek-proyek esensialnya: realisasi internasional atas kekuasaan penuh dewan-dewan pekerja sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya oleh revolusi-revolusi proletarian di abad ini. Beberapa organisasi harus menekankan kritik radikal atas seluruh fondasi masyarakat yang mereka perangi, antara lain: produksi komoditi, ideologi dalam segala penyamarannya, negara dan separasi yang dihasilkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Batu pertama yang telah diletakkan oleh gerakan revolusioner masa lalu, adalah separasi antara teori dan praktik. Hanya momen-momen terbaik dari perjuangan proletarian yang mampu mengatasi perpisahan ini dan mulai menjelajahi kebenaran mereka sendiri. Tak ada organisasi yang melampaui hal ini, menjembatani gap yang terjadi. Ideologi, tidak peduli “serevolusioner” apapun, selalu melayani kepentingan sang majikan; hal ini adalah sinyal alarm yang mengungkapkan kehadiran kolom kelima musuh. Ini sebabnya mengapa kritik atas ideologi dalam analisa terakhirnya harus tetap menjadi masalah utama bagi organisasi revolusioner. Kebohongan adalah produk dari dunia yang teralienasi dan hal itu tak akan dapat muncul dalam sebuah organisasi yang mengklaim membeberkan kebenaran sosial, tanpa hal itu, maka dengan demikian, organisasi hanya akan menjadi sebuah kebohongan lagi dalam dunia yang memang sudah penuh dengan kebohongan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seluruh aspek positif dari kekuatan dewan pekerja harus telah hadir mengembrio dalam setiap organisasi revolusioner yang bertujuan untuk merealisasikannya. Beberapa organisasi harus menyulut sebuah peperangan yang mematikan melawan teori Leninis tentang organisasi. Revolusi tahun 1905 dan spontanitas para pekerja untuk mengorganisir dirinya dalam soviet-soviet telah menjadi sebuah kritik nyata  atas teori-teori yang terkutuk. Tetapi gerakan Bolshevik tetap bertahan dalam keyakinannya bahwa spontanitas kelas pekerja dapat berjalan melampaui “kesadaran perserikatannya” dan tak mampu meraih “totalitas”. Keyakinan ini akhirnya harus memenggal seluruh proletariat sehingga Partai dapat menempatkan dirinya sebagai “kepala” revolusi. Menentang kapasitas historis proletariat dalam mengemansipasikan diri mereka sendiri, sebagaimana yang Lenin lakukan dengan kejam, berarti meragukan kapasitas mereka untuk menjalankan seluruh tatanan masyarakat di masa depan. Dalam beberapa perspektif, slogan “Seluruh kekuatan bagi soviet-soviet” berarti tak lebih dari sekedar penaklukan seluruh soviet oleh Partai dan penginstalasian negara kepartaian di tempat proletariat bersenjata yang menyapu bersih “negara”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Seluruh kekuatan bagi soviet-soviet” sekali lagi harus menjadi slogan kita, tetapi kali ini dalam artian literer, tanpa motif-motif ulterior Bolshevik. Proletariat dapat memainkan permainan revolusi hanya jika taruhannya adalah seluruh dunia; atau segalanya akan sia-sia belaka. Bentuk tunggal dari kekuatannya adalah, mempopulerkan sistem manajemen diri, yang tak dapat dibagikan dengan kekuatan lain. Dikarenakan ini adalah antisipasi dari segala bentuk kekuatan, maka hal tersebut dapat tak dapat mentolerir batas apapun (baik batas geografis ataupun batas lainnya); segala bentuk kompromi yang diterimanya dengan otomatis akan ditransformasikan ke dalam sebuah kelonggaran, kepada kekalahan. “Manajemen diri harus menjadi cara sekaligus tujuan perjuangan saat ini. Hal itu tidak hanya taruhan dalam perjuangan, melainkan juga sebagai bentuk yang paling memadai. ...Hal tersebut adalah material yang dikerjakan, sekaligus merupakan prakiraan itu sendiri.” (dari “The Class Struggle in Algeria”).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah kritik uniter (pembagian per unit) atas dunia adalah garansi atas koherensi dan kebenaran dari sebuah organisasi revolusioner. Mentolerir eksistensi sebuah sistem yang opresif di satu region atau di tempat lainnya (karena ia menghadirkan dirinya sebagai “revolusioner”, misalnya) berarti juga melegitimasi penindasan. Mentolerir alienasi dalam satu domain saja dari kehidupan sosial berarti juga secara tak dapat dihindarkan membiarkan segala bentuk reifikasi. Tidaklah cukup sekedar mendukung dewan pekerja secara abstrak; sangatlah penting untuk mendemonstrasikan hal tersebut dengan konkrit: menghajar produksi komoditi dan sekaligus memperkuat proletariat. Mengesampingkan perbedaan superfisial tersebut, seluruh tatanan masyarakat yang eksis saat ini diatur oleh logika komoditi; inilah basis dari tata cara pengaturan sendiri sistem totalitarian. Reifikasi komoditi adalah hambatan esensial di jalan menuju sebuah emansipasi total, konstruksi kehidupan yang bebas. Dalam dunia produksi komoditi, praksis tidaklah menyertai tujuan-tujuan yang dideterminasikan secara otonom, melainkan menyertai kekuatan dari luar yang hadir secara langsung. Hukum-hukum ekonomi hadir sebagai tampilan hukum alam, tetapi kekuatan mereka semata-mata tergantung pada “ketiadaan kesadaran dalam diri mereka yang berpartisipasi di dalamnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Esensi dari produksi komoditi adalah hilangnya Diri dalam kreasi dunia yang kacau dan di luar kesadaran, yang sepenuhnya di luar kontrol para kreatornya sendiri. Sebagai kontrasnya, inti revolusioner yang radikal dari manajemen diri yang dipopulerkan adalah kesadaran setiap orang tentang seluruh hidup mereka. Manajemen diri atas alienasi komoditi akan hanya membuat setiap orang menjadi pemrogram atas pola bertahan hidup mereka sendiri—menggaris bawahi lingkaran kapitalisme. Tugas bagi dewan pekerja lantas bukanlah manajemen diri atas dunia yang eksis saat ini, melainkan transformasi interuptif yang kualitatif: transendensi yang komplit atas komoditi (yang disubversikan dengan sangat hebat dalam sejarah produksi manusia itu sendiri).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Transendensi ini secara alamiah mengimplikasikan penekanan dalam hal kerja dan menggantikannya dengan sebuah tipe baru dari aktifitas yang bebas, dan kemudian juga meluluh lantakkan separasi yang fundamental dalam masyarakat modern: yaitu meningkatnya buruh yang tereifikasi dan sebuah waktu senggang yang dikonsumsi dengan pasif. Saat ini, grup-grup yang telah membusuk seperti Socialisme ou Barbarie atau Pouvoir Ouvrier , walau menjadi pengawas modern atas Kekuatan Pekerja, justru terus mengikuti jalur yang digariskan oleh gerakan pekerja yang telah kuno dalam memberikan visi yang reformis atas pekerja melalui “humanisasi”. Apa yang mereka lakukan sekarang harus diserang juga. Jauh dari sekedar menjadi “utopian”, penekanan atas bidang kerja adalah kondisi pertama bagi transendensi yang efektif atas masyarakat komoditi, demi penghapusan dalam kehidupan setiap orang separasi antara “waktu bebas” dan “waktu kerja”—sektor-sektor melengkapi hidup yang teralienasi—yang merupakan sebuah ekpresi berkelanjutan dalam kontradiksi internal sistem komoditi antara nilai guna dan nilai tukar. Hanya saat oposisi ini teratasi maka seseorang akan mampu membuat aktifitas pentingnya menjadi subyek atas keinginan dan kesadarannya serta melihat dirinya sendiri dalam dunia yang ia sendiri ciptakan. Demokrasi dewan-dewan pekerja adalah solusi atas seluruh separasi saat ini. Ia akan membuat “segala sesuatu yang berada di luar nilai individual menjadi sesuatu yang tak mungkin eksis.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kesadaran akan dominasi sejarah bagi orang-orang yang membuatnya—ini adalah sebuah proyek revolusioner yang menyeluruh. Sejarah modern, seperti juga seluruh sejarah masa lalu, adalah produk dari praksis sosial, hasil (yang tak disadari) dari seluruh aktifitas manusia. Dalam era dominasi totalitarian, kapitalisme telah memproduksi agama mereka sendiri: spectacle. Spectacle adalah realisasi yang membumi atas ideologi. Tak pernah sebelumnya dunia menjadi sangat terbalik. “Dan seperti juga ‘kritik atas agama’, kritik atas spectacle, saat ini adalah prakondisi yang esensial dari segala jenis kritik.” (International Situationniste no.9).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemanusiaan adalah konfrontasi historis dengan masalah-masalah dari revolusi. Semakin maju hasil teknologi dan material berarti juga semakin dalam ketidakpuasan setiap orang. Kaum borjuis dan warisannya di  blok Timur, birokrasi, tidaklah mampu mengisi kekurangan ini—yang justru akan menjadi basis puitis dari masa yang akan datang—secara tepat karena keduanya harus berusaha keras untuk merawat aturan-aturan lama. Hal yang paling sering mereka gunakan adalah dengan memperkuat kontrol polisi. Mereka tidak melakukan apapun selain mengakumulasikan kapital dan kemudian juga proletarian—seorang poletarian adalah seseorang yang tak memiliki kekuatan atas hidupnya sendiri dan sepenuhnya sadar akan hal tersebut. Adalah keuntungan historis bagi pra proletariat baru untuk menjadi satu-satunya pewaris yang konsekwen bagi kekayaan yang tak ternilai dalam dunia borjuis—kekayaan yang harus ditransformasikan dan digantikan dalam perspektifnya atas proyek pembentukan diri manusia sepenuhnya demi pencapaian yang tepat atas alam dan sisi alamiahnya sendiri. Realisasi alamiah manusia dapat hanya berarti pelipatgandaan yang tak terbatas dan kepuasan penuh atas hasrat tertinggi yang oleh spectacle ditekan ke dalam sudut tergelap dari ketidasadaran revolusioner, dan di mana hal tersebut hanya dapat direalisasikan melalui publisitas yang gila-gilaan, seperti mimpi dan fantastis. Realisasi aktual dari hasrat tertinggi—dapat dikatakan, sebuah penghapusan segala kebutuhan dan hasrat palsu yang diproduksi setiap hari oleh sistem dalam usahanya untuk mengekalkan kekuasaannya—tak dapat dilakukan tanpa penekanan dan transendensi positif atas spectacle komoditi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sejarah modern dapat dibebaskan, dan akuisisi-akuisisinya yang tak terhitung jumlahnya dapat dengan bebas digunakan, hanya dengan kekuatan yang selama ini ditekannya: para pekerja tanpa kekuasaan atas kondisi, hasil atau produk-produk yang dihasilkan oleh aktifitas mereka sendiri. Dalam abad ke-19 proletariat adalah pewaris filsafat; sekarang mereka telah menjadi pewaris seni modern dan kritik pertama yang penuh kesadaran atas kehidupan sehari-hari. Mereka tak dapat melakukan penekanan terhadap dirinya sendiri tanpa merealisasikan seni dan filsafat dalam waktu yang bersamaan. Mentransformasikan dunia dan mengubah hidup adalah satu hal yang tak terpisah dan juga merupakan hal yang sama bagi proletariat, password yang tak terpisahkan bagi penekanannya sebagai sebuah kelas, pemutusan hubungan dengan kebutuhan palsu yang berkuasa saat ini, yang pada akhirnya memiliki akses yang terbuka kepada berkuasanya kebebasan. Kritik radikal dan rekonstruksi bebas atas seluruh nilai-nilai dan pola-pola kebiasaan yang dicekokkan oleh realitas yang telah teralienasi adalah sebuah program dalam titik yang maksimum, dan kreatifitas bebas dalam pengkonstruksian seluruh momen-momen dan even-even kehidupan adalah satu-satunya puisi yang dikenal, di mana puisi dibuat oleh semua orang, yang menjadi awal bagi festival revolusioner. Revolusi-revolusi proletarian akan menjadi sebuah festival atau tidak sama sekali, membuatnya menjad festival adalah kata kunci terpenting dalam hidup yang mereka permaklumkan. Bermain adalah prinsip utama dalam festival ini, dan satu-satunya aturan yang berlaku adalah untuk hidup tanpa batas waktu dan untuk menikmatinya tanpa kekangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;APPENDIX I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Spectacle &lt;/span&gt;kata benda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Organisasi tampilan yang dibuat eksis melalui cara-cara komunikasi modern (media). Bergerak perlahan dengan yang mana imaji-imaji dapat dilekatkan dan dialienasikan dari sumbernya, serta direorganisasi untuk membentuk representasi yang sejalan dengan ideologi kelas yang berkuasa, membentuk dasar-dasar teknis dalam lingkup yang lebih diutamakan dalam spectacle modern, di mana “segala sesuatu yang dulu langsung dihidupi, kini telah tersingkirkan menjadi sekedar representasi atasnya”. Misalnya, sebuah iklan di televisi memperlihatkan sebuah keluarga dalam sebuah mobil berkendara dengan bahagia sepanjang perjalanan, kemudian “bersenang-senang” dalam ruang lingkup mobil yang sempit, tapi seakan mampu membawa kebahagiaan—sesuatu yang didambakan banyak manusia modern. Mobilnya diperlihatkan sebagai sebuah konteks yang paling menyenangkan: imaji mobil yang lantas disambungkan dengan imaji “bersenang-senang” menyarankan sebuah kebutuhan untuk membeli mobil sebagai sebuah cara untuk “mendapatkan” kesenangan dan kebahagiaan. Tapi pada faktanya, saat iklan tersebut dipertontonkan, jutaan orang tidaklah berbahagia hanya karena memiliki mobil untuk kemudian berkendara bersama keluarga. Atau pada contoh lain, misalkan seseorang yang akibat padatnya penduduk kota yang penuh polusi, bising dan mendorong timbulnya stress merindukan kehidupan alamiah yang tenang dan tenteram, ia tak perlu benar-benar pergi dari kota tempat tinggalnya, ia hanya perlu membeli televisi besar dan berlangganan siaran kabel, mencari saluran film tentang nuansa alam semisal National Geographic. Ingat iklan betapa televisi layar lebar dan datar serta didukung sistem audio modern mampu menghadirkan kenyataan ke rumahmu. Kita dilatih untuk mengkonsumsi imaji yang merupakan representasi atas kenyataan, tapi tidak menjalani kenyataan itu sendiri. Maka yang terjadi adalah bahwa seseorang tersebut tak pernah pergi ke lingkungan alami, ia akan menghabiskan waktunya dengan menonton televisi yang berarti sebuah aktifitas pasif, non-aktifitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Pengorganisiran aktifitas spektakular adalah pengorganisiran pasifitas dan pasifikasi sosial modern yang sesungguhnya—pengelompokan manusia sebagai sekedar pengamat atas penerimaan satu sisi dari imaji-imaji hidup mereka sendiri yang telah teralienasikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi spectacle bukanlah sekedar sebuah kumpulan imaji, melainkan sebuah relasi sosial antar manusia yang dimediasikan melalui imaji. Relasi nyata antar manusia ditransformasikan ke dalam sebuah relasi antar imaji. Contohnya, imaji Tony Blair di televisi yang mengunjungi Indonesia pertengahan awal tahun ini, bersalam-salaman dengan tokoh-tokoh ulama seperti Aa’ Gym dan mengadakan temu wicara dengan beberapa murid pesantren. Hal tersebut menampilkan Tony Blair yang merepresentasikan warga Inggris, merespek Aa’ Gym yang merepresentasikan umat muslim Indonesia; yang pada kenyataannya Tony Blair tak melakukan apapun saat di Inggris kasus-kasus kekerasan terhadap muslim akibat histeria terorisme merebak. Lagi, saat seorang “bintang film” atau “bintang olah raga” mengiklankan sebuah produk, kita diharapkan merespon pada imaji mereka sebagai seseorang yang ideal, dan lantas mengemulasikan hal tersebut dengan mengasosiasikan diri kita sendiri dengan imaji yang mana para bintang tersebut mengasosiasikan dirinya. Contohnya, saat Dian Sastro mengenakan kaos kaki panjang sebagai seragam sekolah SLTA-nya saat ia terasosiasikan dengan film “Ada Apa Dengan Cinta”, perhatikan berapa banyak dari perempuan SLTA yang juga lantas mengenakan kaos kaki panjang sekaligus memanjangkan rambut untuk mengasosiasikan diri mereka dengan imaji Dian Sastro, yang mereka anggap sebagai seseorang yang ideal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi proses tersebut juga melangkah lebih jauh: spectacle menjadi topik utama obrolan, diskusi dan bahkan juga subyek bagi spectacle lanjutan (misalnya, maraknya diskusi mengenai teori “simulacra” dari Baudrillard di kalangan mahasiswa filsafat yang hanya berujung pada pengkonsumsian lebih banyak buku tapi mengalienasi mereka dari kenyataan itu sendiri). Pembicaraan anak-anak kawasan urban juga dimonopoli oleh argumen-argumen soal program acara televisi yang mereka tonton hari sebelumnya. Komunikasi tentang pengalaman hidup yang nyata menjadi komunikasi spectacle dan soal spectacle, komunikasi atas pengalaman pasifitas, non-komunikasi. Spectacle secara umum digunakan untuk menamai irama relasi sosial yang non-komunikasi, irama isolasi. Tujuan utama komunikasi adalah sebuah dialog pengalaman nyata, bukanlah sebuah pertukaran kepasifan yang didominasi oleh teknologi yang dikembangkan dalam spectacle.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Mimpi buruk spectacle, imaji-imaji yang mengambil “hidup” dari kehidupan itu sendiri, sepenuhnya telah terealisasikan saat dengan sadar orang-orang berusaha untuk menghidupkan imaji-imaji yang dianggap dapat merepresentasikan diri mereka: bahkan juga dalam urusan bercinta, yang seharusnya momen potensial dari bentuk komunikasi sempurna (kesatuan dari pemberian-kenikmatan dan pengambilan-kenikmatan), kini secara konstan berusaha merepresentasikan imaji diri mereka sendiri pada sesamanya; kontak langsung dan juga fisikal dari dua orang manusia telah lenyap dalam percintaan palsu yang mengandalkan imaji-imaji spektakular.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, barang dan jasa (komoditi) diproduksi oleh proletariat yang juga menjadi bagian aktif dari spectacle, dijual kembali pada proletariat yang memproduksi mereka adalah sebuah pola yang didorong oleh spectacle: dengan iklan dan dorongan konsumsi yang membludak. Konsumsi komoditi menjadi satu-satunya bentuk konsumsi. “Semakin lama, semakin sedikit pertukaran yang tidak dilakukan tanpa eksistensi uang”. Pengalienasian para spektator demi kepentingan obyek kontemplasinya, dapat diekspresikan antara lain sebagai berikut, “semakin ia berkontemplasi semakin kurang ia hidup; semakin ia menerima dan menemukan dirinya dalam imaji-imaji kebutuhan dominan, semakin ia tidak memahami eksistensinya dan hasratnya sendiri. Dalam hal tersebut semua gerak-geriknya tak lagi menjadi miliknya melainkan milik semua yang lain yang merepresentasikan diri dalam seseorang tersebut.” (Guy Debord, The Society of the Spectacle).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Maka dapat dianggap juga bahwa spectacle adalah kapital yang dalam tingkat tertentu telah berakumulasi menjadi imaji, menjadi tampilan. Semenjak dunia masa kini dikendalikan oleh kapital yang mengkonsentrasikan pada dirinya sendiri, spectacle adalah kapital yang menciptakan sebuah dunia yang berisi imajinya sendiri. Kapital adalah tuhan material, dan spectacle adalah agama (ideologi) materialnya. Spectacle, dalam berbagai bentuknya telah menguasai dunia: dunia yang merepresentasikan dirinya sebagai dunia nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Engkau ingin kaya raya, kini tak perlu mencari uang bertumpuk tetapi cukup mengenakan tampilan seperti layaknya orang-orang kaya. Engkau ingin memberontak, cukup mengenakan pakaian yang penuh dengan imaji-imaji pemberontakan (gambar wajah Che Guevara atau mengkoleksi buku-buku karya Karl Marx). Engkau ingin pintar, cukup menamatkan kuliah dan menyematkan titel akademismu dalam setiap pencantuman namamu. Engkau ingin peduli sosial, cukup beritakan bahwa engkau telah menyumbangkan sejumlah uang pada mereka yang sedang berkesusahan uang. Engkau ingin menjadi muslim/muslimah yang beriman, cukup kenakan pakaian tradisional muslim/muslimah, melaksanakan shalat atau berpuasa saat Ramadhan. Engkau ingin dianggap bersolidaritas dengan mereka yang miskin, cukup tampilkan dirimu dengan pakaian yang dikenakan orang-orang miskin. Dan masih banyak contoh lain tentang bagaimana kita melibatkan diri kita dalam spectacle di kehidupan kita sehari-hari, yang menjadi bukti bahwa spectacle adalah aturan dominan masyarakat paling modern dewasa ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Catatan tambahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;(1) Contoh soal membeli televisi dan perangkat home-theater dapat dibawa lebih jauh dari sekedar kepasifan menonton televisi yang memang terlalu jelas. Pasifitas bukan sekedar duduk menonton, tetapi berpikir juga dapat dianggap pasifitas semenjak tak ada gerakan yang dilakukan. Ada beberapa relasi sosial yang perlu dianalisa di sini. Bukan sekedar televisinya yang membuat orang menjadi pasif, tetapi juga relasi yang ditampilkan dalam program-program acara televisi juga perlu diperhatikan, seperti maraknya acara talkshow, realitas, debat publik, dsb. yang juga adalah tampilan imaji (misalnya, bagaimana acara debat publik dan dialog yang ditampilkan di televisi sebenarnya adalah juga sekedar imaji dari demokrasi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;(2) Contoh Tony Blair yang berjabatan dengan Aa’ Gym, lebih jelasnya, memperlihatkan Blair yang secara spektakular menjabat erat kebijakan Aa’ Gym, bukan sekedar Aa’ Gym. Tetapi melihat Blair sebagai “Inggris” dan Aa’ Gym sebagai “muslim Indonesia” jelas adalah juga pandangan spektakular, semenjak seluruh kebijakan Blair adalah kebijakan sistem, demikian juga kebijakan Aa’ Gym, yang mana kebijakan keduanya tak dapat diterapkan sebagai kebijakan semua orang Inggris ataupun semua orang muslim di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;(3) “Bintang film”, “bintang olah raga” dan “bintang musik” sesungguhnya juga sekedar produk. Mereka adalah imaji yang dipisahkan dari diri mereka sebagai manusia oleh relasi sosial para konsumennya dan juga produsennya. Spectacle hanya dapat muncul apabila ada sebuah relasi mutual antara imaji dan konsumen imajinya, yang akan menghasilkan pemenuhan palsu hidup yang teralienasi. Semua itu hanya mungkin terjadi dengan adanya relasi sosial seperti demikian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;(4) Alienasi dan isolasi seharusnya dipahami bukan sekedar sebagai “keterpisahan individu dari individu lainnya” melainkan juga sebagai keterpisahan aktifitas manusia dari obyek aktifitasnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;APPENDIX II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Artikel berjudul “On the Poverty of Student Life” di atas pertama kali dipublikasikan dalam bentuk pamflet sejumlah 10.000 eksemplar dan didistribuskan saat sedang diadakan inisiasi bagi para mahasiswa baru di universitas Strasbourg, Perancis pada tahun 1966. Aksi pembajakan tersebut dilakukan oleh sekelompok mahasiswa radikal yang bekerja sama dengan organisasi Situationist International, menginfiltrasi himpunan mahasiswa, menggelapkan seluruh uang milik himpunan untuk digunakan membiayai seluruh proses cetak pamflet tersebut. Terdistribusikannya pamflet tersebut tercatat sebagai salah sebuah pemicu awal meletusnya pemberontakan mahasiswa Paris yang merembet pada pemogokan pekerja nyaris di seluruh kota Paris, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Paris ‘68. Atas pendistribusian pamflet tersebut, jajaran universitas dibantu oleh jajaran kepolisian melakukan penyisiran dan penangkapan mereka yang dianggap terlibat. Berikut adalah kutipan dari somasi hakim dalam pengadilan kelima mahasiswa yang dianggap bertanggung jawab atas terdistribusikannya secara luas “On the Poverty of Student Life” di universitas Strasbourg, yang ironisnya justru secara tepat mendeskripsikan aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut dalam tujuannya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Tuntutan berikut, yang tak mengabaikan tuduhan atas penyalahgunaan dana milik serikat mahasiswa. Jelas, mereka secara terbuka menyatakan telah membuat serikat mahasiswa membayar sekitar 1500 france untuk mencetak dan mendistribusikan sekitar 10.000 pamflet, belum termasuk biaya mencetak literatur-literatur lain yang terinspirasi oleh “Situationist International”. Publikasi-publikasi tersebut mengekspresikan ide-ide dan aspirasi-aspirasi yang, untuk memperjelasnya, tidak memiliki kaitan apapun dengan tujuan pembentukan serikat mahasiswa. Seseorang cukup membaca tuduhan yang tertulis di dalamnya, yang tak pelak lagi bahwa kelima mahasiswa ini, tidak lebih dari sekedar remaja yang belum cukup pengalaman dalam hidup, pikiran mereka terkacaukan dengan intisari yang menyesatkan dari teori-teori filsafat, sosial, politik dan ekonomi, dan dibingungkan oleh kemonotonan hidup keseharian mereka yang membosankan, membuat klaim yang kosong, arogan dan menyedihkan untuk melancarkan penghakiman yang definitif, memasukkan cercaan yang langsung terhadap sesama rekan mahasiswa mereka, guru-guru mereka, Tuhan, agama, klerik, pemerintahan dan sistem-sistem politik di seluruh dunia. Mengabaikan seluruh aturan dan moral, orang-orang sisnis ini juga tak ragu-ragu merekomendasikan pencurian, penghancuran nilai kesarjanaan, penghapusan dunia kerja, subversi total dan sebuah revolusi proletarian di seluruh dunia dengan “hasrat yang ilegal” sebagai tujuan utamanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Dalam pandangan karakter dasar mereka yang anarkistik, teori-teori dan propaganda tersebut sungguh-sungguh berbahaya. Penyebaran mereka yang luas baik di lingkaran mahasiswa dan masyarakat umum, oleh lembaga media lokal, nasional dan asing, adalah sebuah ancaman terhadap moralitas, lembaga pendidikan, reputasi dan juga masa depan para mahasiswa di universitas Strasbourg.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Keterangan terjemahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Artikel (minus appendix) di atas diterjemahkan dari versi bahasa Inggris berjudul “On the Poverty of Student Life” yang dimuat dalam buku Situationist International Anthology yang diedit oleh Ken Knabb dan dipublikasikan oleh Bureau of Public Secret. Diterjemahkan dan diadaptasi dalam bahasa Indonesia pertama kali tahun 2002 oleh kolektif Polusi, Bandung, dengan judul “Kemiskinan Mahasiswa”; diterjemahkan ulang dan dipublikasikan tahun 2004 oleh kolektif Kontra-Kultura, Bandung, dengan judul “Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa”; diedit ulang, direvisi dan ditambahkan appendix I dan II 28 November 2006 oleh Pam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-3591849752519755657?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/3591849752519755657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=3591849752519755657' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/3591849752519755657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/3591849752519755657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2010/12/tentang-kemiskinan-hidup-mahasiswa.html' title='TENTANG KEMISKINAN HIDUP MAHASISWA'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TQV5LFQN8xI/AAAAAAAAAXM/atxdzvMEyOA/s72-c/demo-mahasiswa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-9009632799751259145</id><published>2010-12-02T21:28:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T17:42:20.371-08:00</updated><title type='text'>LOGIKA NEKROFILIK DAN PEMBERONTAKAN IMAJINASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TQV59BT6FXI/AAAAAAAAAXc/mxT1Jd0wqSQ/s1600/33646_154446374589968_128416300526309_331240_4724553_n%2B%255B640x480%255D.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TQV59BT6FXI/AAAAAAAAAXc/mxT1Jd0wqSQ/s400/33646_154446374589968_128416300526309_331240_4724553_n%2B%255B640x480%255D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549976205034919282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keretakan antara apa yang rasional dan apa yang irasional dikonstruksi oleh setiap sistem rasional; setiap rasionalitas secara bersamaan menciptakan irasionalitas. Oleh karenanya, setiap sistem rasional memiliki keterbasan yang sifatnya inheren. Untuk keluar dari suatu rasionalitas dominan, kita mesti juga mampu memahami apa yang membentang di luar segala batasan sistem. Sistem rasional bisa menjadi alat yang demikian berguna namun juga bisa menjadi penjara mental.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa dari kita menolak sistem rasional karena membenci jenis rasionalitas tertentu, semacam rasionalitas kapitalis. Kita hidup dalam masyarakat yang sudah sedemikian termekanisasi di mana hampir segalanya dapat dikonversikan dalam nilai moneter, di mana ruang kota dan desa telah tergusur oleh kebutuhan kapital sementara umat manusia tinggal dalam lingkungan gersang, meminum minuman yang mengandung bahan kimia dalam kafe-kafe yang memutar musik pelan. Hal ini mendorong beberapa orang kecanduan hal-hal yang sifatnya irasional: kekacauan. Seseorang hanya dapat mendengarkan musik sedemikian lamanya, sebelum terpenuhi hasrat untuk menghancurkan tempat-tempat yang memainkan musik cepat sehingga kita akan meminum minuman kita lebih cepat untuk kemudian pergi. Namun bukanlah irasionalitas yang mampu menumbangkan rasionalitas kapitalis, kapitalisme pun mempunyai sisi irasionalnya, dan seperti halnya semua sistem rasional, kapital menciptakan batasan irasionalnya sendiri. Kita dapat menemukan sumber daya subversi yang jauh lebih kuat dalam imajinasi kita sendiri ketimbang dalam retakan-retakan artifisial yang diciptakan oleh rasionalitas yang ingin kita hancurkan. Imajinasi dapat menunjukkan kita bagaimana membakar Starbucks tanpa kemudian tertangkap. Imajinasi membongkar logika dan kebiasaan nekrofilik: imajinasi adalah anti-hegemonik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kaum surealis telah bereksperimen dengan penerbangan imajinatif keluar dari logika nekrofilik. Alejo Carpentier adalah seorang novelis Kuba yang berkawan dengan kaum surealis ketika tinggal di Paris pada 20-an dan 30-an. Tulisannya merefleksikan pengaruh surealis namun dia mendapati surreal dalam histori dan kehidupan sehari-hari, khususnya dalam kehidupan dan sejarah Amerika. Miguel Angel Asturias menulis versi fantastik mitos Maya ketika kembali ke Guatemala dari Paris. Kaum surealis Perancis dan Amerika Latin dipengaruhi penulis-penulis yang berusaha membongkar rasionalitas “Barat” dengan cara-cara yang pada dasarnya berbeda. Kaum surealis Perancis menekankan pada imajinasi alam bawah sadar sama halnya dengan Carpentier and Asturias. Dua penulis ini memandang pribumi dan kultur Afrika di negara dan daerah mereka, sampai logika kultural yang jarang dipakai rasionalitas “Barat” yang dikritisi oleh kaum surealis. Asturias dan Carpentier keduanya orang kulit putih, terpelajar, penghuni kota yang melihat kultur ini dari luar dan kemudian meromantisasinya. Masing-masing logika kultur meninggalkan celah yang tertutup oleh kultur yang lain. Sangatlah jelas dalam kasus logika moral; satu kultur melarang sementara lainnya memperbolehkan. Bagaimanapun juga, metode subversi ini terbatas secara inheren semenjak sekedar mengganti satu prinsip dengan prinsip yang lain. Dua penulis ini memandang kultur yang lain sebagai sebuah celah, sebuah kesempatan yang telah ditutup oleh kultur mereka sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Carpentier berpikir bahwa kehidupan memiliki realita-realita yang lebih mengejutkan daripada impian-impian kaum surealis. Dia memandang dari ketidaksadaran dan mendapati bahwa segala yang mengagumkan adalah nyata dalam pilihan-pilihan kreatif hidup. Jalan di mana imajinasi kesadaran dapat menumbangkan rasionalitas lebih kuat daripada sekedar apa yang kita gali dari alam bawah sadar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam novel The Kingdom of this World, Carpentier menceritakan sebuah cerita penggulingan kekuasaan Perancis di Haiti dan buntutnya. Dia melakukan riset arsip di Haiti namun kisahnya ditulis dengan lintasan peluru ke dalam ketidakmungkinan fisikal. Dia menunjukkan kekuasaan Henri Cristophe (setelah pemindahan Perancis) sebagai seorang gila namun mengikuti logika politik. Penyalahgunaan kekuasaannya dilakukan oleh seorang gila yang marah namun menegakkan logika represi dan eksploitasi negara cukup untuk pekerjaan seorang negarawan. Negara, seperti halnya kapitalisme tampil hiper-rasional namun terkadang luar biasa irasional. Konsepsi Carpentier akan kenyataan mengagumkan menantang separasi antara yang nyata dan yang tidak sebagaimana halnya antara rasional dan irasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Carpentier juga menggunakan pertempuran realisme yang mengagumkan di mana manusia mampu terbang ataupun berubah menjadi hewan namun dia mendasarkannya pada kepercayaan voodoo, di mana keduanya tak dapat dibedakan apakah dia berkata bahwa seorang manusia sedang terbang ketika hendak dihukum atau jika masyarakat sekedar percaya bahwa hal itu nyata. Oleh karena itu dia mendeskripsikan ketidakmungkinan fisikal sebagai rasional, selayaknya dalam logika voodoo. Metamorfosa fisikal Mackandal, seorang penghasut insureksi, dianggap normal. Novel itu merupakan insureksi anti kolonial pertama yang telah merobohkan kekuasaan Eropa di Amerika, di mana juga digeneralisir sebagai pemberontakan budak. Sang budak menemukan bahwa insureksi lebih tak bisa dipercaya ketimbang manusia yang berubah menjadi hewan. Sudah umum bahwa voodoo memiliki kekuatan nyata, sementara insureksi menawarkan apa yang sebelumya tak dapat dipahami. Properti telah efektif secara temporer dihapuskan dan apa yang dulunya aset budak-pemilik telah menjadi barang rampasan sang budak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setelah mencuci lengan mereka dalam darah orang kulit putih, Negro lari menuju rumah mewah, mengutuki mati pada sang tuan, pada Gubernur, pada Tuhan, dan pada semua orang Perancis di seluruh dunia. Namun digerakkan oleh kehausan sekian lama, kebanyakan mereka berdesakan di gudang bawah tanah mencari minuman keras. Pukulan beliung menghancurkan tong ikan laut. Tombaknya menusuk, tong-tong kecil menyemburkan anggur, memerahkan rok para perempuan. Brandy demijohn, rum carboy, membasahi dinding. Sembari tertawa, para Negro tergelincir acar tomat, caper, ikan haring, serta marjoram di lantai bata, lumpur menipis oleh cucuran minyak anyir yang mengalir dari sebuah tas kulit (Carpentier, The Kingdom of this World).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pemberontakan menciptakan situasi di luar realita yang ada selayaknya sihir. Pemberontakan adalah luar biasa nyata semenjak pemberontakan menuntut hal yang tidak mungkin. Hanya imajinasi berhasrat yang memiliki kekuatan untuk mendobrak konsepsi dan relasi yang mengekalkan status quo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Logika kapitalis adalah nekrofilik karena mereduksi hidup ke dalam kuantitas. Kesimpulan ekstrem logika ini akan menghasilkan pembasmian kehidupan di planet ini. Contoh paling sederhana reduksi ini adalah penjualan hutan atau organ manusia untuk selabel harga, yang lebih busuk adalah reduksi waktu ke dalam nilai moneter. Menjual waktu demi uang mematikan kehidupan. Irama yang homogen secara abstrak menghasilkan momen-momen ekuivalen; sebidang datar detik dan menit dan jam terhampar di depan kita. Jam 5:33 adalah sama. Logika hukum dan moralitas merangkak pelan menuju pembatasan dan represi otak. Namun, rasionalisasi tak pernah mutlak, hasrat dan tindakan manusia terus-menerus mengelakkan domestikasi serta klasifikasi. Selalu ada ketegangan antara hasrat dan logika yang menekannya, entah logika ekonomi, politik ataupun moral. Pemberontakan para insurgen imajinasi melawan logika nekrofilik seperti halnya hasil-hasil logika nekrofilik semacam polisi dan negara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-9009632799751259145?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/9009632799751259145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=9009632799751259145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/9009632799751259145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/9009632799751259145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2010/12/logika-nekrofilik-dan-pemberontakan.html' title='LOGIKA NEKROFILIK DAN PEMBERONTAKAN IMAJINASI'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TQV59BT6FXI/AAAAAAAAAXc/mxT1Jd0wqSQ/s72-c/33646_154446374589968_128416300526309_331240_4724553_n%2B%255B640x480%255D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-4403261962815462792</id><published>2010-12-02T21:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T21:35:50.144-08:00</updated><title type='text'>(RE)DEFINISI PROLETARIAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TPh_DTMFCMI/AAAAAAAAAWg/W3Z4jgqKQig/s1600/riot.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TPh_DTMFCMI/AAAAAAAAAWg/W3Z4jgqKQig/s320/riot.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5546322635774036162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Definisi Proletariat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Proletariat, (kb): Kelas yang mendeskripsikan mereka yang harus menjual kekuatan kerjanya sebagai keharusan untuk bertahan hidup tetapi tidak mendapatkan profit dari proses perputaran kapital, dan mereka, tak memiliki kontrol atas bagaimana hidup mereka akan digunakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Proletariat berkembang di bawah corak produksi kerja-upahan, di mana masyarakat di bawah corak produksi tersebut menjual kapasitas kerjanya untuk memproduksi komoditi (barang yang gunanya diproduksi adalah untuk diperjual-belikan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Proletariat berasal dari revolusi industri... (yang mana) ditandai dengan ditemukannya mesin uap, berbagai mesin yang dapat berputar, perkakas tenun mekanik dan sederetan berbagai alat mekanik. Mesin-mesin ini, yang sangat mahal harganya dan yang dengan demikian hanya bisa dimiliki oleh para kapitalis besar, mentransformasikan corak produksi secara keseluruhan, dan menggantikan pekerja-pekerja pada masa tersebut, karena mesin-mesin tersebut mampu menghasilkan komoditi-komoditi yang lebih murah dan lebih baik daripada yang mampu diproduksi oleh para pekerja yang bekerja secara tidak efisien dengan menggunakan tangan. Mesin-mesin tersebut menempatkan keseluruhan industri ke tangan-tangan pada kapitalis besar dan membuat seluruh milik para pekerja menjadi tidak berguna. Hasilnya, para kapitalis dengan segera memiliki segalanya di tangan mereka dan tak ada yang tersisa bagi para pekerja. (Friederich Engels)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menurut definisi dari Karl Marx, proletariat dicatat: (1) proletariat artinya sama dengan “kelas pekerja modern”; (2) proletarian, atau orang-orang yang termasuk dalam kategori kelas proletariat, tak memiliki cara lain untuk bertahan hidup selain dengan menjual tenaga kerjanya; (3) posisi mereka membuat mereka sangat tergantung hidupnya pada para kapitalis, pemilik kapital; (4) proletariat menjual dirinya sendiri, bukan menjual produk seperti yang dilakukan oleh borjuis-kecil dan kapitalis; (5) mereka menjual diri mereka sendiri untuk mendapatkan upah, bukan seperti budak yang diperjual-belikan oleh individu-individu lain dan menjadi harta milik bagi sang pemilik budak; (6) walaupun terminologi ‘kelas pekerja’ selalu dikonotasikan sebagai pekerja fisikal, dengan menggunakan tenaga fisiknya, Marx telah mendeskripsikan dengan tepat bahwa kerja dengan menggunakan otak pun termasuk proletariat selama ia melakukannya untuk mendapatkan upah dari kapitalis, yang dengan demikian maka (7) proletariat adalah sebuah kelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Satu hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya relasi ketat dari definisi proletariat dengan konteks kerja-upahan. Kerja-upahan adalah bentuk produksi di mana proletariat terlibat penuh dalam proses kerjanya, yaitu, dengan menjual tenaga-kerja mereka sesuai dengan waktu-kerja yang ditentukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dengan demikian, terminologi ini yang awalnya mayoritas digunakan untuk mendeskripsikan pekerja industri kerah biru, saat ini, sesungguhnya proletariat telah berkembang termasuk ke dalamnya pekerja jasa (service), pekerja teknis, pekerja rumah tangga, pekerja kerah putih dan tenaga kerja yang miskin secara ekonomi sekaligus menganggur yang sering disebut sebagai lumpen-proletariat—yang dalam faktanya kesemuanya telah berkembang di pusat-pusat industri dan konsumsi kawasan-kawasan urban. Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan pelajar dan mahasiswa juga dapat dikategorikan ke dalam proletariat semenjak tujuan utama mereka belajar di sekolah adalah demi mempersiapkan calon-calon pekerja masa depan yang berperan penting dalam proses produksi. Atau dengan kata lain, siapapun juga yang terlibat dalam proses produksi, baik secara langsung ataupun tak langsung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah relasinya dengan perannya yang bersejarah. Proletariat adalah kelas yang harus bekerja untuk bertahan hidup, yang telah lama ada dan selalu bertambah jumlahnya, terdisiplinkan dalam disiplin kerja yang ditentukan oleh kapitalis. Proletariat tak pernah mampu mengeksploitasi kelas lainnya, mereka adalah produsen sesungguhnya dari seluruh produksi yang ada di dunia dan kapitalisme telah melatih mereka dengan berbagai keahlian yang dibutuhkan dalam berbagai divisi kerja. Dalam masyarakat-masyarakat kuno, nenek-moyang proletariat adalah mereka yang tak memiliki harta milik dan tak mampu membayar pajak sehingga mau tidak mau harus menjual tenaganya dengan mengabdi pada para penguasanya sekedar agar dapat terus hidup. Dengan demikian, signifikansi dari proletariat adalah bahwa kelas tersebut bukanlah sekedar mereka yang tertindas, melainkan satu-satunya kelas yang mampu melenyapkan kelas-kelas dalam masyarakat untuk mentransformasikannya menjadi masyarakat tanpa kelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dengan kesadaran kelas seperti di atas, maka mulai bermunculanlah konsep ‘proletarisasi’. Tetapi sesungguhnya para proletariat sendiri termasuk di dalamnya teori-teori revolusioner sebaiknya tidak mengglorifikasi proletariat, ‘budaya/kultur proletar’, ‘moralitas proletar’, dsb. Hal ini hanya akan mengagung-agungkan alienasi terhadap proletariat itu sendiri. Aspek positif dari proletariat adalah kemungkinan swanegasi yang telah dibuktikan sepanjang sejarah: sejak bagi proletariat, membebaskan diri adalah dengan memusnahkan definisi atas diri mereka sendiri, memusnahkan sistem Kapital, masyarakat kelas dan alienasi terhadap kerja. Hal itulah satu-satunya kemenangan yang harus dicapai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Demagogi Bahasa dan Taktik Pecah-Belah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pemaknaan terminologi proletariat untuk mendeskripsikan pekerja ada baiknya juga dilihat dari penggunaan dalam bahasa Inggris (berhubung kata ‘proletariat’ juga bukan berasal dari kata dalam bahasa Indonesia). Dalam bahasa Inggris, kata ‘work’ dan ide yang sesuai dengannya diderivasi dari para kaum intelektual Inggris. Dalam bahasa Inggris, kerja praktikal disebut ‘work’ sedangkan kerja dalam artian ekonomi disebut ‘labour’. Karena itu kerja fisik diistilahkan dengan ‘work’ dengan begitu memustahilkan segala kekacauan dengan kerja dalam arti ekonomi. Tidak demikian halnya di Jerman, di mana telah dimungkinkan dalam berbagai literatur semi-ilmiah yang membuat berbagai aplikasi kerja dalam artian fisikal pada kondisi-kondisi ekonomis. Tetapi bagaimanapun juga, kata ‘werk’ dalam bahasa Jerman, persis seperti kata ‘work’ dalam bahasa Inggris, diadaptasi untuk menandakan kerja fisikal (walaupun kata yang lebih dikenal di sana adalah ‘arbeit’, yang mendefinisikan kerja tetapi dalam artian yang terlalu luas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sementara dalam bahasa Indonesia, ungkapan kerja dalam artian ekonomi, dikenai terminologi ‘buruh’, sebagai bagian kerja khusus dalam konteks kerja secara keseluruhan. (Misalnya dalam konteks petani. Seorang petani disebut bekerja saat ia membajak dan melikui sawahnya—terlepas apakah ia menggarap sawahnya sendiri ataukah bekerja untuk mendapatkan upah dengan menggarap sawah orang lainnya. Yang disebut pertama tidak dikenai terminologi buruh, sementara yang disebut terakhir dikenai terminologi ‘buruh’ karena ia melakukan kerja ekonomi di mana ia menggarap sawah untuk mendapatkan upah).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maka, itu juga sebabnya mengapa terminologi ‘working-class’ dalam bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi ‘kelas pekerja’ sekaligus ‘kelas buruh’ atas posisi para anggota kelas ini yang harus melakukan kerja dalam arti ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Terminologi proletariat di Indonesia seringkali diganti dengan kata ‘buruh’ (seperti dalam kalimat: “kediktatoran proletariat” diganti dengan “kediktatoran buruh”). Di Indonesia, kata ‘buruh’ di benak sebagian besar publik di Indonesia seringkali hanya berarti ‘pekerja industri kerah biru’; yang dengan demikian terminologi tersebut justru mengalienasikan dan mereduksi makna proletariat itu sendiri (dalam kenyataannya pekerja kerah putih tidak mau mendefinisikan dirinya sebagai buruh). Hal ini sebenarnya digunakan untuk memecah kesadaran dan solidaritas yang dapat muncul apabila seluruh proletariat menyadari persamaan diri mereka semua sebagai sebuah kelas—satu-satunya kelas yang mampu mengubah arah sejarah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam era masuknya ideologi Marxisme di Indonesia, para Marxis menggunakan terminologi ‘buruh’ untuk mendefinisikan proletariat dan “pemerintahan buruh tani” sebagai sebuah kediktatoran proletariat. Pada masa tersebut, proletariat di Indonesia yang terkuat dan menjadi basis massa perjuangan mereka adalah para pekerja paling rendah secara hirarki sosial di era kolonialisasi Belanda dan Jepang, karena hanya mereka yang paling signifikan untuk bangkit disebabkan oleh penindasan dan kemiskinan yang ekstrim. Tapi sejalan dengan perkembangan sistem kapitalisme internasional menjadi sistem kapitalisme lanjut, yang walaupun masih memegang pola dasar operasi kapitalisme lama, ia mengubah berbagai bentuk kerja dari awalnya yang sekedar kerja industri, menjadi bentuk-bentuk kerja dalam bentuk layanan jasa dan kerja abstrak (kerja dengan menekankan pada kemampuan otak dan kreatifitas, bukan lagi fisik) sebagai salah satu garda depan invasi mereka. Pemerintahan Suharto dengan jeli melihat hal ini dan mempopulerkan terminologi ‘pekerja’ atau ‘karyawan’ untuk menghapuskan dan memecah definisi ‘buruh’ yang dipopulerkan oleh gerakan Marxis sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;George Orwell, seorang penulis dari Inggris, mengatakan, “Untuk menghapuskan sesuatu sampai ke akarnya, maka seseorang pada mulanya juga perlu untuk menghapuskan terminologi tersebut dari seluruh hidup keseharian. Sebuah aksi tak akan dapat muncul dan berkembang apabila tak ada terminologi yang mengekspresikannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sementara di sisi lain, Suharto, dengan Menteri yang sangat anti-komunis Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dalam jajaran kabinetnya, mulai mempopulerkan terminologi ‘pekerja’ dan ‘karyawan’ bagi para pekerja layanan jasa dan kerah putih, serta ‘buruh’ bagi pekerja industri kerah biru. Hasilnya, para proletariat baru, yang mendefinisikan diri mereka berbeda dengan proletariat lainnya berdasarkan cara kerja mereka, upah dan kenyamanan material yang mereka peroleh, benar-benar mulai terpisah dari kesadaran akan kelasnya yang sesungguhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Memperhatikan bahwa terminologi ‘buruh’ kini hanya mendeskripsikan ‘pekerja industri kerah biru’ dan semakin mengalienasikan dan memecah kesadaran kelas proletariat, maka itu alasannya mengapa perlu ada batasan tegas antara terminologi ‘pekerja’ bukan ‘buruh’—sesuatu yang justru menjadi semakin kabur di tengah propaganda pecah-belah dari kapitalis. Hal ini dilakukan bukan untuk menyatakan bahwa rezim Suharto benar, tetapi karena terminologi ini memberi aspek penekanan pada kata ‘kerja’ itu sendiri semenjak seluruh kelas proletariat terikat dengan keharusan untuk ‘bekerja’ dan mengembalikan konteks dasar konsep Marxian bahwa kerja adalah bagian instrinsik dari perkembangan kehidupan manusia. Dan dengan penggunaan terminologi tersebut, saat di sini disebutkan tentang pekerja, maka yang dimaksudkan adalah seluruh proletariat, yang tentu saja bukan hanya sekedar pekerja industri kerah biru. Penggunaan terminologi PSK (pekerja seks komersial) yang digunakan dan dipopulerkan kebanyakan oleh para feminis untuk menggantikan terminologi WTS (wanita tuna susila) atau ‘pelacur’ adalah sebuah contoh yang baik tentang bagaimana mereka yang menjual seksualitas tubuhnya adalah juga bagian dari kelas pekerja atau proletariat; terminologi tersebut juga mulai mengubah paradigma umum bahwa hanya perempuanlah yang bekerja menjual seksualitas tubuhnya seperti dalam kata WTS yang begitu populer di tahun-tahun 1980-an. Kesadaran bahwa bahasa sangat berpengaruh dalam pembentukan proses kesadaran akan kelas, seharusnya mulai diperhatikan semenjak demagogi bahasa telah mendominasi mayoritas benak para pekerja kerah biru atas nama ‘budaya buruh’ atau ‘kultur proletariat’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dengan demikian juga, mengapa istilah proletariat menjadi penting. Karena ia mampu melampaui perdebatan antara mereka yang menganggap diri buruh, karyawan, pegawai, pekerja, dan mendefinisikan mereka semua dalam satu definisi: proletariat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dan dengannya, maka May Day sudah selayaknya menjadi hari kita semua, hari di mana proletariat mengingatnya sebagai hari perang kelas, hari penentangan proletariat terhadap kerja-upahan, terhadap kapitalisme. Bukan hanya hari milik para Marxis dan pekerja industri kerah biru, melainkan juga pekerja kerah putih, pelajar dan mahasiswa, ibu rumah tangga, penganggur, pekerja jasa, dan siapapun juga yang merayakannya atas nama mereka sendiri, bukan lagi atas nama solidaritas terhadap pekerja industri kerah biru. Tapi atas nama diri kita sendiri, diri kita semua, demi solidaritas universal sesama proletariat, bukan hanya bagi kerah biru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-4403261962815462792?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/4403261962815462792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=4403261962815462792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/4403261962815462792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/4403261962815462792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2010/12/redefinisi-proletariat.html' title='(RE)DEFINISI PROLETARIAT'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TPh_DTMFCMI/AAAAAAAAAWg/W3Z4jgqKQig/s72-c/riot.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-2826144572164543779</id><published>2010-10-28T21:34:00.000-07:00</published><updated>2010-10-28T21:46:30.578-07:00</updated><title type='text'>ANARKI JAUH DARI KEMATIAN!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TMpPLDULFbI/AAAAAAAAAV0/-RWqecz3sYE/s1600/rencana+kover+copy+%5B640x480%5D.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TMpPLDULFbI/AAAAAAAAAV0/-RWqecz3sYE/s320/rencana+kover+copy+%5B640x480%5D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5533322143465149874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Luigi Galleani dan Propaganda-Dengan-Tindakan di Amerika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Galleani menjadi anarkis pada usia remaja, saat mempelajari hukum di University of Turin. Dia meninggalkan sekolah sebelum menyelesaikan sarjananya dan mengalihkan perhatiannya untuk mempromosikan ide-ide anarkis. Anarkis yang lahir di Vercelli ini, terpaksa hengkang ke Prancis untuk menghindari prosekusi yang mengancam di Italia, tapi kemudian diusir dari Prancis karena terlibat sebuah demonstrasi Mayday.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galleani kemudian pindah ke Swiss, di mana dia mendatangi University of Geneva sebelum kembali diusir karena dianggap sebagai agitator berbahaya yang mengatur perayaan penghormatan terhadap para martir Haymayket. Dia Kembali ke Italia di mana kemudian ditangkap dengan tuduhan konspirasi. Di awal 1894, dia menghabiskan lebih dari lima tahun di penjara dan eksil internal, terutama di pulau Pantelleria, di luar daratan Sisilia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Melarikan diri dari Pantelleria pada 1900, Galleani hengkang ke Mesir. Kemudian, di bawah ancaman ekstradiksi, dia melarikan diri lagi ke London, lalu ke Amerika Serikat pada 1901. Di sana, anarkis yang lahir di tengah-tengah orangtua kelas menengah ini, datang sebagai seorang imigran yang tidak punya uang sepeser pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dengan cepat Galleani menarik perhatian lingkar-lingkar anarkis radikal sebagai seorang orator karismatik yang mempercayai bahwa kekerasan diperlukan untuk melawan kapitalis yang menindas kelas pekerja. Dengan tegas dan bangga, Galleani mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seorang subversif, seorang propagandis revolusioner yang mendedikasikan dirinya untuk merongrong pemerintahan dan institusi yang mapan, dengan menyebarkan sebuah filosofi politik yang berdasarkan aksi-langsung. Dilihat dari berbagai aspek, Galleani adalah seorang pembicara yang benar-benar berpengaruh dan seorang penganjur kebijakan lewat kekerasan revolusioner. Carlo Buda, saudara dari Mario Buda—pembuat bom yang terinspirasi Galleani—berkata, "Dengarkan Galleani bicara, dan kamu siap untuk menembak polisi pertama yang kamu temui."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Galleani pertama kali menetap di New Jersey, tapi didakwa menghasut orang-orang agar melakukan kerusuhan. Dia pun kabur ke Kanada, dan dengan segera dideportasi. Kemudian dia pindah ke Vermont, di mana dia dikenal sebagai seorang penganjur propaganda-dengan-tindakan (propaganda by the deed). Galleani adalah juga seorang pendiri dan editor dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cronaca Sovversiva &lt;/span&gt;(Kronik Subversif), sebuah newsletter anarkis yang dipublikasikan oleh Galleani selama 15 tahun sebelum pemerintah Amerika membredelnya di bawah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sedition Act of 1918&lt;/span&gt;[1].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setiap isu dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kronik Subversif &lt;/span&gt;biasanya tidak lebih dari 8 halaman. Newsletter tersebut menawarkan perspekstif dengan topik-topik radikal yang bervariasi, termasuk argumen-argumen tentang ketiadaan tuhan, kebutuhan akan cinta-yang-bebas, pidato yang berisi kritik tajam dan penuh kemarahan melawan tirani negara baik secara historis dan kontemporer, maupun kehinaan dan sikap yang terlalu pasif dari para sosialis. Newsletter yang pada satu waktu dinyatakan memiliki 5000 pelanggan ini, secara berkala mempublikasikan daftar alamat-alamat dan hubungan yang detail dari para bisnismen, mata-mata kapitalis, penghalau aksi mogok, dan berbagai macam musuh masyarakat. Isu-isu terakhir dari newsletter ini mengangkat sebuah iklan yang menjual sebuah manual tidak berbahaya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"The Health is in You!" &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kesehatan Ada di Dalam Dirimu!&lt;/span&gt;) seharga 25 sen (dollar), yang dideskripsikan sebagai sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap keluarga proletar. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kesehatan Ada di Dalam Dirimu!" &lt;/span&gt;adalah sebuah manual pembuatan bom. Beberapa buku-buku yang dikarang Galleani terdiri dari essai-essai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kronik Subversif&lt;/span&gt;. Salah satu essainya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Fine dell'anarchismo? &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akhir dari Anarkisme?&lt;/span&gt;) di mana Galleani mendeklarasikan bahwa anarki jauh dari kematian dan masih relevan sebagai sebuah pergerakan politik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;AKTIFITAS-AKTIFITAS REVOLUSIONER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Semakin hari Galleani semakin membangkang terhadap kekuasaan pemerintah dan polisi. Dengan segera, dia menarik perhatian sebuah grup dari lingkar radikal dan para sohib yang kemudian dikenal sebagai Galleanis. Dalam grup Galleanis ini terdapat Frank Abarno, Gabriella Segata Antolini, Pietro Angelo, Luigi Bacchetti, Mario Buda alias Mike Boda, Carmine Carbone, Andrea Ciofalo, Ferrucio Coacci, Emilio Coda, Alfredo Conti, Roberto Elia, Luigi Falsini, Frank Mandese, Riccardo Orciani, Nicola Recchi, Giuseppe Sberna, Andrea Salsedo, Raffaele Schiavina, Nestor Dondoglio alias Jean Crones, Carlo Valdinoci, dan yang paling terkenal, Nicola Sacco dan Bartolomeo Vanzetti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Aktifitas-aktifitas dari Galleani dan grupnya berpusat di sekitar promosi bentuk-bentuk radikal dan penuh kekerasan dari anarkisme, yang dilakukan dengan pidato, newsletter, agitasi pekerja, protes politik, dan pertemuan-pertemuan rahasia. Bagaimanapun, banyak dari sohib Galleani yang menggunakan bom dan cara-cara kekerasan lainnya. Para Galleanis juga mempraktekkan apa yang selama ini digalakkan oleh anarkis yang lahir pada tahun 1861 tersebut, tapi Galleani sendiri tidak pernah terlibat langsung di dalamnya. Dengan bantuan dari seorang ahli kimia dan ahli ledakan yang bersahabat, Profesor Ettore Molinari, Galleani menulis buklet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kesehatan Ada di Dalam Dirimu!"&lt;/span&gt;, sebuah buku kecil 46 halaman yang berisi panduan eksplisit tentang membuat bom. Regu Bom New York City (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The New York City Bomb Squad&lt;/span&gt;) menganggap buklet tersebut akurat dan praktis, padahal Galleani membuat sebuah kesalahan, yang dikoreksi pada tahun 1908, yang menghasilkan satu atau lebih bahan peledak yang prematur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Anjuran Galleani akan kekerasan adalah pemikiran yang pertama kali diletakkan ke dalam aksi oleh para sohibnya pada tahun 1914. Para Galleanis terlibat setidaknya dalam dua pengeboman di New York setelah polisi dengan membabi buta membubarkan sebuah aksi protes di rumah John D Rockefeller di Tarrytown, New York. Setelah beberapa bulan berikutnya, terjadi pengeboman di wilayah yang berbeda di New York City. Tempat-tempat yang menjadi sasarannya adalah kantor-kantor polisi, gereja, dan paviliun. Pada 14 November 1914, sebuah bom diletakkan di bawah kursi hakim Campbell dari pengadilan militer Tombs. Campbell telah memvonis seorang anarkis muda atas tuduhan memprovokasi kerusuhan. Pada bulan Januari 1915, polisi mempublikasikan sebuah persekongkolan untuk meledakkan Katedral St Patrick di New York. Polisi juga menemukan salinan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kesehatan Ada di Dalam Dirimu!" &lt;/span&gt;di rumah salah seorang tersangka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seorang Galleanis asal Chicago, Nestor Dondoglio, meracuni sekitar 200 tamu di sebuah perjamuan pada tahun 1916 sebagai penghargaan terhadap Archbishop Mundelein. Dari keduaratus tamu yang diracuni tersebut, tak ada seorang pun yang mati dan Dondoglio sendiri tak pernah tertangkap. Setelah meninggalkan serangkaian olok-olok bagi polisi, Dondoglio melarikan diri ke Pesisir Timur (East Coast), di mana dia disembunyikan oleh para Galleanis lainnya sampai dia meninggal pada tahun 1932. Pada tanggal 6 Desember 1916, seorang Galleanis lainnya, Alfonso Fagotti, tertangkap karena membacok seorang polisi dengan pisau jagal selama kerusuhan di Boston North Square. Dalam usaha balas dendam, para Galleanis meledakkan sebuah bom di jalan utama dari kantor polisi pelabuhan Boston di hari berikutnya. Pada akhirnya, Fagotti dideportasi ke Italia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Beberapa penulis juga mencurigai para Galleanis berpartisipasi pada Persiapan Hari Pengeboman (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Preparedness Day Bombing&lt;/span&gt;) di San Francisco tahun 1916. Meskipun tak pernah didakwa ataupun dijatuhi hukuman secara resmi di pengadilan atas keterlibatan dalam serangan tersebut, beberapa sejarawan telah mencatat bahwa Persiapan Hari Pengeboman tersebut telah menjadi sebuah komponen dari serangan bom para Galleanis, secara spesifik aktifitas pengeboman dari Mario Buda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada 24 November 1917, di Milwaukee, Mario Buda berpikir untuk mengkonstruksikan sebuah bom bubuk hitam besar[2] dengan air keras sebagai penunda detonator yang meledak pada kantor polisi Milwaukee di mana bom bubuk hitam besar tersebut baru saja dipindahkan setelah penemuannya di dalam lantai dasar sebuah gereja. Ledakan dari bom tersebut membunuh sembilan orang polisi dan seorang perempuan sipil. Kejadian bom tersebut adalah insiden kekerasan teroris terburuk di Amerika Serikat sampai waktu itu. Bom tersebut sebenarnya dirancang bukan untuk polisi, tapi ditanam di sebuah gereja Katolik Italia kiranya untuk membunuh patriotis, pembantu pendeta sayap-kanan. Terdapat insiden-insiden yang morat-marit dari keberhasilan dan kegagalan pengeboman di New York City, San Francisco, Washington DC, Boston, dan Milwaukee, yang mengacu pada para sohib Galleani. Meskipun begitu, tak ada pengaduan kriminal yang mengiringi. Pada waktu tersebut, Kongres dan publik secara luas telah memulai aksi tuntutan melawan anarkis-anarkis militan dan para penganjur kekerasan fisik lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pada tanggal 17 Januari 1918, seorang gadis Galleanis berusia 19 tahun, Gabriella Segata Antolini, ditangkap karena mengantarkan sebuah tas kecil yang penuh dijejali dengan dinamit. “Oleh-oleh” itu ia peroleh dari Carlo Valdinoci dalam rangkaian kereta Chicago[3]. Ketika diinterogasi, ia menyebutkan nama palsu dan menolak untuk bekerjasama dengan penguasa ataupun menyuplai mereka dengan informasi apa pun; dia pun dikirim ke penjara selama 14 bulan sebelum akhirnya dilepaskan. Selama di penjara, Antolini bertemu dengan anarkis tersohor Emma Goldman, yang dengannya lah Antolini menjalin persahabatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bulan Februari 1918, para penguasa Amerika Serikat menggerebek kantor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kronik Subversif”&lt;/span&gt;. Mereka membredel terbitan dan memenjarakan editor-editornya. Daftar pelanggan telah disembunyikan oleh para staff, tapi penguasa mendapatkan lebih dari 3000 nama dan alamat para pelanggan dari isu yang akan diterbitkan, yang telah dibundel untuk dikirimkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;18 Oktober 1918, Kongres menerbitkan sebuah peraturan baru yang bertujuan untuk melarang penduduk terlibat dalam gerakan anarkis ataupun organisasi politis revolusioner, yakni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anarchist Exclusion Act&lt;/span&gt;[4]. Untuk merespon itu, Galleani dan para sohibnya mendeklarasikan perang terhadap Pemerintah Amerika Serikat dan dengan sengaja mengabarkan tujuan mereka melalui publikasi flyer: “Deportasi tak akan mampu menghentikan badai yang sedang menghampiri. Badai ini tertanam dan dengan segera akan menerjang, menyerang dan membinasakan dirimu dalam darah dan api... Kami akan meledakkanmu!” Serangan mereka diikuti oleh sebuah pengeboman berantai terhadap bisnismen dan pegawai terkemuka, termasuk sebuah bom yang ditaruh di rumah Hakim von Moschzisker, yang telah memvonis empat anarkis Italia dengan hukuman penjara yang sangat lama pada tahun 1908.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sehari setelah mendengarkan orasi Galleani yang berapi-api, yang sedang menunggu keputusan deportasinya, pada tanggal 27 Februari 1919, empat orang Galleanis tewas ketika bom dinamit yang rencananya mereka pasang di Franklin, Massachusetts, meledak secara prematur mengenai wajah mereka[5].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di akhir bulan April tahun 1919, sekitar 30 paket bom berisi dinamit dikirimkan melalui surat kepada para politikus, pegawai pengadilan, dan pemodal (termasuk John D Rockefeller). Satu bom bahkan ditujukan pada seorang agen FBI yang ditugaskan untuk mencari beberapa Galleanis yang sedang diburu, termasuk Carlo Valdinoci. Para Galleanis merancang bom mereka untuk dikirimkan pada Mayday, sebuah hari internasional bagi solidaritas para komunis, anarkis, dan sosialis revolusioner. Hanya beberapa paket saja yang terkirim, karena komplotan tersebut lalai memasang perangko yang memadai. Salah satu paket bahkan terdeteksi, dan tanda-tanda yang berbeda dari paket tersebut memungkinkan sergapan terhadap mayoritas dari mereka. Tak ada seorang pun yang terbunuh dengan paket bom yang telah dikirimkan tersebut, tapi ada kecelakaan yang terjadi. Seorang pelayan dari Senator Hardwick (salah seorang pendukung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anarchist Act&lt;/span&gt;) tangannya meledak ketika membuka paket yang dikirimkan ke rumah sang Senator di Georgia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Para Galleanis merencanakan untuk meledakkan delapan bom ukuran besar yang secara simultan berdekatan di beberapa kota berbeda di Amerika Serikat, di bulan Juni 1919. Target-targetnya termasuk rumah para hakim, bisnismen, walikota, inspektur imigrasi, dan sebuah gereja. Rupanya mereka menyadari bom pertama mereka tidaklah berkekuatan memadai, karenanya bom baru yang mereka siapkan menggunakan dinamit sampai dengan 20 pon, dibungkus dengan besi dari serpihan granat yang telah meledak. Di antara korban-korban yang menjadi target, terdapat para politisi yang mendukung Undang-Undang Anti-Subversi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anti-Sedition Law&lt;/span&gt;) dan deportasi, atau hakim yang telah mengirimkan para anarkis Galleanis ke dalam penjara. Rumah Walikota Cleveland Harry L Davis, Hakim WHS Thompson, Perwakilan Negara Bagian Massachusetts Leland Powers, Jaksa Agung A Mitchell Palmer (sebelumnya telah menjadi target dari bom surat para Galleanis), semuanya diserang oleh para Galleanis. Tak ada seorang pun dari para petinggi tersebut yang terbunuh. Tapi bom tersebut memakan korban seorang penjaga malam, seorang wanita yang melewati rumah salah satu korban, dan seorang Galleanist, Carlo Valdinoci, yang juga mantan editor Kronik Subversif. Meskipun tak terluka, Palmer dan keluarganya sangat terguncang akibat ledakan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Carlo Valdinoci, yang juga teman dekat Galleani, terkena ledakan hingga tubuhnya terceraiberai tepat di depan rumahnya Palmer, yang merupakan target dengan kerusakan terparah. Valdinoci terbunuh entah karena tersandung bom yang dia bawa, atau bomnya meledak secara prematur ketika dia meletakkannya di beranda rumah Palmer. Semua bom tersebut dikirimkan bersama sebuah flyer, yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kata-Kata Sederhana &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Plain Words&lt;/span&gt;). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kata-Kata Sederhana &lt;/span&gt;memperingatkan: “Perang, Perang Kelas, dan kamu merupakan bagian pertama yang melaksanakan hal itu di bawah selimut dari institusi kekuasaan yang kamu sebut tatanan, dalam kegelapan hukum-hukummu. Hal tersebut akan menjadi pertumpahan darah; kami tidak akan menghindar; harus ada yang menjadi pembunuh: kami akan membunuh, karena hal tersebut penting; harus ada penghancuran; kami akan menghancurkan untuk mengeliminasi dunia dari insitusi-institusi kejam milikmu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Para penguasa menangkap seorang tukang set huruf cetak, Andrea Salsedo dan Roberto Elia, seorang perakit. Mereka tertangkap karena salah satu flyer tertinggal bersama sebuah paket bom, dan penguasa berhasil melacak flyer tersebut ke percetakan di mana Salsedo bekerja. Salsedo diinterogasi secara intensif (beberapa mengatakan sambil disiksa juga) oleh agen federal. Tapi setelah memberi beberapa informasi, ia semakin murung. Salsedo tewas setelah lompat (atau didorong keluar) dari lantai 14 sebuah gedung di mana dia ditangkap. Walaupun Salsedo mengakui dirinya seorang anarkis dan dia mencetak flyer bom, tak ada seorang pun yang ditangkap atau divonis dalam pengeboman berikutnya, sehubungan dengan kurangnya bukti-bukti dan penolakan para Galleanis lainnya untuk memberikan informasi kepada penguasa. Elia kemudian dideportasi. Merujuk pada pengacaranya, dia menolak sebuah tawaran yang memperbolehkan dia tetap tinggal di Amerika Serikat jika dia dapat memutuskan hubungannya dengan para Galleanis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setelah kematian Valdinoci, Ferrucio Coacci dan Nicola Recchi muncul untuk mengambil peran yang menonjol dari grup tersebut; keduanya adalah perakit bom. Nicola Recchi sendiri telah kehilangan tangan kirinya karena ledakan prematur, tapi dia tetap merakit bom.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di bawah undang-undang sebelumnya, Departemen Kehakiman yang dikepalai oleh Jaksa Agung Palmer tidak memiliki kekuasaan untuk mendeportasi penduduk asing; hanya Departemen Imigrasi yang dapat melakukannya. Sampai pada titik tersebut, para anarkis tergugat dapat dan telah melakukan penundaan deportasi mereka dengan permohonan legal secara terus menerus. Dengan publik dan media mainstream yang mengeluhkan pemerintah untuk mengambil tindakan, Palmer dan pegawai pemerintah lainnya memulai rangkaian investigasi menggunakan penyadap telepon tanpa garansi, mengulas catatan langganan dari publikasi-publikasi radikal, dan cara-cara lain untuk menginvestigasi ribuan anarkis, komunis, dan radikal-radikal lainnya. Dengan bukti-bukti di tangan, dan setelah kesepakatan bersama Departemen Imigrasi, Palmer dan Departemen Kehakiman mulai membulatkan jumlah dan mendeportasi sebanyak mungkin para radikal yang dapat dikenai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anarchist Act&lt;/span&gt;—sebuah gelombang penangkapan dan deportasi besar-besaran yang dikenal sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Palmer Raids (&lt;/span&gt;Penggerebekan Palmer)[6].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;DEPORTASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Luigi Galleani dan delapan sohib karibnya dideportasi ke Italia pada bulan Juni 1919, tiga minggu setelah pengeboman gelombang 2 Juni. Meskipun penguasa tidak memiliki cukup bukti untuk menyangkutkan Galleani, mereka tetap mendeportasi Galleani sebagai seorang penduduk asing yang secara terang-terangan menganjurkan kekerasan untuk meruntuhkan pemerintah dan pernah menulis sebuah buku panduan membuat bom. Setelah sampai di Italia, dengan segera Galleani mendapatkan perhatian dari penguasa, yang memaksa dirinya eksil ke sebuah pulau di luar Italia. Pasca Mussolini berkuasa, Galleani mendapat pengawasan ketat dari polisi pemerintah Fasis. Kemudian, dia diperbolehkan untuk kembali ke daratan Italia, tapi pengawasan polisi tetap berlanjut. Galleani wafat karena serangan jantung di usia 70 pada 4 November 1931. Insureksioner satu ini adalah seorang anarkis abad 20 yang paling terkenal dalam menginspirasi dan mengadvokasi rangkaian pengeboman di Amerika Serikat pada tahun 1919. Galleani dapat dideskripsikan sebagai salah seorang anarkis-komunis dan anarkis-insureksioner terbaik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;KETERANGAN TAMBAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Para sohib Galleani tidak mengikuti deportasinya dengan baik, maupun berita bahwa temannya, Sacco dan Vanzetti didakwa untuk kasus pembunuhan. Sebuah gelombang pengeboman mengiringi pengadilan mereka. Satu atau lebih sohib Galleani, terutama Mario Buda, dicurigai sebagai pelaku pengeboman Wall Street[7] pada tahun 1920, yang menyebabkan 33 orang meninggal. Pengeboman para Galleanis berlanjut setelah vonis bersalah dan eksekusi dari Sacco dan Vanzetti pada tahun 1927. Sejumlah pengadilan dan pegawai penjara secara spesifik menjadi target, termasuk hakim pengadilan, Webster Thayer, dan juga pengeksekusi, Robert Elliott.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setelah Galleani dan para sohibnya kembali ke Italia, Ferrucio Coacci dan Nicola Recchi kemudian menyusul pindah ke Argentina. Di sana, dengan cepat Coacci bergabung bersama seorang anarkis Argentina yang mempromosikan kekerasan, Severino Di Giovanni. Dideportasi dari Argentina setelah eksekusi Di Giovanni, Coacci kembali ke Argentina setelah Perang Dunia Dua. Mario Buda juga kembali ke Italia lebih cepat setelah pengeboman Wall Street, di mana dia hidup sampai kematiannya di tahun 1963.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;CATATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;[1] Undang-undang Makar 1918 (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Sedition Act of 1918&lt;/span&gt;) adalah undang-undang yang dibuat oleh kongres Amerika Serikat, yang disahkan ke dalam hukum oleh Presiden Woodrow Wilson pada tanggal 16 Mei 1918. Undang-undang tersebut melarang penggunaan bahasa yang mengungkapkan "ketidaksetiaan, vulgar, kasar, atau makian-makian” terhadap pemerintah Amerika Serikat, benderanya, atau tentara atau yang menyebabkan orang-orang memandang jelek pemerintah Amerika atau institusi-institusinya. Lahirnya undang-undang ini memicu lahirnya undang-undang spionase di tahun yang sama, dan beberapa undang-undang yang secara khusus dibuat untuk menghambat gerakan anarkis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;[2] Balousek, Marv, dan Kirsch, J. Allen, 50 Wisconsin Crimes of the Century, Badger Books Inc. (1997).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;[3] Avrich, Paul, Anarchist Voices: An Oral History of Anarchism in America, Princeton: Princeton University Press (1996).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;[4] &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Anarchist Exclusion Act&lt;/span&gt; adalah undang-undang yang mengatur pengusiran orang-orang asing yang menetap di Amerika Serikat pada tahun 1906. Undang-undang ini dibuat segera setelah pembunuhan Presiden William McKinley oleh Leon Czolgosz, seorang anak imigran Polandia yang lahir di Amerika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pasca undang-undang ini disahkan, banyak anarkis dan para militan radikal yang diusir dari Amerika karena aktifitasnya. Beberapa di antaranya adalah John Turner, anarkis Skotlandia, yang merencanakan mimbar bebas untuk memperingati para martir Haymarket; para anarkis militan yang berasal dari beberapa negeri seperti Italia dan lainnya; juga para imigran radikal yang tidak mengklaim dirinya anarkis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Emma Goldman, sang anarkis-feminis, pernah mengorganisir Liga Mimbar Bebas (Free Speech League) untuk menentang undang-undang ini dan deportasi para imigran.  Liga yang diorganisir Emma Goldman ini secara khusus diorganisir untuk membela Turner.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;[5] Avrich, Paul, Sacco and Vanzetti: The Anarchist Background, Princeton University Press (1991).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;[6] Penggerebekan Palmer (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Palmer Raids&lt;/span&gt;) adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh Departemen Kehakiman Amerika untuk menangkap dan mendeportasikan para radikal sayap kiri, terutama para anarkis, dari Amerika Serikat. Penggerebekan dan penangkapan berlangsung dari bulan November 1919 sampai bulan Januari 1920 di bawah kepemimpinan Jaksa Agung A Mitchel Palmer. Penggeberekan ini berhasil mendeportasi lebih dari 500 warga asing, termasuk para pemimpin terkemuka gerakan kiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;[7] Pengeboman Wall Street terjadi pada tanggal 16 September 1920 di distrik keuangan kota New York. Ledakan ini mengakibatkan 38 orang meninggal dan 143 orang mengalami luka serius. Pengeboman ini lebih mematikan dari pengeboman gedung Los Angeles Times pada 1910.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1831472828369482728-2826144572164543779?l=timkatalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://timkatalis.blogspot.com/feeds/2826144572164543779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1831472828369482728&amp;postID=2826144572164543779' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/2826144572164543779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1831472828369482728/posts/default/2826144572164543779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://timkatalis.blogspot.com/2010/10/anarki-jauh-dari-kematian.html' title='ANARKI JAUH DARI KEMATIAN!'/><author><name>Katalis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00672663030136902355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TMpPLDULFbI/AAAAAAAAAV0/-RWqecz3sYE/s72-c/rencana+kover+copy+%5B640x480%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1831472828369482728.post-6411869919516124822</id><published>2010-10-28T00:40:00.000-07:00</published><updated>2010-10-28T00:49:17.592-07:00</updated><title type='text'>TOTALITAS BAGI KAUM MUDA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TMkpQer4gmI/AAAAAAAAAVs/X1BJnWCHYmw/s1600/capt.3fe62d8387394bfeb3829672e1ab158b-3fe62d8387394bfeb3829672e1ab158b-0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L4inGUAIkbw/TMkpQer4gmI/AAAAAAAAAVs/X1BJnWCHYmw/s320/capt.3fe62d8387394bfeb3829672e1ab158b-3fe62d8387394bfeb3829672e1ab158b-0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532998980293132898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;SEBUAH SEJARAH SINGKAT SITUATIONIST INTERNATIONAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;INTRODUKSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;“Sesuai dengan apa yang engkau cari, pilih sebuah negara, kota yang kurang lebih banyak populasinya, jalan yang kurang lebih ramai. Bangun sebuah rumah. Beri perabotan. Gunakan berbagai dekorasi dan menghias sekelilingnya sebagus mungkin. Pilih musim, hari dan waktunya. Kumpulkan bersama orang-orang yang paling cocok, dengan musik dan minuman yang juga tepat. Pencahayaan dan obrolan juga harus tepat dengan suasananya, sebagaimana musim atau memorimu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saat pertama kali membaca kutipan di atas, mungkin sangat tidak mengesankan, apalagi saat berbicara mengenai sejarah sebuah organisasi yang revolusioner—yang biasanya dipenuhi oleh kutipan-kutipan pernyataan dari organisasi tersebut yang sangat berapi-api dan membakar. Tetapi hal sederhana tersebut akan berbeda apabila kalian para pembaca sebelumnya telah memahami soal ide-ide yang dikembangkan oleh Situationist International, yang mungkin ide sederhana yang tak lain adalah terjemahan dari artikel Permainan Psykogeografi Minggu Ini di atas akan menjadi sangat menarik. Para pemain didorong untuk ‘membangun’ sebuah situasi, yang jelas sangat simpel, bukan sebuah event politis yang tampak sangat radikal, melainkan sebuah momen dari kehidupan nyata, sebuah momen yang lebih tinggi dalam kehidupan nyata. Hasratlah yang dijadikan racikan paling mendasar bagi terciptanya sebuah revolusi. Sebuah dorongan untuk hidup secara langsung, sebagai lawan dari bentuk hidup yang teralienasi yang disodorkan oleh masyarakat kapitalis dewasa ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Psikogeografi, sebuah kritik politis atas masyarakat  melewati pemetaan mental (melalui kritik atas arsitektur), adalah alasan-alasan dasar yang paling menarik dari hasil-hasil kerja para Situationist. Hal ini jugalah yang tak akan pernah ditemui sebelumnya dari karya-karya revolusioner sebelumnya, yang biasanya hanya melihat ketertindasan ekonomi sebagai faktor utama yang perlu diperhatikan dalam ‘mengorganisir’ sebuah momen insureksional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tetapi toh berbicara mengenai Situationist International (SI) jelas berbicara mengenai organisasi revolusioner, tentang politik, tentang Debord, tentang Situationist International Kedua, tentang seluruh aktifitas harian para anggotanya. Hal tersebut dapat diterangkan melalui fakta bahwa seluruh anggotanya aktif secara politis, tetapi biografi-biografi yang ditulis oleh para sejarawan tak pernah menggambarkan mereka dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sepintas tulisan-tulisan SI memang memusingkan dan kabur apabila dibaca tanpa beberapa pamahaman dasar tentang konteks yang ingin mereka kembangkan. Dengan demikian, sebelum sejarah mengenai mereka mulai dibaca di halaman-halaman berikutnya, kami lampirkan juga terlebih dahulu sebuah catatan singkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Catatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seluruh teks dari Situationist International dan teks-teks yang berhubungan dengannya bebas dari hak cipta. Tak ada terjemahan teks-teks mereka dalam bahasa Indonesia, jadi apabila para pembaca ada yang lantas tertarik untuk mempelajarinya lebih mendalam, di akhir artikel ini akan kami bubuhkan beberapa buku yang paling signifikan untuk dipelajari lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;BAB I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;PRA-SITU DAN AKAR-AKARNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;(PERANG DUNIA II — 1957)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Situationist International (SI) dibentuk pertama kali pada tahun 1957 di pedesaan Italia bernama Cosio d’Arroscia yang merupakan sebuah peleburan dari grup avant-garde ‘International Movement for an Imaginit Bauhaus’ (IMIB), Lettrist International (LI) dan London Psychogeographical Association. Organisasi tersebut hidup dan berjalan selama 15 tahun hingga berakhir di Paris pada tahun 1972; bergerak dari bidang seni radikal yang merupakan bidang tempat mereka bermula, hingga pada politik revolusioner yang sama sekali tidak mengalienasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam pembentukan awalnya, SI memiliki akar yang kuat baik secara literer ataupun artistik, pada tradisi avant-garde yang apabila ditarik ke belakang merunut pada ideologi yang dianut Dada dan Surrealisme. Tradisi ini dibawa ke dalam organisasi tersebut melalui Asger Jorn dan Constant. Dua orang anggota terkemuka dari The International of Experimental Artist, yang kemudian dikenal sebagai COBRA dan juga merupakan anggota IMIB—salah satu grup yang membentuk SI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;COPENHAGEN BRUSSEL AMSTERDAM (COBRA)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;COBRA, atau lebih dikenal dengan The International of Experimental Artist, adalah sebuah grup avant-garde yang berisi penulis, arsitek dan pelukis dari Belgia, Belanda dan Denmark. Grup ini dibentuk tahun 1949, saat anggota-anggota Revolutionary Surrealist Group, Host dan Die Experimentele Groep dari Belanda bertemu dalam sebuah kongres seni di Paris. Grup-grup yang disebutkan terakhir tadi dibentuk begitu Perang Dunia II berakhir, yang mengalami masa stagnansinya setelah Surrealisme meraih sukses komersil dan mendapatkan pukulan telaknya dalam masa perang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Belgian Surrealist Group (Grup Surrealis Belgia), yang dipimpin oleh Christian Dotremont, adalah sebuah faksi pecahan dari kelompok tandingannya di Perancis. Perpecahan ini muncul setelah tahun 1945 saat Andre Breton, tokoh kunci Surrealist Group, kembali dari pengungsiannya selama perang di Amerika Serikat. Breton yang memulai perpecahan itu, berkeinginan untuk memfokuskan aktifitas grup seniman tersebut lebih pada mistikisme, dan melupakan militansi politis yang selama ini melekat pada setiap aktifitas grup. Ia memutuskan untuk keluar dari Partai Komunis dan berharap semua orang mengikuti langkahnya (Surrealist dan Partai Komunis semenjak dari awal telah memiliki ikatan yang kuat). Sementara Breton mengungsi ke Amerika Serikat selama perang berlangsung, Dotremont dan anggota-anggota Surrealist Group tetap tinggal di Eropa dan mengambil bagian aktif dalam semua aktifitas melawan Nazi. Mereka bahkan juga membentuk Revolutionary Surrealist Group yang bermarkas di Brussel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sementara grup Host adalah kelompok pelukis, penulis dan arsitek yang terbentuk di seputar majalah Helhesten yang aktif antara tahun 1941 dan 1944.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Die Experimentele Groep di Belanda juga merupakan kelompok yang serupa, anggotanya adalah para pelukis, penulis dan arsitek. Mereka mempublikasikan majalah bertitel ‘Reflex’ yang penuh berisi teks-teks dan puisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tahun 1948, beberapa delegasi dari ketiga grup tersebut bertemu saat berpartisipasi dalam sebuah konferensi bertajuk International Centre For The Documentation Of Avant-Garde Art di Paris. Para delegasi ketiga grup tersebut adalah mereka yang kecewa dalam tingkat diskusi yang berlangsung di sana, yang dengan segera mempublikasikan pernyataan oposisional mereka: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Satu-satunya alasan yang ada dalam aktifitas internasional kami adalah kolaborasi yang organik dan eksperimental, yang jelas menghindari kesakralan teori dan dogmatisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam pernyataan tersebut mereka telah mulai membuat dasar bagi platform atas kolaborasi ketiga grup. Sebagian platform tersebut didefinisikan lebih lanjut dalam sebuah manifesto yang hadir beberapa saat kemudian di salah satu edisi majalah ‘Reflex’ sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keterputusan kultur klasik Barat adalah sebuah fenomena yang hanya dapat dipahami dengan cara mengkontraskannya pada sebuah evolusi sosial yang dapat berakhir dengan keruntuhan total sebuah prinsip masyarakat yang telah bertahun-tahun dikenal, untuk digantikan dengan sebuah sistem yang mana hukum-hukumnya didasarkan pada tuntutan langsung dari vitalitas manusia [...].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kolaborasi dari ketiga grup tersebut menghasilkan sebuah majalah yang berbentuk sebuah forum di mana praktek dan ide-ide mereka dipertukarkan sekaligus diperdebatkan. Majalah tersebut dinamai COBRA (dari inisial kota-kota Copenhagen, Brussel, Amsterdam). Berbagai eksibisi dan event mulai direncakan serta dihadirkan. Sang Belgia Dotremont, Constant dari Belanda dan Asger Jorn dari Denmark adalah tiga tokoh kunci dari grup tersebut yang muncul secara alamiah dari aktifitas-aktifitas para pelukis, arsitek, penulis, penyair dan teoris-teoris di seputaran grup tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mereka semua menolak baik seni realisme maupun seni abstrak, dan memilih sebuah bentuk ekspresi langsung yang cenderung primitif, yang dikembangkan melalui berbagai eksperimentasi. Secara politis, dalam melakukan semua aktifitas tersebut jelas mulai beroposisi dengan Partai Komunis yang hanya mendukung satu jenis seni: realisme sosial. Mengambil jarak semakin jauh dari Surrealisme dengan mengkritisi fokus gerakan tersebut yang hanya berputar di sekitar alam ketidaksadaran dan psikis. Di saat yang sama, mereka juga membawa ke muka sebuah ide tentang pembentukan lingkungan urban yang baru, sesuatu yang lebih ‘irasional’, yang jelas membawa mereka bertentangan dengan rasionalisme LeCorbusier. Constant kemudian mengambil dan mengembangkan konsep ini ke dalam Situationist International, yang mana teori tersebut semakin berkembang di bawah nama Urbanisme Unitarian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;COBRA membubarkan diri pada tahun 1951 setelah selama terbentuknya selalu ditolak oleh ideologi seni yang telah mapan—walaupun toh tujuh tahun kemudian para anggota COBRA (Jorn, Constant dan Appel) meraih sukses komersial sehingga mendadak seluruh ide-ide mereka ‘diketemukan’ dan ‘dicanangkan’ sebagai sebuah gerakan avant-garde yang paling penting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jorn dan Constant, yang kemudian menjadi anggota SI yang saat itu baru terbentuk, menulis tentang rekuperasi atas COBRA sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di tahun 1958, beberapa konspirasi berusaha untuk meluncurkan sebuah gerakan avant-garde ‘baru’, hal yang sama telah ditolak 7 tahun sebelumnya. [...] Grup-grup dalam gerakan COBRA telah setuju untuk memproklamirkan sebuah riset eksperimental tentang kultur. Tetapi intensi positif ini, yang diguncang oleh kebingungan ideologis, dijaga agar tetap hidup oleh sebuah komponen yang kuat dari neo-Surrealist. Maka satu-satunya yang berhasil dicapai oleh COBRA adalah kreasi sebuah gaya melukis yang baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;GERAKAN LETTRIST DAN LETTRIST INTERNATIONAL (LI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selama berlangsungnya Perang Dunia II, Isidore Isou, seorang penyair muda Romania, mengelaborasikan teori yang ia kembangkan ke dalam bentuk puisi. Merunut pada puisi ini, seperti juga semua seni melalui dua fase dialektis, fase ekspansi dan fase pemahatan. Setelah para Dadais ‘menghancurkan’ kata-kata, puisi kini telah mencapai fase pemahatan akhirnya. Peran Isou dalam hal ini adalah melengkapi fase tersebut dengan menghancurkan huruf, dan menginisiasikan sebuah periode ekspansi yang baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saat waktunya dirasa tepat, ia pergi ke Paris, ibukota kultur Barat, untuk memproklamirkan penemuan besarnya pada dunia. Hasilnya sangat mengecewakan, karena nyaris tak seorangpun peduli pada penemuannya tersebut. Tetapi bukannya mundur, Isou yang egosentris malahan mempersenjatai dirinya dengan dua cara yang dapat membuat suaranya didengar: melalui skandal dan mengumpulkan pengikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Gerakan Lettris dengan demikian mulai lahir. Nama mereka meroket melalui berbagai skandal seperti publikasi dan distribusi masif sebuah pamflet berjudul ‘Kediktatoran Lettrist’ (mungkin tidak terdengar menarik saat ini, tetapi bayangkan saat ini terjadi adalah Paris tahun 1946, hanya setahun setelah Jerman menduduki kota tersebut), juga melalui sebuah interupsi mendadak di tengah pembacaan puisi Tristan Tzara dan yang paling berhasil adalah pembacaan pamflet ‘Tuhan Telah Mati’ di sebuah misa di Notre Dame (para perusuh tersebut berpakaian seperti pendeta, dan mereka tidak selesai saat melakukan pembacaan karena seorang penjaga berusaha membunuh mereka).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Atas skandal-skandal yang ditimbulkannya, sekelompok pemuda usia 20-an banyak berkumpul di sekitar Isou dan kafe-kafe di Left Bank tempat para Lettrist biasa berkumpul. Guy-Ernest Debord bergabung dengan kelompok ini pada tahun 1950 bertepatan setelah upaya yang dilancarkan para Lettrist untuk mengacaukan Festival Film Cannes. Mereka memproduksi puisi bunyi Lettrist, lukisan Lettrist yang menjadikan huruf sebagai subyeknya, beserta beberapa film Lettrist.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tahun 1951, film Isou yang bertajuk The Drivel dan Eternity Treatise justru memenangkan penghargaan Avant-Garde Award dalam Festival Film Cannes. Padahal film tersebut bertujuan untuk menyiratkan sebuah akhir dari fase pemahatan dalam dunia perfilman, yang mana sebagian film tersebut digores, dicabik sementara sebagian isinya benar-benar kosong. Debord juga mengambil tema yang sama beberapa tahun ke depan dengan film kosongnya yang bertajuk Howling in favor of the Sade.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Berkaitan dengan perkembangan para situasionis selanjutnya, sebuah poin menarik dari teori-teori Isou adalah analisanya atas anak muda sebagai sebuah kelas sosial. Ia melihat bahwa kelas ini tereksploitasi dan tak terepresentasikan, tetapi karena kelas tersebut tidak terikat oleh hal-hal semacam keluarga dan kerja, anak muda disituasikan untuk berada di luar pasar dan relatif bebas dari kekuatan-kekuatan kapitalis yang mengontrol baik pasar maupun orang-orang yang berada di dalamnya. Isou sangat berjasa sebagai orang yang pertama kali melihat potensi revolusioner dari ‘kelas’ ini. Tahun 1950-an memperlihatkan tanda-tanda pertama dari kemarahan yang datang dari kaum muda, dengan beberapa gerakan seperti ‘the Angry Young Men’ di Inggris dan ‘Les Blouson Noir’ di Perancis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tahun 1952 Debord dan beberapa lainnya memisahkan diri dari gerakan Isou dan membentuk Lettriste International (LI). Perbedaan yang ada sebenarnya telah terjadi beberapa saat sebelumnya. Momen yang menandai pemisahan diri tersebut adalah demonstrasi yang diinisiasikan oleh Debord dan beberapa lainnya untuk melawan konferensi pers Charlie Chaplin di Paris, sebuah aksi yang dikutuk oleh Isou.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selama 5 tahun eksistensinya, LI tetap menjadi sebuah grup yang relatif kecil dan tidak dikenal. Majalahnya yang bertitel ‘Potlach’ didistribusikan cuma-cuma. Nomor perdananya dicetak sebanyak 50 eksemplar sementara nomor terakhirnya mencapai 500 eksemplar. Mereka mendedikasikan diri mereka untuk secara serius mempelajari permasalahan waktu luang, kebanyakan melalui eksperimentasi praktik tentu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pengorganisiran waktu luang—pengorganisiran kebebasan keberagaman yang tidak terlalu dikendalikan oleh kesinambungan kerja—adalah sebuah kebutuhan bagi negara-negara kapitalis sebagaimana juga bagi para penerus Marxis. Di manapun juga seseorang dibatasi oleh degradasi berbagai stadium program televisi. [...] kami berusaha secara serius untuk mendedikasikan diri kami hanya pada waktu luang [...] Konstruksi berbagai situasi akan menjadi realisasi yang berkesinambungan dari sebuah permainan besar, sebuah permainan di mana para pemainnya telah dipilih untuk memainkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;LI menerapkan arsitektural dan teori-teori perilaku dalam ‘praktik eksperimental’ mereka, sesuatu yang juga telah digarisbawahi oleh gerakan Lettrist. Hal-hal tersebut membawa mereka untuk mengembangkan konsep Unitary Urbanism (Urbanisme Uniter) dan bidang studi mereka adalah Psikogeografi. Poin awal mereka adalah ide bahwa arsitektur mempengaruhi kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya jauh lebih besar daripada yang biasa diperkirakan. Sebuah kritik terhadap arsitektur dengan demikian membuka sebuah jalan untuk mengkritisi hidup secara keseluruhannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tahun 1953, seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Ivan Chtcheglov menulis sebuah esai bertitel ‘Formulasi bagi Urbanisme Baru’ (pertama kali dipublikasikan 5 tahun kemudian dalam nomor perdana Internationale Situationiste) yang merupakan sebuah tulisan pendek penuh gairah untuk segera ‘mempersenjatai’ konsep baru tentang urbanisme, yang diawali dengan tulisan berikut: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tuan yang terhormat, aku datang dari negeri lain. Kami bosan di kota, (karena) tak ada lagi Kuil Matahari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kalimat tersebut menjadi pembuka jalan bagi psikogeografi. Chtchelglov mengkritik kota-kota modern yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;tak memiliki musik dan geografi. Imajinasi-imajinasi kami tetap berada jauh dari mesin-mesin duniawi. (Maka) hacienda, dan kota baru harus dibangun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ia terus mendeskripsikan visinya, yang merupakan hasil atas gambaran masa depan arsitektur baru yang mana seseorang akan harus mempelajari berbagai eksperimentasi pola perilaku, desainernya secara bersamaan juga harus mengkonstruksi berbagai situasi. Idealnya, kota tersebut akan menjadi kota yang dapat dimodifikasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yang mana bangunan-bangunannya dinyalakan oleh kekuatan yang mampu membawa kembali kenangan dan imajinasi, struktur-struktur simbolisnya merepresentasikan berbagai hasrat, setiap orang akan hidup dalam katedral personalnya, begitu juga saat mereka berbicara. Distrik-distrik kota ini akan saling berkorespondensi dengan seluruh spektrum atas berbagai perasaan yang berbeda-beda yang bisa seseorang dapatkan melalui adanya berbagai kesempatan dalam hidup keseharian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;LI mencanangkan formulasi dari Chtcheglov, khususnya dalam tikungan-tikungan eksperimentasi yang disebut psikogeografi. Tahun 1955 Debord menulis sebuah esai bertitel ‘Introduksi pada sebuah Kritik atas Geografi Urban’ yang dalam berbagai sisi merupakan sebuah pengembangan dari ide Chtcheglov.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Psikogeografi dapat membangun dirinya sendiri dalam studi mengenai hukum-hukum dan efek-efek yang spesifik atas lingkungan geografis, baik yang terorganisir secara sadar atau tidak, tentang emosi-emosi dan perilaku seorang individu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Peta psikogeografis mengekspresikan insubordinat yang lengkap yang mempengaruhi kebiasaan diujicobakan. Kota dan berbagai pengaruhnya atas mood para penghuninya dieksplorasi melalui derive, atau berjalan kaki dalam rute-rute memutar yang sistematis, dan permainan psikogeografis diujicobakan dengan menjelajahi sebuah kota tetapi dengan cara mengikuti alur peta kota lain. Riset ini akan diakhiri dengan penciptaan sebuah suasana baru yang mengarah pada cara hidup yang baru dan lebih menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Teori lain yang juga dikembangkan dalam tahun-tahun tersebut adalah teori Detournement, yang pertama kali digarisbawahi dalam esai karya Debord dan Gil J. Wolman bertitel Metoda-Metoda Detournement. Mereka berangkat dari poin bahwa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fase perang sipil yang kami canangkan melalui seni dan kreasi harus melayani kepentingan-kepentingan para partisannya dan dengan demikian maka sangat penting untuk mengakhirinya dengan penciptaan nilai-nilai baru atas kepemilikan personal di area-area tersebut. Detournement adalah sebuah penjarahan cuma-cuma dan adaptasi bagi kreasi-kreasi lain. Detournement adalah penggantian konteks.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hal tersebut dilakukan tanpa menjelaskan bahwa tak ada batas dalam mengkoreksi sebuah hasil kerja atau untuk mengintegrasikan berbagai fragmen yang terpisah dari hasil-hasil kerja yang kuno ke dalam sebuah hasil kerja baru; seseorang juga dapat mentransformasikan makna berbagai fragmen tersebut dalam cara yang dianggap perlu, meninggalkan para imbesil yang terus memelihara “kutipan-kutipan” yang memperbudak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tahun 1957 LI menggabungkan diri bersama International Movement for an Imaginist Bauhaus (IMIB) ke dalam bentuk Situationist International (SI).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;THE INTERNATIONAL MOVEMENT FOR AN IMAGINIST BAUHAUS (IMIB)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pasca bubarnya COBRA, Asgern Jorn meneruskan aktifitasnya sebagai seorang ‘seniman eksperimental’, organisator gila dan pembangun kontak. Dalam perioda tersebut ia bertemu dengan seorang pelukis sekaligus pelopor Nuclear Art Movement bernama Enrico Baj. Mirip dengan COBRA, para seniman nuklir tersebut melawan seni abstrak maupun realis serta yakin bahwa eksperimentasi adalah satu-satunya cara untuk membawa pembaharuan-pembaharuan di bidang seni lukis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jorn juga membangun kontak dengan Max Bill, seorang arsitek Swiss yang sedang bekerja untuk proyek New Bauhaus. Berdua, mereka mengeksplorasi lahan-lahan yang mungkin dibangun untuk kolaborasi, tetapi dengan segera Jorn kecewa dengan rasionalisme Bill. Ia menuduhnya sebagai seorang yang hanya menginginkan sebuah akademi tanpa lukisan, tanpa riset imajinatif, fantasi, tanda dan simbol. Dalam sebuah suratnya kepada Enrico Baj, Jorn menegaskan intensinya untuk membentuk International Movement for an Imaginist Bauhaus (IMIB). Baj bergabung dengan grup yang baru terbentuk tersebut, juga mantan seniman COBRA seperti Christian Dotremont dan Appel. Dalam tahun ini juga, Jorn pindah ke kota pinggir laut di Italia, Albisola.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selama pelaksanaan festival lokal di tahun 1954, Jorn bertemu dengan pelukis politis, Giuseppe Pinot-Gallizio dan seorang mahasiswa filsafat, Piero Simondo. Kedua orang tersebut sangat tertarik dengan intensi dan ide-ide IMIB. Setahun kemudian, studio Gallizio yang terletak di kota lembah yang penuh kebun anggur, Alba, menjadi Laboratorium Eksperimental IMIB. Semua orang bekerja dan bereksperimentasi dengan sesamanya dalam disiplin pelukisan, arsitektur dan musik. Sementara itu, Jorn terus secara aktif membangun kontak dengan gerakan-gerakan avant-garde Eropa Barat, yang antara lain juga grup LI di Perancis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bulan September 1956, Jorn dan Gallizio mengorganisir even “Kongres Dunia Pertama dari Seniman-Seniman yang Terbebaskan”. Gil J. Wolman hadir untuk merepresentasikan LI. Atas pengaruh dan argumen-argumen yang diajukannya, Baj diusir di hari pertama pertemuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kongres tersebut menghasilkan sebuah resolusi yang ditandatangani oleh semua peserta, mendeklarasikan sebuah, “kebutuhan untuk sebuah konstruksi integral dalam lingkungan melalui sebuah urbanisme uniter yang harus menggunakan seluruh seni dan teknik modern,” serta “memahami saling ketergantungan esensial antara urbanisme uniter dan gaya hidup masa depan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebuah eksibisi dari hasil-hasil kerja dalam Laboratorium Eksperimental IMIB yang juga memamerkan “Keramik-Keramik Futuris 1925—1933” diorganisir bersamaan dengan diselenggarakannya kongres.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Constant tinggal di Alba pasca kongres untuk meneruskan studinya tentang urbanisme dan ruang. Ia merencanakan sebuah konstruksi bergerak bagi beberapa kamp gypsi yang berada di tanah milik Gallizio. Menggunakan tembok-tembok terpisah yang dapat dibongkar-pasang, eksperimentasi ini juga lantas digunakan untuk model kota baru yang berdasarkan pada prinsip kepemilikan umum, dinamis dan kemungkinan-kemungkinan modifikasi berkesinambungan dari lingkungan hidup urban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sementara itu, Gallizio mengerjakan ‘Lukisan Industrial’. Nama yang digunakan tersebut tidak dipilih atas teknik produksi lukisan-lukisan tersebut. Semua lukisan tersebut dibuat dengan menggunakan tangan, untuk kemudian dieksperimentasikan oleh Gallizio dengan menggunakan berbagai material seperti lem, cat, wax, assiline, pasir, karbon dan apapun yang dianggap mungkin olehnya. Terminologi ‘Industrial’ tersebut dipilih atas kuantitas produksi kerjanya. Gallizio, atas subsidi dari anak lelakinya, Jors Melanotte, ‘mengecat’ gulungan kanvas sepanjang 70 hingga 90 meter dan menjualnya per meter, menggunakannya untuk membuat pakaian, layar pemisah dan arsitektur bergerak. Ide tersebut diajukan untuk menghajar dogma produksi massal yang dianggap sebagai kemajuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di sekitar tahun yang sama, sebuah eksibisi psikogeografis diselenggarakan di Brussel oleh Walter Korun dan Guy Debord.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bulan Mei 1957, Debord menulis apa yang selanjutnya menjadi sebuah dokumen persiapan bagi konferensi yang diselenggarakan dua bulan kemudian. Pamflet tersebut berjudul Laporan tentang Konstruksi Situasi-Situasi dan tentang Kecenderungan Internasional Situasionis dalam Organisasi dan Aksi yang dimulai dengan kalimat, “Pertama-tama kita semua harus berpikir bahwa dunia ini mesti diubah,” lantas disambung dengan sebuah analisa sejarah avant-garde, Futurisme, Dada dan Surrealisme, menentukan latar belakang yang dapat didiskusikan dalam tradisi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Program surrealis, menegaskan keragaman hasrat dan kejutan, mengajukan sebuah kegunaan baru atas hidup, yang jauh lebih kaya dalam mengkonstruksi berbagai kemungkinan daripada yang dikira oleh umum [...] tetapi errornya adalah [...] keyakinannya bahwa ketidaksadaran pada akhirnya akan ditemukan oleh kekuatan kehidupan [...].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menurut Debord, para avant-garde telah terhisap kembali ke dalam sistem dominan dan kehilangan potensi mereka sebagai kekuatan revolusioner. Debord mengingatkan kembali tentang penciptaan berbagai situasi, yang dideskripsikan sebagai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[...] konstruksi lengkap atas alunan-alunan hidup momenter dan transformasinya menuju sebuah kualitas superior yang penuh hasrat. Situasi-situasi yang menjadi kebalikan dari spectacle, bentuk hidup teralienasi yang merupakan hasil dari kapitalisme-lanjut. Makna spectacle akan dikembangkan dalam perioda-perioda SI selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pamflet tersebut adalah sebuah panggilan untuk melakukan aksi kolektif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kita telah mengeliminasi sektarianisme di antara kita yang beroposisi dengan aksi kesatuan dalam aliansi-aliansi yang mungkin bagi tercapainya tujuan-tujuan khusus dan menghalangi infiltrasi organisasi-organisasi paralel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam konferensi, Gallizio, Jorn, Olmo, Simondo dan Verrone merepresentasikan IMIB, sementara Debord dan Michelle Bernstein merepresentasikan LI. Ralph Rumney dari Inggris hadir dan diberi tahu bahwa ia harus merepresentasikan sebuah grup apabila ia ingin berpartisipasi dalam ‘unifikasi’ tersebut. London Psychogeographic Association yang saat itu sama sekali belum terbentuk, dibentuk mendadak di sana dan lantas juga semakin menegaskan terminologi ‘Internasional’ yang dicantumkan dalam grup unifikasi yang baru terbentuk tersebut, yang bernama Situationist International.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;SITUATIONIST INTERNATIONAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;(1957 — 1972)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;HARI-HARI AVANT-GARDE (1957—1962)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selama tahun pertama eksistensi mereka, para situasionis menghasilkan beberapa terbitan dan memecat beberapa anggotanya. Di bawah ini akan dibeberkan perjalanan awal yang sangat menentukan tersebut dalam poin-poin pentingnya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Olmo, Verrone dan Simondo dipecat atas pembuatan tulisan tentang Musik Eksperimental, yang oleh Debord dianggap sebagai, “pemikiran Sayap Kanan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Rumney dipecat tak lama kemudian karena gagal menyelesaikan laporan psikogeografis tepat pada waktunya. Ironisnya, ia mengirimkan essaynya tepat dua hari sebelum mendapat kabar tentang pemecatannya dari Paris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Chapter Jerman yang hanya beranggotakan satu orang dibentuk. Seorang tersebut adalah Hans Platscheck, yang dipecat setahun kemudian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Bulan April 1958 International Assembly of Art Critics diselenggarakan di Brussels. Sebuah publikasi berjudul Proklamasi Situasionis yang menyerang penyelenggaraan tersebut dan menegaskan posisi mereka, diproduksi dan didistribusikan selama penyelenggaraan. Ini adalah aksi SI yang pertama kali, yang dianggap sebagai sebuah “serangan langsung yang penting” dalam nomor perdana Internationale Situationiste (Juni 1958), majalah grup SI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Ironisnya, dalam waktu yang kurang lebih sama dan bahkan juga di kota yang sama, lukisan-lukisan Jorn dipamerkan sebagai bagian dari 50 dans l’Art moderne, sebuah eksibisi seniman-seniman baru yang mulai menanjak. Eksibisi ini menjadi awal dari sukses komersial besar bagi Jorn. Semenjak dari momen tersebut, Jorn menjadi penyandang dana bagi seluruh gerakan, termasuk bagi para individu yang terlibat di dalamnya, melalui hasil penjualan seluruh lukisan-lukisannya baik secara langsung maupun tak langsung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Gallizio memamerkan karyanya yang berjudul Industrial Painting di galeri Notizie, Torino, pada bulan Mei 1958 yang diikuti oleh eksibisi keduanya di galeri Montenapoleone di Milan dan eksibisi perdananya di jalanan kota Paris. Menghadapi sukses komersial Gallizio yang dapat mencoreng muka para situasionis, mereka berusaha mendeskripsikan hal tersebut sebagai sebuah upaya defensif dari dunia seni komersial atas serangan SI. Respon SI tersebut justru melipat gandakan harga lukisan-lukisan tersebut di pasaran seni komersial empat kali lebih besar dari harga awal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Chapter Italia melancarkan sebuah kampanye bagi pembebasan pelukis Nunzio Van Guglielmi dari rumah sakit jiwa. Guglielmi ditangkap karena menyerang eksibisi lukisan Rafael The Wedding of the Virgin. Jorn memuji Guglielmi karena telah menyerang “ideal-ideal artistik lampau yang palsu”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Grup Jerman, Spur (berarti Jejak) yang ditemui oleh Jorn di tahun 1958, bergabung dengan SI dan diresmikan menjadi chapter Jerman. Bersama seorang seniman eks-COBRA, Constant, grup tersebut mengembangkan konsep permainan dan kenikmatan, yang menjadi titik pusat dari program-program SI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Di bawah Constant dan partisipasi mayoritas chapter Belanda, Bureau of Unitary Urbanism dibentuk, yang beranggotakan sekelompok seniman, arsitek dan sosiologis. Grup ini melakukan penelitian tentang pengkonstruksian atmosfir unitarian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Bulan April 1959, film berjudul Sur le Passage des Quelques Personnes a Travers Une Assez Corte Unite de Temps karya Debord dirilis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Di bulan yang sama, Konferensi SI ke-3 bertempat di Munich (kota yang juga menjadi lokasi Konferensi ke-1, sementara Konferensi ke-2 bertempat di Paris tak lama setelah Konferensi ke-1 diselenggarakan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Beberapa perbedaan mulai menajam antara Debord dan Constant atas proyek Urbanisme Unitarian (UU). Debord bersikeras bahwa UU hanya sekedar instrumen dan jalan masuk pada kreatifitas revolusioner yang terpisah dari kultur yang eksis saat itu. Sementara Constant juga tetap bersikeras bahwa peran utama UU adalah sebuah cara alternatif untuk membebaskan kreasi dan tak dapat dilihat sebagai prakondisi sebuah revolusi sosial. Masalah tersebut tidak terselesaikan, sehingga setahun kemudian Constant mengundurkan diri bersama pindahnya markas Biro dari Belanda ke Brussels di bawah koordinasi dari Kotànyi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Bulan Mei 1959 Gallizio melakukan eksibisi di galeri Réné Druouin di Paris atas karyanya berupa gulungan lukisan Industrial Painting yang merupakan bagian dari proyek penciptaan lingkungan unitarian. Di bulan yang sama Jorn memamerkan lukisan-lukisan Detourned di galeri Rive Gauche di Paris, sementara Constant memamerkan model-model pembangunan UU di museum Stedelijik, Amsterdam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Tahun 1960, pasca 3 eksibisi lukisan, Gallizio dan Melanotte dipecat karena dituduh telah, “berkolaborasi dengan kekuatan-kekuatan yang secara ideologis tak dapat diterima.” Sayangnya, SI baru memahami tujuan-tujuan personal sang seniman saat ia menemui kematiannya secara mendadak pada tahun 1964.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Bulan September 1960, Konferensi SI ke-4 diselenggarakan di London. Satu dari pusat perdebatan adalah penentuan hingga di tingkat mana SI menjadi sebuah gerakan politis dan kekuatan-kekuatan mana saja yang dapat dihitung untuk berkolaborasi. Chapter Jerman mengajukan keraguan mereka atas potensi revolusioner kelas pekerja yang terlalu terikat dengan komoditi. Tetapi bagaimanapun, setelah sebuah respon diajukan oleh Debord, yang menggarisbawahi tentang bagaimana di negara-negara kapitalisme-lanjut pemogokan-pemogokan liar telah semakin intens, maka grup Jerman tersebut tak merespon lebih lanjut. Konferensi tersebut juga memutuskan tentang introduksi sebuah model organisasi baru, yang mana sampai pada kesimpulan bahwa SI telah menjadi sebuah federasi dari chapter-chapter nasional. Walaupun konferensi tersebut masih menyimpan kompetensi organik bagi perdebatan teoritis lebih lanjut, sebuah Komite Pusat dibentuk. Segera sebuah manifesto diadopsi, yang menegaskan perpindahan program dasar SI dari UU menuju pembebasan permainan. Aktivitas-aktivitas pembebasan yang penuh permainan dianggap dapat mentransformasikan pendivisian lama antara waktu kerja dan waktu luang. Pertanyaan tentang bermain tersebut adalah pertanyaan tentang pengorganisiran waktu luang, yang di bawah masyarakat kapitalisme-lanjut oleh para situasionis dianggap sebagai bagian dari waktu kerja. Pembebasan waktu luang menjadi dasar bagi penciptaan revolusi harian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Martos melihat bulan-bulan tersebut sebagai sebuah titik perputaran SI. Ia melihat kisah keseluruhannya sebagai sebuah pendewasaan progresif dari sekedar kritisme atas seni, menjadi sebuah kritisme atas kehidupan harian yang selanjutnya akan meningkat menjadi kritisme atas masyarakat secara keseluruhan yang akan membawa konsekuensi-konsekuensinya sendiri. Ia lupa untuk mengungkapkan bahwa proses ini banyak diprakarsai oleh chapter Perancis yang telah berusaha untuk mengomandoi keseluruhan grup SI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Chapter Perancis mencoba mengelaborasikan pemikiran-pemikiran politis di bawah pengaruh Henry Levebvre yang berjudul Critique of Everyday Life. Debord dan Vaneigem menghadiri kelas-kelas sosiologi Levebvre di universitas Nanterre selama tahun-tahun akademik 1957—1958, yang berujung pada perkawanan dengan sang filsuf, yang selanjutnya juga berujung pada tuduhan “tendensi komersial” oleh SI atas Levebvre beberapa tahun ke depan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Debord juga mulai berkolaborasi dengan grup pasca-Trostskist, Socialisme ou Barbarie, yang dibentuk tahun 1949. Ia bahkan juga menjadi anggotanya untuk sementara waktu. Debord mengambil beberapa teori dari grup tersebut ke dalam SI, seperti redefinisi proletariat yang mengidentifikasikan keseluruhan proletarian sebagai siapapun yang tak memiliki kontrol atas hidup mereka sendiri. Grup tersebut juga mendefinisikan Uni Soviet sebagai sebuah kapitalisme negara, yang mana masyarakat dipisahkan oleh kelas birokrasi yang berkuasa dengan kelas proletarian yang teralienasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Radikalisasi progresif dari chapter Perancis semakin mempertajam perbedaan antar grup-grup yang bernaung di bawah SI. Situasi semakin memburuk dengan pengunduran diri Jorn pada bulan April 1961, yang mana grup di bawah Jorn semakin meraup sukses komersial dalam dunia seni, yang dianggap sebagai sesuatu yang memalukan bagi keseluruhan SI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Pada pembukaan Konferensi SI ke-5 di Goteborg, Swedia, 28—30 Agustus 1961, Raoul Vaneigem (yang bergabung dengan SI di awal tahun tersebut) berkata bahwa, “Tak ada kerja-kerja seni situasionis atau juga situasionisme, sebagaimana prospektif tersebut tak berarti apapun, atau juga berhubungan langsung dengan praktik revolusioner, dengan kehendak untuk mengubah arti hidup. [...] posisi kita adalah sebagai musuh di antara dua dunia—satu yang tidak kami ketahui, satu lagi yang belum eksis.” Posisi grup Jerman, Spur, (yang didukung oleh kebanyakan para Skandinavian) pada soalan revolusi dan seni, jelas berbeda dengan grup Vaneigem, yang mana perbedaan itu semakin menajam semenjak Konferensi ke-4. Spur tetap tidak yakin bahwa para pekerja cukup mampu untuk dianggap memiliki potensi revolusioner. Hadir juga perbedaan pendapat tentang perealisasian dan penekanan atas seni yang dicanangkan oleh Debord. Konferensi mengadopsi sebuah resolusi dari Kotànyi yang menyerukan agar seluruh kreasi artistik yang dihasilkan oleh para anggota SI sebagai sebuah anti-situasionis—seruan yang tak menyelesaikan kontroversi yang timbul hingga berakhirnya konferensi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;• Bulan Februari 1962, 6 bulan pa
